Lima tahun Arabella Reese bertahan dalam pernikahan sepi bersama Devano Altair Wren, seorang dokter forensik jenius yang lebih mencintai mayat dan masa lalunya daripada istrinya sendiri. Devan yang dingin dan kaku hanya menganggap pernikahan mereka sebagai hutang budi keluarga.
Puncaknya, di malam ulang tahun pernikahan kelima, dunia Ara runtuh dua kali. Ia menemukan bukti perselingkuhan Devan dengan Liliana, cinta masa lalu suaminya. Di saat yang sama, berita kecelakaan maut merenggut nyawa orang tuanya.
Ara memilih pergi membawa surat cerai, namun takdir justru memaksanya kembali bersinggungan dengan Devan. Saat kebenaran tentang konspirasi kematian orang tua mereka mulai terungkap melalui jejak forensik, Devan sadar ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya. Kini, sang dokter harus memilih: membedah misteri masa lalu yang kelam, atau menjahit kembali hati istrinya yang telah ia hancurkan berkeping-keping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Denyut di Balik Kegelapan
Lampu neon di parkiran bawah tanah berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang mencekam. Suara langkah sepatu bot yang berat bergema dari kejauhan, setidaknya ada tiga orang yang sedang menyisir area itu. Devan masih mendekap Ara di balik pilar beton besar, tangannya satu memegang ponsel untuk memantau posisi Alaska melalui GPS, sementara tangan lainnya melindungi kepala Ara.
"Mereka berpencar," bisik Devan sangat rendah di telinga Ara. "Kita harus mencapai pintu darurat di sektor B. Itu satu-satunya akses yang tidak terpantau CCTV publik."
Ara mencoba mengangguk, namun wajahnya sudah seputih kertas. Keringat dingin membanjiri pelipisnya. Tiba-tiba, sebuah rasa nyeri yang tajam, seperti ditusuk ribuan jarum panas, menghujam perut bagian atasnya.
"Ugh..." Ara melenguh tertahan, tubuhnya merosot. Ia mencengkeram kemeja Devan dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Devan tersentak. Sebagai dokter, instingnya langsung menyala. "Ara? Ada apa? Kau kena tembak? Di mana yang sakit?" tangannya dengan cepat meraba tubuh Ara, mencari luka luar.
"Perutku... sakit sekali, Mas..." rintih Ara. Ia melipat tubuhnya, mencoba menahan rasa sakit yang luar biasa. "Hanya... maag... tadi belum sempat makan siang..."
Devan menggeram rendah, merasa bodoh karena tidak menyadari kebiasaan buruk Ara selama ini. Ia tahu Ara sering menunda makan demi pekerjaan, tapi ia tidak tahu bahwa kondisi itu sudah mencapai titik kronis. "Ini bukan sekadar maag biasa, Ara. Napasmu terlalu dangkal, dan otot perutmu sangat tegang. Ini kontraksi hebat."
"Jangan... jangan berhenti... mereka mendekat," bisik Ara, mencoba berdiri namun kembali terjatuh ke pelukan Devan.
Suara langkah kaki itu makin dekat. "Cek di balik pilar itu!" teriak salah satu pengejar.
Devan tahu mereka tidak bisa bersembunyi lebih lama lagi. Dengan gerakan cepat, ia menggendong Ara di punggungnya. "Pegang leherku erat-erat, Ara. Jangan pingsan. Aku butuh kau tetap sadar."
"Tapi aku berat, Mas... kau tidak bisa lari..."
"Diam dan pegangan," perintah Devan tegas.
Devan berlari zig-zag di antara deretan mobil mewah, memanfaatkan bayangan untuk menutupi pergerakannya. Beruntung, sebagai ahli forensik, ia sangat hafal denah bangunan ini karena sering menghadiri rekonstruksi kasus.
Dor!
Sebuah peluru menghantam kaca mobil di samping mereka. Ara menjerit kecil, wajahnya disembunyikan di ceruk leher Devan. Devan terus berlari meskipun napasnya mulai memburu dan otot kakinya protes. Sakit perut Ara makin parah; Devan bisa merasakan tubuh Ara yang gemetar hebat di punggungnya.
"Sedikit lagi, Ara... tahan..."
Mereka sampai di depan pintu besi berat sektor B. Devan mencoba membukanya, namun terkunci dari luar. "Sial!" Devan memukul pintu itu. Ia menoleh ke belakang, para pengejar itu sudah terlihat di ujung lorong, mengarahkan senjata.
"Mas... turunkan aku... selamatkan dirimu..." isak Ara. Rasa sakit di perutnya kini disertai rasa mual yang hebat, membuatnya hampir kehilangan kesadaran.
"Tidak akan pernah," Devan menurunkan Ara perlahan, menyandarkannya di pintu. Ia mengambil sebuah alat kecil dari saku jasnya—sebuah kunci serbaguna yang sering ia gunakan di laboratorium—dan mulai membobol kunci pintu darurat itu dengan tangan gemetar.
"Di sana mereka! Tembak!"
Devan bekerja dengan kecepatan gila. Di saat-saat terakhir sebelum peluru berikutnya melesat, suara klik terdengar. Devan mendorong pintu, menarik Ara masuk, dan menguncinya kembali dari dalam tepat saat sebuah peluru menghantam permukaan besi pintu tersebut.
Di dalam tangga darurat yang remang-remang, Devan langsung berlutut di depan Ara yang sudah terkulai di lantai. Ia membuka blazer Ara dengan cemas, memeriksa area perutnya.
"Ara, lihat aku! Di sebelah mana yang paling sakit?" Devan menekan lembut bagian ulu hati Ara.
Ara menjerit kesakitan, air matanya tumpah. "Semuanya... panas... seperti terbakar..."
Devan menyadari sesuatu yang mengerikan. Penyesalan kembali menghantamnya. Selama lima tahun pernikahan, ia tak pernah tahu Ara menderita separah ini setiap kali menunggu kepulangannya yang tak tentu rupa. Ara menunda makannya hanya agar bisa makan malam bersama Devan, yang seringkali berakhir dengan Devan yang pulang terlambat atau langsung masuk ke ruang kerja tanpa menyapa.
"Maafkan aku, Ra... maafkan aku..." Devan mencium kening Ara yang basah oleh keringat dingin. "Aku harus membawamu ke rumah sakit sekarang. Persetan dengan pengejar itu, nyawamu lebih penting."
Devan mengeluarkan ponselnya, menghubungi Alaska dengan suara yang bergetar karena emosi. "Alaska! Sektor B, pintu darurat belakang! Siapkan ambulans dan tim medis terbaikmu! Ara... dia kolaps. Cepat, atau aku akan membunuhmu jika kau terlambat satu detik saja!"
tuh kan .... Ara mah emang kedemenan nya ama Devan /Sob/
kasian Alaska🤭
ada 2 tim nih ,
tim Devan & tim Alaska
awalnya aku tim Alaska ....
pas dibaca terus kok ..... Devan berubah yaa...
/Chuckle//Chuckle/
bantu vote.. /Chuckle/