NovelToon NovelToon
BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Runtuhnya Sebuah Takhta

BAB 11: Runtuhnya Sebuah Takhta

Pagi itu, langit Jakarta tampak tertutup kabut polusi yang tebal, seolah mencerminkan kekeruhan suasana hati Rangga. Ia berdiri di depan mesin ATM di lobi rumah sakit dengan napas yang tertahan. Tangannya gemetar saat ia memasukkan kartu debit emasnya ke dalam mesin. Ia butuh dana cepat untuk membayar biaya laboratorium tambahan yang diminta Dokter Bram pagi tadi.

Namun, saat layar monitor menyala, bukan angka saldo yang muncul, melainkan sebuah pesan singkat yang terasa seperti tamparan keras di wajahnya: Akses Ditolak. Silakan Hubungi Bank Anda.

Rangga mencoba kartu kreditnya. Hasilnya sama. Ditolak.

Ia mencoba menelepon layanan pelanggan bank, hanya untuk mendengar jawaban dingin dari seberang telepon bahwa seluruh aset pribadinya telah dibekukan atas permintaan pemegang otoritas keluarga besar Sarah. Ibunya benar-benar melakukannya. Ibu Sarah telah memutus semua urat nadi kehidupan finansial Rangga. Ia ingin membuat putranya bertekuk lutut, membiarkannya merasakan bagaimana rasanya menjadi debu tanpa nama besar keluarga.

"Sial!" umpat Rangga sambil memukul mesin ATM itu dengan kepalan tangannya. Beberapa orang yang lewat menatapnya dengan pandangan aneh, namun Rangga tidak peduli. Rasa pusing yang kronis mendadak menyerang kepalanya lagi, kali ini disertai rasa mual karena kemarahan yang meluap-luap.

Rangga kembali ke ruang VVIP Arini. Ia berhenti di ambang pintu, melihat Arini yang sedang berusaha meminum air dari gelas dengan tangan yang sangat lemah. Arini terlihat begitu menderita, namun saat melihat Rangga masuk, ia memaksakan sebuah senyum tipis yang sarat akan rasa bersalah.

"Ga... ada apa? Wajahmu pucat sekali," bisik Arini.

Rangga segera mengatur raut wajahnya. Ia mendekat, mengambil gelas dari tangan Arini dan membantunya minum. "Nggak apa-apa, Rin. Cuma masalah kecil di kantor. Kamu jangan pikirkan itu."

Baru saja Arini hendak membalas, pintu kamar terbuka. Seorang petugas administrasi rumah sakit masuk dengan wajah kaku. "Maaf mengganggu, Pak Rangga. Kami baru saja menerima pemberitahuan bahwa jaminan perusahaan dari Grup Sarah untuk pasien Nona Arini telah dicabut efektif mulai jam sepuluh pagi ini. Jika tidak ada deposit tunai sebesar seratus juta untuk biaya minggu ini, kami harus memindahkan Nona Arini ke bangsal kelas tiga atau memulangkan pasien."

Wajah Arini seketika memutih. Gelas plastik di tangannya jatuh ke atas selimut. "Dicabut? Kenapa, Ga?"

Rangga berdiri, menatap petugas itu dengan tatapan yang bisa membunuh. "Aku akan urus ini sore nanti. Jangan berani-berani memindahkan Arini dari kamar ini seujung kuku pun!"

Setelah petugas itu keluar, Arini mulai menangis histeris. "Ga, ini gara-gara aku! Ibumu benar, aku cuma beban! Bawa aku pulang saja, biarkan aku mati di rumah. Jangan hancurkan hidupmu lebih jauh lagi karena biaya ini!"

Rangga memeluk Arini erat-erat. "Diam, Arini! Dengar aku. Aku tidak akan membiarkanmu kedinginan di bangsal umum. Aku masih punya cara. Aku bukan pria lemah yang hanya bergantung pada uang ibuku. Kamu hanya perlu fokus untuk bertahan hidup, sisanya biar aku yang selesaikan."

Rangga melangkah keluar dari rumah sakit dengan langkah cepat. Ia menuju area parkir dan menatap mobil sport edisi terbatas miliknya yang terparkir gagah. Itu adalah satu-satunya aset yang surat-suratnya ia pegang sendiri dan tidak terikat dengan perusahaan keluarga. Dengan berat hati, ia memacu mobil itu menuju sebuah dealer mobil mewah di Jakarta Utara.

"Satu koma tujuh miliar?" tanya Rangga pada pemilik dealer, seorang pria tambun yang menatap mobil Rangga dengan mata rakus.

"Pak Rangga, Anda tahu kondisi pasar sedang turun. Apalagi mobil ini bekas Anda pakai untuk... ya, perjalanan jauh kemarin. Saya hanya bisa kasih satu koma dua miliar tunai saat ini juga," ujar pria itu sambil menghisap cerutunya.

Rangga mengepalkan tangan di bawah meja. Ia tahu ia sedang dirampok di siang bolong. Mobil itu bernilai hampir tiga miliar. Tapi ia tidak punya waktu untuk bernegosiasi. Arini butuh obatnya malam ini.

"Satu koma lima miliar, atau aku pergi sekarang juga," tekan Rangga dengan suara dingin.

Setelah perdebatan sengit selama satu jam, uang itu akhirnya ditransfer ke rekening baru yang ia buka atas namanya sendiri. Namun, Rangga tidak berhenti di sana. Ia kembali ke apartemen pribadinya. Ia mulai memasukkan jam tangan koleksinya—Rolex, Patek Philippe, hingga jam tangan warisan ayahnya—ke dalam tas. Ia juga mengambil beberapa jas desainer ternama dan kamera mahal miliknya. Semuanya ia jual ke toko barang mewah bekas di kawasan pusat kota.

Ia merasa seperti sedang menguliti dirinya sendiri. Menanggalkan satu per satu simbol kekayaan dan kesuksesannya. Saat ia keluar dari toko terakhir dengan tas ransel berisi tumpukan uang tunai dan kartu ATM baru, Rangga melihat bayangannya di kaca toko. Ia terlihat berantakan. Rambutnya tidak tertata, kemejanya kusut, dan matanya cekung. Ia bukan lagi sang pangeran korporat. Ia hanyalah seorang pria yang sedang bertarung melawan takdir.

Ia kembali ke rumah sakit menggunakan taksi daring. Sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak ia lakukan. Di dalam taksi, ia menatap ponselnya yang terus berdering. Ibunya menelepon berkali-kali.

Rangga akhirnya mengangkat satu panggilan. "Mau apa lagi, Ma?"

"Rangga, pulanglah. Jangan konyol. Mama dengar kamu menjual mobilmu. Kamu mempermalukan keluarga kita! Pulang sekarang, minta maaf, dan Mama akan kembalikan semuanya. Biarkan wanita itu diurus oleh perawat di bangsal umum, itu tempat yang pantas untuknya," suara Sarah terdengar tajam.

"Tempat yang pantas untuk Arini adalah di sampingku, Ma," jawab Rangga dengan nada yang sangat tenang namun menakutkan. "Mulai hari ini, aku bukan lagi bagian dari bisnismu. Silakan ambil semua sahamku. Aku lebih memilih hidup sebagai rakyat jelata daripada hidup sebagai anakmu yang tidak punya hati. Jangan pernah hubungi aku lagi."

Rangga mematikan ponselnya dan mencabut kartu SIM-nya. Ia membuang benda kecil itu ke luar jendela taksi. Ia merasa bebas, meskipun kebebasan itu terasa sangat pahit.

Saat ia kembali ke kamar rumah sakit, ia mendapati Arini sedang tidur karena pengaruh obat penenang. Rangga duduk di sampingnya, ia menaruh tas ranselnya di lantai. Ia membayar seluruh biaya rumah sakit untuk dua bulan ke depan di bagian administrasi tadi, memastikan Arini tetap mendapatkan kamar terbaik dan obat-obatan impor.

Namun, pengorbanannya tidak berhenti di situ.

Rangga tahu uang satu setengah miliar itu akan habis dengan cepat jika kondisi Arini terus kritis. Ia harus bekerja. Ia membuka laptopnya dan mulai mencari lowongan pekerjaan di perusahaan-perusahaan menengah yang tidak memiliki hubungan dengan ibunya. Ia bersedia menjadi staf pemasaran biasa, asalkan ia bisa mendapatkan gaji tetap untuk menyambung hidup mereka.

Malam itu, Arini terbangun dan melihat Rangga sedang sibuk mengetik sesuatu di laptopnya. "Ga... kamu nggak pulang?"

Rangga menoleh dan tersenyum—sebuah senyum yang jujur, tanpa topeng wibawa manajer. "Aku di sini, Rin. Aku sudah bereskan semuanya. Kita punya uang yang cukup sekarang."

"Dari mana?" tanya Arini curiga.

"Aku menjual beberapa barang yang sudah tidak terpakai. Ternyata hidup sederhana itu tidak buruk juga," bohong Rangga demi menenangkan Arini.

Arini meraih tangan Rangga. "Maafkan aku, Rangga... karena aku, kamu kehilangan duniamu."

Rangga mengecup telapak tangan Arini yang kurus. "Duniaku ada di sini, di ruangan ini. Selama kamu masih bernapas, aku masih punya segalanya. Tidurlah, Sayang. Besok adalah hari baru, dan aku akan selalu ada di sini saat kamu membuka mata."

Di luar, hujan kembali turun membasahi ibukota. Rangga terus mengetik surat lamaran kerjanya di bawah sinar lampu tidur yang remang. Ia tidak peduli jika besok ia harus naik bus kota atau makan di warung pinggir jalan. Selama ia bisa melihat garis kehidupan di monitor jantung Arini tetap berdenyut, ia adalah pria paling beruntung di dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!