NovelToon NovelToon
Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Pernikahan Kilat / CEO / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​"Kau pikir aku akan menyentuhmu? Aku lumpuh."

​Ucapan dingin Elzian Drystan di malam pertama mereka langsung dibalas senyum miring oleh istrinya.

​"Otot betis kencang, tidak ada atrofi, dan pupilmu melebar saat melihatku. Kau tidak lumpuh, Tuan. Kau hanya pembohong payah."

​Dalam detik itu, kedok Ziva Magdonia sebagai istri 'tumbal' runtuh. Dia adalah ahli bedah syaraf jenius yang mematikan. Rahasia Elzian terbongkar, dan kesepakatan pun dibuat: Elzian menghancurkan musuh yang mencoba membunuhnya, dan Ziva memastikan tidak ada racun medis yang bisa menyentuh suaminya.

​Namun, saat mantan kekasih Elzian datang menghina, Ziva tidak butuh bantuan.

​"Hidungmu miring dua mili, silikon dagumu kadaluarsa... mau kuperbaiki sekalian?"

​Bagi Ziva, membedah mental musuh jauh lebih mudah daripada membedah otak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Mimpi Buruk Zoya

​"JANGAN! JANGAN POTONG DI SANA! ARTERINYA PECAH!"

​Teriakan histeris itu membelah kesunyian kamar yang gelap gulita.

​Kalandra tersentak bangun. Insting tempurnya menyala dalam seperseribu detik. Tangannya langsung menyambar pistol Glock-17 yang selalu dia letakkan di bawah bantal sejak teror Hanggara dimulai. Dia melompat duduk, mengarahkan moncong pistol ke pintu kamar, siap menembak siapa pun yang berani masuk.

​"Siapa di sana?! Keluar!" bentak Kalandra, matanya nyalang menyapu ruangan.

​Hening. Tidak ada penyusup. Tidak ada Hanggara. Pintu kamar masih terkunci rapat dari dalam. Jendela yang dipaku papan kayu juga masih utuh.

​Hanya ada suara napas memburu yang terdengar menyakitkan dari sampingnya.

​Kalandra menoleh cepat. Dia menurunkan pistolnya, lalu melempar senjata itu ke nakas.

​Zoya.

​Istrinya sedang duduk tegak di atas kasur, matanya terbelalak lebar menatap telapak tangannya sendiri. Keringat dingin membanjiri wajah dan lehernya, membuat piyama satin yang dipakainya basah kuyup seolah baru saja kehujanan.

​"Darah... darahnya muncrat..." gumam Zoya meracau. Suaranya bergetar hebat. "Klem... mana klem-nya? Kenapa nggak berhenti?"

​"Zoya!" Kalandra mencengkram bahu istrinya, mengguncangnya keras. "Zoya, bangun! Lihat aku!"

​Zoya tersentak. Dia menoleh patah-patah ke arah Kalandra. Tatapannya kosong, pupil matanya melebar karena teror yang belum hilang. Dia tidak melihat Kalandra. Dia melihat hantu masa lalunya.

​"Mas... dia mati... aku bunuh dia..." bisik Zoya, air mata mulai menetes cepat dari sudut matanya.

​"Nggak ada yang mati. Kamu di kamar. Kita aman," ucap Kalandra tegas namun suaranya melembut. Dia menarik tisu dari meja, menyeka keringat di dahi Zoya yang sedingin es. "Kamu mimpi buruk lagi. Cuma mimpi, Zoya."

​"Nggak... itu nyata. Rasanya nyata banget," Zoya menggeleng panik. Dia mengangkat tangan kanannya.

​Tangan itu—tangan dokter yang biasanya stabil seperti batu karang—kini bergetar hebat. Tremor yang tidak terkendali. Jari-jarinya kejang, bergerak-gerak sendiri seolah sedang memegang pisau bedah yang licin oleh darah.

​Kalandra menatap tangan itu dengan kening berkerut. Dia belum pernah melihat Zoya selemah ini. Zoya yang dia kenal adalah wanita besi yang makan roti lapis di depan mayat korban mutilasi tanpa rasa jijik. Tapi sekarang, wanita ini terlihat rapuh, seperti kaca yang retak seribu.

​"Tenang. Tarik napas," perintah Kalandra. Dia turun dari kasur, berlari kecil ke meja di sudut ruangan untuk menuangkan air mineral ke dalam gelas kaca.

​Kalandra kembali duduk di tepi ranjang. Dia menyodorkan gelas itu ke depan bibir Zoya.

​"Minum dulu. Biar detak jantungmu turun. Kamu hiperventilasi," kata Kalandra.

​Zoya mencoba menjangkau gelas itu dengan tangan kanannya.

​"Biar aku saja yang pegang," tawar Kalandra saat melihat tangan istrinya masih gemetar.

​"Nggak. Aku bisa sendiri," tolak Zoya keras kepala. Egonya sebagai dokter menolak untuk terlihat cacat.

​Zoya memaksakan jari-jarinya mencengkram gelas kaca itu.

​Namun, saraf motoriknya mengkhianati otaknya.

​Klontang!

​Gelas itu beradu keras dengan gigi Zoya karena tangannya menyentak tak terkendali. Air tumpah membasahi dagu dan lehernya. Pegangannya meleset. Gelas itu terlepas jatuh.

​Kalandra dengan sigap menangkap gelas itu sebelum menghantam lantai, meski sebagian isinya sudah tumpah membasahi sprei mahal mereka.

​"Zoya..."

​"Maaf," potong Zoya cepat. Dia menarik tangannya, menyembunyikannya di balik selimut seolah tangan itu adalah aib memalukan. "Maaf basah... aku ganti spreinya sekarang..."

​Zoya hendak bangkit dengan panik, tapi Kalandra menahan tubuhnya. Dia mendorong Zoya kembali duduk bersandar di headboard.

​"Persetan sama sprei basah," kata Kalandra tajam. Dia meletakkan gelas itu kembali ke nakas.

​Kalandra meraih tangan kanan Zoya yang bersembunyi di balik selimut. Zoya mencoba menariknya, tapi tenaga Kalandra jauh lebih besar. Kalandra menggenggam tangan yang tremor itu dengan kedua tangannya yang besar dan hangat, mencoba menularkan ketenangannya.

​"Lihat tangan ini," ucap Kalandra, menatap jari-jari Zoya yang masih berkedut. "Ini bukan tremor biasa. Kamu ketakutan setengah mati."

​Zoya memalingkan wajah, menggigit bibir bawahnya sampai memutih. Dia tidak mau suaminya melihat sisi lemah ini.

​"Kenapa?" tanya Kalandra menuntut. "Hanggara memang bajingan, dia psikopat. Tapi kamu Zoya. Kamu dokter forensik paling gila yang pernah aku kenal. Kamu yang nantang dia di TV kemarin. Kamu yang analisis potongan jantung sapi tanpa kedip."

​Kalandra mempererat genggamannya, memaksa Zoya menatap matanya.

​"Kamu tiap hari main sama mayat, Zoya. Kamu lihat otak berceceran, usus terburai, kamu anggap itu sarapan pagi. Kenapa sekarang kamu gemetar kayak gini cuma gara-gara mimpi?"

​Hening sejenak. Hanya suara isak tangis tertahan dari Zoya.

​"Jawab aku," desak Kalandra lembut. "Apa yang kamu takutkan? Mayat nggak bisa gigit, Zoya. Mereka nggak bisa nyakitin kamu."

​Pertahanan Zoya runtuh. Tembok es yang selama ini dia bangun hancur berkeping-keping. Dia menatap Kalandra dengan mata basah yang penuh keputusasaan.

​"Bukan mayat, Mas," jawab Zoya lirih, suaranya pecah. "Aku nggak pernah takut sama mayat."

​Zoya menatap tangan kanannya yang masih bergetar di dalam genggaman Kalandra.

​"Yang aku takutkan itu pasien hidup," bisik Zoya, air matanya jatuh menetes ke punggung tangan Kalandra. "Pasien hidup... yang mati di tanganku karena pisau bedahku meleset."

1
Ana Ajha
ceritanya kereeen
ada seriusnya ada kocak2nya..
alurnya juga ga maju mundur jadi nyqman bacanya
kece banget pokoknya..harus bacaaa..
mkasii kk author
aas
hadeeeeeh modus aja si Pak Komandan 🤣
Kurnia Dominius
baru ini sih baca novel action yg EMG bikin gereget jantung gw like buat autornya deh
Ona Arifin
saya suka...sangat suka..seakan2 terlibat didalam cerita ini..bravo
Na
Waduh 🤓
stevany indri
baret biru mah neneknya altair😁
Sani Srimulyani
hahahahha lucu sih ini ngebayanginnya ...
Sani Srimulyani
bisa2nya minta dianterin ke kamar mayat....emang agak Laen bumil satu ini....
🍁🌹Risma Ayu🌹🍁
🤣🤣🤣🤣..komandan galak merajuk
Marhamah Aja
🤣🤣🤣🤣
aas
kocak banget ini pasangan 🤣🤣🤣
🍁🌹Risma Ayu🌹🍁
kalandra plonga plongo
Imam Sujono
sumpah....kerennn pollll pake empat hurf L......huistimiwarrrr Thorrr...jempol delapan kanggo riko...👍👍👍👍👍👍👍👍😄😄😄😄
andini
sepanjanfg baca malah kagum sama authornya 😍
Ungsi Solin
mantap
celi amanda
Background author medis ya?
celi amanda
Author nya keren 👍
celi amanda
Keren author nya 👍
linanda eneste
sekalian masuk aja pak komandan.. gpp suami istri
Warnilah Ummu faliha
l
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!