SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Preman Pasar Sewon Part 4
"Maaf sekali lagi abang-abang berdua, boleh saya tahu siapa sebenarnya kalian dan dari mana kalian datang? Saya sendiri belum pernah melihat atau bertemu dengan kalian berdua datang ke dalam Pasar Sewon sebelumnya bahkan satu kali pun," tanya Bang Rokib dengan suara yang tetap tenang namun penuh dengan ketegasan, melihat ke arah kedua pria tersebut dengan mata yang penuh dengan perhatian dan sedikit rasa curiga terhadap identitas mereka.
"Apa kamu tidak kenal dengan sosok besar seperti Bang Bedil dan juga Bang Jabrik? Mereka adalah orang yang benar-benar menguasai dan mengendalikan seluruh aktivitas yang terjadi di dalam Pasar Sewon ini kan?" jawab Toha dengan suara yang penuh dengan kesombongan dan rasa kebanggaan terhadap dua orang bosnya tersebut, seolah mereka adalah sosok yang sangat hebat dan tidak bisa ditentang oleh siapapun.
"Hahahaha... baiklah jika begitu, izinkan saya memperkenalkan diri lagi ya – nama saya Toha dan teman saya yang berdiri di sebelah saya ini bernama Sadeli," jelas Toha dengan aksen bahasa yang kasar dan tidak jelas, seolah ia sedang menunjukkan diri sebagai orang yang sangat penting dan berkuasa di dalam area pasar, "Kami adalah orang yang dipercaya secara langsung oleh Bang Bedil dan juga Bang Jabrik untuk mengumpulkan uang jatah preman di dalam Pasar Sewon selama seminggu terakhir ini. Jadi kalian semua harus patuh dan memberikan uang yang diminta oleh kami jika tidak ingin mengalami masalah atau kesulitan yang tidak diinginkan di kemudian hari."
"Ooh begitu ya, saya kira kalian adalah orang luar yang datang ke dalam pasar dengan maksud untuk mencari masalah atau membuat kerusuhan saja," ucap Bang Rokib dengan suara yang penuh dengan pemahaman namun tetap memiliki batasan yang jelas, sambil mengeluarkan dompet kulit tua dari dalam kantong jaketnya yang sudah mulai aus akibat digunakan selama bertahun-tahun, "Baiklah jika begitu, saya akan memberikan uang jatah preman sebesar lima ratus ribu rupiah kepada kalian berdua sekarang juga – jumlah tersebut adalah jumlah tetap yang sudah saya berikan kepada Bang Bedil selama bertahun-tahun dan tidak pernah berubah sedikit pun."
"Apa-apaan ini? Kamu berani sekali melecehkan saya dengan memberikan jumlah uang yang sangat sedikit seperti itu ya?" tanya Toha dengan wajah yang semakin memerah karena kemarahan yang semakin besar muncul di dalam dirinya, matanya yang memerah menunjukkan betapa besarnya kemarahan yang ia rasakan terhadap Bang Rokib saat ini, "Biasanya kamu memberikan berapa banyak uang jatah preman kepada Bang Bedil ya? Jangan sampai kamu berbohong atau mencoba untuk menipu saya karena jika hal itu terjadi, kamu akan mendapatkan hukuman yang sangat berat dariku!"
"Saya sudah bilang kan sebelumnya bang, jumlah uang yang saya berikan adalah lima ratus ribu rupiah saja dan itu sudah menjadi jumlah tetap selama bertahun-tahun," jawab Bang Rokib dengan suara yang tidak lagi mau menahan kemarahan yang muncul di dalam dirinya, matanya yang biasanya ramah dan penuh dengan kebaikan kini sudah berubah menjadi sangat tegas dan penuh dengan kemarahan, "Jangan sampai kamu berani bohong atau mencoba untuk memainkan saya dengan omongan kosongmu tersebut ya! Jangan sampai kamu sok jago atau sok berkuasa di dalam area lapak sayuran ini karena saya lah yang selama ini bertanggung jawab penuh dan ...mengurus seluruh pedagang dan aktivitas berjualan di sini! Saya tidak akan pernah membiarkan orang-orang seperti kalian datang dan membuat kerusuhan serta mengambil keuntungan dengan cara yang tidak benar di dalam pasar yang saya cintai ini!" ucap Bang Rokib dengan suara yang sangat tegas dan penuh dengan keyakinan, membuat beberapa pedagang yang melihat kejadian ini merasa semakin percaya diri dan mulai mendekati lokasi mereka untuk memberikan dukungan kepada Bang Rokib.
"Ooh jadi kamu yang merasa berhak menguasai dan mengendalikan lapak sayuran di sini ya? Jangan sampai kamu sok songong atau merasa dirimu lebih hebat dari orang lain dong Rokib!" teriak Toha dengan suara yang sangat keras dan penuh dengan kemarahan, sambil segera mengeluarkan golok besar dari sabuk pinggangnya yang sudah siap untuk digunakan. Ia langsung menghayunkan golok tersebut dengan kecepatan yang cukup tinggi ke arah leher Bang Rokib, berusaha untuk menyerangnya dengan sangat cepat agar tidak ada kesempatan bagi Bang Rokib untuk menghindar.
Namun dengan kecepatan dan kelincahan yang luar biasa untuk orang seusianya, Bang Rokib dengan sigap melompat ke arah samping kanan dan berhasil menghindari serangan tajam dari golok Toha dengan mudah. Tanpa menghabiskan waktu lama untuk berpikir, ia langsung memberikan balasan dengan tendangan kuat menggunakan kaki kirinya ke arah perut Toha yang tidak terlindungi. Namun Toha juga ternyata cukup gesit dan cepat bereaksi – ia dengan cepat melompat ke arah belakang untuk menghindari tendangan tersebut, membuat tendangan Bang Rokib hanya mengenai udara dan tidak memberikan efek apa-apa kepada lawannya.
Kedua orang itu langsung terlibat dalam pergulatan fisik yang sangat sengit dan penuh dengan kekerasan, masing-masing menggunakan gerakan dan teknik tempur yang berbeda sesuai dengan kemampuan mereka. Toha mencoba untuk menyerang sebanyak mungkin menggunakan goloknya, sementara Bang Rokib lebih memilih untuk menggunakan teknik pertahanan diri dengan menggunakan tangan dan kakinya untuk menghindari serangan serta memberikan balasan yang tepat pada saat yang sesuai. Para pedagang dan pembeli yang menyaksikan kejadian ini mulai berteriak keras dan panik, sebagian dari mereka yang membawa perangkat elektronik seperti ponsel pintar langsung mengambil kesempatan untuk merekam seluruh kejadian tersebut sebagai bukti jika suatu saat diperlukan.
Tak lama kemudian, Sadeli yang melihat bahwa temannya Toha sedang kesulitan menghadapi Bang Rokib sendirian segera memutuskan untuk ikut campur dalam pergulatan tersebut. Ia tidak memberikan peringatan sedikit pun dan langsung menyerang dari belakang Bang Rokib yang sedang fokus menghadapi serangan dari Toha di depan nya. Tanpa ada kesempatan untuk menghindari atau melakukan pertahanan, pukulan keras dari tinju Sadeli mengenai tepat pada bagian dada kanan Bang Rokib dengan sangat kuat, membuatnya terkejut dan kehilangan keseimbangan tubuhnya. Akhirnya Bang Rokib terjatuh dan tersungkur di atas tanah yang cukup kotor dan penuh dengan pasir serta kerikil di dalam area pasar.
Teriakan dari para ibu-ibu pedagang menjadi semakin keras dan meriah, sebagian dari mereka bahkan mulai menangis atau mencari tempat berlindung yang lebih aman karena takut akan terlibat dalam kekerasan yang terjadi. Beberapa pedagang pria mulai bergerak perlahan untuk membantu Bang Rokib, namun mereka segera berhenti karena takut akan mendapatkan serangan dari Toha dan Sadeli yang masih dalam kondisi sangat marah. Nampak Romi yang sudah menyaksikan seluruh kejadian tersebut mulai berlari dengan cepat ke arah lokasi pergulatan tersebut, wajahnya yang muda penuh dengan keseriusan dan tekad untuk membantu Bang Rokib yang sedang dalam kesusahan. Di belakangnya, kedua supir truck yaitu Pak Sugeng dan Pak Anton juga ikut menyusul dengan langkah yang cepat meskipun mereka juga merasa sangat takut dengan kondisi yang terjadi saat ini.
CUKUP!!!!
Suara Romi yang sangat kuat dan jelas tiba-tiba membekukan langkah kedua orang pria tersebut yang tengah siap memberikan serangan tambahan kepada Bang Rokib yang masih terjatuh di atas tanah. Suaranya terdengar sangat jelas dan menggema ke seluruh penjuru pasar, membuat semua orang yang ada di sana menjadi terdiam sejenak dan memperhatikan keberadaan anak muda yang berdiri dengan tegak menghadapi dua orang pria yang jauh lebih besar dan kuat darinya.
"Heem... kamu itu Romi ya yang dianggap sebagai orang yang mengambil uang dari supir truck tadi?" tanya Sadeli dengan suara yang sangat kasar dan penuh dengan rasa tidak suka terhadap Romi, sambil menatapnya dengan pandangan yang penuh dengan ancaman dan kemarahan yang masih belum surut.
"Malakin atau mengambil uang dengan cara yang tidak benar? Tidak sekali pun bang, saya sangat takut kepada Allah SWT untuk melakukan hal yang tidak benar seperti itu," jawab Romi dengan suara yang tetap tenang dan jelas meskipun tubuhnya sedikit menggigil akibat rasa ketakutan yang muncul di dalam hatinya, "Saya bersama dengan empat orang teman saya lainnya telah bekerja keras untuk membongkar dan mengangkut sayuran dari dalam mobil truck ke lapak-lapak pedagang yang sudah memesan. Uang yang kami terima adalah hasil dari kerja keras dan kesepakatan yang sudah disepakati bersama sebelum kami memulai pekerjaan tersebut, jadi itu adalah hak kami yang sah dan halal."
"Lalu siapa sebenarnya kamu ini? Apakah kamu hanya seorang pembeli biasa, pedagang kecil yang baru mulai berjualan, atau bahkan hanya seorang preman cilik yang sok menjadi jagoan dan ingin menjadi orang penting di dalam pasar ini?" tanya Toha dengan suara yang penuh dengan rasa merendahkan dan penghinaan terhadap Romi, matanya yang memerah menunjukkan betapa besarnya rasa tidak suka yang ia miliki terhadap anak muda yang berdiri di depannya tersebut. "Kamu sudah berani merampas hak dan jatah setoran yang seharusnya menjadi milik kami dan juga bos kami yaitu Bang Bedil serta Bang Jabrik! Jadi sebaiknya kamu segera mengembalikan uang tersebut kepada kami sekarang juga jika tidak ingin mendapatkan masalah yang lebih besar darinya!"
"Maaf sekali lagi bang, uang yang kami terima adalah hasil dari kerja keras dan keringat kami yang sudah kami keluarkan dengan sangat banyak hari ini," jawab Romi dengan suara yang semakin mantap dan penuh dengan keyakinan, tidak lagi menunjukkan tanda-tanda rasa ketakutan seperti sebelumnya, "Itu uang tidak memiliki hubungan apapun dengan jatah preman atau pemalakan apa pun yang biasanya dilakukan oleh orang-orang seperti kalian di dalam pasar ini."
"Saya tidak peduli sama sekali dengan omongan kosong dan alasan yang kamu berikan bocah tengik ini!" teriak Toha dengan suara yang semakin tinggi dan penuh dengan kemarahan yang meluap-luap, sambil menggeram seperti binatang buas yang sedang marah besar, "Uang tersebut harus saya terima karena saya harus segera menyetorkannya kepada Bang Bedil dan juga Bang Jabrik sesuai dengan perintah yang telah diberikan kepada saya!"
"Saya akan mengatakan sekali lagi bang... saya tidak bisa dan tidak akan pernah memberikan uang kami kepada kalian berdua karena itu adalah hak kami yang sah dan halal," ucap Romi dengan suara yang sangat tegas dan penuh dengan keyakinan yang mendalam, sambil berdiri dengan sangat tegak dan menghadapi kedua orang pria tersebut dengan penuh keberanian, "Kami akan menggunakan uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan juga keperluan yang sangat penting bagi keluarga kami, jadi tidak mungkin saya akan menyerahkannya kepada orang-orang yang hanya ingin mengambil keuntungan dengan cara yang tidak benar seperti kalian!"