“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."
Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.
Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: SISI LAIN DARI SANG PENAKLUK
Malam di Kota Provinsi masih menyisakan hawa dingin setelah hujan gerimis yang sempat turun tadi mulai berhenti. Rimba duduk di kursi belakang taksi online yang melaju membelah jalanan kota menuju kawasan kampus Universitas Buana Cakrawala. Di sampingnya, Cesar tampak tenang menyandarkan kepalanya di atas jok, sementara Rimba memilih untuk membuka obrolan ringan dengan sang sopir taksi.
"Sudah lama narik taksi online, Pak?" tanya Rimba memulai percakapan.
Sopir taksi itu, seorang pria berusia sekitar awal lima puluh tahun dengan gari-garis kelelahan di wajahnya, tersenyum melalui spion tengah. "Sudah sekitar tiga tahun, Dek. Sejak pabrik tempat saya kerja dulu melakukan PHK besar-besaran. Daripada menganggur di rumah, lebih baik cari rezeki di jalanan begini."
"Bagaimana hari ini? Ramai orderan?"
Bapak itu menghela napas pendek namun tetap tersenyum. "Hari ini agak seret, Dek. Sejak pagi baru dapat tiga orderan. Adek ini yang keempat.”
“Bapak tinggalnya jauh?”
“Rumah saya sebenarnya tidak jauh dari sini, masih di dalam kota. Rencananya setelah mengantar Adek, saya langsung pulang saja. Sudah cukup untuk hari ini."
Rimba mengangguk-angguk, merasakan empati mengalir dalam dirinya. "Bapak punya anak berapa?"
"Dua, Dek. Yang pertama baru masuk kelas satu SMP, dan yang nomor dua masih kelas dua SD. Makanya, lelah pun harus tetap disyukuri demi pendidikan mereka," jawab bapak itu dengan nada bangga yang tulus.
Sepanjang perjalanan, obrolan mereka terus mengalir. Bapak itu bercerita tentang tantangan hidup di kota besar, sementara Rimba mendengarkan dengan seksama sebagai pendengar yang baik. Kedewasaan Rimba yang ditempa di dimensi dan kesederhanaannya yang tumbuh di Desa Kenanga membuatnya sangat mudah bergaul dengan orang-orang dari berbagai lapisan sosial.
Saat mobil hampir sampai di kawasan kampus, Rimba melihat sebuah kedai martabak yang harumnya tercium hingga ke dalam mobil. "Pak, berhenti sebentar di depan tukang martabak itu," pinta Rimba.
Mobil menepi. Rimba turun dan memesan satu martabak manis spesial dengan topping lengkap serta satu martabak asin spesial dengan telur bebek.
Sambil menunggu pesanannya, Rimba masuk ke dalam ATM yang berada tidak jauh dari sana.
Selesai mengambil uang, Rimba kembali ke tenda martabak. Setelah menunggu beberapa menit, ia membawa dua kotak hangat itu kembali ke dalam mobil.
Tak lama kemudian, taksi sampai di depan gerbang utama kampus. Suasana di sana masih sangat ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang mencari makan malam atau sekadar nongkrong. Sebelum turun, Rimba menyerahkan kantong plastik berisi martabak dan lembaran uang lima juta rupiah kepada sang sopir.
"Pak, ini martabak saya titip untuk keluarga Bapak di rumah. Dan ini ada sedikit bonus ongkos. Semoga hari-hari Bapak menyenangkan. Terima kasih sudah mengantarkan saya dengan aman ya, Pak," kata Rimba sambil tersenyum.
Bapak sopir itu tertegun. Ia melihat plastik martabak dan uang lima juta di tangannya dengan tatapan tidak percaya. "Lho, kan Adek sudah bayar di aplikasi? Ini terlalu banyak, Dek!" tangannya sedikit gemetar.
"Tidak apa-apa, Pak. Ini rezeki untuk anak-anak Bapak. Anggap saja ini tambahan dari saya," ujar Rimba sambil menutup pintu mobil sebelum bapak itu sempat menolak lagi.
"Terima kasih banyak ya, Dek! Semoga Gusti Allah membalas kebaikan Adek!" teriak bapak itu dari balik jendela. Rimba hanya melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang. Baginya, uang lima juta itu hanyalah butiran debu dibandingkan seribu lima ratus triliun yang baru saja ia peroleh, namun bagi bapak itu, itu adalah napas baru untuk keluarganya.
---
Rimba melangkah masuk ke kawasan kampus dengan Cesar mengekor setia di belakangnya. Ia berniat berjalan kaki mencari tempat yang benar-benar sepi sebelum ia dan Cesar menghilang kembali ke dalam dimensi. Namun, langkahnya terhenti ketika melewati sebuah cafe tenda di pinggir jalan kampus yang tampak agak lengang.
Telinganya yang tajam menangkap suara keributan.
"Kalau aku tidak mau kasih uang, jangan memaksa dong! Pergi lah sana!" suara seorang perempuan terdengar melengking, penuh nada kesal dan ketakutan.
"Halah, jangan sombong kamu! Cuma minta uang sedikit saja pelit sekali. Sini tasmu!" timpal sebuah suara pria yang kasar.
Rimba menyadari bahwa ini bukan pertengkaran sepasang kekasih, melainkan aksi pemalakan di ruang publik. Dengan langkah tenang, ia memasuki cafe tenda tersebut. Di salah satu meja, ia melihat dua orang gadis sedang duduk dengan wajah sewot sekaligus tegang. Di hadapan mereka berdiri dua orang pria bertampang sengak dengan rambut gondrong kumal yang melotot mengancam.
Rimba menghampiri meja itu. "Permisi. Ada masalah apa ini?" tanyanya dengan nada bicara yang sopan namun dingin.
Salah satu pria pemalak itu menoleh dan melotot ke arah Rimba. "Heh, Bocah! Ini bukan urusanmu! Jangan ikut campur kalau masih sayang nyawa!"
Rimba menatap kedua pria itu bergantian. "Jika kalian mengancam wanita di ruang publik seperti ini, maka ini menjadi urusanku," jawab Rimba datar.
Geram karena peringatannya tidak dihiraukan, pria itu langsung mengayunkan tinjunya ke arah wajah Rimba. Tapi bagi Rimba, gerakan itu sangat amat lambat. Sebelum tinju itu sampai, Rimba sudah lebih dulu mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi kiri pria tersebut.
PLAK!
Pria itu terpelanting jatuh ke lantai tanah cafe. Belum sempat ia bangun, Cesar sudah melompat dan menginjak dada pria itu dengan kaki depannya yang kuat. Serigala hitam itu menunduk, memperlihatkan taring-taring tajamnya yang berkilau di bawah lampu lampu cafe, sambil mengeluarkan geraman rendah yang menggetarkan tulang.
Teman pria itu langsung membeku di tempat. Wajahnya pucat pasi melihat temannya disandera oleh seekor serigala sungguhan. Tanpa kata, ia langsung berbalik dan lari terbirit-birit keluar dari cafe tenda.
Rimba berjongkok di dekat pria yang sedang menggigil di bawah kaki Cesar. "Apakah kamu masih merasa perlu memaksakan kehendakmu pada mereka?" tanya Rimba santai.
"Am... ampun, Bang! Ampun! Saya tidak mau lagi... tolong lepaskan anjing ini!" rengeknya dengan suara gemetar.
"Dia bukan anjing, dia serigala," koreksi Rimba. "Kali ini aku sedang berbaik hati. Tapi ingat, jika sekali lagi aku melihatmu memaksa orang di sekitar kampus ini, aku akan memastikan lehermu patah sebelum kamu sempat meminta ampun. Sekarang, pergi!"
"Cesar, lepas dia."
Cesar tidak langsung melepaskannya. Dengan sangat perlahan, Cesar mendekatkan wajahnya ke hidung pria itu, menyeringai hingga napas panasnya terasa di wajah si pemalak. Pria itu menangis ketakutan, bahkan bau pesing mulai tercium karena ia mengompol di celana. Setelah puas memberi pelajaran, Cesar menurunkan kakinya. Pria itu langsung bangun dan lari sekencang mungkin tanpa berani menoleh.
Setelah pria itu hilang dari pandangan, Cesar tiba-tiba melolong lirih dan melonjak-lonjak gembira, seolah baru saja memainkan permainan yang sangat menyenangkan. Rimba tertawa terbahak-bahak melihat tingkah sahabatnya itu. "Hampir kencing di celana orang tadi kamu kerjain begitu, Cesar!"
Kedua gadis tadi, yang tadinya ketakutan, kini bisa tersenyum melihat tingkah lucu Cesar. Para pegawai cafe yang sempat tegang juga menghela napas lega. Rimba mengangguk sopan kepada kedua gadis itu dan berniat untuk pergi, namun salah satu dari mereka memanggilnya.
"Jangan pergi dulu, Rimba! Duduk dulu di sini. Biar kami traktir sebagai rasa terima kasih."
Rimba menghentikan langkahnya. Ia menoleh dengan wajah heran. "Kakak kenal saya?"
Kedua gadis itu terkikik bersamaan. "Siapa sih di Universitas Buana Cakrawala yang tidak kenal Rimba? Mahasiswa baru, yang viral, yang berani membanting panitia orientasi. Video kamu itu sudah menyebar di grup-grup WhatsApp kampus, tahu!"
Rimba melongo, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Pantas saja saya merasa asing tapi Kakak tahu nama saya. Baiklah, saya duduk sebentar."
Rimba memesan kopi tubruk, menolak tawaran makan karena ia merasa masih kenyang. Di meja itu, ia baru memperhatikan kedua gadis tersebut dengan lebih teliti. Mereka terlihat lebih dewasa daripada mahasiswi baru lainnya.
"Jadi Kakak berdua mahasiswi sini juga?" tanya Rimba.
"Iya, kami semester akhir. Hari Senin depan kami sidang skripsi," jawab salah satu dari mereka yang bernama Maya. "Aku Akuntansi, dan temanku ini, Sari, dari Manajemen. Kami fakultas ekonomi."
"Oh, para senior rupanya," senyum Rimba. "Tadi saya kira Kakak-kakak ini sudah bekerja, soalnya pembawaannya sangat dewasa."
"Hahaha, bilang saja kami terlihat tua, Rim! Pakai diganti kata 'dewasa' segala," goda Sari sambil tertawa.
"Bukan begitu, Kak. Benar-benar terlihat lebih matang maksudnya."
"Iya, kami memang mengambil kelas karyawan. Kami sudah bekerja di kantor, tapi butuh gelar sarjana untuk meningkatkan karier. Makanya kami kuliah di sini," jelas Maya.
Mereka berbincang santai selama hampir satu jam. Kedua senior itu tampak sangat nyaman mengobrol dengan Rimba, seolah-olah mereka adalah teman sebaya. Sebelum berpisah, mereka saling bertukar nomor telepon. Rimba merasa senang bisa menambah koneksi di kampus ini.
Saat hendak pamit, Rimba berdiri dan diam-diam berjalan ke kasir. Ia menanyakan tagihan meja mereka. Maya dan Sari berteriak protes, "Eh! Kan kami yang mau traktir kamu, Rim!"
Rimba hanya tersenyum lebar sambil menyerahkan uangnya ke kasir. "Masa saya yang dibayari oleh perempuan cantik? Anggap saja ini traktiran dari junior untuk kesuksesan sidang Kakak-kakak hari Senin nanti."
Sambil melambaikan tangan, Rimba keluar dari cafe tenda diikuti Cesar. Kedua gadis itu hanya bisa terpana menatap punggung Rimba yang perlahan menghilang ditelan kegelapan malam.
"Ganteng, jago bela diri, kaya, dan sopan... Rimba itu benar-benar paket lengkap ya, May?" bisik Sari.
“Iya, kok aku merasa terlalu cepat lahir ya?” kekeh Maya.
Rimba terus berjalan menjauhi keramaian menuju area taman kampus yang gelap dan tidak terpakai. Begitu merasa tidak ada orang yang memperhatikan, ia memejamkan mata. Dalam sekejap, sosok pemuda dan serigala hitam itu lenyap dari dunia nyata, meninggalkan heningnya malam di area Buana Cakrawala.