NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 - Rencana Penghuni Kamar 305

Pintu bus terbuka, melepaskan sisa-sisa ketegangan yang sempat memenuhi kabin selama perjalanan dari Malioboro. Udara malam hotel yang sejuk menyambut rombongan Bus 4 yang akhirnya kembali ke "rumah" mereka di Yogyakarta.

Nadia turun dari bus dengan langkah yang jauh lebih ringan daripada saat ia naik tadi. Sisa-sisa tawa masih menghiasi wajahnya, terutama saat ia melirik ke arah Gery yang berjalan di sampingnya. Dengan iseng, Nadia masih memegangi ujung jaket Gery, seolah tak mau melepaskan momen saat ia berhasil membuat cowok paling kalem di kelas itu mati kutu.

"Ger, beneran deh, muka lo tadi itu priceless banget!" goda Nadia sambil terkekeh kecil, menarik-narik ujung jaket Gery.

Vanya, yang tidak mau kalah, langsung mengambil posisi di sisi kanan Gery. Ia memeluk erat lengan kanan Gery, memberikan "klaim" wilayah yang jelas setelah serangan godaan Nadia di bus tadi.

"Udah deh Nad, jangan digodain terus! Tuh liat, muka Gery udah kayak kepiting rebus gitu," gerutu Vanya kecil, meski ia sendiri tak bisa menyembunyikan senyum lega melihat sahabatnya sudah bisa bercanda lagi.

Di belakang mereka, Reno berjalan dengan langkah lunglai. Nyawanya sepertinya baru terkumpul setengah setelah sempat tertidur sebentar di bus, namun insting menggoda sahabatnya tetap menyala.

"Ger... asik bener ya jadi lo. Di kanan ada Vanya, di kiri ujung jaket ditarik Nadia. Besok-besok gue mau ah pake susuk biar ketularan hoki lo," celetuk Reno dengan suara serak khas orang bangun tidur, yang langsung disambut tawa oleh Feri dan Vivi.

Malam itu, lobi hotel menjadi saksi transisi emosi yang luar biasa. Dari drama pelabrakan yang menyakitkan di Malioboro, kini mereka kembali sebagai satu kesatuan yang solid. Gery, meski merasa lelah secara mental karena menjadi pusat pusaran perasaan dua gadis tersebut, merasa bersyukur. Setidaknya, malam ini tidak berakhir dengan air mata yang terus mengalir.

"Yuk, masuk. Udah malem, besok jadwal kita masih padat," ajak Dion sebagai ketua kelas, memimpin rombongan kecil itu masuk menuju lobi hotel yang megah.

Pintu kamar 305 tertutup rapat, mengunci kebisingan lorong hotel di luar. Gery, yang merasa tubuhnya sangat lengket dan pikirannya penat setelah drama panjang di Malioboro, langsung menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. Suara kucuran air shower menjadi latar belakang sementara Sammy, Adrian, dan Dion berkumpul di depan TV, mencoba mengusir kantuk sembari menunggu giliran mandi.

Setelah beberapa menit, Gery keluar dengan kaus oblong bersih dan wajah yang tampak lebih segar. Dion segera bangkit, menyambar perlengkapan mandinya, dan bergantian masuk ke kamar mandi. Kini tinggal Sammy dan Adrian yang menatap Gery dengan tatapan penuh selidik.

Sammy mematikan volume TV, lalu menoleh ke arah Gery. "Ger, tadi ada apaan sih sebenarnya? Gue pas lagi asyik liat-liat kaos oblong di lapak Malioboro, denger suara ribut banget. Pas gue nengok, itu gerombolan lo udah jadi pusat perhatian orang sejagat Malioboro."

Adrian ikut mengangguk, ia memajukan posisi duduknya di tepi kasur. "Iya, Ger. Gue tadi jaraknya agak jauh sama kalian, tapi kelihatan banget suasananya kacau. Gue kira Nadia jatuh atau kecopetan, makanya kalian panik begitu."

Gery menghela napas panjang. Ia duduk di kursi kecil dekat meja rias, lalu menceritakan fakta pahit yang terjadi: tentang bagaimana Nadia tanpa sengaja melihat pacarnya sedang bermesraan dengan wanita lain, tepat di jantung keramaian Yogyakarta.

Seketika, ekspresi wajah Sammy dan Adrian berubah drastis. Ada kilat kemarahan di mata mereka.

"Sialan! Serius lo, Ger?" Sammy menggebrak kasur dengan pelan, wajahnya memerah karena kesal. "Kalau gue tahu kejadiannya begitu, gue samperin tuh cowoknya! Berani-beraninya dia nyakitin temen kita di depan umum begitu!"

Adrian menarik napas dalam, tampak sangat kecewa. "Gila ya... padahal Nadia orangnya baik banget. Gue nggak nyangka cowoknya sebrengsek itu. Bener-bener nggak punya hati, mutusin lewat telepon terus langsung pamer selingkuhan di tempat yang sama."

Melihat tensi di kamar mendadak naik karena rasa solider teman-temannya, Gery segera mencoba mencairkan suasana. Ia tidak ingin malam terakhir mereka di Jogja diisi dengan amarah yang meluap-luap.

"Udah, udah. Yang penting sekarang Nadianya udah tenang. Vanya sama anak-anak cewek lagi jagain dia," ucap Gery sembari berdiri menuju teko listrik. "Yan, lo mau kopi? Gue seduhin sekalian. Sam, lo teh aja ya kayak biasa?"

Sammy dan Adrian yang tadinya masih emosi, perlahan mulai rileks. Mereka berdua mengangguk serempak. "Boleh deh, Ger. Biar pikiran agak adem dikit," sahut Sammy.

Gery mulai menyeduh minuman hangat tersebut. Aroma kopi dan teh yang mengepul perlahan menggantikan ketegangan yang tadi sempat mengisi ruangan. Di balik pintu kamar mandi, terdengar sayup-sayup suara Dion yang sedang bersenandung, tidak menyadari bahwa di luar sana teman-temannya baru saja melewati fase "sidang" kecil tentang drama Malioboro.

Malam itu, di kamar 305, secangkir minuman hangat menjadi saksi betapa kuatnya rasa setia kawan mereka. Meskipun mereka sering bercanda dan terlihat konyol, saat salah satu dari mereka tersakiti, semuanya ikut merasakan luka yang sama.

Dion keluar dari kamar mandi dengan handuk yang tersampir di bahu, wajahnya terlihat jauh lebih segar. Begitu kakinya melangkah ke area tempat tidur, matanya langsung tertuju pada cangkir-cangkir yang mengepulkan uap di atas meja.

"Lah, punya gue mana?" tanya Dion dengan nada protes yang jenaka, melihat Sammy dan Gery sudah asyik menyeruput minuman masing-masing.

Gery hanya tersenyum tipis dan menyodorkan satu cangkir kopi lagi yang sudah ia siapkan sebelumnya. Ia sudah hafal betul tabiat ketua kelasnya itu. "Udah gue bikinin, Yon. Tenang aja."

"Gitu dong! Thank you, brother," ucap Dion sambil meraih kopi panasnya dan duduk bersandar di kasur. Adrian segera bangkit mengambil gilirannya untuk mandi. Begitu pintu kamar mandi tertutup, Dion langsung teringat sesuatu. Ia menatap Gery dengan serius. "Eh, tadi pagi pas gue baru beres mandi, lo bilang ada yang mau diceritain. Suasana kamar tegang banget waktu itu. Ada apaan sebenarnya?"

Gery terdiam sejenak. Ia kemudian menceritakan kembali obrolan serius antara dirinya, Sammy, dan Adrian tadi pagi sebelum rombongan Vanya dan Reno datang menyerbu. Gery mengungkapkan semua fakta yang dibeberkan Adrian tentang kondisi keluarga Vanya, luka hatinya terhadap sang ayah, hingga gangguan dari mantan pacarnya yang overprotektif.

Dion mendengarkan cerita itu dengan saksama tanpa menyela sedikit pun. Ekspresi konyol yang biasanya ia tunjukkan sebagai ketua kelas kini berganti menjadi raut penuh simpati.

"Berarti... lo memang orang yang tepat buat Vanya, Ger," ujar Dion pelan setelah Gery selesai bercerita. "Nggak heran dia nempel banget sama lo. Dia butuh figur laki-laki yang stabil." Dion menyesap kopinya, lalu melanjutkan, "Kalau denger cerita itu, gue makin paham kenapa Adrian perhatian banget tadi pagi. Dia pasti sangat respect sama perjuangan Vanya dan ibunya. Vanya beruntung punya tetangga sesolid Adrian."

Tepat saat itu, pintu kamar mandi terbuka. Adrian keluar dengan rambut basah, langsung menunjuk ke arah Dion dan Gery. "Ngomongin gue ya lo pada?" serunya sambil nyengir, meski ia tahu persis arah pembicaraan teman-temannya.

Sammy yang sejak tadi menyimak sembari menghabiskan tehnya, langsung bangkit berdiri. Ia menyambar handuknya dengan gerakan tangkas. "Giliran gue! Udah malem, keburu air panasnya abis!" seru Sammy sembari tertawa menuju kamar mandi, menghindari "sidang" lebih lanjut tentang perasaan Adrian.

Tawa kecil pecah di kamar 305. Ketegangan yang tadinya membayangi mereka sejak pagi di Jogja hingga drama di Malioboro perlahan mencair. Di kamar yang sempit itu, mereka tidak hanya berbagi kopi dan teh, tapi juga berbagi beban emosional yang membuat ikatan persahabatan mereka terasa semakin dewasa.

Gery menatap teman-temannya satu per satu. Ia bersyukur, di tengah rumitnya hubungannya dengan Vanya dan curhatan emosional dari Nadia, ia masih memiliki "markas" yang stabil bersama para sahabatnya di kamar ini.

Uap dari cangkir-cangkir kopi dan teh masih menari di udara kamar 305 saat Sammy keluar dari kamar mandi, mengeringkan rambutnya dengan handuk. Suasana mendadak menjadi lebih serius namun santai ketika pembicaraan beralih ke jadwal kepulangan. Sebagai ketua kelas yang memegang kendali atas alur informasi dari para guru, Dion kini menjadi pusat perhatian.

"Yon, selaku ketua kelas yang paling berwibawa," pancing Sammy sambil nyengir, "Besok agenda kita ke mana lagi? Masih ada waktu buat cari sarapan yang asik nggak?"

Dion menyesap kopinya yang sudah tidak terlalu panas, lalu memperbaiki posisi duduknya. "Tadi gue udah dapet arahan panjang lebar dari Bu Ratna. Besok itu hari terakhir kita di Jogja, Guys. Nggak ada waktu buat santai-santai banget kayak kemarin. Kita harus checkout pagi-pagi sekali. Sebelum benar-benar meninggalkan Jawa Tengah, kita bakal mampir ke Candi Borobudur sebagai destinasi penutup, baru setelah itu gas pol kembali ke Jakarta."

Mendengar kata "checkout", Gery yang memang paling terorganisir di antara mereka langsung teringat pada barang bawaannya yang masih berantakan. Ia melirik jam di dinding kamar.

"Pagi jam berapa kita harus checkout, Yon?" tanya Gery, memastikan agar ia punya waktu untuk merapikan semua oleh-oleh yang tadi dibeli di Malioboro.

"Setelah sarapan, semua barang harus sudah masuk bus. Kita checkout jam 8 tepat. Jangan ada yang telat, atau kita bakal ketinggalan jadwal masuk ke Borobudur karena perjalanannya lumayan makan waktu dari sini," jawab Dion tegas.

Sammy, yang tampaknya belum puas dengan porsi olahraganya tadi pagi, tiba-tiba berdiri dan melakukan gerakan shooting basket tanpa bola ke arah tempat sampah. "Ger, besok pagi sebelum sarapan, kita hajar lapangan basket lagi yuk? Kayak tadi pagi. Tapi kali ini, masa cuma kita berdua?"

Sammy menoleh ke arah Dion dan Adrian yang sedang asyik dengan kopi mereka. "Woi, kalian berdua! Jangan cuma molor aja di hari terakhir. Besok pagi ikut kita ke lapangan. Kita main two-on-two sebelum mandi dan berangkat!"

Adrian yang biasanya lebih kalem, mendadak bangkit dari tempat tidurnya dengan semangat yang meledak. "Nah, ini yang gue tunggu! Gue butuh buang semua beban pikiran hari ini lewat keringat. Gue ikut!"

Dion pun tidak mau ketinggalan. Sebagai ketua kelas yang butuh stamina ekstra untuk mengurus puluhan siswa di hari terakhir, ia merasa olahraga adalah ide cemerlang. "Oke, siapa takut? Besok hari terakhir kita di Jogja, kita buang keringat sampai habis. Anggap aja pemanasan sebelum duduk belasan jam di bus menuju Jakarta."

Gery tersenyum melihat kekompakan teman-temannya. Di tengah semua drama percintaan, pengkhianatan yang mereka saksikan di Malioboro, dan rahasia-rahasia keluarga yang terungkap, momen sederhana seperti janji untuk berolahraga bersama di subuh hari terasa sangat berharga.

"Deal ya," ujar Gery sambil merapikan sisa cangkir di meja. "Besok subuh, setelah azan, kita langsung turun ke lapangan. Jangan ada yang telat bangun kalau nggak mau gue siram pake air keran!"

Tawa mereka pecah memenuhi kamar 305. Rencana sudah disusun, strategi untuk menghadapi hari terakhir sudah disepakati. Di balik kegelapan malam Yogyakarta, empat sahabat ini bersiap menyambut fajar terakhir mereka dengan semangat persaudaraan yang semakin mengental.

1
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!