NovelToon NovelToon
The Shadowed Psyche

The Shadowed Psyche

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Balas Dendam
Popularitas:694
Nilai: 5
Nama Author: De Veronica

Sinopsis Bab

Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan Alexey

Kelas berjalan seperti biasa, tapi pikiran Junhwan masih kacau, diteror oleh kejadian semalam. Itu pengalaman pertamanya.

Tiba-tiba seorang gadis berteriak.

"Kalian semua dapet kiriman yang sama nggak?!"

Yubin langsung nyahut.

"Kiriman apa sih sampe heboh gini?"

Junhwan buru-buru buka ponselnya.

"SIALAN!" umpatnya kasar.

Siapa yang berani lakuin ini?

Di dalam grup kampus tersebar video percintaannya dengan Hani.

Yubin menatapnya selidik.

"Itu beneran kamu... atau AI?"

Salah satu mahasiswi bergumam sambil tertawa mengejek.

"Itu beneran Junhwan... perkasa banget!"

Mahasiswi lain menyahut menggoda.

"Jadi penasaran gimana permainannya..."

Lisa langsung menggebrak meja.

"TENANG!" bentaknya. "Ada apa sebenarnya?!"

Yubin santai menunjukkan ponselnya ke Lisa.

"Di grup kampus lagi beredar video panas... yang ada Junhwan."

Lisa melirik sekilas, terkejut. Ia menoleh ke Junhwan.

"Itu... kamu?" tanyanya terbata.

"Iya, tapi ini jebakan!" jawab Junhwan cepat. "Ada yang sengaja jebak aku!"

Yubin langsung nyahut sambil tertawa terbahak-bahak.

"Jebakan? Tapi lo terlihat sangat antusias di video itu!"

"Diam," potong Junhwan tajam. "Ini jebakan. Kamu tidak tahu apa-apa."

Yubin tidak gentar. Ia menoleh ke seluruh ruangan. "Kalian percaya itu jebakan?"

Serentak, semua kepala menggeleng.

"Nah." Yubin menyeringai. "Aku juga tidak percaya."

Junhwan menggenggam ponselnya erat, menahan diri.

Pintu kelas terbuka. Rektor Minsook melangkah masuk dengan senyum tenang dan pandangan yang seolah tidak tahu apa-apa.

"Tuan kim," panggilnya sopan. "Boleh ikut ke kantor saya sebentar?"

Junhwan mengangguk kaku dan berdiri. Ia keluar tanpa sepatah kata pun, menutup pintu di belakangnya.

Lisa mengetuk meja sekali. "Sudah. Tidak perlu dibahas lagi." Ia menatap seluruh ruangan. "Junhwan akan selesaikan masalahnya sendiri."

"Baik, Dosen," jawab seluruh kelas serempak.

Ruang pribadi Minsook terasa senyap saat pintu tertutup.

"Tuan muda kim." Minsook menatapnya langsung. "Anda sadar apa yang baru saja anda lakukan?"

"Langsung ke intinya," jawab Junhwan dingin. "Saya tidak punya waktu untuk basa-basi."

Rahang Minsook mengencang sebentar. Ia menarik napas, mengingat siapa ayah pemuda ini.

"Baiklah." Nada Minsook turun satu oktaf. "Maaf atas ketidaknyamanan tadi. Tapi insiden ini sudah mencoreng nama kampus, saya tidak bisa tinggal diam."

"Jadi apa mau anda, pak?" tanya Junhwan datar.

"Skorsing sementara." Minsook menyatukan jarinya di atas meja. "Video itu harus bersih dari lingkungan kampus sebelum anda bisa kembali. Kami akan selidiki kasusnya."

Ia berhenti sejenak. "Kalau terbukti jebakan, anda bisa masuk besok. Tapi kalau ternyata bukan..."

"Seratus persen jebakan." Junhwan memotong sebelum kalimat itu selesai. "Dan saya akan buktikan itu."

Minsook mengangguk pelan. "Saya harap begitu, tuan muda kim."

Junhwan berdiri dan keluar tanpa permisi.

Hani sialan. Sumpahnya dalam hati, langkahnya keras di koridor. Berani sekali kamu mempermainkan aku.

Haerim duduk di tepi kolam, kaki menjuntai ke dalam air. Alexey memeluk pinggangnya erat dari samping, wajah terbenam di perutnya.

"Sayang," panggil Haerim manja. "Kenapa betah banget di situ? Nggak mau berenang lagi?"

"Sebentar lagi," bisik Alexey. "Biarkan aku dulu."

Haerim terkekeh pelan. "Kamu sudah berubah, tau nggak?"

Alexey mendongak sedikit. "Berubah gimana?"

"Dulu dingin banget." Haerim mengusap kepalanya pelan. "Sekarang manja."

"Makanya kamu berbahaya," jawab Alexey datar, lalu membenamkan wajahnya kembali.

Haerim tertawa kecil, sedikit sombong. "Berarti aku berhasil mencairkan tembok esmu."

Alexey tidak menjawab. Pelukannya justru semakin erat.

Ponsel di meja bergetar.

"Sayang, ada telepon," ucap Haerim.

Alexey melepas pelukannya dan naik ke tepi kolam, meraih ponsel itu. *Minsook?* Ia mengernyit sebentar dalam hati, lalu mengangkatnya dan melangkah sedikit menjauh.

"Ya."

"Tugas Tuan Liebert sudah berhasil dilaksanakan," lapor Minsook dari seberang.

"Tidak ada yang tahu?" tanya Alexey dingin.

"Aman sepenuhnya, Tuan. Wanita itu sudah meninggalkan Icheon. Junhwan tidak akan bisa melacaknya."

Alexey menutup sambungan tanpa menjawab dan berbalik ke arah Haerim.

Haerim memperhatikan punggung Alexey dari tepi kolam. Kenapa harus menjauh? Siapa yang ditelepon?

Begitu Alexey kembali mendekat, Haerim langsung berdiri. "Siapa? Perempuan ya?"

"Paman kamu," jawab Alexey santai.

"Paman..." Haerim mengernyit. "Ngapain dia telepon kamu?"

Alexey tidak menjawab langsung. Kalau aku bilang yang sebenarnya, dia pasti takut.

"Junhwan buat ulah di kampus," ucapnya singkat.

"Ulah apa?" tanya Haerim bingung. "Maksudnya?"

"Lihat ponselmu."

Haerim menghela napas dan meraih ponselnya dengan malas. Beberapa detik kemudian ia membeku.

"Ini... serius?" tanyanya, suara sedikit bergetar.

"Junhwan sedang dalam masalah besar," jawab Alexey datar.

"Bodoh sekali dia!" umpat Haerim kesal. "Reputasi kampus hancur gara-gara ini."

Alexey mengambil ponsel dari tangan Haerim dan meletakkannya di meja. "Jangan pikirkan yang tidak penting." Ia langsung menggendong Haerim sebelum wanita itu sempat protes.

"Itu penting!" balas Haerim.

Alexey tidak mendengarkan. Ia duduk di kursi tepi kolam dan mendudukkan Haerim di atas pangkuannya.

"Ada yang lebih penting sekarang," bisiknya di telinga Haerim.

Haerim langsung waspada. "Maksudnya apa?" Ia menoleh. "Jangan macam-macam. Kita di area kolam renang."

Haerim pasrah membiarkan Alexey membenarkan posisinya. Kedua tangannya mencengkeram bahu pria itu.

"Pelan-pelan saja," bisik Alexey lembut.

"Masih sedikit perih," bisik Haerim malu.

Alexey mengusap pipinya pelan. "Sebentar lagi terbiasa."

Haerim menjawab dengan lirih dan mulai bergerak perlahan.

Alexey mengerang pelan. "Terus," desisnya. "Seperti itu."

Sementara itu Kim Hwaran membentak begitu Jinhwa masuk. "Di mana aku harus sembunyikan muka ini?! Gara-gara Putramu yang bodoh itu!"

Jinhwa menunduk. "Maaf, Ibu. Saya akan bereskan ini, Ibu tidak perlu khawatir."

Kim Hwaran menatapnya tajam. "Bereskan?" ulangnya dingin. "Semua orang sudah tahu ada anggota keluarga Kim yang melakukan hal menjijikkan itu. Kamu pikir noda sebesar itu bisa hilang begitu saja?"

"Ibu, tenang dulu." Jinhwa mengangkat kepala. "Saya akan hubungi Minsook sekarang. Dia yang akan bereskan semuanya."

Junhwan masuk dan langsung menyadari suasana ruangan.

"Nenek, ada apa—"

Tamparan keras mendarat di wajahnya sebelum kalimat selesai. Junhwan tersentak.

"Masih berani bertanya, anak tidak berguna!" bentak Jinhwa.

"Ayah, dengarkan aku dulu—"

Tendangan menghantam wajahnya. Junhwan terjatuh, darah mengalir dari bibirnya.

"Ayah..." rintihnya.

Kim Hwaran menatap dari tempatnya berdiri. "Dari semua keturunan keluarga Kim yang pernah lahir," ucapnya dingin, "belum ada yang sebodoh kamu. Persis ayahmu."

Junhwan mendongak. "Nenek... kenapa bicara seperti itu—"

Kaki Jinhwa menginjak dadanya.

"Berhenti bertanya, anak sialan!" bentak Jinhwa. "Kamu sudah permalukan aku di pertemuan kampus dulu, sekarang kamu ulangi lagi?!"

"Ayah, sakit—" raung Junhwan. "Berhenti—"

Tendangan berikutnya datang tanpa ampun.

"Aku akan bunuh kamu hari ini," desis Jinhwa.

Sera berlari turun dari tangga. "Jinhwa, berhenti! Kamu bisa bunuh dia!"

"Biarkan saja." Kim Hwaran memotong dingin. "Kamu terus bela dia, makanya dia semakin buruk."

"Ibu, Junhwan masih muda, ia khilaf—" Sera mengulurkan tangan ke arah mertuanya.

Kim Hwaran berdiri dan pergi tanpa menoleh.

Jinhwa menatap istrinya sebelum melangkah keluar. "Berhenti manjakan anak itu. Suatu hari dia yang akan hancurkan keluarga ini."

"Kenapa kalian tidak pernah perlakukan dia seperti manusia?!" balas Sera dengan suara bergetar.

"Kalau dia mau diperlakukan seperti manusia," jawab Jinhwa dingin, "suruh dia buktikan dulu." Ia pergi tanpa menoleh.

Sera berbalik. Junhwan terbaring di lantai, darah di wajah dan bibirnya.

"Junhwan—" suaranya pecah. "Ayo, Ibu bawa ke rumah sakit sekarang."

"Nggak apa-apa," lirih Junhwan. Ia mencoba duduk, gerakan lambat dan berat.

"Junhwan—"

"Sudah biasa, Bu."

Sera memeluknya erat, air mata jatuh tanpa bisa ditahan. "Maaf. Maaf, Ibu tidak bisa lindungi kamu."

Junhwan menggeleng lemah dalam pelukan itu. "Bukan salah Ibu." Ia diam sebentar. "Mungkin Ayah dan Nenek benar. Aku memang tidak berguna."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!