NovelToon NovelToon
Anomali Detik Ke-601

Anomali Detik Ke-601

Status: tamat
Genre:Action / Sci-Fi / Time Travel / Tamat
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: S. Sifatori

Kala Danuarta tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Ia hanyalah seorang teknisi jam yang terjebak dalam kutukan Chronos-10, sebuah jam saku prototipe yang memungkinkannya kembali ke masa lalu selama 600 detik (10 menit). Namun, mesin itu memiliki sistem barter yang kejam: Memori untuk Waktu.
Setiap kali Kala melakukan lompatan waktu untuk mencegah kematian Arumi—gadis yang merupakan pusat dari segala paradoks—ia harus kehilangan satu kepingan ingatannya secara acak. Mulai dari nama guru SD-nya, rasa makanan favoritnya, hingga akhirnya ia lupa bagaimana wajah orang tuanya.
Kondisi semakin rumit karena Kala tidak kembali ke masa lalu sebagai dirinya sendiri, melainkan bertukar tubuh dengan orang asing yang ada di lokasi kejadian. Ia harus berpacu dengan waktu dalam tubuh yang bukan miliknya, tanpa identitas, untuk mengubah takdir yang seolah sudah digariskan oleh baja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema Yang Tidak Seharusnya Ada

Hujan di Jakarta tidak pernah benar-benar mencuci dosa, ia hanya menyembunyikannya di balik genangan air keruh. Kala Danuarta berjalan gontai menyusuri trotoar Sudirman yang mulai sepi. Jas hujannya yang tipis tak mampu menahan gigitan angin malam yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Namun, rasa dingin itu tak sebanding dengan kekosongan yang menganga di dadanya.

Ia baru saja menyelamatkan Arumi, namun ia kehilangan Arumi. Logika pertukaran ini sangat sederhana, namun eksekusinya begitu brutal.

Kala merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit kusam. Di dalamnya, terdapat daftar nama, tanggal, dan koordinat. Itu adalah satu-satunya kompas hidupnya. Jika ia kehilangan ingatan, buku ini adalah jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam arus waktu yang kacau.

Di halaman terakhir yang ia tulis tadi pagi, tertera: “Arumi. Gadis yang suka latte tanpa gula. Pertemuan pertama di Perpustakaan Nasional, rak nomor 402. Dia memakai pita biru.”

Kala membaca baris itu berulang kali. Ia bisa membaca tulisannya sendiri, ia bisa memahami makna kata-katanya, tapi ia tidak bisa merasakannya. Baginya, Arumi sekarang hanyalah sebuah nama dalam data. Wajah cantik yang tadi menatapnya dengan penuh rasa terima kasih di depan kafe hanyalah wajah seorang asing yang beruntung.

“Efek sampingnya semakin parah, kan?”

Sebuah suara berat memecah kebisingan rintik hujan. Kala tersentak, tangannya refleks meraba saku tempat ia menyimpan pisau lipat kecil—insting bertahan hidup yang muncul secara otomatis selama tiga tahun ia bermain-main dengan maut.

Di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip, berdiri seorang pria tua. Ia mengenakan setelan jas abu-abu yang tampak sangat mahal, namun gayanya terlihat sangat kuno, seolah ia baru saja melangkah keluar dari film noir tahun 1950-an. Pria itu memegang payung hitam besar, wajahnya tertutup bayangan.

Kala menyipitkan mata. “Siapa Anda?”

“Nama tidak penting bagi orang-orang seperti kita, Kala,” pria itu melangkah maju. Cahaya lampu jalan kini menerangi separuh wajahnya yang keriput namun tampak berwibawa. “Yang penting adalah getaran itu. Resonansi di pergelangan tanganmu. Kamu merasakannya, bukan? Jam itu mulai ‘lapar’.”

Kala menatap jam titaniumnya. Benar saja, jarum detiknya bergetar halus, seolah ada magnet kuat yang menariknya dari kejauhan. “Anda salah satu dari mereka? Orang-orang yang membuat alat ini?”

Pria itu terkekeh pelan, suara tawanya terdengar seperti gesekan amplas pada kayu. “Membuat? Tidak. Kita hanya pencuri, Kala. Kita mencuri detik dari Tuhan, dan kita membayar harganya dengan diri kita sendiri. Tapi, apa kamu tidak merasa aneh dengan kejadian di kafe tadi?”

Kala terdiam. Pikirannya kembali ke momen saat ia berada di dalam kabin truk. “Remnya blong. Itu kecelakaan teknis.”

“Rem kontainer itu tidak blong karena aus, Anak Muda,” pria itu mendekat, suaranya kini berubah menjadi bisikan tajam. “Seseorang memotong kabel hidroliknya. Seseorang yang tahu persis bahwa Arumi akan berada di sana pada jam 17.05. Seseorang yang ingin memaksamu menggunakan jam itu.”

Jantung Kala berdegup kencang. Jika apa yang dikatakan pria ini benar, maka setiap kali ia "menyelamatkan" seseorang, ia sebenarnya sedang masuk ke dalam jebakan.

“Kenapa? Untuk apa memaksa saya menggunakan jam ini?”

“Karena setiap kali kamu melakukan lompatan, kamu merobek struktur realitas. Lubang kecil yang kamu buat di kain waktu itu memberikan akses bagi ‘mereka’ untuk masuk. Semakin banyak ingatan yang kamu buang, semakin tipis pembatas antara dunia ini dan... sesuatu yang seharusnya tetap terkunci.”

Pria itu menyerahkan sebuah kartu nama kecil berwarna hitam pekat tanpa tulisan apa pun, kecuali sebuah angka perak di tengahnya: 601.

“Datanglah ke alamat di balik kartu itu jika kamu ingin tahu siapa yang sebenarnya ingin membunuh gadismu. Dan berhati-hatilah, Kala. Kali ini, mereka tidak akan menyerang lewat masa lalu. Mereka akan menyerang lewat masa sekarang.”

Sebelum Kala sempat bertanya lebih lanjut, sebuah bus kota lewat di antara mereka dengan cipratan air yang tinggi. Saat bus itu berlalu, pria tua itu sudah hilang. Lenyap begitu saja seolah ia hanyalah proyeksi cahaya.

Kala membalik kartu hitam itu. Di sana tertulis: Gedung Arsip Terlantar, Lorong B-12. Jam 02.00 pagi.

Ia melihat jam tangannya. Pukul 23.45.

Kala tahu ia seharusnya pulang. Ia seharusnya tidur dan mencoba memulihkan tenaganya yang terkuras habis. Tapi rasa penasaran itu seperti racun. Jika kecelakaan Arumi bukan kebetulan, berarti Arumi masih dalam bahaya. Dan kali ini, ia mungkin tidak punya cukup ingatan lagi untuk ditukarkan.

Ia memutuskan untuk pergi ke alamat tersebut. Ia menyetop sebuah taksi yang lewat.

“Gedung Arsip di pinggiran kota, Pak. Tolong cepat,” perintah Kala.

Sopir taksi itu, seorang pria paruh baya dengan topi kumal, mengangguk pelan. Selama perjalanan, Kala terus menatap kartu hitam itu. Pikirannya melayang. Ia mencoba mengingat orang tuanya, masa kecilnya, atau bahkan makanan favoritnya.

Sial. Semuanya mulai kabur. Ia ingat ia punya ibu, tapi ia tidak bisa mengingat warna matanya. Ia ingat pernah punya anjing peliharaan, tapi ia lupa namanya.

Aku sedang menghilang, batin Kala ngeri. Setiap detik yang kuselamatkan untuk orang lain, adalah satu bagian dari diriku yang mati.

Taksi itu berhenti di depan sebuah bangunan tua berlantai sepuluh yang jendelanya banyak yang pecah. Kesan angker terpancar kuat dari dinding beton yang berlumut.

“Sudah sampai, Mas. Yakin turun di sini? Tempat ini sudah kosong sejak tahun 90-an,” kata sopir taksi itu dengan nada khawatir.

“Yakin, Pak. Terima kasih.”

Kala turun dan melangkah menuju pintu besi besar yang setengah terbuka. Di dalam, bau debu dan kertas lapuk menyengat hidung. Ia menyalakan senter dari ponselnya. Cahayanya menari-nari di atas tumpukan dokumen yang berserakan.

Ia menelusuri lorong demi lorong hingga menemukan tangga menuju ruang bawah tanah. Lorong B-12.

Suasana di bawah tanah jauh lebih dingin. Suara tetesan air dari pipa yang bocor terdengar seperti detak jam raksasa. Tuk. Tuk. Tuk.

Saat ia mencapai pintu bertuliskan B-12, ia berhenti. Pintu itu terbuat dari baja tebal dengan pemindai sidik jari modern—sangat kontras dengan kondisi gedung yang rongsok. Namun, sebelum Kala menyentuhnya, pintu itu terbuka sendiri dengan desis udara yang halus.

Di dalam ruangan itu, tidak ada debu. Yang ada hanyalah deretan monitor komputer yang menampilkan ribuan garis waktu yang bergerak seperti aliran sungai. Di tengah ruangan, duduk seorang wanita muda dengan rambut putih perak yang dipotong pendek. Ia sedang menatap layar besar yang menampilkan... rekaman CCTV kafe tadi sore.

Rekaman itu memperlihatkan Kala yang sedang berlari menuju gang.

“Kamu terlambat tiga menit, Kala Danuarta,” kata wanita itu tanpa menoleh. Suaranya datar, tanpa emosi, seperti mesin.

Kala melangkah maju, tangannya siap siaga. “Siapa kalian? Dan apa hubungan kalian dengan jam ini?”

Wanita itu berputar di kursi kerjanya. Matanya berwarna abu-abu pucat, hampir transparan. “Kami adalah para penjaga Anomali. Dan jam yang kamu pakai itu? Itu bukan milikmu. Itu adalah kunci yang kamu curi dari laboratorium kami sepuluh tahun yang lalu.”

Kala mengerutkan kening. “Sepuluh tahun lalu? Saya bahkan tidak tahu jam ini ada sampai sebulan yang lalu!”

Wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Kala berdiri. “Tentu saja kamu tidak ingat. Karena sepuluh tahun lalu, kamu menukarkan seluruh masa remajamu untuk satu hal yang sangat bodoh.”

Wanita itu menekan tombol play pada layar. Gambar berubah. Bukan lagi di kafe, tapi di sebuah laboratorium yang terbakar hebat. Di sana, seorang remaja laki-laki—Kala versi muda—sedang memeluk tubuh seorang gadis yang bersimbah darah.

“Kamu tidak menyelamatkan Arumi hari ini untuk pertama kalinya, Kala. Kamu sudah menyelamatkannya ribuan kali dalam ribuan garis waktu yang berbeda. Dan setiap kali, kamu gagal mempertahankan ingatanmu tentangnya.”

Dunia seakan berhenti berputar bagi Kala.

“Arumi bukan korban kecelakaan biasa,” lanjut wanita itu. “Dia adalah pusat dari paradoks ini. Selama Arumi hidup, dunia akan terus mengalami kiamat kecil setiap sepuluh tahun. Dan kamu, Kala Danuarta, adalah orang yang terus-menerus mencegah kiamat itu dengan mengorbankan dirimu sendiri. Tapi lihatlah dirimu... kamu hampir habis.”

Jam di tangan Kala tiba-tiba bergetar sangat kencang. Cahaya merah menyala di layarnya.

“Peringatan,” suara mekanik muncul dari jam itu. “Sisa memori kritis. 5% tersisa. Jika mencapai 0%, subjek akan mengalami penghapusan eksistensi total.”

Wanita itu berdiri, berjalan mendekati Kala. “Pilihannya sekarang ada di tanganmu. Biarkan Arumi mati di garis waktu berikutnya, atau kamu akan benar-benar terhapus dari sejarah seolah-olah kamu tidak pernah dilahirkan. Tidak akan ada lagi Kala Danuarta. Tidak di masa lalu, tidak di masa depan.”

Kala menatap jamnya, lalu menatap layar yang menunjukkan wajah Arumi yang sedang tersenyum.

“Kenapa dia begitu penting?” bisik Kala.

“Karena Arumi adalah alasan kenapa waktu diciptakan, dan dia juga alasan kenapa waktu harus dihancurkan.”

1
Marina Bunga
masyaallah, baru baca bagian depan udah kerennnnn😍
Samuel sifatori: Hiii kakk, makasih banget lohh😁☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!