Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Kontrakan Yang Sunyi
Langit masih gelap saat Aluna turun dari ojek online di depan gang sempit tempat kontrakan mereka berada. Udara subuh lembap, dingin, dan terasa berat.
Ia berjalan pelan. Kakinya masih lemas.
Pintu kontrakan kecil itu sedikit terbuka. Lampu ruang tengah menyala redup.
Begitu masuk, aroma minyak kayu putih dan obat menyambutnya.
Aruna langsung bangkit dari kasur tipis di lantai.
“Luna? Kamu baru pulang? Kok lama banget?”
Aluna tidak langsung menjawab. Ia melepas sepatu tanpa suara, menaruh tasnya di meja plastik yang sudah retak di sudutnya. Kontrakan itu sempit—cat dinding mengelupas, kipas angin tua berderit pelan.
“Kamu nggak apa-apa?” Aruna bangkit, wajahnya masih pucat karena demam.
Aluna hanya mengangguk pelan. “Iya. Capek aja.”
Aruna mendekat. “Tamu susah ya?”
Hening.
Aluna menatap lantai beberapa detik terlalu lama.
“Lumayan,” jawabnya pendek.
Aruna mengerutkan kening. “Luna… kamu kenapa?”
Aluna mengangkat wajah. Matanya sembab, tapi ia berusaha tersenyum. “Nggak kenapa-kenapa.”
Aruna tahu itu bohong.
Ia sudah hidup bersama Aluna cukup lama untuk tahu kapan sahabatnya sedang menahan sesuatu.
“Dia ngapa-ngapain kamu?” tanya Aruna pelan.
Kalimat itu membuat napas Aluna tercekat.
Aruna langsung pucat. “Ya Tuhan… Luna.”
“Dia kira aku orang lain,” jawab Aluna cepat. Suaranya datar, tapi tangannya gemetar. “Aku ditarik masuk. Aku sempat takut.”
Aruna langsung memeluknya. “Maafin aku… ini salah aku. Kalau aku nggak minta kamu gantiin—”
“Bukan salah kamu,” potong Aluna pelan. “Aku yang mutusin buat datang.”
“Tapi aku yang nyuruh!” Aruna menangis. “Aku nggak tahu bakal kayak gitu. Aku pikir cuma shift biasa.”
Aluna diam.
Ia tidak menceritakan semuanya. Tidak tentang bagaimana situasinya berubah. Tidak tentang keputusan yang terasa kabur dan salah di waktu bersamaan.
Ia hanya berkata, “Udah lewat.”
Tapi tubuhnya sendiri belum sepenuhnya percaya itu sudah lewat.
Aruna menarik napas gemetar. “Kita berhenti kerja di situ aja, ya? Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa.”
Aluna tersenyum tipis. “Terus kita makan apa?”
Pertanyaan sederhana itu membuat ruangan kecil itu kembali terasa nyata.
Mereka tidak punya siapa-siapa. Tidak ada orang tua untuk dimintai tolong. Tidak ada tabungan besar. Hanya kontrakan murah, mimpi kecil membuka usaha kue suatu hari nanti, dan satu sama lain.
Aruna menggenggam tangan Aluna erat. “Kalau kamu kenapa-kenapa, aku nggak bakal maafin diri aku sendiri.”
Aluna menatap sahabatnya. Dalam hati, ia juga tidak yakin bisa memaafkan dirinya sendiri.
“Udah,” katanya pelan. “Aku cuma mau tidur.”
Ia masuk ke kamar sempit mereka—hanya dipisahkan tirai tipis. Ia duduk di kasur, memeluk lututnya.
Bayangan pintu kamar hotel. Tarikan tangan. Suara bentakan.
Dan tatapan pria itu.
Aluna menutup mata keras-keras.
Ia berharap pagi akan menghapus semuanya.
Tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu—
Malam itu belum benar-benar selesai.
---
Aruna tidak langsung kembali ke kasurnya. Ia duduk di depan tirai kamar, menatap bayangan Aluna yang diam tak bergerak di balik kain tipis itu.
“Luna…” panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
“Aku serius. Kalau kamu mau lapor, aku temenin. Kita ke manajer, ke polisi, ke siapa pun. Jangan kamu pendam sendiri.”
Beberapa detik sunyi sebelum suara Aluna terdengar lirih dari dalam.
“Lapor apa, Run?”
Aruna terdiam.
“Aku nggak luka,” lanjut Aluna pelan. “Nggak ada yang bisa kubuktiin.”
Kalimat itu terdengar datar, tapi justru itulah yang membuat hati Aruna semakin nyeri.
Aruna bangkit, membuka tirai sedikit. Aluna duduk bersandar di dinding, masih memakai pakaian kerjanya. Rambutnya berantakan. Wajahnya pucat.
“Kamu takut?” tanya Aruna hati-hati.
Aluna tersenyum tipis, pahit. “Tadi iya.”
“Sekarang?”
Aluna tidak langsung menjawab. Ia memandang kosong ke lantai keramik yang retak di sudut ruangan.
“Sekarang aku bingung,” katanya akhirnya.
Bingung pada dirinya sendiri.
Bingung pada keputusan yang terasa kabur.
Bingung kenapa ia tidak langsung pergi ketika pintu sudah terbuka.
Aruna masuk dan duduk di sampingnya.
“Aku harusnya yang di sana,” gumam Aruna. “Aku yang punya shift. Kamu cuma nolongin aku.”
Aluna menoleh pelan. “Kalau kamu yang di sana, mungkin kejadiannya sama. Atau malah lebih parah.”
Aruna menunduk. Tangannya mencengkeram ujung selimut.
Kontrakan kecil itu terasa semakin sempit malam itu. Suara motor lewat di gang, suara ayam dari rumah tetangga, kipas angin yang berderit—semuanya terdengar terlalu jelas.
“Kita keluar dari hotel itu aja, ya?” kata Aruna lagi, lebih tegas. “Aku cari kerja lain. Kamu juga.”
Aluna menghela napas panjang. “Gaji kita belum keluar.”
“Kita bisa pinjam ke Bu Rini.”
“Kita udah pinjam bulan lalu.”
Hening lagi.
Realitas selalu lebih keras dari rasa takut.
Aruna mengusap wajahnya kasar. “Aku benci hidup kayak gini.”
Aluna tertawa kecil, hambar. “Kita cuma lagi di fase susah.”
“Dari dulu juga susah.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Aluna menoleh ke arah jendela kecil kamar mereka. Tirai tipis bergoyang pelan tertiup angin subuh. Di luar, langit mulai memudar jadi abu-abu.
“Aku cuma pengen hidup tenang,” ucapnya pelan. “Kerja, nabung, buka toko kue kecil. Sesederhana itu.”
Aruna tersenyum lemah. “Dan aku jadi baristanya.”
“Kita bikin tempat kecil tapi nyaman. Ada aroma kopi, roti baru matang…”
“Dan nggak ada tamu aneh-aneh,” sambung Aruna.
Mereka saling menatap, lalu tertawa kecil—tawa yang lebih mirip usaha bertahan daripada benar-benar lucu.
Beberapa detik kemudian, Aruna memperhatikan sesuatu.
“Tangan kamu memar.”
Aluna spontan menarik lengannya. Di pergelangan tangannya terlihat bekas kemerahan samar.
Aruna langsung merasa mual. “Ya Tuhan… itu gara-gara dia?”
“Cuma kepegang keras,” jawab Aluna cepat. “Nggak apa-apa.”
Tapi saat jari Aruna menyentuh bekas itu, Aluna refleks meringis.
Aruna menutup mulutnya, air matanya jatuh lagi. “Aku bener-bener nggak bisa maafin diri aku.”
“Stop,” potong Aluna pelan tapi tegas. “Kalau kamu terus nyalahin diri sendiri, aku makin ngerasa bersalah karena nggak cerita semuanya.”
Aruna membeku. “Maksud kamu?”
Aluna terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia hampir mengatakan semuanya. Tentang bagaimana situasinya berubah. Tentang keputusan yang terasa salah tapi juga tidak sepenuhnya dipaksa.
Tapi kata-kata itu terasa terlalu berat.
“Udah,” katanya akhirnya. “Aku cuma capek.”
Aruna menatapnya lama, lalu mengangguk pelan.
“Kalau kamu mimpi buruk, bangunin aku.”
Aluna tersenyum kecil. “Kamu sendiri masih demam.”
“Nggak peduli.”
Mereka akhirnya berbaring berdampingan di kasur tipis itu. Lampu dimatikan. Ruangan menjadi gelap.
Namun mata Aluna tidak juga terpejam.
Setiap kali ia hampir tertidur, bayangan pintu hotel itu muncul lagi. Tarikan tangan. Benturan ke dinding. Tatapan pria asing yang dingin tapi penuh konflik.
Dan kalimat terakhirnya terngiang samar di kepalanya.
Kita sudah terlalu jauh.
Aluna memejamkan mata lebih kuat.
Ia tidak tahu bahwa malam itu bukan hanya meninggalkan memar di pergelangan tangannya.
Ada sesuatu yang jauh lebih dalam yang baru saja dimulai.
Dan ia belum siap menghadapinya.
---