Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Janji di Bukit Batu
Hujan badai yang mengguyur Kota Angin perlahan mereda menjadi gerimis halus saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Langit berwarna abu-abu kelam, seolah ikut sujud di atas malam yang penuh darah.
Di sebuah bukit berbatu sekitar sepuluh mil di luar Gerbang Selatan, Ye Chen berdiri diam. Jubah hitamnya yang basah kuyup tidak bergerak, meski angi
Di hadapannya, terdapat lima gundukan Geng Mata Asura—orang-orang buangan yang baru sehari merasakan harapan sebelum dipenggal oleh kekejaman Sekte Pedang Darah.
Gou San, satu-satunya yang selamat, berlutut di samping Ye Chen. Tubuhnya gemetar luar biasa, air mata dan ingus bercampur lumpur di wajahnya. Dia menangis tanpa suara, tangannya mencengkeram tanah basah hingga kuku-kukun
"Mereka... mereka hanya ingin makan enak sekali saja seumur hidup, Tuan," isak
Ye Chen tidak menjawab. Wajahnya datar seperti permukaan danau yang tenang, namun di kedalaman matanya, refleksi emosi yang gelap sedang bergolak.
Dia pedang raksasa Pemecah Gunungdari tanah di sekelilingnya. Dengan gerakan perlahan, dia menggoreskan ujung pedang itu ke sebuah batu besar di depan Makam.
Sreeet... Sreeet...
Percikan api memancar. Ye Chen tidak menggunakan Qi, hanya kekuatan otot murni. Dia mengukir lima nama di batu itu.
"Di dunia pemikiran, kelemahan adalah dosa asal," suara Ye Chen terdengar parau. "Mereka mati bukan karena mereka jahat, Gou San. Mereka mati karena mereka lemah, dan karena mereka mengikutiku yang belum cukup kuat untuk melindungi mereka."
Ye Chen menancapkan pedangnya kembali. Dia mengambil sisa arak dari Kantong Penyimpanan-nya dan menuangkannya ke atas gundukan tanah itu.
"Tapi kematian mereka tidak akan sia-sia."
Ye Chen berbalik menghadap Gou San. Dia meletakkan tangan yang berat di bahu preman itu.
"Gou San, dengarkan aku baik-baik. Kota Angin tidak lagi aman bagimu. Wajahmu sudah dikenal. Jika kau tetap di sini, kau akan mengikuti mereka ke alam baka sebelum matahari terbenam."
"L-lalu aku harus ke mana, Tuan?" tanya Gou San putus asa.
Ye Chen mengeluarkan sebuah kantong berisi 500 Batu Roh—jumlah yang sangat besar bagi orang biasa.
" Pergilah keKota Awan Putihdi utara. Itu wilayah netral yang dikuasai Aliansi peny. Gunakan uang ini untuk memulai hidup baru. Buka kedai, beli tanah, hiduplah sebagai manusia biasa. Lupakan nama Asura. Lupakan balas dendam."
Mata Gou San membelalak melihat kantong uang itu. "Tuan... Anda mengusir saya?"
“Aku menyelamatkanmu,” koreksi Ye Chen. "Jalan yang kutempuh mulai sekarang adalah jalan yang penuh mayat. Kau tidak memiliki bakat bakat. Mengikutiku hanya akan membawamu pada kematian yang lebih mengerikan."
Gou San terdiam. Dia menatap makam teman-temannya, lalu menatap wajah dingin Ye Chen. Dia tahu Tuan Mudanya benar. Dia hanyalah beban.
Dengan gemetar, Gou San menerima kantong itu dan bersujud tiga kali.
"Terima kasih, Tuan... Terima kasih atas kemurahan hati Anda. Jika... jika di kehidupan selanjutnya saya punya bakat, saya akan menjadi anjing Anda lagi."
Gou San bangkit, menghapus air matanya, dan berlari menjauh ke arah utara tanpa menoleh lagi.
Ye Chen berdiri sendirian di bukit itu sampai sosok Gou San menghilang.
Sekarang, dia benar-benar sendiri. Tidak ada sekutu. Tidak ada pelayan. Hanya dia dan pedangnya.
“Sekarang…” Ye Chen menatap ke arah barat, ke arah pegunungan yang menjulang tinggi menembus awan. "Pegunungan Sepuluh Ribu Binatang. Reruntuhan Dewa Pedang."
Ye Chen tahu Han Feng tidak akan tinggal diam setelah kehilangan Komandan Luo Lie. Kota Angin akan dibalikkan. Tapi Ye Chen tidak berniat kembali ke kota. Dia akan masuk ke alam pembohong, tempat di mana hukum rimba berlaku mutlak.
Dia mengenakan caping bambu baru yang dia ambil dari mayat pemburu bayaran semalam, lalu melesat pergi. Bayangannya hilang ditelan hutan.
Rumah Tuan Muda Han, Aula Pertemuan.
Suasana di ruangan itu begitu dingin hingga napas bisa membeku.
Di tengah lantai marmer yang mengilap, teronggok sebuah benda bulat yang dibungkus kain basah berdarah. Kain itu sedikit terbuka, menampilkan wajah Komandan Luo Lie yang kaku dengan mata melorot.
Di kursi utama, Han Feng duduk sambil memijat pelipisnya. Wajahnya yang diperban terlihat semakin mengerikan karena aura merah yang berdenyut di sekujur tubuhnya.
Di depannya, sepuluh orang pemimpin dan memerintahkan pasukan elit Sekte Darah Darah. Tidak ada yang berani bersuara. Mereka bahkan takut bernapas terlalu keras.
"Luo Lie mati..." Han Feng pelan-pelan, suaranya seperti bisikan iblis. "Seorang Pemadatan Qi Tingkat 5, dengan tubuh yang ditempa teknik besi, mati di tangan bocah Tingkat 2?"
“Lapor, Tuan Muda,” seorang pria tua dengan jubah abu-abu maju ke depan. Dia adalah Tetua Gui, penasihat strategi Han Feng. "Menurut Saksi mata yang selamat... Asura menggunakan kecepatan yang tidak wajar dan... kekuatan fisik yang mengerikan. Dia mematahkan tulang punggung Luo Lie dengan satu tusukan tumpul."
“Kekuatan fisik…” Han Feng mengetuk-ngetuk sandaran kursinya. "Dia pasti mendapatkan teknik penempaan tubuh tingkat tinggi. Atau mungkin obat terlarang."
Han Feng berdiri, menendang kepala Luo Lie hingga menggelinding ke sudut ruangan.
"Cukup analisisnya. Aku tidak butuh alasan kenapa Luo Lie mati. Aku butuh solusi bagaimana membunuh bajingan kecil itu."
“Tuan Muda,” Tetua Gui berkata hati-hati. "Bocah itu menghilang ke arah barat setelah kejadian di gerbang selatan. Arah barat hanya menuju satu tempat:Pegunungan Sepuluh Ribu Binatang."
Mata Han Feng bertanya di balik perban. "Pegunungan Sepuluh Ribu Binatang... Tunggu."
Ingatan Han Feng kembali ke malam pelelangan. Ye Chen rela menawar gila-gilaan demi peta kuno itu. Dan kemudian dia melarikan diri ke arah pegunungan yang sama.
"Peta itu..." Han Feng tertawa kecil, tawa yang kering dan jahat. "Jadi begitu. Dia tidak lari ketakutan. Dia pergi berburu harta karun."
Han Feng membatalkan lebar hingga merenggangkan perbannya.
"Dia pikir dia bisa mengambil warisan Dewa Pedang dan kembali untuk membalas dendam padaku? Mimpi yang indah."
Han Feng berbalik menghadap para bawahannya.
"Tetua Gui!"
"Hamba siap!"
"Siapkan Unit Serigala Darah. Kita tidak akan mengejarnya di dalam kota. Itu hanya membuang-buang waktu. Kita akan menyegatnya di pintu masuk Lembah Gema Hantu."
Wajah para tetua berubah pucat.
"Lembah Gema Hantu? Tuan Muda, itu daerah terlarang! Banyak Binatang Buas Tingkat 3 (setara Pemadatan Qi Tingkat 7-9) di sana!"
"Justru itu bagusnya," kata Han Feng. "Biarkan binatang buas melemahkannya. Kita hanya perlu menunggu di titik buta dan memungut mayatnya."
Han Feng mengambil sebuah pedang baru dari rak senjata—pedang merah darah yang memancarkan aura Tingkat Kuning Puncak.
"Dan panggil Kakak Kedua dari sekte utama. Katakan padanya aku menemukan jejak Reruntuhan Dewa Pedang. Dia pasti tertarik."
Para tetua terkesiap. Kakak Kedua? Han Yun? Dia adalah monster sejati yang sudah berada di Ranah Pemadatan Qi Tingkat 9 dan dikenal sebagai pembantai gila. Melibatkan dia berarti Han Feng benar-benar serius ingin menghancurkan Ye Chen sampai ke jiwa-jiwanya.
"Kali ini," Han Feng meremas gagang pedangnya. "Aku akan memastikan dia menyesal pernah dilahirkan."
Tiga Hari Kemudian.
Di perbatasan luar Pegunungan Sepuluh Ribu Binatang.
Hutan di sini berbeda dengan Hutan Kematian. Pohon-pohonnya menjulang setinggi ratusan meter, batangnya selebar rumah. Udara dipenuhi dengan Qi alam yang padat namun liar. Suara auman binatang buas terdengar silih berganti, menggetarkan tanah.
Ye Chen berjalan menyusuri jalan setapak yang tertutup semak berduri. Pedang Pemecah Gunung tersampir di punggungnya, tidak lagi dibungkus kain.
Selama tiga hari perjalanan ini, Ye Chen tidak beristirahat. Dia terus bergerak sambil melatih teknik pernapasannya. Setiap langkah adalah kultivasi.
Krak!
Ye Chen berhenti. Telinganya bergerak sedikit.
Bukan suara ranting patah karena angin. Itu suara langkah kaki yang mencoba disembunyikan.
"Keluar," kata Ye Chen tenang, matanya menatap tajam ke arah rimbunan pohon pakis raksasa di sebelah kirinya.
Hening sejenak. Lalu, lima sosok melompat keluar, mengepung Ye Chen.
Mereka bukan murid Sekte Pedang Darah. Mereka mengenakan pakaian kulit binatang dengan cat wajah loreng. Bandit Gunung.
"Hehe, telingamu tajam juga, Nak," kata pemimpin bandit itu, seorang pria bermata satu dengan parang bergerigi. "Kau pasti Asura yang sedang dicari itu, kan? Kepala 10.000 Batu Roh berjalan sendiri ke wilayah kami. Sungguh rezeki nomplok."
Ye Chen menghela napas. "Apakah kalian tidak bosan? Dalam tiga hari ini, aku sudah membunuh empat kelompok seperti kalian."
"Jangan samakan kami dengan sampah lain!" bentak si Mata Satu. "Kami adalah Kelompok Serigala Gunung! Aku berada di Pemadatan Qi Tingkat 3! Saudara-saudaraku di Tingkat 2!"
Ye Chen menggelengkan kepala. Tingkat 3? Bagi dia yang sekarang, itu hanyalah latihan pemanasan.
"Aku sedang buru-buru," kata Ye Chen, tangan kanannya meraih gagang pedang di punggungnya.
"Serang! Potong kakinya dulu!" teriak si Mata Satu.
Bandit-bandit itu menerjang.
Ye Chen tidak bergerak dari tempatnya. Dia menunggu sampai mereka berada dalam jangkauan tiga meter.
Sutra Hati Asura: Aura Penekan.
BOOM!
Aura merah darah yang pekat meledak dari tubuh Ye Chen. Bukan serangan fisik, melainkan tekanan mental murni yang berisi niat membunuh dari ratusan nyawa yang telah dia cabut.
Para bandit itu membeku. Kaki mereka terasa berat seolah tertanam di lumpur. Bayangan kematian mencengkeram jantung mereka.
"Apa... ini..." Si Mata Satu gemetar, keringat dingin membanjiri punggungnya. Aura ini... ini bukan aura Tingkat 2. Ini aura seorang pembantai massal!
"Terlambat untuk menyesal."
WUUUNG!
Pedang hitam raksasa itu terayun.
Satu detik. Satu gerakan melingkar yang sempurna.
Tidak ada teriakan. Hanya suara daging yang terpisah dan tulang yang hancur.
Saat Ye Chen menyarungkan kembali pedangnya di punggung, kelima bandit itu perlahan tumbang. Tubuh mereka terpotong rapi di bagian pinggang.
Ye Chen tidak repot-repot menjarah mereka. Bandit kroco seperti ini tidak punya barang bagus.
Namun, saat Ye Chen hendak melangkah pergi, matanya menangkap sesuatu di kejauhan.
Di atas sebuah bukit batu yang menjorok, seekor burung elang merah sedang berputar-putar. Itu bukan elang biasa. Itu adalah Elang Pelacak Darah milik Sekte Pedang Darah.
"Mereka menemukanku," gumam Ye Chen.
Tapi anehnya, elang itu tidak menyerang atau memanggil pasukan. Ia hanya berputar, lalu terbang ke arah barat. Ke arah yang sama dengan tujuan Ye Chen.
Ye Chen menyipitkan matanya. Dia mencium bau jebakan.
"Han Feng tahu aku punya peta. Dia menungguku di sana," analisis Ye Chen cepat.
Kultivator biasa akan berbalik arah atau mencari jalan memutar. Tapi Ye Chen tersenyum tipis. Senyuman yang penuh dengan kegilaan dan tantangan.
"Kau menungguku, Han Feng? Bagus. Siapkan lehermu."
Ye Chen menghentakkan kakinya.
Langkah Kilat Hantu!
Sosoknya melesat menembus hutan, meninggalkan jejak bayangan. Dia tidak menghindari jebakan itu. Dia berlari lurus menuju mulut singa, siap untuk merontokkan taringnya satu per satu.
(Akhir Bab 18)