Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
BAB 35: Tasbih di Balik Terali
Sore di Klinik Lapas selalu membawa warna yang mencekam. Cahaya matahari yang masuk melalui ventilasi kecil di langit-langit mulai berubah menjadi jingga kemerahan, menyiram dinding beton yang dingin dengan warna yang menyerupai darah kering. Bagi Ahmad Alexander, warna itu adalah pengingat akan luka di rusuknya yang baru saja dijahit ulang, sekaligus luka di hatinya yang tampaknya tak akan pernah bisa dijahit oleh benang medis mana pun.
Alek duduk bersandar pada dipan besi yang berderit. Tubuhnya yang besar tampak menyusut di balik seragam tahanan biru kusam yang kembali ia kenakan. Baju koko putih yang ia pakai saat bersyahadat kemarin kini terlipat rapi di dalam lemari plastik kecil di samping ranjangnya. Ia merasa tidak pantas memakainya lagi. Putih itu terlalu suci untuk hatinya yang kini kembali mendidih oleh rasa kecewa dan kesepian.
"Ibu..." gumamnya lirih, menatap pintu jeruji klinik yang tetap tertutup rapat.
Sudah lewat jam kunjungan, dan harapan yang ia bangun setinggi gunung sejak pagi tadi telah runtuh menjadi debu. Ibunya tidak datang. Wanita yang menjadi satu-satunya alasan Alek untuk tetap merasa memiliki "rumah" di dunia ini, ternyata tidak muncul. Pikirannya berkecamuk. Apakah Ayahnya benar-benar telah merantai kaki Ibunya? Ataukah Ibunya sendiri yang akhirnya merasa malu memiliki anak seorang pembunuh yang kini berpindah keyakinan?
Rasa sakit di rusuk kirinya berdenyut hebat, seolah-olah setiap jahitan itu sedang dipaksa lepas oleh amarah yang tertahan di dadanya. Alek memejamkan mata, mencoba mencari wajah Khansa dalam kegelapan batinnya, namun yang muncul justru wajah keras Pendeta Daniel yang menunjuk wajahnya dengan penuh kutukan.
“Kau bukan lagi anakku... kau dianggap mati.”
Kalimat itu seperti gema di dalam ruang hampa, memantul berulang kali hingga telinga Alek terasa panas. Ia merasa benar-benar yatim piatu di tengah kerumunan manusia. Ia merasa seperti sebutir debu yang diterbangkan angin ke tengah samudera, tanpa arah, tanpa pelabuhan.
"Mas Alek?"
Sebuah suara serak memecah keheningan. Alek membuka matanya perlahan. Di ambang pintu klinik, Salim berdiri dengan kepala yang dibebat perban putih. Jalannya agak pincang, namun senyum di wajahnya yang kuyu tampak sangat tulus. Salim adalah orang yang dihajar anak buah Bara karena mencoba melindungi Alek kemarin.
"Salim... kenapa kamu di sini? Kamu harusnya istirahat di blok," ujar Alek, suaranya parau karena jarang bicara sejak pagi.
Salim mendekat, duduk di kursi kayu di samping ranjang Alek. Ia membawa bungkusan plastik kecil berisi dua buah pisang yang sudah kecokelatan. "Aku nggak bisa tidur, Mas. Pikiran aku terus ke Mas Alek. Tadi aku dengar dari petugas pendaftaran... katanya Ibu Maria nggak jadi masuk ya?"
Alek menunduk, meremas pinggiran selimutnya. "Mungkin Ibu sibuk, Lim. Atau mungkin Ayah benar-benar sudah menutup pintu untukku."
Salim menghela napas panjang, mengupas satu pisang dan menyodorkannya pada Alek. "Mas, jangan berburuk sangka sama Tuhan. Dulu, waktu aku mencuri ternak pertama kali, aku merasa dunia ini sudah kiamat. Aku merasa Tuhan benci aku. Tapi di sini, aku ketemu Mas Alek. Aku liat Mas Alek bersyahadat, aku liat Mas Alek nggak balas waktu dipukuli... itu bikin aku sadar kalau Tuhan itu sedang bekerja dengan cara yang nggak kita pahami."
Alek menerima pisang itu, namun ia tidak memakannya. Ia menatap Salim dengan tatapan kosong. "Kamu bangga padaku, Lim? Padahal gara-gara aku, kepalamu bocor. Gara-gara aku, kamu jadi sasaran Bara. Aku ini pembawa sial bagi semua orang yang dekat denganku. Khansa harus pergi, Ayah membuangku, dan sekarang kamu terluka."
"Mas salah," sela Salim dengan nada yang tiba-tiba tegas. "Aku nggak pernah merasa sesenang ini dipukuli orang. Kemarin, waktu aku jatuh, aku ngerasa aku punya harga diri lagi. Aku bukan cuma pencuri ternak yang nggak berguna. Aku adalah orang yang berdiri di samping orang benar. Dan itu gara-gara Mas Alek."
Alek tertegun. Ia melihat binar mata Salim yang jujur. Selama bertahun-tahun memimpin Venom Crew, Alek selalu menganggap rasa hormat adalah hasil dari ketakutan. Ia pikir, orang-orang tunduk padanya karena mereka takut dihajar. Tapi Salim... Salim justru merasa terhormat karena disakiti demi membela Alek.
"Mas Alek tahu?" lanjut Salim pelan. "Tadi di Blok B, anak-anak nggak ada yang berani sebut nama 'Alexander' lagi. Mereka panggil Mas dengan nama 'Ahmad'. Mereka bilang, Ahmad itu singa yang taringnya dipatahkan sendiri demi Tuhan. Mereka segan, Mas. Bahkan si Macan tadi pagi diam saja waktu aku lewat, nggak ada yang berani ganggu teman Mas Alek."
Alek merasakan sesuatu yang hangat merayap di dadanya, mencairkan sedikit es yang membeku sejak pertemuannya dengan ayahnya. Ia menyadari bahwa di tempat paling hina ini, Tuhan sedang membentuk identitas barunya melalui mata orang-orang yang juga terbuang.
"Lim," kata Alek pelan. "Bisa kamu ajarkan aku lagi bacaan shalat yang tadi malam? Aku... aku ingin bicara sama Tuhan, tapi aku merasa kata-kataku terlalu kotor kalau pakai bahasa lama."
Salim tersenyum lebar hingga gigi depannya yang ompong terlihat. "Tuhan ngerti semua bahasa, Mas. Tapi kalau Mas mau belajar, ayo. Kita mulai dari doa yang paling pendek."
Sore itu, di bangsal klinik yang bau karbol, dua orang narapidana itu duduk berhadapan. Alek, sang mantan pemimpin geng yang ditakuti, kini dengan sabar mengikuti gerakan bibir Salim. Ia mengeja kata demi kata, mencoba meresapi getaran Ihdinash shirathal mustaqim—Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.
Setiap kali ia melafalkan ayat itu, ia merasa seolah-olah beban di pundaknya sedikit demi sedikit luruh. Ia mulai mengerti bahwa "jalan lurus" itu bukan berarti jalan yang mulus tanpa kerikil. Jalan lurus itu bisa jadi adalah jalan yang penuh luka dan pengusiran, namun di ujungnya ada ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan kekuasaan apa pun.
"Khansa..." bisik Alek dalam hati saat ia sedang belajar menghapal. "Apakah ini yang kamu rasakan setiap hari? Kenapa baru sekarang aku menyadari betapa indahnya rasa 'butuh' pada Tuhan?"
Alek mulai menyadari bahwa kesendiriannya di klinik ini bukan sebuah hukuman, melainkan sebuah masa "khalwat"—seperti yang pernah dikatakan Syekh Mansyur. Tanpa gangguan dunia luar, tanpa suara ayahnya, bahkan tanpa kehadiran fisik ibunya, Alek dipaksa untuk benar-benar berhadapan dengan dirinya sendiri dan Penciptanya.
Ia mengambil buku catatan biru Khansa dari bawah bantalnya. Di sana, di halaman yang masih menyisa ruang kosong, ia menuliskan satu refleksi singkat yang lahir dari perbincangannya dengan Salim:
> "Ternyata, menjadi yatim bukan berarti tidak punya ayah. Menjadi yatim adalah ketika kita tidak tahu ke mana harus pulang saat hati kita hancur. Malam ini, aku belajar bahwa sejauh apa pun aku dibuang, sejauh itu pula Tuhan sedang merentangkan tangan-Nya untuk menyambutku kembali. Maafkan aku, Ibu... aku harus kuat demi jalan ini."
>
Alek menutup bukunya saat ia mendengar suara langkah sepatu lars petugas di koridor. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, Riki dan David sedang mempertaruhkan nyawa mereka demi membawa sebuah bungkusan yang akan mengubah seluruh hidupnya malam ini. Ia juga tidak tahu bahwa di balik bayang-bayang kantor kepala sipir, Bapak Rahardjo sedang murka karena strateginya untuk membuat Alek gila ternyata justru membuat Alek semakin tenang.
Alek merebahkan tubuhnya kembali, memandangi tasbih milik Syekh Mansyur yang tergantung di tiang infus. Ia siap menunggu malam tiba. Ia siap menunggu pesan yang akan dikirimkan langit kepadanya melalui tangan-tangan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Malam semakin larut di Klinik Lapas. Suara jangkrik dari padang rumput di luar tembok penjara terdengar samar, bersaing dengan dengkur halus Salim yang tertidur di kursi kayu samping ranjang Alek. Cahaya lampu neon di koridor berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding beton. Alek masih terjaga, jemarinya perlahan menyusuri butiran tasbih kayu milik Syekh Mansyur yang ia pinjam, mencoba merangkai zikir yang tadi diajarkan Salim.
Tiba-tiba, suara derap sepatu lars yang berbeda dari biasanya terdengar mendekat. Bukan suara langkah yang diseret, melainkan langkah yang cepat dan teratur. Alek menoleh ke arah jeruji. Bayu, sipir muda yang selama ini menjadi jembatan informasinya, muncul dengan wajah yang lebih tegang dari biasanya. Ia tidak membawa tongkat pemukul, melainkan sebuah map laporan medis yang didekap erat di dadanya.
"Alek," bisik Bayu sambil melirik ke kanan dan kiri koridor. "Bangun. Aku punya sesuatu untukmu."
Alek menegakkan duduknya, menahan ringis saat rusuknya berdenyut. "Pak Bayu? Ada apa malam-malam begini? Bukankah shift Anda sudah selesai?"
Bayu tidak menjawab. Ia merogoh bagian dalam mapnya dan mengeluarkan sebuah bungkusan kecil yang dibalut kain flanel hitam. Dengan gerakan cepat, ia menyelipkan bungkusan itu ke bawah bantal Alek melalui celah jeruji.
"Ini dari Riki dan David. Mereka baru kembali dari gunung," bisik Bayu lagi, suaranya nyaris tak terdengar. "Hati-hati, Alek. Rahardjo sudah menempatkan orang di bagian administrasi. Mereka mulai curiga padaku. Jangan biarkan siapa pun melihat ini."
Jantung Alek berdegup kencang. Riki dan David? Sahabat-sahabatnya yang tetap setia meski ia telah memilih jalan yang berbeda. Dengan tangan gemetar, Alek meraba bungkusan di bawah bantalnya setelah Bayu berlalu dengan cepat menuju pos jaga.
Ia membuka bungkusan itu perlahan di bawah selimut, agar cahaya lampu koridor tidak memantulkan isinya ke mata kamera CCTV di sudut ruangan. Di dalamnya, terdapat sebuah tasbih kecil berwarna hitam legam yang permukaannya terasa sangat halus, dan selembar kertas yang dilipat rapi.
Alek mengambil kertas itu terlebih dahulu. Tulisan tangan di dalamnya sangat rapi, miring ke kanan, dan membawa aroma melati yang seketika membuat air mata Alek jatuh tanpa bisa ditahan. Itu adalah tulisan Khansa.
> "Assalamu’alaikum, Mas Alek...
> Jika surat ini sampai ke tanganmu, ketahuilah bahwa Allah sedang menjagamu melalui tangan-tangan orang baik di sekitarmu. Mas, maafkan aku karena harus pergi tanpa pamit secara langsung. Keadaan di luar sini tidak lagi aman untukku, dan lebih penting lagi, untukmu. Aku tidak ingin keberadaanku menjadi beban tambahan bagi perjuanganmu di dalam sana.
> Mas, jangan pernah merasa sendiri. Meskipun ayahmu menutup pintu, meskipun dunia membuangmu, langit yang kita tatap masih sama. Setiap butir tasbih yang kusertakan ini adalah saksi doaku di setiap sepertiga malam. Jangan biarkan gelapnya penjara mematikan cahaya iman yang baru saja kau jemput. Tetaplah menjadi singa yang tenang, Mas. Aku menunggumu di ujung jalan ini, dalam doa dan dalam rindu yang terjaga.
> Dari yang selalu mendoakanmu, Khansa."
>
Alek mendekap kertas itu ke dadanya, tangisnya pecah namun tanpa suara. Bahunya berguncang hebat. Kata-kata Khansa seperti air sejuk yang menyiram jiwanya yang sedang terbakar oleh api pengasingan. Ia merasa seolah-olah Khansa sedang berdiri di sampingnya, membisikkan kekuatan yang selama ini ia cari.
Ia kemudian menggenggam tasbih hitam itu. Dingin, namun memberikan rasa mantap yang aneh. Inilah "nyawa" yang dibawa Riki dan David menembus kabut Manglayang. Sahabat-sahabat Kristenyanya telah mempertaruhkan nyawa demi secarik kertas dan butiran kayu ini. Alek menyadari bahwa kasih persaudaraan tidak mengenal batas tembok agama; mereka mencintainya sebagai Alexander, dan mereka menghormatinya sebagai Ahmad.
"Terima kasih, Riki... David..." bisik Alek parau.
"Belum tidur, Ahmad?"
Suara lembut Syekh Mansyur terdengar dari arah kegelapan koridor. Sang guru berjalan mendekat, seolah tahu bahwa muridnya sedang mengalami gejolak batin yang luar biasa. Syekh melihat Alek yang sedang menggenggam tasbih hitam itu.
"Itu kiriman dari langit melalui bumi, Ahmad," ujar Syekh Mansyur sambil duduk di depan jeruji. "Tasbih itu bukan sekadar kayu. Ia adalah pengingat bahwa hidupmu sekarang adalah rangkaian zikir. Setiap ujian yang kau hadapi—ayah yang membuangmu, , teman yang menjauh—adalah butiran takdir yang sedang kau hitung satu per satu menuju perjumpaan dengan-Nya."
Alek menghapus air matanya, menatap Syekh dengan penuh harap. "Syekh, apakah saya kuat? Khansa menunggu saya, tapi saya merasa seperti titik hitam di atas kain putih."
Syekh Mansyur tersenyum teduh. "Titik hitam di atas kain putih akan terlihat sangat jelas, Ahmad. Itulah mengapa kesalahanmu di masa lalu begitu nyata bagimu sekarang. Tapi ingatlah, kain putih itu adalah ampunan Allah yang luasnya tak bertepi. Gunakan tasbih itu. Setiap kali kau merasa putus asa, ingatlah bahwa ada seorang wanita saleha dan sahabat-sahabat setia yang sedang bersujud memohonkan keselamatanmu."
Alek mengangguk mantap. Untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke klinik ini, ia merasa rusuknya tidak lagi terlalu sakit. Ia mulai memutar butiran tasbih hitam itu. Subhanallah... Alhamdulillah... Allahu Akbar...
Malam itu, Ahmad Alexander tidak lagi merasa sebagai pecundang yang dibuang keluarga. Di bawah cahaya neon yang redup, ia merasa sebagai seorang prajurit cahaya yang sedang menempa diri. Ia tidak tahu bahwa besok, Bapak Rahardjo akan meningkatkan serangannya, namun malam ini, Alek telah memiliki perisai yang paling kuat: doa Khansa dan kesetiaan sahabat.
Bab 35 Selesai
Cerita pertama ya kak,, bagus banget🥰