NovelToon NovelToon
Only Ever

Only Ever

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Running On

Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab : 3

Satu minggu telah berlalu sejak Karin tiba di Korea.

Ia mencoba berbagai makanan. Salah satunya tteokbokki, makanan kesukaannya—pedas, hangat, dan sempat membuatnya tersenyum. Untuk sesaat, lidahnya sibuk, pikirannya pun teralihkan.

Ia juga berkeliling kota Seoul dengan taksi, tanpa tujuan yang jelas. Hanya ingin melihat gedung-gedung tinggi, lampu-lampu kota, dan kehidupan yang berjalan cepat. Dari balik kaca mobil, dunia terasa jauh—seolah ia hanya penonton dari kehidupan orang lain.

Namun malam selalu membawa cerita yang berbeda.

Di kamar penginapan yang sunyi, Karin berbaring sambil menatap foto dirinya bersama Arka. Cahaya layar ponsel memantul di matanya yang lelah. Dadanya kembali terasa berat.

Air mata menetes tanpa suara.

Jarinya sempat bergerak, membuka kontak Arka. Nama itu masih tersimpan di tempat yang sama. Ia hampir menekan tombol panggil—lagi.

Namun kali ini ia mengurungkan niatnya.

Karin mematikan layar ponsel, membalikkan tubuh, lalu menarik selimut menutupi wajahnya. Tangisnya pecah, tertahan, mengguncang bahunya. Ia menangis sekuat yang ia bisa, sendirian, tanpa saksi.

Saat itu Karin menyadari satu hal—

Sejauh apa pun ia pergi, seindah apa pun tempat yang ia datangi,

jika hatinya belum sembuh,

maka di mana pun ia berada,

ia tetap akan membawa luka yang sama.

Dan malam itu, di kota asing bernama Seoul,

Karin kembali menangis—

bukan karena ia lemah,

melainkan karena ia masih mencintai.

Hingga akhirnya, Karin mengambil keputusan lain.

Ia pergi ke konser K-Pop terkenal: TXT.

Karin bukan seorang K-popers. Ia bahkan tak mengenal satu pun nama member TXT. Ia datang bukan karena fanatisme, melainkan karena ingin menghibur dirinya sendiri—ingin menenggelamkan kesedihannya dalam suara musik dan sorak-sorai orang lain.

Ia tahu TXT sedang mengadakan konser di Seoul. Tanpa banyak berpikir, Karin membeli tiket konser yang harganya tidak murah. Namun baginya, itu bukan masalah.

Karin adalah seorang penulis komik dan novel dengan nama pena AK—gabungan dari nama Arka dan Karin. Karyanya terjual laris, dikenal luas, bahkan sebagian sudah diadaptasi menjadi film. Meski begitu, hampir tak ada yang mengenalnya secara langsung. Karin selalu menyembunyikan identitas aslinya, memilih hidup di balik nama pena dan cerita-ceritanya.

Malam konser itu, gedung dipenuhi lautan manusia. Suara teriakan menggema, lightstick berkilauan, dan energi para penggemar terasa begitu hidup. Orang-orang berdiri berjejer, melompat, bernyanyi bersama, menangis bahagia saat idola mereka muncul di atas panggung.

TXT tampil penuh karisma—menari, bernyanyi, memikat ribuan pasang mata.

Karin mengangkat ponselnya, merekam beberapa detik suasana konser. Lalu ia mengirimkannya kepada sang ibu.

Lihat, Ma. Karin baik-baik saja.

Setidaknya, itulah yang ingin ia tunjukkan.

Setelah itu, ia kembali menatap panggung. Untuk sesaat, pikirannya benar-benar teralihkan. Musik yang keras, lampu yang menyilaukan, dan sorakan penonton membuat dadanya terasa lebih ringan.

Karin harus mengakui—

para member TXT memang tampan dan keren.

Ia tersenyum kecil. Bukan senyum yang sepenuhnya sembuh, tapi cukup untuk membuat malam itu terasa sedikit lebih hangat.

Di tengah ribuan orang yang bersorak bahagia,

Karin berdiri sendiri—

seorang perempuan dengan luka lama,

yang untuk pertama kalinya setelah sekian lama,

berhasil tertawa tanpa menangis di akhir malam.

Melihat para penggemar berteriak sekuat tenaga memanggil nama idola mereka—menyebut satu per satu nama member, atau sekadar meneriakkan “TXT!” dengan penuh emosi—sesuatu di dada Karin ikut bergetar.

Ia ingin berteriak juga.

Bukan karena fanatik.

Bukan karena mengidolakan.

Tapi karena hatinya terlalu penuh.

Akhirnya, Karin ikut berteriak.

“So-bin!”

Suaranya tenggelam di antara teriakan lain. Karin sendiri bahkan tak benar-benar sadar siapa yang ia panggil. Ia hanya ingin meluapkan perasaan yang selama ini terpendam.

Namun, seorang pemuda yang berdiri di sampingnya menoleh.

Tatapan pemuda itu terlihat bingung, alisnya mengernyit sedikit. Seolah ia mendengar sesuatu yang tidak pas.

Pemuda itu lalu berkata dengan bahasa Inggris, nadanya ragu.

“Are you lying?”

(Kamu bercanda?)

Karin terdiam sejenak. Ia baru sadar—

bukan salah nama, tapi salah pelafalan.

Ia menoleh ke arah pemuda itu, wajahnya sedikit memanas. Lalu ia tersenyum canggung.

“No… I’m not lying,” katanya cepat.

(Tidak… aku tidak bercanda.)

“I’m not a fan. I just wanted to scream.”

(Aku bukan penggemar. Aku hanya ingin berteriak.)

Pemuda itu menatapnya beberapa detik, lalu tertawa kecil, seolah akhirnya mengerti.

“Oh… that makes sense.”

(Oh… pantes saja.)

Di tengah lautan penggemar yang berteriak memanggil idola mereka dengan penuh cinta, Karin ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia berteriak bukan karena Arka. Bukan karena masa lalu.

Melainkan karena hatinya sendiri yang terlalu penuh dan akhirnya diberi ruang untuk dilepaskan.

Dan anehnya…

itu terasa sedikit melegakan.

Pemuda itu kembali membuka percakapan. Kali ini suaranya lebih pelan, tidak lagi bercanda.

“Are you okay?”

(Kamu baik-baik saja?)

Karin menoleh ke arahnya. Bibirnya terangkat membentuk senyum kecil yang terasa pahit.

“No… I’m not okay.”

(Tidak… aku tidak baik-baik saja.)

Pemuda itu menatapnya sedikit lebih lama dari sebelumnya. Tidak berlebihan, tapi cukup membuat Karin sadar akan tatapan itu. Ia merasa sedikit terganggu, lalu menimpalinya dengan nada bercanda.

“Kenapa?” katanya sambil tersenyum.

“Do I look that sad?”

(Apa wajahku kelihatan sesedih itu?)

Pemuda itu terdiam sesaat, lalu tertawa kecil.

“A little, yeah.”

(Sedikit, iya.)

Karin ikut tertawa pelan.

Pemuda itu lalu bertanya lagi, penasaran.

“So… you came here just to comfort yourself?”

(Jadi kamu ke sini cuma buat menghibur diri?)

“Not because you’re a fan?”

(Bukan karena kamu mengidolakan mereka?)

Karin tertawa lebih lepas kali ini.

“Iya,” jawabnya jujur.

“This place is the safest place to scream in a big city.”

(Tempat ini adalah tempat paling aman untuk berteriak di kota besar.)

“Kalau kita berteriak di luar konser,” lanjutnya sambil tertawa,

“polisi bisa datang dan nangkap kita.”

Pemuda itu langsung tertawa. Tawa yang ringan, tanpa beban.

Kemudian ia mengangkat lightstick-nya tinggi-tinggi ke udara.

“Then let’s do it properly.”

(Kalau begitu, ayo lakukan dengan benar.)

“Raise your lightstick and scream their name.”

(Angkat lightstick-mu dan teriakkan nama mereka.)

“It’s Soobin.”

(Namanya Soobin.)

Karin menatapnya sebentar, lalu mengangkat lightstick-nya juga.

“Soobin!”

teriaknya.

“Soobin!”

pemuda itu ikut berteriak.

Di tengah musik yang menggema dan sorakan ribuan orang, mereka berteriak bersama—lalu tertawa, tanpa alasan yang rumit.

Malam itu, Karin ditemani oleh seorang pemuda yang bahkan tidak ia kenal namanya.

Tidak ada janji.

Tidak ada masa lalu.

Hanya tawa singkat di antara keramaian.

Dan meski hari itu melelahkan,

setidaknya Karin merasa sedikit lebih ringan—

karena tanpa ia duga, ada seseorang yang datang sebentar

dan memberinya ruang untuk bernapas lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!