Seorang wanita bernama Eun Chae hampir memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang membosankan setelah mendapatkan diagnosa mengidap penyakit linglung atau amnesia di usianya yang baru 30 tahun. Terlebih parahnya, Eun Chae tidak ingat bagaimana dirinya telah kehilangan kedua orang tuanya setahun yang lalu, dalam sebuah kecelakaan saat berlibur ke luar negeri. Siapa sangka pria yang menolongnya ternyata seorang chef terkenal di media sosial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon originalbychani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 18 : Mengenal Lawan
Setelah menunggu selama seminggu, mau tidak mau Chef Do harus menghadapi apa saja yang akan terjadi bersama Eun Chae.
"Eun Chae-ya. Kudengar dari Chef Ik Jun, hasil keputusan juri kini sedang diumumkan melalui berita dan live streaming," ujar pria itu, seraya mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana panjangnya.
Mendengar kabar itu, Eun Chae nyaris melompat dari sofa yang ditempatinya dan langsung merapat kepada Chef Do. Dengan gugup dan tidak terlalu berharap, keduanya hanya menonton.
Pemirsa. Sebagai bentuk penghormatan bagi para chef muda berbakat yang telah berpartisipasi dalam kompetisi paling bergengsi menurut Majalah Seoul Star Dining tahun 2026, dinyatakan bahwa berita panas mengenai seorang chef selebriti hanyalah prasangka. Berikut kesaksian dari beberapa kalangan... Chef Do adalah peraih nilai tertinggi untuk tahap kedua, sehingga otomatis diloloskan ke semi-final.
"Tidak mungkin," kata Chef Do tercengang.
"Chef-- oppa!" desah Eun Chae, lalu bersorak untuknya.
Tanpa berpikir panjang, Chef Do langsung memeluk Eun Chae dan mengangkat tubuhnya di udara bak atlet figure skating.
"Eun Chae-ya, kita berhasil!" serunya, hingga Eun Chae semakin terkejut.
"Baru kali ini aku melihatmu sesenang ini, Chef. Tolong turunkan aku," ucapnya, lalu tertawa.
"Ah, maaf. Apa aku terlihat aneh?" respon pria itu, lalu mengabulkan permintaan Eun Chae sambil menyadarkan diri sendiri.
"Sama sekali tidak. Aku juga sangat senang, rasanya seperti ingin menari bersamamu," gurau Eun Chae.
Keduanya tertawa singkat, lalu kembali menonton berita. Saat Chef Do mengecek video yang beredar di youtube, ia menemukan banyak dukungan dari para penggemarnya.
"Rupanya, selama ini mereka selalu mengawasiku," gumamnya, masih nampak sedang bermimpi.
"Apa Chef terharu?" usik Eun Chae yang berada di sisinya.
"Tidak, bukan begitu," dalihnya cepat.
"Sebenarnya, ini berkat kesaksian awal dari Chef Ik Jun dan para peserta lainnya. Coba lihat ini," jelas Eun Chae, lalu menyodorkan bukti berupa video lainnya.
Chef Do bukan seorang yang berambisi terhadap apapun selain memasak. Oleh karena itu, justru sangat aneh bila seorang atau kelompok tanpa identitas publik memberikan tuduhan palsu, kecuali dengan motif tertentu. Sebagai salah satu warga yang menjunjung tinggi keadilan dan hukum negara, saya berharap setiap media menyelidiki lebih lanjut mengenai kebenaran yang sesungguhnya, tanpa membesarkan isu yang membawa korban tak bersalah.
Itulah yang disampaikan oleh Chef Ik Jun di hadapan banyak narasumber, tanpa keraguan sedikit pun.
"Tak kusangka, dia seberani ini. Aku senang Chef punya teman seperti ini. Keren sekali," ujar Eun Chae.
"Benar juga. Tapi, kenapa dia mau membantuku hingga sejauh ini?" renung Chef Do.
Walau ragu sejenak, Chef Do mengirimkan pesan kepada Chef Ik Jun.
Bantuan dan saranmu sangat berarti. Terima kasih.
Saat Chef Ik Jun membaca pesan itu, dia langsung menghubunginya.
"Yeoboseyo," sapa Chef Do secara umum.
"Chef Do! Jangan dipikirkan, itu kemauanku sendiri," kata sang lawan bicara yang blak-blakan.
"Benarkah? Apa ada alasan tertentu?" pancingnya.
"Hmm, tentu saja karena aku ingin secepatnya meninggalkan ibukota dan bertemu dengan keluargaku," jawab Chef Ik Jun, nyaris tanpa jeda.
Meski hubungan keduanya tidak termasuk dekat atau bersahabat, Chef Do pernah mendengar tentang pria seusianya itu.
"Kalau tidak salah, kau punya seorang anak perempuan, benar kan?" tanya Chef Do.
"Yup, dan aku sangat merindukan In Kyung."
Entah mengapa, Chef Do masih membatasi diri terhadap keterbukaan Chef Ik Jun. Orang itu bahkan langsung memberitahukan nama putri tunggal kesayangannya.
"Lee In Kyung. Nama yang bagus," katanya spontan.
"Oh, aku hampir lupa! Aku juga ingin bertanya padamu," alih Chef Ik Jun.
"Sebutkan saja," balas Chef Do.
"Apa kau mengenal asistenmu dengan baik?"
Chef Do terdiam sejenak, lalu mengiakan pertanyaan itu.
"Kalau begitu, lindungilah dia hingga akhir. Dia tidak nampak seperti putri chaebol yang lain, mungkin karena terlalu baik. Saat ini, kurasa ada pihak yang mengincarnya. Jika aku benar, maka lawanmu ini adalah seorang yang sangat berbahaya," peringat Chef Ik Jun tiba-tiba.
"Darimana kau tahu semua ini?" tanya Chef Do memastikan.
"Singkatnya, belakangan ini aku telah mencaritahu sedikit tentang almarhum kedua orang tuanya. Mereka orang kaya yang cukup dermawan, juga pendiri yayasan anak dengan keterbelakangan mental, panti jompo, panti asuhan, dan lain sebagainya," jelas Chef Ik Jun.
"Benar-benar tak terduga, kau ahli mengorek informasi. Apa Chef Jang tidak menegurmu kali ini?" ulas Chef Do.
"Hahaha. Kamu sendiri, mulai kapan kamu peduli terhadap orang lain?" sindir Chef Ik Jun.
"Semenjak awal, aku tidak pernah mendiskriminasi atau menganiaya siapapun," tegas Chef Do.
"Aku tahu, tapi bagaimana nasib ajumeoni penjual bibimbap beberapa pekan yang lalu?" lontar Chef Ik Jun.
"Apa kau sedang menginterogasiku?" tantang Chef Do.
Akhirnya, Chef Ik Jun tidak menjawab lagi dan hanya terbahak.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Chef Do, masih mendesaknya.
"Aku hanya bercanda. Aku sudah tahu alasanmu bertindak seperti itu. Jangan khawatir, tidak pernah mudah bagi orang awam untuk mencari informasi tentangmu. Dah, sampai jumpa lagi di semi-final."
Kalimat Chef Ik Jun yang datang dan pergi selancar angin itu menyisakan teka-teki bagi Chef Do. Namun, dirinya sendiri pun berpengalaman menilai dan memilah seseorang.
"Setidaknya, dia bukan orang jahat. Berkatnya, kita dapat maju ke tahap berikutnya. Dia juga meraih juara ke-tiga, berarti kemampuannya tidak patut diragukan. Eun Chae-ya, bagaimana menurutmu?" tutur Chef Do.
"Uhm, mungkin dia benar. Walau aku belum mampu mengingat hubungan lamaku dengan Lee Seong Jun," ungkap Eun Chae.
"Apa kau pernah bertemu dengannya sebelum tinggal bersamaku?" tanya Chef Do.
"Ah-- Iya, dia pernah mendatangi rumahku," jawab Eun Chae jujur.
"Sungguh? Apa karena itu kamu takut padanya?" terka Chef Do, makin penasaran.
"Iya, Chef," respon Eun Chae pelan.
Melihat reaksi wanita itu, Chef Do menarik tubuh mungilnya ke dalam cengkeraman nyaman kedua lengan kekarnya.
"Chef--," ucap Eun Chae terkesiap, seketika bertatapan dengan pria yang menginginkannya.
"Aku takkan pernah melepaskanmu. Jadi, bersiaplah menjadi milikku selamanya," bisiknya menggoda.
Kini, perasaan Eun Chae benar-benar bercampur aduk. Saking kencangnya dekapan sang pria dan debaran jantungnya sendiri, dia kesulitan mengumpulkan tenaga untuk bersikap sewajarnya. Bibirnya terkatup saat hendak mengucapkan sesuatu.
"Kenapa kamu gemetaran, Eun Chae-ya? Aku jadi ingin menyerangmu," goda pria itu lagi.
Tentunya, Eun Chae nampak seperti seekor anak kelinci yang akan dimangsa oleh binatang buas, sehingga Chef Do mengurungkan niatnya dan tertawa renyah. Seumur hidupnya, belum pernah ada yang semanis Kim Eun Chae.
"Oppa! Jangan begini, kau hampir membuatku pingsan," protesnya, dengan wajah panas dan merona secara alami.
"Apa kamu belum sadar bahwa aku hanya ingin mengujimu? Ternyata, kamu memang sangat polos dan itu membuatku semakin tertarik," jelas Chef Do, hingga Eun Chae tidak berkutik lagi.
Dalam benaknya, pria itu bersumpah akan senantiasa melindungi wanitanya.
- Bersambung -