Katanya sakit hati seseorang itu adalah ketika dia diam dan pergi tanpa banyak bicara. Itu yang di lakukan Anjas, dia sakit hati pada istrinya yang selingkuh, tapi bukan pergi untuk menata hati yang hancur, dia justru pergi ke dukun untuk membalas sakit hati.
"Saya ingin dia mati Mbah"
"Ada penyiksaan yang lebih mematikan dari kematian"
"Apa itu Mbah?"
"Rasa cinta yang tak berbalas"
"Bagaimana saya melakukannya?"
"Teluh... Pelet mati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cari mangsa
"Hiks... tolong...."
"Tolong aku! ayah!"
"Hihihihi... tak ada yang bisa mendengar kamu di tempat ini, tak ada yang bisa masuk tanpa ijin dan tak ada yang bisa mengganggu, ayo nduk.... kerja" ucap Martini
"Kerja.. kerja apa?" tanya Lilis
Dia melihat kembali ke sekeliling, di samping sebuah batu besar terdengar banyak teriakan dan tangisan, dan saat berjalan ke sana, matanya di buat terbelalak karena di lapangan yang begitu luas itu, banyak manusia yang di ratai kakinya, pakaiannya sudah compang camping dan mereka memegang banyak alat seperti palu, cangkul, linggis bahkan ada yang mengangkut batu batu besar dengan tangannya.
Mereka menangis tapi bukan tangisan biasa, itu tangisan darah dan penyesalan, tangisan ingin pulang dan rasa sakit yang tiada akhir.
"Hihihi... ini adalah tempat baru kamu"
Bruk.
"Aakhhh!" teriak Lilis saat tubuhnya di dorong untuk ikut bekerja dengan para manusia itu yang sama sekali tidak melirik ke arahnya karena mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing.
"Tidak ada yang akan menolong kamu di sini karena mereka juga tersiksa, ini adalah balasan dari perbuatan kamu, dan kamu akan bebas jika sudah waktunya" ucap Martini datar dan tiba tiba saja menghilang dari sana.
"Hiks... ayah"
××××××××
Di rumah Anjas.
"Ko Lilis tidak ada bi?" tanya Juno yang sore itu sudah rapi bersama Adisti karena mereka akan ke taman.
"Saya tidak tahu den, hanya saja tadi itu Lilis bilang kalau dia mau pulang kampung, orang tuanya sakit" jawab Tari yang sebenarnya melihat Martini yang menyamar jadi Lilis.
"Pulang kampung tiba tiba, aneh sekali" gumam Juno
"Mungkin memang darurat, sudah biarkan saja nanti kakak kirim uang untuk berobat orang tuanya" ucap Anjas yang tahu ke mana Lilis di bawa
"Iya kak, kasihan dia pasti tidak punya uang cukup" ucap Juno lalu menuntun Adisti untuk pergi ke taman dekat komplek perumahan mereka.
Anjas hanya bisa menggelengkan kepalanya karena adiknya itu begitu tulus, bahkan orang jahat sekalipun dia kasihani, dan Anjas tidak bisa melepaskan Juno pergi berdua saja dengan Adisti.
"Jaka, kawal Juno dari jauh, saya tidak mau dia di manfaatkan orang lagi" perintah Anjas
"Baik pak" jawab Jaka segera pergi dari sana.
"Mas, perasaan tadi pagi Mbak Lilis masih ada, ko tiba tiba pergi ya, harusnya tunggu kita dulu supaya kita antar ke kampungnya" ucap Aisyah
"Lilis pasti panik dan langsung pergi, sudah kamu jangan khawatir, nanti aku minta orang untuk mengecek ke kampungnya" jawab Anjas mengusap kepala Aisyah
"Ais..."
"Iya"
"Aku punya sesuatu untuk kamu di kamar, ayo lihat kamu pasti senang" bisik Anjas
"Apa itu mas, jangan berikan hadiah lagi soalnya yang kemarin juga masih belum aku buka semua" ucap Aisyah membuat Anjas tertawa.
Aisyah berbeda sekali dengan Triana, kalau itu Triana, dia akan langsung berlari ke kamar mereka untuk mencari hadiah itu yang sebenarnya tidak ada, itu hanya akal akalan Anjas supaya mereka bisa berduaan di dalam kamar.
"Bukan, aku mau minta bantuan kamu"
"Bantuan apa?"
"Bantuan untuk menenangkan sesuatu, dia terus berontak" jawab Anjas merasa gemas dengan wajah Aisyah yang terlihat serius.
"Peliharaan mas? mas pelihara apa?" tanya Aisyah
"Kucing, kucingnya terus berontak mungkin minta di elus sama kamu" jawab Anjas.
"Ayo kalau begitu, Ais akan rawat kucingnya dengan baik" ucap Aisyah antusias.
"Ayo, mumpung papa juga sedang mengobrol dengan bi Tari" jawab Anjas merasa senang karena jebakannya berhasil dan dia bisa menggunakan waktu itu untuk melanjutkan malam pertama mereka yang gagal gara gara Juno.
"Apa tidak ada asisten rumah tangga yang lain di sini Bu?" tanya Marwan
"Tidak ada pak, soalnya pak Anjas itu orangnya pemilih beliau tidak mau ada terlalu banyak orang di rumah ini, Lilis saja dia angkat karena di rekomendasikan temannya dulu" jawab Tari.
"Kalau Lilis pulang itu artinya Anjas butuh satu asisten rumah tangga lagi ya"
"Iya pak, kalau saya di ijinkan pak Anjas, nanti saya mau minta salah satu anak teman saya saya kerja di sini, dia sudah di ceraikan suaminya dan tidak punya anak, kasihan di kampung juga tidak ada sanak saudara lagi" jawab Tari.
"Bi Tari sudah berapa lama ikut Anjas?"
"Sudah sejak gadis pak, bibi pernah menikah dengan tukang kebun pak Anshar ayahnya pak Anjas, tapi suami saya meninggal, saya punya satu anak dan sekarang sudah kerja di luar negri, di sekolahkan almarhum pak Anshar, usianya sama dengan nak Juno" jawab Tari
"Kenapa bibi masih kerja di sini kalau anak bibi sudah sukses?"
"Saya yang minta untuk tetap kerja dengan keluarga pak Anjas, saya sudah betah di sini, paling saya minta libur kalau anak saya pulang dari luar negri" jawab Tari.
"Bibi hebat karena tetap setia pada keluarga ini, keluarga Anjas juga hebat karena mereka tulus menganggap bibi keluarganya" ungkap Marwan.
°°°°°°°°°°°
Di taman.
"Pak, ingat saya tidak? saya pernah ngutang nasi goreng seminggu lalu" ucap Juno
"Ingat dong, kamu kan sering ke sini satu minggu sekali" jawab penjual nasi goreng itu
"Ini pak hutang saya, saya mau pesan lagi tapi nanti pas pulang saya bawa, saya mau traktir orang rumah" ucap Juno memberikan beberapa lembar uang merah pada penjual nasi goreng itu.
"Beres, kalian mau cari mangsa lagi?" tanya penjual itu yang sudah tahu kebiasaan Juno
"Biasa pak" jawab Juno membuat Adisti tepuk jidat
"Semoga kali ini berhasil ya" ucap penjual itu terkekeh
"Aamiin"
Juno menggendong Adisti, dia membeli es krim sebelumnya supaya mereka bisa mencari mangsa yang kira kira bisa mereka jebak dengan mudah.
"Adis, Om lihat Tante cantik tuh yang pakai baju seragam putih perawat itu, ayo kita dekati, dia pasti mau jadi Tante kamu, kamu panggil Om papa ya" bisik Juno menurunkan Adisti
"Oke" jawab Adisti
Adisti berlari ke arah seorang perempuan yang sedang duduk sambil membaca buku, Adisti akan berpura pura jatuh dan mencari perhatian perempuan itu agar Juno bisa dapat pacar.
Bruk.
"Hiks... papa!" teriak Adisti begitu meyakinkan dengan air mata yang sudah mengalir di pelupuk matanya.
Perempuan di depannya memang melirik ke arah Adisti, tapi sedetik kemudian dia kembali membaca bukunya, Adisti malah di tolong oleh seorang gadis SMA yang langsung menggendongnya.
"Adik cantik, kamu tidak apa apa?" tanya gadis itu yang bajunya penuh dengan coretan karena gadis itu baru merayakan kelulusannya.
"Yuna, kenapa kamu tolong dia, nanti kamu di sangka membuat anak ini menangis" ucap temannya
"Tidak apa, orang tadi dia jatuh kan kasihan, ada yang sakit tidak adik cantik?" tanya gadis bernama Yuna itu.
"Hiks, papa...." rengeknya memeluk Yuna dengan erat dan menatap benci perempuan berseragam perawat di depannya.
"Adis... Masya Allah papa cari kamu, kamu malah lari, kamu tidak apa apa kan?" tanya Juno sambil memperhatikan gadis yang sudah menolong Adisti.
"Hiks... papa Tante itu dolong Adis sampai jatuh" adu Adisti menunjuk perempuan berseragam perawat yang sekarang terlihat peduli dengan Adisti karena melihat Juno begitu tampan dan berseragam kantor.
"Eh.. tidak pak, saya sejak tadi duduk dan anak bapak tiba tiba jatuh di depan saya, mau saya tolong tapi sudah keduluan adik adik ini" ucapnya tersenyum ramah dan langsung di cibir Adisti.