NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Garis yang Tidak Bisa Ditarik Ulang

Pagi datang tanpa memberi waktu untuk merasa aman. Aruna sudah duduk di depan layar sebelum matahari benar-benar naik. Ruangan masih sepi, tapi sistem pemantauan tambahan yang ia aktifkan semalam tetap berjalan sunyi, konsisten, mengawasi. Jejak digital itu masih ada. Kecil. Tidak bergerak. Tapi hidup. Ia memperbesar tampilan. Tanda tangan akses yang mereka tangkap semalam tidak mencoba masuk lagi. Seolah seseorang di sisi lain sadar jalurnya telah diputus. Orang itu berhenti.

Dan orang yang berhenti biasanya sedang berpikir.

Pintu terbuka pelan. Calvin masuk tanpa suara berlebihan, membawa kopi yang masih mengepul. Ia meletakkannya di meja Aruna tanpa komentar.

“Masih diam?” tanyanya.

Aruna mengangguk. “Terlalu diam.”

“Itu buruk?”

“Itu berarti dia tahu kita melihat.”

Calvin menyandarkan bahu ke meja. “Berapa lama sampai dia bergerak lagi?”

“Kalau dia pintar,” jawab Aruna, “dia tunggu sampai kita lengah.”

Tatapan mereka bertemu. Keduanya tahu lengah bukan pilihan.

Satu jam kemudian, ruang rapat kecil berubah menjadi pusat kendali darurat. Hanya empat orang di ruangan itu Aruna, Calvin, kepala IT, dan kepala audit internal. Tidak ada presentasi besar. Tidak ada formalitas. Hanya fakta.

“Kita punya jejak akses internal lama,” kata Aruna sambil menampilkan grafik. “Seseorang menggunakan jalur arsip yang secara teknis sudah tidak aktif. Itu berarti—”

“Orang dalam,” potong kepala audit.

“Ya,” jawab Aruna tenang.

Ruangan mengeras.

“Kita tidak bisa langsung menutup semua akses,” lanjutnya. “Kalau kita lakukan, pelaku tahu kita panik. Dia akan menghilang.”

“Jadi?” tanya Calvin.

“Kita buka jalur palsu.”

Semua menoleh.

“Umpan,” jelas Aruna. “Kita buat lingkungan arsip tiruan. Isinya cukup menarik untuk memancing. Kalau dia masuk lagi… kita tahu siapa.”

Kepala IT menyeringai tipis. “Berisiko.”

“Semua ini sudah berisiko,” balas Aruna.

Calvin tidak langsung bicara. Ia menatap layar lama, lalu ke Aruna. “Lakukan.”

Keputusan itu jatuh seperti palu. Tidak ada jalan kembali. Siang berjalan lambat. Umpan digital aktif pukul 13.40. Semua sistem terlihat normal dari luar. Tapi di bawah permukaan, pemantauan bekerja seperti jaring halus—mencatat setiap sentuhan.

Aruna duduk tanpa bergerak, matanya menari di antara data. Detik terasa panjang. Lalu

Ping.

Akses masuk.

Semua orang menahan napas.

Jejak itu muncul lagi.

Pelan.

Hati-hati.

Seperti seseorang yang masuk ke ruangan gelap dengan langkah terukur.

“Dia menggigit,” bisik kepala IT.

Aruna tidak menjawab. Fokusnya penuh. Pelaku membuka satu folder lalu berhenti. Seolah membaca ruangan. Lalu bergerak lagi.

Klik. Klik.

Data palsu terbuka.

Jebakan bekerja.

“Lock tracking,” kata Aruna.

Sistem menutup jalur keluar pelaku bukan memblokir, tapi menahan. Memberi mereka cukup waktu untuk membaca identitas jaringan. Alamat internal muncul. Lantai 12. Departemen keuangan.

Ruangan membeku.

“Itu…” kepala audit menelan ludah.

Aruna menatap layar, memastikan tidak ada kesalahan. Tidak ada.

“Tarik identitas pengguna,” katanya.

Nama muncul perlahan.

Semua mata membesar.

Seseorang yang mereka kenal.

Seseorang yang seharusnya tidak punya alasan.

Calvin berdiri tegak. “Kita konfirmasi langsung.”

Langkah mereka menuju lantai 12 terasa seperti berjalan ke pusat badai. Tidak ada keributan. Tidak ada drama. Hanya ketegangan yang menekan dada.

Pintu kantor terbuka.

Orang itu sedang duduk seperti biasa. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.

“Kita perlu bicara,” kata Calvin datar.

Tatapan orang itu berpindah ke Aruna. Ada kilat pengakuan di sana cepat, tapi nyata. Dia tahu.

Dan Aruna tahu dia tahu.

Ruang rapat kecil menjadi tempat interogasi informal. Tidak ada ancaman. Tidak ada suara tinggi.

Hanya fakta yang diletakkan satu per satu. Jejak akses. Waktu. Lokasi. Orang itu mencoba menyangkal. Lalu berhenti. Bahunya jatuh.

“Ini bukan soal uang,” katanya pelan.

“Lalu apa?” tanya Aruna.

Tatapan itu naik. Tajam. Lelah.

“Perintah.”

Ruangan mengeras.

“Dari siapa?”

Sunyi.

Detik berjalan.

Lalu

“Saya tidak bisa bilang.”

Calvin bersandar. “Kalau kamu diam, kamu menanggung semuanya.”

Orang itu tertawa kecil. Pahit. “Kalau saya bicara… saya tidak hanya kehilangan pekerjaan.”

Ancaman di balik kalimat itu jelas. Aruna merasakan sesuatu bergeser. Ini lebih besar. Lebih dalam.

Dan seseorang di luar ruangan ini sedang menarik tali. Setelah orang itu dibawa keluar untuk proses formal, ruangan kembali sunyi.

Aruna berdiri di dekat jendela. Tangannya mengepal pelan.

“Kita bukan hanya menghadapi pelanggaran,” katanya.

Calvin menatapnya. “Kita menghadapi jaringan.”

Ia mengangguk.

Dan jaringan seperti itu tidak runtuh hanya dengan satu nama. “Ini baru pintu depan,” lanjutnya.

Calvin mendekat satu langkah. “Kamu masih mau lanjut?”

Aruna menoleh.

Tidak ada ragu.

“Sekarang?” katanya pelan. “Aku tidak bisa berhenti.”

Tatapan mereka terkunci. Ada pengertian di sana.

Dan sesuatu yang lebih berbahaya. Kepercayaan penuh.

Malam turun membawa keheningan yang berat.

Aruna duduk sendirian di meja kerjanya, memutar ulang semua kejadian hari itu. Jejak. Umpan.

Pengakuan setengah. Dan ancaman yang belum berbentuk.

Ponselnya bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Pesan masuk:

Kamu membuka pintu yang salah.

Aruna membaca kalimat itu dua kali.

Jantungnya berdetak lebih keras.

Bukan takut.

Tapi sadar.

Ini sudah personal.

Ia mengetik balasan singkat:

Kalau salah, kenapa kamu khawatir?

Pesan terkirim.

Tidak ada jawaban.

Tapi keheningan yang mengikuti terasa seperti janji.

Aruna menatap layar gelap. Garis sudah terlewati.

Dan kali ini, Tidak ada yang bisa menariknya kembali. Layar ponsel Aruna tetap gelap. Tidak ada balasan. Dan justru itu yang membuat napasnya terasa lebih berat. Ia meletakkan ponsel perlahan, tapi pikirannya tidak ikut berhenti. Pesan tadi bukan gertakan kosong. Nada kalimatnya terlalu yakin seperti seseorang yang terbiasa mengendalikan situasi dari balik bayangan.

Aruna berdiri, berjalan ke jendela. Kota di bawahnya masih hidup lampu kendaraan bergerak seperti arus tanpa henti. Semua tampak normal. Padahal hidupnya baru saja bergeser satu tingkat lebih berbahaya.

Pintu kantor terbuka pelan.

Calvin masuk tanpa bicara. Ia tidak perlu bertanya wajah Aruna sudah menjawab semuanya.

“Ada pesan?” tanyanya akhirnya.

Aruna mengangguk dan menyerahkan ponsel.

Calvin membaca cepat. Rahangnya mengeras, tapi ekspresinya tetap terkendali. “Mereka mulai merasa terpojok,” katanya.

“Atau mereka ingin kita berpikir begitu,” balas Aruna.

Calvin mengembalikan ponsel. “Mulai sekarang kamu tidak jalan sendiri. Ke mana pun.”

“Aku tidak berniat jadi sandera ketakutan,” jawab Aruna tenang.

“Ini bukan soal takut,” katanya. “Ini soal strategi.”

Aruna menatapnya beberapa detik. Ia tahu Calvin benar dan itulah yang membuatnya kesal. Bukan pada Calvin, tapi pada kenyataan bahwa permainan ini telah merambah ke wilayah yang tidak bisa lagi dianggap profesional semata.

Ia menghela napas panjang. “Oke. Strategi,” katanya akhirnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, bahu Calvin sedikit turun. Bukan lega sepenuhnya lebih seperti menerima bahwa mereka masih berjalan di jalur yang sama.

Satu jam kemudian, mereka kembali ke ruang kendali kecil. Aruna membuka ulang log sistem. Kali ini bukan untuk mencari pelaku melainkan pola.

Setiap akses. Setiap waktu. Setiap kebiasaan.

“Lihat ini,” katanya pelan.

Calvin mendekat.

“Semua aktivitas mencurigakan terjadi di jam transisi. Pergantian shift. Pergantian pengawasan. Titik paling lemah dalam rutinitas.”

“Artinya mereka paham sistem dari dalam,” katanya.

“Lebih dari itu,” Aruna menambahkan. “Mereka tahu kapan kita lengah… bahkan sebelum kita sadar.”

Kesimpulan itu menggantung berat.

Ini bukan improvisasi. Ini operasi yang dipelajari.

Aruna memperbesar grafik terakhir. Ada celah kecil akses yang nyaris tidak terlihat. Terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

“Seseorang masih aktif,” katanya pelan.

Calvin menatap layar. “Belum selesai.”

Aruna menggeleng tipis. “Belum mulai.”

Dan di situlah kesadarannya jatuh dengan utuh,

Pelaku yang mereka tangkap hanyalah pion.

Seseorang yang jauh lebih besar masih duduk di balik layar menunggu mereka melangkah lebih jauh.

Aruna merasakan detak jantungnya stabil anehnya bukan karena tenang, tapi karena fokus. Ia menutup laptop perlahan.

“Kita percepat,” katanya.

Tatapan Calvin tajam. “Risikonya naik.”

“Sudah naik sejak pesan itu masuk.”

Sunyi sejenak.

Lalu Calvin mengangguk.

Kesepakatan tanpa tanda tangan.

Tanpa kata tambahan.

Malam semakin dalam. Dan di tengah keheningan itu, Aruna tahu satu hal dengan pasti. Mereka tidak lagi bereaksi terhadap permainan.

Mulai besok mereka yang akan memimpin langkahnya. Dan siapa pun yang bersembunyi di balik bayangan…

Akan dipaksa keluar ke cahaya.

1
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!