Pertemuan Emily Ainsley dan Alexander bermula dari sebuah insiden di atap, ketika Alexander menyelamatkannya yang hampir terjatuh dari atas gedung.
Namun alasan Emily berada di atap saat itu adalah pengkhianatan besar. Tunangannya, Liam, berselingkuh dengan saudara perempuannya sendiri. Dengan hati hancur, ia meninggalkan apartemen dan berjalan tanpa arah hingga menemukan Big Star Cafe.
Di sana, Tessa memberinya kesempatan bekerja sebagai barista berkat sertifikat yang ia miliki. Harapan baru mulai muncul, tetapi segera terguncang ketika kabar tentang kecelakaan neneknya datang.
Biaya operasi yang sangat mahal membuatnya terdesak. Ayahnya, Frank Ainsley, menolak membantu dan membiarkannya menghadapi kesulitan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menampar Lagi
Liam tetap diam, mendengarkan suara Emily yang bergetar.
Di balik ketenangannya, ia bisa melihat bahwa Emily pasti sangat terluka. Ia merasa kasihan padanya tetapi tidak bisa berbuat banyak untuk menghiburnya.
Meskipun Emily adalah gadis impiannya—cantik, cerdas, dan baik hati—ia terlalu konservatif dalam hubungan.
Mereka telah berpacaran selama bertahun-tahun, tetapi Emily tidak pernah mengizinkannya tidur bersamanya. Ia adalah salah satu wanita langka di zaman sekarang yang hanya ingin bercinta jika sudah resmi menikah.
Bagaimana mungkin ia menunggu selama itu? Terutama ketika Sylvie muncul? Ia hanyalah pria biasa, ia tidak bisa menahan kebutuhannya.
Seiring waktu, cintanya pada Emily perlahan memudar ketika ia mulai menyadari bagaimana jantungnya berdebar liar setiap kali Sylvie berada di dekatnya. Hatinya mulai beralih kepada Sylvie.
"Aku minta maaf, Emily," hanya itu kata-kata yang bisa keluar dari bibirnya.
"Kak Liam, aku merasa pusing," suara Sylvie mengalihkan perhatian Liam. Lengannya langsung melingkar erat di tubuh gadis itu. Ia sedikit memiringkan kepalanya untuk melihat wajahnya dan semakin khawatir ketika melihat wajahnya yang pucat.
"Sayang, duduklah di sofa. Aku akan menyelesaikan urusanku dengannya dulu," kata Liam di sela-sela senyum lembutnya yang penuh kasih.
Emily tidak sanggup menyaksikan dua kekasih yang berselingkuh ini menyiksa pikiran dan hatinya, memamerkan kemesraan mereka di depan matanya.
Ia tidak bisa tinggal di sini terlalu lama, atau ia mungkin akan menangis. Satu hal yang tidak ingin ia lakukan dalam hidup ini adalah menangis karena mantan tunangannya yang brengsek dan Sylvie si perempuan murahan, adik tirinya. Namun sebelum pergi, ada sesuatu yang harus ia lakukan.
"Sylvie Ainsley," panggil Emily dengan nada tenang dan lembut.
"Ya, Kakak Emi?" Sylvie tersenyum sopan, tetapi senyumnya langsung lenyap ketika melihat Emily mengangkat tangannya dan mengayunkannya keras ke wajahnya.
Suara tamparan yang nyaring dan keras menggema di ruangan itu, mengejutkan Liam dan Sylvie. Tubuh Sylvie terhuyung ketika tamparan Emily mendarat di pipinya.
Jika Liam tidak segera meraih tangan Sylvie dan menariknya ke arahnya, mungkin sekarang ia sudah terjatuh ke lantai.
"Emily Ainsley! Apa yang kau lakukan?" kelembutan Sylvie lenyap saat ia berteriak sambil memegangi pipinya yang bengkak. Ia merasa dipermalukan. Matanya yang tajam dan memerah menatap kakaknya, menahan keinginan untuk membalas menamparnya. "Kenapa kau menamparku lagi?"
Bibir Emily memperlihatkan senyum tipis yang hampir tak terlihat, puas karena telah memberi adik kecilnya rasa tamparan yang sebenarnya.
Sebelum ia sempat menjawab, Liam menyela.
"Emily Ainsley! Aku kecewa padamu. Adikmu begitu baik padamu. Ia meminta maaf dengan tulus, tapi kau masih menamparnya!?" Liam menatapnya kesal sambil mengeratkan pelukannya pada Sylvie.
Namun, Emily mengabaikan Liam. Tatapannya tetap tertuju pada Sylvie.
"Kau bertanya kenapa aku menamparmu?"
"YA!" bentak Sylvie.
"Untuk membuatmu merasakan tamparanku yang sebenarnya. Sekarang kau tahu bagaimana rasanya, bukan?" Emily merasa terhibur melihat wajah marah Sylvie. Wajah itu tampak seperti seseorang yang baru saja diludahi makan siangnya. "Kau ingin merasakannya lagi? Kemari, biar kutampar pipimu yang lembut sebelahnya."
Sylvie, "..."
Liam tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ia khawatir dua wanita ini akan berkelahi, jadi ia buru-buru berdiri di antara mereka.
"Berhenti! Tinggalkan dia, Emily! Kau hadapi aku saja!" Liam meninggikan suaranya.
Emily mengalihkan pandangannya pada Liam. Meski ia memiliki dorongan kuat untuk menampar wajahnya dengan keras, ia menahannya. Ia tidak lagi ingin ada hubungannya dengannya. Pikiran bahwa tangannya harus menyentuh pipi pria brengsek ini untuk menamparnya tiba-tiba membuatnya muak hingga ingin muntah. Kini, ia hanya ingin menghilang dari pandangannya selamanya.
"Liam Carter, pertunangan kita resmi berakhir karena kau memilihnya. Selamat untuk kalian berdua," kata Emily.
Senyum dingin perlahan muncul di bibirnya sebelum ia melanjutkan dengan ketenangan, "Kalian berdua berhasil menghancurkan hidupku! Aku harap hidup kalian menjadi neraka mulai sekarang. Karma itu nyata!"
Emily pergi dengan hati yang terluka, tetapi saat ia melangkah keluar dari ruangan itu, kilau cahaya dan kebahagiaan perlahan muncul di hatinya, ia bebas dari mantan tunangannya yang brengsek.
...
Liam Carter merasa tidak senang ketika melihat Emily pergi tanpa jejak kesedihan di wajahnya, seolah membatalkan pertunangan mereka adalah hal yang biasa baginya.
Ia merasa tersinggung.
Mengepalkan tinjunya erat-erat, Liam berjalan cepat mengejar Emily. Ia belum selesai berbicara dengannya. Meski ia tidak lagi mencintainya, ia masih membutuhkannya untuk tetap berada di perusahaan dan membantunya sampai ia menemukan seseorang yang cukup mampu untuk menyamai kemampuannya.
"Tunggu, Emily! Berhenti, aku perlu—" Liam tidak bisa menyelesaikan kata-katanya ketika ia mendengar suara lemah Sylvie memanggilnya. Ia berhenti dan melihat Emily menghilang dari pandangannya.
'Kenapa ia berjalan begitu cepat? Apa ia menangis?' pikirnya, menghela napas pelan sebelum berbalik melihat Sylvie.
"Ya?"
"Liam, tolong bantu aku," Sylvie menangis pelan sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan. "Kepalaku terasa berputar dan sakit sekali, mungkin karena kakakku menamparku terlalu keras."
Ia menghampirinya sambil mengertakkan gigi, begitu marah pada Emily.
"Kau ingin aku mengantarmu ke rumah sakit?"
Sylvie menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah lebih baik sekarang, tapi aku merasa lapar, Kak Liam. Bisakah kita pergi makan siang? Aku takut kakakku akan datang lagi dan menamparku lagi," katanya, berpura-pura khawatir sambil melihat ke arah pintu.
"Baiklah, ayo kita pergi."
---
Emily berjalan menuju pintu darurat, mengikuti kemanapun kakinya membawanya, dan ia berakhir di atap gedung.
Apa yang baru saja terjadi di kantor Liam masih terbayang jelas di benaknya.
Tidak peduli seberapa keras ia mencoba melupakannya, ia tidak bisa menghapus bayangan momen intim Liam dengan Sylvie dan bagaimana pria itu mempermalukannya dengan menyatakan perasaannya pada Sylvie.
Ia merasa terluka. Rasanya seperti ada sesuatu yang menghimpit dadanya, membuatnya sulit bernapas.
Emily membuka pintu besi di hadapannya dan melangkah cepat menuju tepi.
Atap ini adalah satu-satunya tempat di gedung tempat ia bisa menenangkan diri ketika menghadapi masalah keluarga atau tekanan pekerjaan. Tempat ini sepi dan jarang dikunjungi orang di gedung ini.
Memanjat tembok setinggi satu meter, ia berdiri disini, menatap kehijauan di belakang gedung. Ia tidak bisa menikmati pemandangan itu karena ia ingin melampiaskan amarahnya.
Banyak hal terjadi hanya dalam beberapa menit: mantan tunangannya kini menjadi pria paling brengsek di dunia. Dan juga, adik tirinya berubah menjadi perempuan murahan. Keduanya kini adalah orang paling jahat yang pernah ia temui dan kini resmi menjadi musuh bebuyutannya.
Sekarang, hal mendesak yang harus ia lakukan adalah melanjutkan hidupnya. Dan pertama-tama, ia harus mencari tempat tinggal baru dan pindah dari rumah si brengsek itu. Pikiran untuk tinggal di bawah atap yang sama atau bahkan satu gedung dengan Liam membuatnya mual.
"Liam!! Dasar bajingan tukang selingkuh, beraninya kau menghancurkan masa depan kita dengan tidur bersama adikku? Aku harap Tuhan menghukummu atas apa yang telah kau lakukan padaku!"
"Dan kau, Sylvie! Aku berdoa Tuhan juga menghukummu—"
Emily tidak peduli seberapa keras ia berbicara, ia tahu tidak ada seorang pun yang akan datang ke tempat ini saat jam makan siang. Ia terus mengutuk mereka untuk membuat dirinya merasa lebih baik.
---
Beberapa menit yang lalu, di atap yang nyaman dan tenang:
Duduk di bawah payung teras, seorang pria tenggelam dalam pikirannya sambil menikmati bir yang sangat dingin. Ia berada di sana dengan tenang sambil menunggu temannya datang.
Namun, ketenangannya terganggu oleh suara keras dari pintu besi di belakangnya. Seseorang membanting pintu itu begitu keras hingga ia bisa merasakan getarannya. Beberapa detik kemudian, seorang wanita kecil mengenakan jeans dan blus hitam muncul di samping pintu besi itu. Rambut cokelat panjangnya bergoyang saat ia berjalan cepat menuju tepi atap.
Tidak ada keanggunan dalam langkahnya saat ia melangkah cepat melewatinya. Ia tampaknya tidak menyadari bahwa pria itu ada di sana, dan sikap kesalnya membangkitkan rasa penasaran pria itu.
Meletakkan botol bir dinginnya di atas meja, tiba-tiba sebuah pikiran menakutkan memenuhi benaknya.
'Apa yang terjadi?! Apa dia akan melompat dari atas gedung? Apa dia akan bunuh diri? Ya Tuhan! Ini sangat menyebalkan! Tidak bisakah dia melakukannya saat aku tidak ada di sini?'
Pikiran tentang kerepotan menjadi saksi bunuh diri membuatnya khawatir. Jadi, ia diam-diam mendekati wanita itu, berniat menghentikannya dari percobaan bunuh diri itu. Namun ia terhenti ketika mendengar wanita itu mulai melampiaskan amarahnya pada seseorang.
'Tunggu dulu. Ini mungkin bukan bunuh diri! Tapi bagaimana jika aku salah?' pikirnya bingung.
Memutuskan untuk menunggu, ia mendengarkan ocehannya beberapa detik lagi. Namun, semakin ia mendengar, semakin ia merasa kasihan padanya.
Merasa tidak sopan menguping situasinya yang menyedihkan, ia menoleh ke arah pintu besi, perlahan berjalan mundur, dan memilih meninggalkannya sendirian. Ia khawatir wanita itu akan merasa malu jika menyadari ketertarikannya yang tiba-tiba padanya.
"AAAAAAAAA…!"
Ia terkejut mendengar teriakan wanita itu dan segera menoleh padanya, terperanjat melihat ia terpeleset ke arah ujung atap dan hampir terjatuh.
Dengan refleks yang mengesankan, ia berlari cepat, melompat, dan meraih tangannya. Lalu ia menariknya perlahan ke arahnya.
Enak banget Liam yang makan nangkanya, sedangkan Alexander yang kena getahnya
Emily harus tau bukan Liam yang bayar tagihan RS neneknya
dy seperti tau kpn emi dlm suasana hati yg buruk