Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Garis yang Tidak Bisa Ditarik Ulang
Pagi datang tanpa memberi waktu untuk merasa aman. Aruna sudah duduk di depan layar sebelum matahari benar-benar naik. Ruangan masih sepi, tapi sistem pemantauan tambahan yang ia aktifkan semalam tetap berjalan sunyi, konsisten, mengawasi. Jejak digital itu masih ada. Kecil. Tidak bergerak. Tapi hidup. Ia memperbesar tampilan. Tanda tangan akses yang mereka tangkap semalam tidak mencoba masuk lagi. Seolah seseorang di sisi lain sadar jalurnya telah diputus. Orang itu berhenti.
Dan orang yang berhenti biasanya sedang berpikir.
Pintu terbuka pelan. Calvin masuk tanpa suara berlebihan, membawa kopi yang masih mengepul. Ia meletakkannya di meja Aruna tanpa komentar.
“Masih diam?” tanyanya.
Aruna mengangguk. “Terlalu diam.”
“Itu buruk?”
“Itu berarti dia tahu kita melihat.”
Calvin menyandarkan bahu ke meja. “Berapa lama sampai dia bergerak lagi?”
“Kalau dia pintar,” jawab Aruna, “dia tunggu sampai kita lengah.”
Tatapan mereka bertemu. Keduanya tahu lengah bukan pilihan.
Satu jam kemudian, ruang rapat kecil berubah menjadi pusat kendali darurat. Hanya empat orang di ruangan itu Aruna, Calvin, kepala IT, dan kepala audit internal. Tidak ada presentasi besar. Tidak ada formalitas. Hanya fakta.
“Kita punya jejak akses internal lama,” kata Aruna sambil menampilkan grafik. “Seseorang menggunakan jalur arsip yang secara teknis sudah tidak aktif. Itu berarti—”
“Orang dalam,” potong kepala audit.
“Ya,” jawab Aruna tenang.
Ruangan mengeras.
“Kita tidak bisa langsung menutup semua akses,” lanjutnya. “Kalau kita lakukan, pelaku tahu kita panik. Dia akan menghilang.”
“Jadi?” tanya Calvin.
“Kita buka jalur palsu.”
Semua menoleh.
“Umpan,” jelas Aruna. “Kita buat lingkungan arsip tiruan. Isinya cukup menarik untuk memancing. Kalau dia masuk lagi… kita tahu siapa.”
Kepala IT menyeringai tipis. “Berisiko.”
“Semua ini sudah berisiko,” balas Aruna.
Calvin tidak langsung bicara. Ia menatap layar lama, lalu ke Aruna. “Lakukan.”
Keputusan itu jatuh seperti palu. Tidak ada jalan kembali. Siang berjalan lambat. Umpan digital aktif pukul 13.40. Semua sistem terlihat normal dari luar. Tapi di bawah permukaan, pemantauan bekerja seperti jaring halus—mencatat setiap sentuhan.
Aruna duduk tanpa bergerak, matanya menari di antara data. Detik terasa panjang. Lalu
Ping.
Akses masuk.
Semua orang menahan napas.
Jejak itu muncul lagi.
Pelan.
Hati-hati.
Seperti seseorang yang masuk ke ruangan gelap dengan langkah terukur.
“Dia menggigit,” bisik kepala IT.
Aruna tidak menjawab. Fokusnya penuh. Pelaku membuka satu folder lalu berhenti. Seolah membaca ruangan. Lalu bergerak lagi.
Klik. Klik.
Data palsu terbuka.
Jebakan bekerja.
“Lock tracking,” kata Aruna.
Sistem menutup jalur keluar pelaku bukan memblokir, tapi menahan. Memberi mereka cukup waktu untuk membaca identitas jaringan. Alamat internal muncul. Lantai 12. Departemen keuangan.
Ruangan membeku.
“Itu…” kepala audit menelan ludah.
Aruna menatap layar, memastikan tidak ada kesalahan. Tidak ada.
“Tarik identitas pengguna,” katanya.
Nama muncul perlahan.
Semua mata membesar.
Seseorang yang mereka kenal.
Seseorang yang seharusnya tidak punya alasan.
Calvin berdiri tegak. “Kita konfirmasi langsung.”
Langkah mereka menuju lantai 12 terasa seperti berjalan ke pusat badai. Tidak ada keributan. Tidak ada drama. Hanya ketegangan yang menekan dada.
Pintu kantor terbuka.
Orang itu sedang duduk seperti biasa. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
“Kita perlu bicara,” kata Calvin datar.
Tatapan orang itu berpindah ke Aruna. Ada kilat pengakuan di sana cepat, tapi nyata. Dia tahu.
Dan Aruna tahu dia tahu.
Ruang rapat kecil menjadi tempat interogasi informal. Tidak ada ancaman. Tidak ada suara tinggi.
Hanya fakta yang diletakkan satu per satu. Jejak akses. Waktu. Lokasi. Orang itu mencoba menyangkal. Lalu berhenti. Bahunya jatuh.
“Ini bukan soal uang,” katanya pelan.
“Lalu apa?” tanya Aruna.
Tatapan itu naik. Tajam. Lelah.
“Perintah.”
Ruangan mengeras.
“Dari siapa?”
Sunyi.
Detik berjalan.
Lalu
“Saya tidak bisa bilang.”
Calvin bersandar. “Kalau kamu diam, kamu menanggung semuanya.”
Orang itu tertawa kecil. Pahit. “Kalau saya bicara… saya tidak hanya kehilangan pekerjaan.”
Ancaman di balik kalimat itu jelas. Aruna merasakan sesuatu bergeser. Ini lebih besar. Lebih dalam.
Dan seseorang di luar ruangan ini sedang menarik tali. Setelah orang itu dibawa keluar untuk proses formal, ruangan kembali sunyi.
Aruna berdiri di dekat jendela. Tangannya mengepal pelan.
“Kita bukan hanya menghadapi pelanggaran,” katanya.
Calvin menatapnya. “Kita menghadapi jaringan.”
Ia mengangguk.
Dan jaringan seperti itu tidak runtuh hanya dengan satu nama. “Ini baru pintu depan,” lanjutnya.
Calvin mendekat satu langkah. “Kamu masih mau lanjut?”
Aruna menoleh.
Tidak ada ragu.
“Sekarang?” katanya pelan. “Aku tidak bisa berhenti.”
Tatapan mereka terkunci. Ada pengertian di sana.
Dan sesuatu yang lebih berbahaya. Kepercayaan penuh.
Malam turun membawa keheningan yang berat.
Aruna duduk sendirian di meja kerjanya, memutar ulang semua kejadian hari itu. Jejak. Umpan.
Pengakuan setengah. Dan ancaman yang belum berbentuk.
Ponselnya bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Pesan masuk:
Kamu membuka pintu yang salah.
Aruna membaca kalimat itu dua kali.
Jantungnya berdetak lebih keras.
Bukan takut.
Tapi sadar.
Ini sudah personal.
Ia mengetik balasan singkat:
Kalau salah, kenapa kamu khawatir?
Pesan terkirim.
Tidak ada jawaban.
Tapi keheningan yang mengikuti terasa seperti janji.
Aruna menatap layar gelap. Garis sudah terlewati.
Dan kali ini, Tidak ada yang bisa menariknya kembali. Layar ponsel Aruna tetap gelap. Tidak ada balasan. Dan justru itu yang membuat napasnya terasa lebih berat. Ia meletakkan ponsel perlahan, tapi pikirannya tidak ikut berhenti. Pesan tadi bukan gertakan kosong. Nada kalimatnya terlalu yakin seperti seseorang yang terbiasa mengendalikan situasi dari balik bayangan.
Aruna berdiri, berjalan ke jendela. Kota di bawahnya masih hidup lampu kendaraan bergerak seperti arus tanpa henti. Semua tampak normal. Padahal hidupnya baru saja bergeser satu tingkat lebih berbahaya.
Pintu kantor terbuka pelan.
Calvin masuk tanpa bicara. Ia tidak perlu bertanya wajah Aruna sudah menjawab semuanya.
“Ada pesan?” tanyanya akhirnya.
Aruna mengangguk dan menyerahkan ponsel.
Calvin membaca cepat. Rahangnya mengeras, tapi ekspresinya tetap terkendali. “Mereka mulai merasa terpojok,” katanya.
“Atau mereka ingin kita berpikir begitu,” balas Aruna.
Calvin mengembalikan ponsel. “Mulai sekarang kamu tidak jalan sendiri. Ke mana pun.”
“Aku tidak berniat jadi sandera ketakutan,” jawab Aruna tenang.
“Ini bukan soal takut,” katanya. “Ini soal strategi.”
Aruna menatapnya beberapa detik. Ia tahu Calvin benar dan itulah yang membuatnya kesal. Bukan pada Calvin, tapi pada kenyataan bahwa permainan ini telah merambah ke wilayah yang tidak bisa lagi dianggap profesional semata.
Ia menghela napas panjang. “Oke. Strategi,” katanya akhirnya.
Untuk pertama kalinya malam itu, bahu Calvin sedikit turun. Bukan lega sepenuhnya lebih seperti menerima bahwa mereka masih berjalan di jalur yang sama.
Satu jam kemudian, mereka kembali ke ruang kendali kecil. Aruna membuka ulang log sistem. Kali ini bukan untuk mencari pelaku melainkan pola.
Setiap akses. Setiap waktu. Setiap kebiasaan.
“Lihat ini,” katanya pelan.
Calvin mendekat.
“Semua aktivitas mencurigakan terjadi di jam transisi. Pergantian shift. Pergantian pengawasan. Titik paling lemah dalam rutinitas.”
“Artinya mereka paham sistem dari dalam,” katanya.
“Lebih dari itu,” Aruna menambahkan. “Mereka tahu kapan kita lengah… bahkan sebelum kita sadar.”
Kesimpulan itu menggantung berat.
Ini bukan improvisasi. Ini operasi yang dipelajari.
Aruna memperbesar grafik terakhir. Ada celah kecil akses yang nyaris tidak terlihat. Terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
“Seseorang masih aktif,” katanya pelan.
Calvin menatap layar. “Belum selesai.”
Aruna menggeleng tipis. “Belum mulai.”
Dan di situlah kesadarannya jatuh dengan utuh,
Pelaku yang mereka tangkap hanyalah pion.
Seseorang yang jauh lebih besar masih duduk di balik layar menunggu mereka melangkah lebih jauh.
Aruna merasakan detak jantungnya stabil anehnya bukan karena tenang, tapi karena fokus. Ia menutup laptop perlahan.
“Kita percepat,” katanya.
Tatapan Calvin tajam. “Risikonya naik.”
“Sudah naik sejak pesan itu masuk.”
Sunyi sejenak.
Lalu Calvin mengangguk.
Kesepakatan tanpa tanda tangan.
Tanpa kata tambahan.
Malam semakin dalam. Dan di tengah keheningan itu, Aruna tahu satu hal dengan pasti. Mereka tidak lagi bereaksi terhadap permainan.
Mulai besok mereka yang akan memimpin langkahnya. Dan siapa pun yang bersembunyi di balik bayangan…
Akan dipaksa keluar ke cahaya.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/