NovelToon NovelToon
Mau Tapi Malu

Mau Tapi Malu

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Keluarga / Romansa / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Subuh yang Berbeda

Aku tidak ingat kapan tepatnya aku tertidur.

Yang kuingat terakhir hanyalah lampu redup, udara yang dingin, dan jarak canggung setelah kejadian memalukan di pangkuannya. Setelah itu semuanya gelap.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar…”

Suara adzan Subuh membangunkanku.

Aku membuka mata perlahan.

Langit di luar jendela berwarna biru pucat. Udara terasa sangat tenang. Tapi… ini bukan ruang tamu.

Aku langsung duduk.

Ini kamar.

Kamarku.

Selimut tertarik rapi menutup tubuhku. Bantal tersusun. Lampu tidur menyala lembut. Aku memegang ujung selimut itu pelan.

Ia yang memindahkanku.

Schevenko.

Dadaku terasa hangat sekaligus canggung. Malam itu ia terlihat tegang, panik bahkan. Tapi tetap saja… ia memindahkanku ke kamar tanpa membangunkanku.

Aku turun dari tempat tidur dan membuka pintu perlahan.

Rumah besar itu sunyi.

Aku berjalan pelan menuju kamar mandi untuk wudhu. Tapi saat melewati ruang tamu, langkahku terhenti.

Schevenko masih di sofa.

Ia tertidur di sana.

Ia masih memakai kaos sederhana berwarna gelap yang tadi malam ia pakai setelah mandi. Kaos itu sedikit kusut karena posisi tidurnya. Rambutnya lebih berantakan dari biasanya. Satu tangannya terlipat di atas dada, satu lagi jatuh di sisi sofa.

Posturnya terlihat lelah.

Bukan lelah biasa.

Seperti seseorang yang semalaman pikirannya tidak benar-benar beristirahat.

Ia tidak masuk ke kamarnya.

Kenapa?

aku melangkah mendekat tanpa suara. Nafasnya pelan, teratur. Wajahnya terlihat lebih muda saat tidur. Tidak ada tatapan tajam. Tidak ada sikap tegas. Hanya laki-laki yang tampak kelelahan.

Entah dorongan dari mana, aku membungkuk sedikit.

Dan mencium keningnya.

Cepat. Lembut. Hanya menyentuh.

Ia bergerak sedikit. Alisnya berkerut tipis, napasnya berubah sepersekian detik, tapi ia tidak benar-benar bangun.

Jantungku langsung berdetak tidak karuan.

“Astaghfirullah…” bisikku pelan.

Aku cepat-cepat menjauh dan masuk ke kamar mandi.

Air wudhu terasa dingin menyentuh wajahku, tapi pikiranku jauh lebih berisik.

Kenapa aku melakukan itu?

Kenapa rasanya berbeda?

Setelah selesai, aku kembali ke ruang tamu.

Ia masih tertidur.

Aku berdiri di samping sofa beberapa detik sebelum akhirnya memberanikan diri.

“Mas…” panggilku pelan.

Tidak ada respon.

Aku sedikit membungkuk. “Mas Schevenko… Subuh.”

Ia bergerak perlahan. Menghela napas. Lalu matanya terbuka sedikit demi sedikit.

Butuh beberapa detik sampai pandangannya fokus padaku.

Ekspresinya berubah.

Bukan kaget besar.

Tapi… canggung.

“Kamu sudah bangun?” suaranya serak, berat karena baru bangun tidur.

Aku mengangguk. “Sudah. Ayo sholat.”

Ia duduk perlahan, mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Kaosnya sedikit tertarik saat ia bergerak. Ia terlihat benar-benar baru bangun, tanpa pertahanan apa pun.

“Kamu… tidur nyenyak?” tanyanya tanpa menatapku langsung.

“Iya,” jawabku pelan. “Makasih sudah mindahin aku.”

Tangannya berhenti sepersekian detik di wajahnya.

“Oh… itu,” katanya singkat. “Kamu sudah tertidur pulas.”

Ada jeda.

Canggung.

Ia berdiri, hampir sejajar denganku. Aku harus sedikit mendongak. Ada jarak setengah langkah di antara kami—tidak terlalu dekat, tapi juga tidak jauh.

Ia berjalan ke kamar mandi untuk wudhu.

Aku menunggunya di ruang tamu.

Beberapa menit kemudian ia kembali. Rambutnya sedikit lebih rapi karena air wudhu, tapi wajahnya masih menyimpan sisa kelelahan.

lalu kami berjalan ke ruangan khusus untuk beribadah di rumah itu.

Ia berdiri di depan.

Aku di belakangnya.

Ia menjadi imam.

Saat takbir pertama terangkat, suasana terasa berbeda. Malam tadi aku duduk di pangkuannya. Sekarang aku berdiri di belakangnya sebagai makmum.

Kontras itu membuat dadaku bergetar.

Suaranya saat membaca ayat terdengar lebih dalam pagi itu. Lebih tenang, tapi ada sesuatu yang berat di sana. Seolah ia sedang menenangkan dirinya sendiri lewat bacaan.

Aku mencoba fokus.

Tapi pikiranku terus kembali ke:

Ketegangannya tadi malam.

Cara ia menahan napas.

Cara ia membiarkanku tetap di pangkuannya walau jelas ia panik.

Setelah salam terakhir, ia tidak langsung berdiri.

Aku juga tidak.

Hening.

“Kamu…” ia akhirnya berbicara tanpa menoleh. “Tadi malam kamu gak apa-apa?”

Aku menatap punggungnya.

“Enggak apa-apa,” jawabku. “Cuma takut.”

Ia mengangguk kecil.

“Aku minta maaf kalau aku… terlihat aneh.”

Aku sedikit terkejut. “Aneh?”

Ia akhirnya menoleh.

Tatapannya tidak setajam biasanya. Ada kejujuran yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“Aku kaget,” katanya pelan. “Dan aku tidak terbiasa dengan… kedekatan seperti itu.”

Jantungku berdetak lebih cepat.

“Aku juga gak sengaja,” kataku cepat. “Aku cuma takut.”

“Aku tahu,” jawabnya.

Lalu sunyi lagi.

Subuh terasa panjang.

Aku menarik napas pelan sebelum akhirnya berkata,

“Mas…”

“Hm?”

“Aku hari ini ingin ke rumah Ibu.”

Kali ini ia menoleh penuh.

Tatapannya berubah. Bukan menolak. Tapi seperti sedang memikirkan sesuatu yang lebih dalam.

“Kangen?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Iya. Tiba-tiba kangen banget.”

Ia terdiam beberapa detik.

“Baik,” jawabnya akhirnya. “Nanti aku antar.”

Aku sedikit terkejut. “Mas gak kerja?”

“Aku bisa atur ulang.”

Jawabannya tenang. Tapi ada sesuatu yang belum selesai di antara kami.

Aku mengangguk pelan. Kami sama-sama tidak melanjutkan pembicaraan itu. Seolah ada topik yang menggantung di udara, tapi tak satu pun dari kami berani menyentuhnya.

Pagi benar-benar datang beberapa saat kemudian.

Cahaya matahari mulai masuk melalui jendela besar ruang tamu. Rumah itu terasa berbeda di pagi hari—lebih hidup, lebih hangat. Tidak semenyeramkan malam tadi.

Aku keluar rumah pelan-pelan.

Udara pagi menyentuh wajahku lembut. Embun masih menempel di ujung daun. Tanaman-tanaman di halaman terlihat segar—mawar putih di sisi kiri pagar, bunga bougenville yang menjuntai lembut, dan beberapa pot tanaman kecil tersusun rapi di teras.

Aku tersenyum kecil.

Rumah ini memang besar. Megah. Tapi pagi ini terasa lebih tenang. Tidak sesunyi malam tadi.

Aku berjongkok sedikit, menyentuh kelopak mawar yang masih basah oleh embun.

“Cantik banget…” gumamku pelan.

“Aku yang rawat.”

Suara itu membuatku tersentak kecil.

Aku menoleh cepat.

Schevenko berdiri di ambang pintu, sudah rapi. Rambutnya tertata, kaosnya diganti dengan kemeja santai lengan panjang yang digulung sampai siku. Wajahnya terlihat lebih segar, tapi masih ada bayangan kelelahan tipis di matanya.

“Kamu?” tanyaku, sedikit malu karena ketahuan bergumam sendiri.

Ia melangkah turun satu anak tangga. “Iya. Kalau lagi banyak pikiran, biasanya aku urus tanaman.”

Aku terdiam sejenak.

Banyak pikiran?

“Mas banyak pikiran?” tanyaku hati-hati.

Ia menatap bunga sebentar, lalu menoleh padaku. “Semua orang pasti punya.”

Jawaban yang sederhana. Tapi terasa dalam.

Sebelum aku bisa membalas, ia berkata lagi,

“Sarapan sudah siap.”

Aku sedikit terkejut. “Mas yang masak?”

Ia mengangguk kecil. “Aku tidak bisa masak berat. Cuma yang sederhana.”

Kami masuk bersama.

Meja makan sudah tertata rapi. Ada roti panggang, telur, dan segelas susu hangat. Sederhana, tapi terasa… diperhatikan.

Aku duduk perlahan.

Ia duduk di seberangku.

Beberapa detik hanya terdengar suara sendok dan piring.

Canggung lagi.

Aku menatapnya sebentar. Ia tampak lebih tenang pagi ini. Tapi sesekali, tatapannya seperti ingin mengatakan sesuatu lalu mengurungkannya.

“Mas…” aku memulai pelan.

“Hm?”

“Kita ke rumah Ibu jam berapa?”

Ia menelan makanan lebih dulu sebelum menjawab. “Terserah kamu. Kamu mau berapa lama di sana?”

Aku berpikir sebentar. “Gak lama kok. Aku cuma… pengen ketemu. Pengen lihat rumah.”

Ia mengangguk. “Baik. Setelah sarapan kita berangkat.”

Aku menatapnya. “Mas gak keberatan kan?”

Ia berhenti sebentar, lalu menggeleng. “Kenapa harus keberatan?”

Aku mengangkat bahu kecil. “Ya… ini kan rumah baru. Aku baru tinggal di sini. Takutnya Mas merasa aku belum betah.”

Ia terdiam beberapa detik.

Tatapannya kali ini lebih serius.

“Zahra,” katanya pelan, “betah atau tidak itu bukan soal cepat atau lambat. Rumah itu bukan cuma bangunan.”

Aku menatapnya.

“Kalau kamu masih merasa rindu rumah Ibumu, itu wajar. Jangan dipendam.”

Dadaku terasa hangat.

“Mas…” aku tersenyum kecil. “Terima kasih.”

Ia hanya mengangguk tipis.

Lalu tiba-tiba ia berkata, lebih pelan dari sebelumnya,

“Tapi nanti… setelah dari sana, kita tetap pulang ke sini.”

Aku terdiam.

Nada suaranya bukan memaksa. Tapi tegas.

“Ini rumah kamu juga,” lanjutnya. “Jangan merasa seperti tamu.”

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

Aku tidak tahu kenapa, tapi kalimat itu terasa seperti pengakuan yang lebih besar dari sekadar kata-kata.

Aku menunduk, menyembunyikan senyum kecilku.

“Baik, Mas.”

Ia menatapku beberapa detik lebih lama dari biasanya. Tidak ada ketegangan seperti malam tadi. Tapi juga tidak sepenuhnya santai.

Ada sesuatu yang sedang tumbuh di antara kami.

Pelan. Hati-hati.

Lalu setelah sarapan selesai.....

1
Tati Hartati
semangat terus kakak
checangel_
Nah, itu baru benar ... menjauh untuk menjaga 😇
checangel_: semangat/Determined/
total 2 replies
checangel_
Bagus itu/Good/
yanzzzdck
👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Tati Hartati
lanjut terus kak
Reenuctee 🐈‍⬛🐱
/Good//Good/
Tati Hartati
mantap kak... lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!