Katanya sakit hati seseorang itu adalah ketika dia diam dan pergi tanpa banyak bicara. Itu yang di lakukan Anjas, dia sakit hati pada istrinya yang selingkuh, tapi bukan pergi untuk menata hati yang hancur, dia justru pergi ke dukun untuk membalas sakit hati.
"Saya ingin dia mati Mbah"
"Ada penyiksaan yang lebih mematikan dari kematian"
"Apa itu Mbah?"
"Rasa cinta yang tak berbalas"
"Bagaimana saya melakukannya?"
"Teluh... Pelet mati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang baru
"Ssttt..."
Suara ular memang terdengar di ruangan Juno, tapi ular itu tetap tidak di temukan membuat Anjas dan Raka kebingungan, bahkan semua tempat yang mungkin di jadikan tempat ular itu bersembunyi sudah di periksa Anjas dan Raka.
"Terakhir, bismillahirrahmanirrahim" ucap Raka membuka karpet dan tiba tiba ular besar muncul di sana hampir menggigit Raka kalau tidak segera di tarik oleh Anjas.
"Ssttt ...."
Ular itu terus mencoba menyerang Raka dan Anjas yang menghindar, mereka tahu kalau ular itu ingin kabur keluar karena targetnya tidak ada di ruangan dan ular itu juga tidak bisa menembus tembok, hanya bisa terus merayap ke setiap tempat untuk mencari jalan kabur.
"Ular itu sepertinya kiriman seseorang yang tidak menyukai Juno" ucap Raka
"Atau mungkin orang lain, Yuna misalnya karena ular itu mengejar Yuna" ucap Anjas
"Kamu yakin?" tanya Raka
"Iya, tadi saat ke sini Juno bilang ular itu langsung mengejar Yuna dan Juno meminta Yuna masuk ke kamar mandi" jawab Anjas masih memperhatikan ular yang siap mematuk siapapun yang mendekat ke arahnya.
"Kita apakan ular itu?" tanya Raka
"Biar Anjas yang urus" jawab Anjas
Anjas menatap mata ular itu, dia membaca mantra yang di berikan Suro padanya ketika dia menjadi murid Suro, bahkan Anjas tidak tahu apakah mantra itu akan berhasil pada binatang atau tidak. Ya, Anjas sedang mencoba memelet ular itu dengan ilmu pelet mati yang dia miliki.
"Sstttt..."
Ular itu tampak melonggarkan pertahanannya, dia mulai tenang dan saat itulah Raka segera menangkapnya dengan memegang Kapala ular tersebut. tapi Raka tidak berhenti sampai di situ, dia membacakan ayat ayat pengusir setan ke arah ular itu yang terlihat kepanasan dan beberapa menit kemudian ular itu berubah menjadi kering dan mati.
"Apa yang kak Raka baca?" tanya Anjas
"Hanya dua ayat terakhir surat Al-Baqarah dan ayat kursi" jawab Raka memasukkan kembali ular itu ke dalam kotak dengan rapat.
"Kak Raka bisa mengusir hantu?" tanya Anjas
"Tidak bisa, hanya di ajarkan mertua kak Raka saja untuk berjaga jaga" jawab Raka dan Anjas mengangguk faham.
Ular itu sudah tenang, tapi Anjas masih belum tenang karena Suro dan Martini tidak pernah muncul lagi setelah pertarungan dengan Khal. Dan karena Anjas tidak kunjung melihat keduanya, Anjas berniat untuk pergi ke rumah Suro lagi minggu nanti.
"Kak, apa ularnya sudah tertangkap?" tanya Juno khawatir, bahkan sampai memeriksa tubuh Anjas dan Raka.
"Sudah, ularnya mati" jawab Anjas
"Tidak apa apa, ular itu bisa membahayakan orang orang di kantor, jadi di bunuh saja" ucap Juno
"Kamu tahu siapa yang mengirim paket itu?" tanya Anjas
"Tidak tahu kak, tapi pak Doyok bilang pengirimnya laki laki dengan badan tinggi dan rambutnya berwarna pirang" jawab Juno yang sudah bicara dengan Doyok, satpam yang menerima paket itu.
"Rambut pirang, Anjas sempat mengira itu Hengki tapi ternyata bukan, Hengki tidak tinggi" gumam Anjas
"Kamu tidak punya musuh lain?" tanya Raka
"Tidak kak, hanya dia dan..."
"Dan siapa?" tanya Raka dan Juno
"Sofyan, mantan tunangannya Aisyah, tapi dia sudah janji tidak akan menggangu Aisyah lagi" jawab Anjas
"Iya juga, dan lagi tadi kamu bilang ular itu mengejar Yuna, Yuna itu sekretaris Juno?" tanya Rama dan Anjas mengangguk.
"Maaf pak, sepertinya saya tahu siapa orang itu" ucap Titi yang juga ikut menenangkan Yuna
"Siapa?" tanya Anjas
"Dia.... orang yang ingin Yuna jadi adik angkatnya tapi dengan tujuan lain" jawab Titi.
"Titi...."
"Tidak apa apa, mungkin saja memang dia, dia terus ganggu kamu setiap hari, bahkan dia sampai mengejar kamu ke sini" bujuk Titi saat Yuna ingin melarangnya bicara.
"Siapa? katakan saja dari awal sampai akhir" ucap Juno serius
"Namanya Edrick Kuncoro, dia kakak kelas kami dulu, sekarang dia sudah kuliah di semester akhir"
Titi menjelaskan secara detail tentang Edrick. Di mulai dari pertemuan Edrick dan Yuna pertama kali saat mereka baru masuk SMA dan sedang menjalani MPLS, Edrick yang saat itu sudah lulus dan kebetulan ke sekolah untuk meminta berkas berkas miliknya, tak sengaja bertabrakan dengan Yuna. mereka berkenalan dan saling tukar nomor telepon karena Edrick mengatakan ingin mengganti tas Yuna yang rusak karena tersiram jus milik Edrick. Sejak saat itulah mereka mulai dekat.
Dari tahun pertama sekolah, Edrick tidak pernah terlambat menjemput Yuna di panti asuhan, orang tua Edrick juga sering ke sana untuk memberikan bantuan bagi anak anak yatim-piatu yang tinggal di sana. Yuna begitu kagum pada Edrick bahkan kekaguman itu juga mulai tumbuh jadi rasa cinta, tapi tidak pernah Yuna ungkapkan karena dia tahu posisinya dan statusnya dengan Edrick begitu berbeda.
Tapi siapa yang tahu perasaan seseorang, Edrick justru meminta orang tuanya untuk mengadopsi Yuna ke panti asuhan, awalnya Yuna senang karena akan punya orang tua dan saudara sebaik Edrick meskipun dia harus membuang perasaan cintanya, tapi setelah tahu tujuan Edrick yang sebenarnya, Yuna langsung berubah membenci Edrick bahkan tidak mau bertemu dengan dia lagi.
"Memangnya apa tujuan utama Edrick ingin menjadikan Yuna adiknya?" tanya Juno
"Organ tubuh Yuna, pacar Edrick sakit parah dan butuh transplantasi organ, seperti ginjal, hati bahkan jantung, dan darah Yuna cocok dengan darah si pacar karena Edrick sudah pernah membawa Yuna ke rumah sakit untuk di cek" jawab Titi
"Dan parahnya lagi, ternyata bukan hanya Yuna korbannya, tapi perempuan lain juga, hanya saja mereka tidak cocok dan langsung di campakan Edrick begitu saja" jawabnya lagi membuat semua orang yang mendengarnya merasa geram
"Orang seperti dia harus kita waspadai, dia pasti akan terus mengejar Yuna sampai apa yang dia inginkan dia dapatkan" ungkap Raka
"Kak..."
"Yuna boleh tinggal di rumah kita, tapi tidak dengan Titi karena kakak tidak bisa membiarkan banyak orang asing masuk" jawab Anjas karena Anjas bisa melihat Titi tertarik padanya.
"Titi, kamu tidak apa apa kan tinggal sendiri?" tanya Juno
"Ti...."
"Titi akan ikut saya pak, saya tidak mau salah satu karyawan saya ada yang terluka karena tinggal sendiri" ucap Gunawan yang merupakan ketua divisi keuangan di kantor itu.
"Itu lebih baik" ucap Anjas lalu mengantar Raka ke depan lobi kantor karena dia akan kembali ke kantornya.