NovelToon NovelToon
Braja Geni

Braja Geni

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Pusaka Ajaib
Popularitas:20.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Tulang tangan Ki Jarwo terasa seperti diremukkan palu godam. Saat ia menatap telapak dan pergelangannya, lebam kehitaman telah menjalar hingga ke siku. Namun sorot matanya belum padam.

Perlahan ia menarik napas, lalu mengulur tangan kirinya ke pinggang.

Dari balik sabuk kulitnya, ia mengurai sebuah rantai hitam legam. Di kedua ujungnya terpasang belati kecil melengkung, tipis namun berkilat tajam. Rantai itu berdesing lirih saat dilepaskan, seakan memiliki nyawa sendiri.

“Inilah… Rantai Kala Srenggala,” gumamnya rendah.

Senjata itu bukan sembarang rantai. Dalam dunia gaib, Kala Srenggala dikenal sebagai alat penjerat makhluk halus—jin, dedemit, dan sebangsanya. Rantai itu konon ditempa dengan campuran besi pilihan dan mantra pengikat ruh, sehingga mampu melilit bukan hanya tubuh, tetapi juga hawa dan tenaga dalam lawan.

Namun di tangan Ki Jarwo, senjata itu bukan sekadar alat penangkap makhluk gaib.

Ia juga alat pembantai.

Ki Jarwo memutar rantai itu perlahan.

“Cing… cing… cing…”

Suara gesekan logamnya memecah sunyi malam. Bara kemerahan kembali merambat di sepanjang mata rantai, menjalar hingga ke kedua belati di ujungnya.

“Kalau telapak tak mampu meremukkanmu,” desisnya, “rantai ini akan mengikat napasmu.”

Tiba-tiba ia mengayunkannya.

“Swiiinggg!”

Rantai itu melesat cepat, berputar seperti ular baja yang memburu mangsa. Salah satu belati mengarah ke kaki Ki Baraya, berniat melilit sebelum ditarik untuk merobek daging.

Ki Baraya meloncat ke samping, namun ujung rantai itu menyapu tanah dan meninggalkan bekas goresan panjang. Tanah berasap tipis, seakan tersentuh hawa panas.

Mata Ki Baraya menyipit.

Ia tahu kini pertarungan memasuki babak yang berbeda.

Melawan telapak sakti saja sudah berbahaya.

Kini ia harus menghadapi senjata yang bisa menjerat tubuh—dan mungkin juga tenaga dalam.

Dan Ki Jarwo, meski tangannya remuk, tampak justru semakin berbahaya.

Dengan lincah Ki Jarwo memainkan senjatanya. Rantai besi itu berputar liar di udara, meliuk seperti ular haus darah. Kadang menebas cepat, kadang mematuk tajam dari sudut yang tak terduga.

“Swiiing! Crassh!”

Beberapa kali ujung belati di rantai itu nyaris menyentuh tubuh Ki Baraya. Satu sabetan bahkan sempat mengoyak ujung lengan bajunya, meninggalkan garis tipis berdarah di kulitnya.

Ki Baraya menyadari, jika ia terus bertahan, hanya soal waktu sebelum rantai itu benar-benar melilitnya.

Ia pun meloncat jauh ke belakang, menjaga jarak. Kedua kakinya menapak kokoh. Ia memejamkan mata sesaat, bibirnya komat-kamit membaca mantra kuno yang lama tak ia ucapkan.

Udara mendadak berubah.

Angin berhenti. Daun-daun yang tadi beterbangan seolah tertahan di udara.

Di atas kepala Ki Baraya, perlahan terbuka sebuah tabir gaib—seperti kain tipis yang tersingkap dari langit malam. Dari celah tak kasatmata itu, muncul cahaya kebiruan yang makin lama makin terang.

Jarwo tertegun.

Dari dalam tabir itu meluncur sebuah pedang.

Bilahnya berkilau kebiruan, terbuat dari perunggu tua dengan ukiran aksara kuno yang tak dikenali oleh manusia zaman ini. Aksara itu samar berpendar, seperti bernapas. Gagangnya sederhana, namun memancarkan wibawa yang membuat dada terasa ditekan.

Itulah Pedang Keramat milik Ki Baraya.

Pedang yang berasal dari jagat gaib.

Pedang yang tak hanya mampu membelah jin dan dedemit—tetapi juga merobek raga manusia tanpa ampun.

Begitu gagangnya tertangkap oleh tangan Ki Baraya, aura dahsyat menyebar ke sekeliling. Tanah bergetar halus. Para tuyul yang tersisa mundur ketakutan. Bahkan Rantai Kala Srenggala di tangan Jarwo bergetar lirih, seolah mengenali lawan sepadannya.

Tiba-tiba—

“Glaaaarrr!”

Petir menggelegar di langit yang sebelumnya terang tanpa awan. Kilat putih menyambar jauh di cakrawala, menerangi sosok Ki Baraya yang kini berdiri dengan pedang terhunus.

Jarwo menelan ludah.

Jarang sekali Ki Baraya mengeluarkan pedang keramatnya. Hanya ketika ia berhadapan dengan kekuatan yang memiliki sifat gaib setara atau lebih tinggi.

Dan malam ini…

Ia telah menganggap Ki Jarwo sebagai ancaman yang pantas menerima bilah suci itu.

“Pedang Keramat Sanghyang Candrabhairawa…” desis Ki Jarwo, matanya membelalak. “Jadi inilah wujudnya. Tak pernah kau bawa karena ia berasal dari jagat gaib. Tapi jangan kira rantai ku akan kalah! Rantai Kala Srenggala ini juga lahir dari jagat yang sama! Heyaaaa!”

“Wusss! Bett! Traaanng!”

Rantai maut itu kembali melesat. Kini lebih cepat, lebih buas. Ia membelah udara dari berbagai arah—atas, bawah, samping—seakan menjadi banyak ular baja sekaligus.

Namun Ki Baraya berdiri tenang.

Dengan satu gerakan ringan, bilah kebiruan Sanghyang Candrabhairawa berputar membentuk lingkar cahaya. Setiap sabetan rantai yang datang disambut dengan tangkisan presisi.

“Trang! Bum! Bumm!”

Setiap benturan memercikkan ledakan hawa. Udara bergetar keras, tanah di bawah kaki mereka melesak ke dalam seperti ditekan tangan raksasa tak kasatmata. Batu-batu kecil terlempar menjauh.

Ki Jarwo menggertakkan gigi. Ia memaksa tubuhnya yang terluka untuk terus menyerang. Rantai diputar makin cepat, hingga hanya terlihat bayangan gelap berkilat merah.

“Swiiing! Crassh! Traaanng!”

Namun tiap kali rantai itu beradu dengan pedang keramat, tangan Ki Jarwo terasa seperti tersambar petir. Getaran dari bilah kebiruan itu merambat sepanjang rantai hingga ke tulangnya yang sudah remuk.

“Arghh…!”

Ia melompat mundur sesaat, lalu kembali menyerbu dengan teriakan penuh amarah.

Ki Baraya tetap kokoh. Setiap tangkisan bukan hanya menahan serangan—melainkan memantulkan tenaga gaib yang terkandung di dalam rantai.

Kini bukan lagi sekadar duel senjata.

Itu adalah benturan dua pusaka dari dua dunia.

Cahaya kebiruan pedang beradu dengan pijar kemerahan rantai. Malam yang tadinya gelap kini dipenuhi kilatan aura yang saling membelah.

Dan perlahan, meski Ki Jarwo masih menyerang dengan ganas, terlihat jelas—

tenaga Sanghyang Candrabhairawa mulai mendominasi medan laga.

Ki Jarwo makin terdesak. Kekuatan Pedang Keramat Sanghyang Candrabhairawa benar-benar di luar dugaannya. Dalam satu benturan keras—

“Praaanggg!”

Rantai Kala Srenggala yang selama ini ia bangga-banggakan… terputus.

Mata rantai itu pecah berhamburan ke tanah, memercikkan bara kemerahan sebelum padam menjadi besi dingin. Ki Jarwo terbelalak. Tak pernah terbayang pusaka andalannya bisa takluk sedemikian rupa.

Namun ia belum menyerah.

Sisa rantai yang tinggal sepanjang lengan itu ditegakkan dengan tenaga dalam. Logamnya mengeras, memanjang kaku, menyerupai bilah baja bergerigi.

Dengan raungan penuh amarah ia kembali menyerang.

Ki Baraya sebenarnya telah yakin kemenangan ada di tangannya. Namun sekilas pandangannya menyapu sekitar.

Laras hampir roboh, napasnya tersengal, dikepung para tuyul.

Jatibumi yang menjaga ibunya yang pingsan mulai kewalahan menghadapi makhluk-makhluk kecil itu.

Hati Ki Baraya tergetar.

“Hahaha! Keluargamu akan mampus, Ki Baraya!” ejek Ki Jarwo puas.

Ketika keadaan terasa paling genting—

Tiba-tiba terdengar teriakan lantang dari kejauhan.

“Hentikaaaannn!”

Suara itu menggema, seolah membawa wibawa yang tak terbantahkan.

Semua berpaling. Bahkan para tuyul mendadak berhenti menyerang. Tubuh-tubuh kecil mereka berdesis ciut.

“Raden… Raden…”

Ternyata yang mereka maksud adalah Braja Geni.

Pemuda itu berdiri tegap di batas hutan, sorot matanya menyala.

“Aku membawa titah dari Ratu Penguasa Hutan Jagabodas!” serunya lantang. “Para tuyul dilarang ikut campur dalam urusan manusia. Kembalilah ke kerajaan kalian!”

Seketika para tuyul beringsut mundur.

Wajah Ki Jarwo memerah oleh amarah. Ia mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin sakti yang tersemat di jarinya.

“Hey, jagat tuyul! Aku perintahkan kalian menyerang! Habisi keluarga itu!” teriaknya keras.

Namun jawaban para tuyul justru membuatnya semakin murka.

“Kami masih lebih takut pada Ratu daripada cincinmu…”

Setelah mengucapkan itu, satu per satu mereka melesat ke dalam kegelapan hutan dan menghilang.

“Bajingan! Brengsek!” geram Ki Jarwo. “Hei kau, bocah siluman! Kau telah menggagalkan rencanaku. Kau pun harus mampus!”

“Wussss!”

Sisa rantai baja itu dilemparkan sekuat tenaga ke arah Braja Geni. Luncurannya begitu cepat, seperti anak panah hitam membelah udara.

Braja terkejut. Ia berusaha menghindar, namun ujung tajam rantai itu sudah mengarah ke pundaknya. Tinggal sejengkal lagi—

Tiba-tiba kilatan kebiruan melesat lebih cepat.

Sanghyang Candrabhairawa terlempar dari tangan Ki Baraya, memotong lintasan rantai.

“Traaang!”

Rantai itu terpental jauh, jatuh tak berdaya di tanah.

Braja selamat.

Pedang keramat kembali melayang ringan ke tangan tuannya, seolah hidup dan patuh.

Namun ketika mereka semua berpaling mencari Ki Jarwo—

Ia telah lenyap.

Hanya sisa jejak kaki dan bau hangus tenaga dalam yang tertinggal di tanah yang melesak.

Ki Baraya menghela napas panjang.

“Dia kabur…” gumamnya pelan.

Malam kembali sunyi. Tapi mereka tahu—

Pertarungan ini belum benar-benar usai.

1
culuns
elek
Wilson
👍
Wilson
cerita yg bagus mantap
👁Zigur👁: terima kasih 🙏
total 1 replies
saya rimba
bagus
👁Zigur👁: terima kasih 🙏
total 1 replies
Kasara Edsel
"angaaak hooo"😄👍
ibarumbung
luar biasa
👁Zigur👁: terimakasih 🙏🙏
total 1 replies
raigor
semangat thor...cerita nusantara
👁Zigur👁: thanks 🙏
total 1 replies
abdulR
😍👍💪ok
anggita
like👍2☝☝iklan buat novel laga lokal
👁Zigur👁: thanks kak anggit.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!