aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Volume I — The Day the World Fell Chapter 4 — Death of a Human
Rasa sakit datang terlambat.
Awalnya tidak ada apa-apa—hanya kekosongan singkat, seperti tubuhnya berhenti menerima dunia. Lalu semuanya datang bersamaan, menghantam tanpa ampun.
Dada Daniel terasa seperti dihancurkan dari dalam. Setiap tarikan napas berubah menjadi siksaan, udara yang masuk terasa seperti pecahan kaca yang menggores paru-parunya. Mulutnya dipenuhi rasa besi—darah—hangat dan pahit.
Ia tergeletak telentang di tanah yang dingin, mata setengah terbuka, pandangan bergetar hebat. Langit di atasnya berputar pelan, retakan hitamnya terlihat semakin besar, semakin jelas.
Iblis itu berdiri di atasnya.
Bayangannya menutupi cahaya, menjadikan dunia Daniel gelap meski matahari belum sepenuhnya hilang. Makhluk itu mengamati Daniel dengan kepala sedikit miring, seolah mencoba memahami sesuatu yang asing.
Manusia yang belum mati… tapi juga sudah tidak sepenuhnya hidup.
Daniel mencoba menggerakkan jarinya.
Tidak bisa.
Ia mencoba menoleh.
Lehernya hanya bergetar lemah.
Ketakutan yang murni—yang tidak lagi bisa disangkal—akhirnya merayap ke dalam hatinya. Bukan ketakutan heroik. Bukan ketakutan yang indah.
Ketakutan seorang manusia biasa yang tidak ingin mati.
Aku tidak mau mati.
Pikiran itu sederhana. Putus asa. Jujur.
Di sudut pandangannya, ia melihat wanita itu. Ia masih hidup. Duduk bersandar di tembok, tubuhnya gemetar hebat, wajahnya basah oleh air mata. Tatapan mereka bertemu sekali lagi.
Daniel ingin mengatakan sesuatu.
Ia ingin berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Ia ingin meminta maaf karena tidak cukup kuat.
Ia ingin mengatakan agar ia berlari saat ada kesempatan.
Namun yang keluar dari mulutnya hanya suara serak, tidak berbentuk kata.
Iblis itu menggeram pelan.
Cakarnya terangkat.
Daniel menutup mata.
Dalam kegelapan di balik kelopak matanya, kenangan muncul—bukan yang besar, bukan yang dramatis. Hanya potongan-potongan kecil hidupnya.
Kamar kos sempit dengan cat mengelupas.
Kopi dingin di pagi hari.
Tawa teman-temannya yang tidak terlalu dekat, tapi cukup hangat.
Hari-hari biasa yang dulu terasa membosankan.
Ia merindukannya.
Benturan keras menghantam dadanya.
Rasa sakit itu begitu hebat hingga dunia seakan pecah. Daniel tersedak, tubuhnya terangkat sedikit sebelum jatuh kembali ke tanah. Ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir deras di punggung dan perutnya.
Napasnya tersendat.
Setiap tarikan terasa lebih pendek dari yang sebelumnya.
Suara di sekitarnya mulai menjauh—raungan iblis, ledakan, jeritan manusia—semuanya terdengar seperti dari dasar laut.
Iblis itu tidak langsung membunuhnya.
Makhluk itu mencabut cakarnya perlahan, menikmati suara napas Daniel yang pecah, tubuh manusia yang berjuang bertahan meski sudah tidak ada harapan.
Daniel membuka mata lagi.
Langit tampak… indah.
Retakan hitam itu berkilau aneh, cahaya merah keunguan berdenyut di baliknya. Jika bukan karena rasa sakit yang tak tertahankan, ia mungkin akan menganggapnya sebagai pemandangan surealis.
Jadi… begini rasanya mati.
Tidak ada cahaya putih.
Tidak ada suara malaikat.
Hanya kesadaran yang perlahan memudar.
Namun sebelum kegelapan benar-benar menelannya, satu emosi muncul—tenang, tipis, tapi nyata.
Penyesalan… tidak sebesar yang ia kira.
Ia sudah memilih.
Ia tahu bahwa ia bisa lari.
Ia tahu bahwa ia bisa hidup.
Namun ia juga tahu bahwa jika ia membiarkan wanita itu mati di depan matanya, ia akan hidup dengan kematian lain di dalam dirinya.
Cakar itu terangkat untuk terakhir kalinya.
Dan tepat saat itu—
sesuatu berubah.
Waktu… berhenti.
Raungan iblis membeku di udara. Api tidak lagi berkedip. Asap menggantung tanpa bergerak. Darah yang menetes dari tubuh Daniel berhenti di tengah jatuhnya.
Segalanya diam.
Daniel masih bernapas—atau setidaknya, pikirannya masih sadar—namun ia tidak merasakan tubuhnya lagi.
Ia tidak berada di tanah.
Ia tidak berada di langit.
Ia berada di… antara.
Kegelapan menyelimutinya, bukan seperti malam, melainkan seperti ruang tanpa batas. Tidak ada arah. Tidak ada suara.
Namun ada kehadiran.
Bukan sesuatu yang bisa dilihat.
Bukan sesuatu yang bisa disentuh.
Sesuatu yang begitu besar hingga keberadaannya saja membuat pikiran Daniel bergetar.
“Kau seharusnya mati.”
Suara itu tidak keras, tidak pula lembut. Ia tidak datang dari satu arah. Ia muncul di dalam kesadaran Daniel, seolah pikiran itu sendiri berbicara.
Daniel ingin bertanya.
Ingin berteriak.
Namun satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah mendengar.
“Kau tidak memiliki bakat.”
“Tidak memiliki kekuatan.”
“Tidak memiliki takdir besar.”
Gambaran hidup Daniel muncul di sekelilingnya—hari-hari biasa, kegagalan kecil, keputusan aman yang selalu ia ambil.
“Dan tetap saja… kau memilih bertindak.”
Keheningan sejenak.
“Aku tidak ikut campur.”
Daniel merasakan sesuatu—bukan emosi, melainkan aturan. Hukum yang dingin, absolut, tidak memihak siapa pun.
“Namun pilihanmu… menciptakan anomali.”
Cahaya muncul.
Sepuluh simbol bercahaya melayang di hadapannya, masing-masing berbeda bentuk dan denyutnya. Setiap simbol memancarkan tekanan yang membuat pikirannya hampir runtuh.
“Sepuluh Segel.”
“Setiap segel membuka sebagian dari Hukum Langit.”
“Setiap segel menuntut harga.”
Daniel tidak sepenuhnya mengerti.
Namun satu hal ia pahami dengan sangat jelas.
Jika ia menerima ini…
ia tidak akan pernah kembali menjadi manusia biasa.
Jika ia menolak…
ia akan mati—dan dunia akan tetap runtuh tanpa dirinya.
Dengan sisa kesadarannya, Daniel membuat pilihan terakhirnya sebagai manusia.
“Aku…” pikirannya bergetar.
“Aku mau hidup.”
Keheningan kembali menyelimuti ruang itu.
Lalu—
“Maka hiduplah.”
Dan untuk pertama kalinya sejak alam semesta dibangun—
sebuah hukum dilanggar oleh penciptanya sendiri.
Interlude — The Law That Speaks
Keheningan itu tidak kosong.
Ia penuh.
Penuh oleh sesuatu yang tidak bisa dinamai, tidak bisa diukur, dan tidak bisa ditentang. Daniel tidak merasakan tubuhnya, tidak merasakan waktu, namun kesadarannya tetap utuh—dipaksa utuh.
Ia ada.
Dan itu saja sudah cukup untuk membuat pikirannya bergetar.
“Kesadaranmu seharusnya telah padam.”
Suara itu kembali terdengar, tanpa nada, tanpa emosi. Bukan suara yang diucapkan—melainkan ketetapan yang dipahami.
Daniel mencoba berbicara, namun tidak ada mulut. Ia mencoba bergerak, namun tidak ada ruang. Yang tersisa hanyalah pikiran, dan pikiran itu… telanjang.
“Apa… ini?”
Bukan kata-kata. Lebih seperti pertanyaan yang dilemparkan ke dalam kehampaan.
Keheningan menjawabnya.
“Ini adalah batas.”
“Di mana hukum berhenti mengikat bentuk.”
“Dan eksistensi diputuskan.”
Gambaran muncul di sekeliling Daniel—bukan visual, melainkan konsep. Dunia-dunia yang tak terhitung jumlahnya, lahir, berkembang, lalu hancur. Peradaban yang berdoa, menangis, dan lenyap tanpa pernah diketahui siapa pun.
“Kematianmu bukan peristiwa langka.”
“Triliunan telah mati sebelum dirimu.”
Daniel merasakan tekanan di dadanya—bukan rasa sakit, melainkan bobot kebenaran yang dingin.
“Kalau begitu… kenapa aku masih di sini?”
Pertanyaan itu meluncur tanpa harapan.
Keheningan berlangsung lama. Lebih lama dari yang nyaman. Lebih lama dari yang manusia seharusnya mampu bertahan.
“Karena kau tidak sesuai.”
Daniel tidak mengerti.
“Dalam semua kemungkinan yang ada, tindakanmu tidak optimal.”
“Kau tidak memiliki peluang menang.”
“Kau tidak meningkatkan probabilitas kelangsungan dunia.”
Gambaran lain muncul—versi Daniel yang lari, versi Daniel yang bersembunyi, versi Daniel yang selamat. Dunia tetap runtuh. Wanita itu mati. Kampus hancur. Tidak ada perubahan signifikan.
“Namun kau tetap bertindak.”
Tekanan itu meningkat.
“Tanpa insentif.”
“Tanpa keyakinan akan hasil.”
“Tanpa harapan akan kelangsungan diri.”
Daniel merasakan sesuatu yang aneh—bukan kebanggaan, bukan pula penyesalan. Hanya kesadaran bahwa pilihannya memang tidak masuk akal.
“Aku… tidak memikirkan apa-apa,” jawabnya jujur.
“Aku hanya… tidak ingin membiarkannya mati sendirian.”
Keheningan kembali menyelimuti.
Namun kali ini, Daniel merasakan sesuatu yang berbeda.
Bukan emosi.
Gangguan.
“Itu bukan parameter yang valid.”
Daniel tersenyum pahit—jika ia masih memiliki wajah.
“Bagi hukum, mungkin tidak. Tapi bagi manusia… itu cukup.”
Tekanan itu berhenti mendadak.
Untuk pertama kalinya sejak berada di ruang ini, Daniel merasakan bahwa jawabannya… didengar.
“Manusia selalu mengagungkan pilihan yang tidak efisien.”
“Dan selalu membayar mahal untuk itu.”
Sepuluh simbol itu muncul kembali, berputar perlahan di sekeliling kesadarannya. Setiap simbol terasa berat—bukan secara fisik, tapi eksistensial.
“Sepuluh Segel.”
Daniel merasakan makna di balik masing-masing segel—kekuatan, pembatasan, konsekuensi. Tidak ada yang gratis. Tidak ada yang murni anugerah.
“Apa yang terjadi kalau aku membukanya?” tanya Daniel.
“Kau akan hidup.”
Jawaban itu terlalu singkat.
“Dan setelah itu?”
Keheningan.
“Kau akan menjauh dari definisi manusia.”
Daniel terdiam.
“Apa aku akan menjadi monster?”
Jawaban itu datang tanpa ragu.
“Jika itu yang dibutuhkan oleh hukum.”
Dingin. Tanpa penghakiman. Tanpa penyesalan.
Daniel merasakan ketakutan yang lebih besar daripada rasa sakit sebelumnya. Bukan takut mati—melainkan takut menjadi sesuatu yang tidak ia kenali.
“Kalau begitu… kenapa kau memberiku pilihan?”
“Bukankah lebih mudah membiarkanku mati?”
Keheningan kali ini lebih lama dari sebelumnya.
Dan saat suara itu kembali, ada sesuatu yang… nyaris tidak terdefinisi.
“Karena aku tidak seharusnya tertarik.”
Daniel menangkap maknanya.
Bukan simpati.
Bukan belas kasihan.
Pelanggaran.
“Aku adalah hukum.”
“Dan hukum tidak memilih.”
Sepuluh segel itu berhenti berputar.
“Namun pilihanmu menciptakan celah.”
Daniel mengerti sekarang.
Ia bukan dipilih karena istimewa.
Ia dipilih karena ia tidak seharusnya dipilih.
“Apa yang terjadi jika aku membuka semua segel?”
Pertanyaan itu terasa berat.
Keheningan.
Lalu—
“Maka tidak akan ada lagi yang tersisa untuk menahanku.”
Daniel tidak tahu apakah itu peringatan…
atau ancaman.
Ia menarik napas—atau setidaknya, mencoba.
“Aku tidak ingin menjadi dewa,” katanya.
“Aku juga tidak ingin menjadi iblis.”
“Keinginan tidak relevan.”
Jawaban itu mutlak.
Daniel mengangguk pelan.
“Kalau begitu… izinkan aku setidaknya memilih bagaimana aku berjalan.”
Keheningan terakhir terasa berbeda.
Dan untuk pertama kalinya, Daniel merasakan sesuatu yang hampir menyerupai… persetujuan.
“Segel Pertama akan terikat pada kehendakmu.”
“Namun ingat ini, Daniel.”
Nama itu diucapkan dengan jelas.
“Setiap segel yang kau buka…”
“akan membuka jarak antara dirimu dan mereka yang ingin kau lindungi.”
Cahaya menyelimuti kesadarannya.
“Jika kau masih mau melangkah…”
Daniel tidak ragu.
“Aku mau.”
Dan jauh di atas hukum, di luar waktu—
sebuah era mulai bergeser.