Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.
Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)
untuk mengubah sejarah Grand Line.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 LANGKAH PERTAMA MENUJU KEKUATAN
Enam bulan tinggal bersama Dadan dan gengnya mengajarkanku satu hal penting: menjadi bayi itu menyebalkan.
Sangat. Menyebalkan.
Tapi aku tidak punya pilihan selain bersabar. Tubuh ini masih terlalu lemah. Otot-ototku belum berkembang sempurna. Koordinasi motorikku masih kacau. Yang bisa kulakukan hanya merangkak—dan itu pun baru dua minggu terakhir.
"ACE! Jangan main di situ! Kotor!"
Dadan mengangkatku dari genangan lumpur. Wajahnya kesal tapi tangannya lembut saat membersihkan lumpur dari wajahku.
"Dasar bocah nakal. Baru bisa merangkak sudah cari masalah."
Aku cuma bisa cengengesan. Atau setidaknya berusaha. Kontrol otot wajah bayi masih susah.
Kehidupan di markas bandit sebenarnya tidak buruk. Setiap pagi, Dadan bangun untuk memasak—meskipun masakannya standar bandit: daging bakar, nasi, dan kadang sayur seadanya. Anak buahnya pergi "bekerja" alias merampok atau berburu. Dan aku? Aku mengamati.
Mengamati cara mereka bergerak. Cara mereka berkelahi saat latihan. Cara mereka menggunakan tubuh mereka.
Aku menyimpan semua informasi itu. Suatu hari nanti, aku akan butuh itu semua.
"Dadan-san, kenapa Garp-san menitipkan bayi di sini?" salah satu anak buah bertanya saat makan malam.
Dadan diam sejenak. Tatapannya melayang ke arahku yang sedang berbaring di kasur.
"Entahlah. Tapi pria tua itu serius soal bocah ini. Lebih serius dari biasanya."
"Memang siapa orangtuanya?"
"Bukan urusan kita. Dan jangan tanya lagi. Kalau Garp tahu kita kepo, bisa bahaya."
Percakapan berhenti di situ. Tapi aku tahu mereka penasaran. Semua orang penasaran tentang Ace—tentangku. Bocah yang dititipkan pahlawan Marine pada bandit gunung.
Malam itu, seperti biasa, aku tidak bisa tidur nyenyak. Pikiran terus berputar.
Aku perlu rencana. Rencana jangka panjang.
Prioritas pertama: Dapatkan Mera Mera no Mi secepat mungkin.
Dalam timeline asli, Ace mendapat buah iblis itu sekitar umur sepuluh atau tiga belas tahun. Tapi aku tidak bisa menunggu selama itu. Semakin cepat aku mendapat kekuatan, semakin banyak waktu untuk menguasainya.
Masalahnya—dimana Mera Mera no Mi?
Aku mencoba mengingat semua informasi dari manga dan anime. Tapi tidak pernah dijelaskan bagaimana Ace menemukannya. Apakah dia beli? Temukan secara kebetulan? Atau dapat dari seseorang?
Devil Fruit itu langka. Sangat langka. Dan harganya selangit—ratusan juta bahkan miliaran belly.
Tapi aku punya satu keuntungan: pengetahuan tentang dunia ini.
Aku tahu Devil Fruit bisa muncul di pulau-pulau terpencil. Aku tahu mereka punya pola tertentu—cenderung muncul di tempat yang sesuai dengan elemen mereka.
Mera Mera no Mi... buah api. Mungkin muncul di pulau vulkanik? Atau tempat yang panas?
Atau...
Tunggu.
Dawn Island—pulau tempat Foosha Village dan markas Dadan—cukup besar. Ada hutan lebat, gunung, dan banyak area yang belum dijelajahi. Mungkin saja Devil Fruit itu ada di sini.
Tapi bagaimana aku mencarinya? Aku bahkan belum bisa jalan!
Frustrasi menghantam. Punya pengetahuan tapi tidak punya cara menggunakannya adalah siksaan tersendiri.
"Ace? Kenapa belum tidur?"
Dadan muncul dengan lilin di tangan. Wajahnya terlihat lelah.
"Aaa... uuu..." aku mencoba berkomunikasi tapi gagal total.
Dia duduk di sampingku, memandangku dengan tatapan aneh.
"Kau tahu, bocah... kau berbeda dari bayi biasanya. Matamu... terlalu fokus. Seperti kau mengerti semua yang terjadi di sekitarmu."
Aku membeku. Apakah dia curiga?
"Tapi mungkin aku cuma terlalu banyak minum sake," dia tertawa kecil. "Tidak mungkin kan bayi sembilan bulan sepintar itu."
Dia mengelus kepalaku pelan.
"Tumbuh dengan baik, Ace. Dunia ini keras. Terutama untuk anak sepertimu—anak yang bahkan kakeknya harus sembunyikan. Tapi aku akan jaga kau. Bukan karena takut Garp. Tapi karena... kau sudah seperti anak sendiri."
Dadaku sesak mendengar itu. Dadan—wanita kasar yang awalnya menolak keras merawatku—sekarang menganggapku anak sendiri.
"Oyasumi, Ace."
Dia pergi meninggalkanku dalam kegelapan.
Aku menatap langit-langit. Tekad baru mengeras di dadaku.
Aku akan kuat. Bukan hanya untuk mengubah takdirku. Tapi juga untuk melindungi orang-orang yang peduli padaku.
Usia satu tahun. Akhirnya aku bisa berjalan.
Tidak stabil. Sering jatuh. Tapi bisa berjalan.
"LIHAT! ACE JALAN! Hei kalian! Cepat lihat!" Dadan berteriak seperti ibu bangga pada umumnya.
Anak buah bandit berkumpul, bertepuk tangan seperti aku baru memenangkan kompetisi internasional.
"Anak pintar!"
"Dadan-san, bocah ini cepat juga ya?"
"Tentu! Dia cucunya monster Garp!"
Aku mengabaikan kegaduhan mereka. Yang penting sekarang—aku punya mobilitas.
Mobilitas berarti aku bisa mulai menjelajah.
Beberapa hari kemudian, saat Dadan dan anak buahnya sedang sibuk, aku menyelinap keluar dari gubuk.
Hutan di sekitar markas sangat lebat. Pohon-pohon tinggi menjulang. Semak-semak tebal. Suara binatang liar di mana-mana.
Berbahaya untuk anak satu tahun.
Tapi aku bukan anak biasa. Aku Arya dengan ingatan lengkap dan pengetahuan orang dewasa.
Aku mulai berjalan pelan, mengamati sekeliling. Mencari tanda-tanda apa pun yang tidak biasa.
Devil Fruit punya ciri khas: pola pusaran aneh pada kulitnya dan aura yang sedikit berbeda dari buah biasa.
Tapi mencari satu buah di hutan seluas ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
"Ace? ACE?! DIMANA KAU?!"
Suara panik Dadan terdengar dari kejauhan.
Sial. Aku terlalu jauh.
"ADA DISINI!" aku mencoba berteriak tapi yang keluar: "Aaah! Aaah!"
Untungnya cukup keras untuk didengar. Dadan muncul dengan wajah merah—campuran panik dan marah.
"DASAR BOCAH NAKAL! Kau bikin jantung drop!" dia mengangkatku kasar. "Jangan keluar sendiri! Hutan ini berbahaya!"
Tapi matanya berkaca-kaca. Dia benar-benar takut kehilanganku.
"Maaf..." aku berbisik pelan. Meskipun tidak yakin dia mendengar.
Sejak itu, Dadan lebih ketat mengawasiku. Bahkan menugaskan satu anak buah khusus untuk menjagaku saat dia sibuk.
Tapi aku tidak menyerah. Setiap ada kesempatan, aku menjelajah sedikit demi sedikit. Mengingat layout hutan. Mencari area yang mungkin menyimpan Devil Fruit.
Bulan berganti bulan.
Usia satu setengah tahun. Aku sudah bisa berlari meskipun masih sering tersandung.
Kemampuan bicaraku juga mulai berkembang. Kata-kata sederhana: "Dadan", "makan", "haus".
Dadan senang bukan main setiap aku bicara. Seperti melihat keajaiban dunia.
"Bocah pintar! Cepat sekali belajar bicara!" dia memelukku erat. "Pasti jadi orang hebat nanti!"
Kalau dia tahu aku sebenarnya orang dewasa reinkarnasi, mungkin reaksinya akan berbeda.
Suatu sore, saat semua orang tertidur siang, aku kembali menyelinap keluar.
Kali ini aku punya tujuan spesifik: area hutan yang terasa lebih panas dari biasanya. Aku menemukannya seminggu lalu tapi tidak sempat mengeksplorasi karena Dadan cepat menemukanku.
Aku berlari kecil menuju area itu. Keringat mulai bercucuran meski cuaca tidak terlalu panas.
Semakin dalam, semakin terasa panas. Tidak normal. Ini bukan panas biasa.
Jantungku berdebar kencang.
Apakah ini...?
Aku mendorong semak-semak terakhir dan menemukan sesuatu yang mencengangkan:
Sebuah pohon mati. Kering kebakar. Dan di salah satu cabangnya, tergantung sebuah buah.
Buah dengan pola pusaran api berwarna oranye kemerahan. Bentuknya seperti nanas dengan nyala api yang membeku dalam bentuk.
Mera Mera no Mi.
Buah Iblis Api.
Kekuatan yang akan membuat Ace menjadi salah satu bajak laut terkuat di dunia.
Dan sekarang... ada di depanku.
Tanganku gemetar saat meraihnya. Buah itu jatuh ke tanganku—hangat. Sangat hangat.
Aku menatapnya lama.
Ini dia. Kesempatan untuk menjadi kuat. Untuk mengubah takdir.
Tapi apakah aku siap? Apakah tubuh anak satu setengah tahun ini bisa menampung kekuatan Devil Fruit?
Aku ingat dalam canon, banyak anak yang makan Devil Fruit di usia muda. Luffy umur tujuh tahun. Nico Robin umur delapan tahun. Bahkan beberapa karakter mendapat kekuatan lebih muda lagi.
Tidak ada masalah dengan usia.
Yang masalah adalah... sekali makan Devil Fruit, tidak bisa berenang selamanya.
Tapi itu risiko yang harus diambil.
Aku menggigit buah itu.
Dan rasanya... MENJIJIKKAN!
Seperti memakan sampah busuk dicampur tanah dan entah apa lagi. Aku hampir muntah tapi memaksa menelannya.
Satu gigitan sudah cukup untuk mendapat kekuatan. Tapi aku makan beberapa gigitan lagi untuk memastikan.
Lalu...
Panas.
Panas luar biasa menyebar dari perut ke seluruh tubuh. Seperti lava mengalir dalam pembuluh darahku. Aku jatuh berlutut, menahan teriakan.
Tubuhku berubah. Sel-selku berubah. DNA-ku sendiri berubah menjadi sesuatu yang baru.
Api.
Aku adalah api.
Tangan kecilku tiba-tiba menyala. Api oranye menyelimuti lenganku tapi tidak membakar.
Aku menatapnya dengan kagum dan sedikit ketakutan.
Ini nyata.
Kekuatan Mera Mera no Mi... sekarang milikku.
"ACE! DIMANA KAU?! Kalau ketemu akan kubunuh—"
Suara Dadan mendekat.
Aku panik, mencoba memadamkan api di tanganku. Tidak tahu caranya. Api malah membesar—
"ACE! Kau di—GYAAA! API! KENAPA KAMU TERBAKAR?!"
Dadan berlari mendekatiku, wajahnya pucat.
"Tidak... tidak apa-apa..." aku mencoba menjelaskan dengan bahasa terbatas. "Tidak sakit..."
"HAH?! Apa maksudmu tidak sakit?! Kau menyala—" dia berhenti. Mata lebarnya menatap tanganku yang menyala tapi tidak terluka.
Lalu tatapannya jatuh pada sisa Mera Mera no Mi di tanganku yang lain.
"Itu... itu buah iblis?!"
Aku mengangguk pelan.
"KAU MAKAN BUAH IBLIS?! UMURMU BARU SATU TAHUN LEBIH!"
"Sudah makan..." aku menjawab polos.
Dadan terlihat ingin pingsan. Dia duduk di tanah, memegang kepalanya.
"Garp akan membunuhku... dia pasti akan membunuhku..."
"Dadan... maaf..."
Dia menatapku lama. Lalu menghela napas panjang.
"Tidak... bukan salahmu. Kau masih anak-anak. Tidak tahu apa itu buah iblis..." dia berdiri. "Tapi mulai sekarang, kita harus latih kau mengontrol kekuatan ini. Kalau sampai gubukku kebakar karena ulahmu, akan kutendang kau ke laut!"
Ancaman kosong. Aku tahu dia tidak akan melakukan itu.
Tapi dia benar. Aku perlu belajar kontrol.
Dan ini baru permulaan.
Permulaan menuju kekuatan yang akan mengubah segalanya.
Api takdir telah menyala.
Dan tidak ada yang bisa memadamkannya.
BERSAMBUNG