NovelToon NovelToon
MAHAR KEBEBASAN

MAHAR KEBEBASAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. TUBUHNYA BERHIANAT

Kamar utama yang mewah itu seketika berubah menjadi medan pertempuran ego yang menyesakkan. Udara terasa berat oleh aroma kemarahan Dipta dan keputusasaan Keyla yang nyaris pecah. Dipta tidak lagi memberikan ruang untuk negosiasi. Baginya, penolakan Keyla terhadap darah dagingnya adalah pengkhianatan terbesar atas "pembelian" yang telah ia lakukan.

Dipta mencengkeram kedua pergelangan tangan Keyla, menguncinya di atas kepala dengan satu tangan yang besar dan kuat. Ia menekan tubuhnya yang kekar ke atas tubuh Keyla yang mungil, membuat gadis itu tidak bisa bergerak sedikit pun.

"Lepaskan aku, Dipta! Kau monster! Aku membencimu!" Keyla berteriak, air matanya membasahi bantal, wajahnya merah padam karena amarah dan rasa takut.

Dipta mendekatkan wajahnya, napasnya yang panas menerpa kulit leher Keyla. "Sebut aku sesukamu, Keyla. Tapi malam ini, aku akan menunjukkan padamu siapa yang memegang kendali atas rahimmu."

"Aku tidak mau hamil! Aku ingin sekolah! Kau sudah janji!" rintih Keyla, suaranya parau karena isak tangis.

"Aku janji memberimu kuliah, tapi aku tidak pernah janji akan membiarkanmu membunuh keturunanku dengan obat-obat sialan itu!" Dipta mencium leher Keyla dengan kasar, gigitannya meninggalkan tanda kemerahan yang baru di atas tanda semalam yang belum hilang. "Kau adalah Nyonya Mahendra. Dan rahimmu adalah milikku."

"Sakit, Dipta... hiks... hentikan..." Keyla mencoba memalingkan wajahnya, namun Dipta justru semakin menuntut.

Dipta melepaskan kancing kemejanya dengan tangan yang lain tanpa melepaskan kuncian pada tangan Keyla. Matanya berkilat oleh obsesi yang gelap. "Kau tadi berani menantangku, bukan? Kau bilang kau takut hamil? Kalau begitu, aku akan memastikan ketakutanmu itu menjadi kenyataan malam ini juga."

"Jangan... aku mohon... jangan lakukan ini karena marah," isak Keyla, tubuhnya bergetar hebat.

"Aku tidak sedang marah, Keyla. Aku sedang mengambil apa yang menjadi hak mutlakku," bisik Dipta dingin. Ia mulai menciumi bibir Keyla dengan paksa, membungkam setiap protes yang keluar dari mulut gadis itu. Ciumannya tidak lagi memiliki jejak kelembutan yang sempat ia tunjukkan saat menyuapi tadi; ini adalah penaklukan.

Keyla merintih saat merasakan tangan Dipta bergerak liar, menjelajahi tubuhnya dengan klaim kepemilikan yang brutal. "Dipta... kumohon... biarkan aku memulai kuliahku tanpa beban ini..."

"Kuliahmu tidak akan terganggu oleh seorang bayi, Keyla. Tapi kau akan terganggu jika kau terus mencoba melawan suamimu," sahut Dipta. Ia mulai menanggalkan pakaian Keyla dengan kasar, mengabaikan setiap rintihan dan penolakan.

*

Dipta bergerak dengan ritme yang didorong oleh kemarahan dan gairah yang tak terkendali. Ia menyatukan tubuh mereka kembali, kali ini dengan niat yang jauh lebih tegas: menanamkan benihnya sedalam mungkin.

Keyla memejamkan mata erat, mencengkeram sprei hingga kuku-kukunya hampir robek. Rasa sakit fisik itu kembali menghantamnya, namun rasa hancur di jiwanya jauh lebih hebat. Ia merasa seperti wadah kosong yang hanya digunakan untuk memenuhi ambisi pria di atasnya.

"Ahhh... Dipta... hiks... cukup..." rintih Keyla saat merasakan intensitas gerakan Dipta semakin memuncak.

"Katakan kau milikku, Keyla! Katakan!" tuntut Dipta, suaranya serak dan penuh otoritas di tengah deru napas mereka yang memburu.

"Aku... Tidaaak..." bisik Keyla akhirnya, sebuah pengakuan yang lahir dari rasa sakit dan ketidakberdayaan.

Kamar itu seolah terbakar oleh percampuran emosi yang berbahaya. Dipta, dengan napas yang memburu dan otot-otot yang menegang, terus mendominasi tubuh Keyla. Namun, sesuatu yang berbeda mulai terjadi di tengah pertempuran itu. Di balik isak tangis dan penolakan Keyla, tubuh gadis itu mulai mengkhianati pikirannya sendiri.

Sentuhan Dipta yang kasar namun sangat ahli mulai menyentuh titik-titik saraf yang selama ini tersembunyi. Alkohol yang masih tersisa sedikit di darah Keyla, berpadu dengan gairah primitif, menciptakan sensasi panas yang menjalar ke sekujur tubuhnya.

"Lepaskan... Dipta... Ahhh..." Rintihan Keyla yang tadinya murni karena rasa sakit, perlahan mulai berubah nada. Ada getaran kecil di akhir suaranya yang menandakan tubuhnya mulai merespons.

Dipta, yang sangat peka terhadap setiap perubahan pada "miliknya", menyadari hal itu. Ia memperlambat gerakannya, bukan untuk berhenti, melainkan untuk menyiksa Keyla dengan cara yang lebih halus. Ia mencium telinga Keyla, memberikan hembusan napas yang membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.

"Kenapa diam, Keyla? Kau membenciku, tapi kenapa tubuhmu memelukku begitu erat?" bisik Dipta parau, suaranya sangat menggoda sekaligus menghina.

"Tidak... aku tidak... hiks... ini hanya karena kau memaksaku!" bantah Keyla, namun jemarinya justru mencengkeram bahu kokoh Dipta, menarik pria itu lebih dekat tanpa ia sadari.

Dipta tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar sangat maskulin dan penuh kemenangan. Ia menekan titik sensitif Keyla dengan ibu jarinya sambil terus bergerak.

"Katakan padaku, Nyonya Mahendra... Apakah anak SMA itu bisa membuatmu mengeluarkan suara seperti ini? Apakah mereka tahu bagaimana cara memperlakukan wanita sepertimu?"

"Jangan... jangan sebut mereka..." rintih Keyla, kepalanya mendongak, matanya terpejam erat saat gelombang kenikmatan yang ia benci mulai menghantamnya. "Kau... kau hanya monster yang membeliku..."

"Monster yang membuatmu merintih, bukan?" Dipta memacu gerakannya kembali, lebih liar dan lebih menuntut. "Lihat bagaimana kau meresponsku, Keyla. Kau menikmatinya. Kau menikmati menjadi milikku."

"Tidak! Aku benci ini! Ahhh... Dipta... berhenti... jangan di sana..." Keyla menggelengkan kepalanya dengan liar, namun tubuhnya justru melengkung, menyambut setiap sentuhan Dipta dengan kepasrahan yang menggairahkan.

Keyla merasa ingin mati karena malu. Pikirannya terus meneriakkan kata 'benci', namun setiap kali Dipta menyentuh kulitnya, ia merasakan ledakan kembang api yang belum pernah ia bayangkan. Ia membenci kenyataan bahwa ia mulai menikmati permainan pria yang telah menghancurkan masa depannya.

"Kau sangat sempit, sangat sempurna..." Dipta mengerang, membenamkan wajahnya di ceruk leher Keyla, menyesap aroma tubuh gadis itu dengan rakus. "Kau diciptakan hanya untukku, Keyla. Hanya untuk menerima setiap inci dariku."

"Diam... tolong diam..." Keyla terisak, namun isakannya kini bercampur dengan desahan napas yang pendek-pendek. "Aku hanya... aku hanya ingin ini cepat selesai..."

"Bohong," desis Dipta. Ia menatap mata Keyla yang berkabut gairah. "Matamu bilang kau ingin lebih. Kau ingin aku menanamkan benihku di dalam sana sekarang juga."

Dipta tidak memberikan kesempatan bagi Keyla untuk membantah lagi. Ia membawa Keyla ke puncak gairah yang paling tinggi, memaksa gadis itu untuk mengakui kekuasaan fisiknya. Keyla meremas punggung Dipta, mengeluarkan suara-suara yang selama ini ia tahan, menyerah pada insting yang mengalahkan logikanya.

"Aaaakh... Dip.. Ta.."

"Iya sayang.."

"Aku.. Akan.. Ooouuugh.."

"Tunggu sayang.."

"Aaaakh.. Kau sangat.. Aaaakh.."

Setelah semuanya mencapai puncaknya, Dipta ambruk di atas tubuh Keyla, membiarkan berat tubuhnya menindih gadis itu sepenuhnya. Keyla terengah-engah, wajahnya merah padam dan matanya basah oleh air mata yang bingung—antara benci dan sensasi yang baru saja ia rasakan.

"Jangan pernah bicara soal obat itu lagi," ujar Dipta sambil mengatur napasnya. "Kau baru saja membuktikan bahwa rahimmu siap untuk anakku."

Keyla hanya bisa memalingkan wajah ke samping, menatap dinding kamar dengan tatapan kosong. Ia tidak sanggup menatap mata Dipta karena ia tahu, pria itu baru saja melihat sisi liar darinya yang enggan ia akui. Ia merasa kotor, bukan hanya karena perbuatan Dipta, tapi karena tubuhnya sendiri yang telah berkhianat.

***

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!