NovelToon NovelToon
Mencintai Adik CEO

Mencintai Adik CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad girl / One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang / Konflik etika
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.

Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.

Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.

Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?

"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sempitnya Ruang Perpustakaan

Lantai dua perpustakaan pusat Aeryon International Academy adalah wilayah yang jarang tersentuh kebisingan. Di sana, rak-rak buku hukum internasional yang menjulang tinggi menciptakan lorong-lorong labirin yang pengap akan aroma kertas tua dan debu. Cahaya lampu neon di langit-langit bergetar rendah, memberikan atmosfer yang lebih mirip ruang interogasi daripada tempat belajar.

Seraphina menghela napas panjang, membanting buku teks tebalnya ke atas meja kayu di sudut paling ujung. "Ini konyol. Kenapa Profesor Maxwell harus memberikan tugas kelompok secara acak? Dan kenapa dari ribuan mahasiswa di Aeruland, aku harus berakhir satu kelompok dengan pengawalku sendiri?"

Dareen, yang sedang mengatur tumpukan jurnal di sisi meja, bahkan tidak mendongak. "Ini disebut probabilitas, Nona. Dan secara teknis, saya adalah mahasiswa dengan nilai tertinggi di kelas hukum pidana. Anda seharusnya bersyukur karena saya yang akan mengerjakan sebagian besar beban kerja Anda."

"Kau sangat sombong sejak memakai kacamata itu, Dareen," cibir Seraphina. Dia duduk di kursi kayu yang keras, mencoba mencari posisi nyaman yang mustahil ditemukan.

"Saya hanya realistis," jawab Dareen datar. Dia menunjuk ke arah sebuah buku referensi langka yang berada di rak tertinggi, tepat di belakang posisi duduk mereka. "Kita butuh referensi kasus The West-Uptown Dispute tahun 1998 untuk bab pendahuluan. Saya akan mengambilnya."

"Biar aku saja," potong Seraphina, berdiri dengan cepat. Dia ingin membuktikan bahwa dia tidak sepenuhnya tidak berguna dalam kerja kelompok ini—atau mungkin, dia hanya ingin bergerak karena merasa terlalu gerah berada sedekat itu dengan Dareen.

Sera melangkah ke lorong sempit di antara dua rak raksasa. Rak itu begitu tinggi hingga cahaya lampu neon nyaris tidak mencapai bagian dasarnya. Dia berjinjit, ujung jarinya berusaha menggapai punggung buku kulit berwarna marun tersebut.

Zzap!

Tiba-tiba, lampu neon di atas mereka berkedip hebat. Suara dengungan listrik terdengar kasar, diikuti oleh kegelapan total selama dua detik sebelum lampu darurat yang remang-remang kemerahan menyala. Keheningan perpustakaan mendadak terasa mencekik. Bagi orang lain, ini mungkin hanya gangguan teknis kecil, tapi bagi Seraphina, ini adalah pemicu mimpi buruk.

Napasnya tercekat. Bayangan lift yang jatuh, ruang sempit yang menghimpitnya, dan kegelapan di Diamond Plaza tempo hari menyerang pikirannya sekaligus. Tubuhnya mulai gemetar hebat.

"Dareen ..." suaranya keluar dalam bisikan yang penuh kepanikan.

Tanpa sadar, Seraphina mundur selangkah, namun kakinya tersandung kaki rak. Sebelum dia jatuh, sebuah tangan kokoh menangkap pinggangnya. Dareen sudah berada di sana, muncul dari balik kegelapan lorong dengan kecepatan yang hanya dimiliki oleh seorang profesional.

"Tenang, Nona. Tarik napas. Ini bukan lift. Langit-langitnya tinggi. Anda aman," bisik Dareen tepat di telinganya.

Sera membalikkan tubuh, mencengkeram kemeja Dareen dengan jari-jarinya yang pucat. Dia membenamkan wajahnya di dada pria itu, menghirup aroma sabun dan maskulinitas yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tabung oksigennya saat ini. Dareen tidak melepaskannya; dia membiarkan Seraphina bersandar, sementara tangannya yang satu lagi menjaga agar punggung gadis itu tidak menabrak rak buku.

Setelah beberapa menit, denyut jantung Seraphina mulai melambat. Rasa takutnya mereda, digantikan oleh kesadaran yang tajam akan posisi mereka. Dadanya menempel pada dada Dareen yang bidang. Dia bisa merasakan otot-otot perut pria itu yang mengeras setiap kali Dareen menarik napas.

"Aku sudah lebih baik," gumam Seraphina, namun dia tidak beranjak.

Dia mendongak, menatap wajah Dareen yang hanya berjarak beberapa inci. Di bawah cahaya darurat yang kemerahan, Dareen terlihat sangat berbeda. Topeng robotnya retak. Matanya yang biasanya dingin kini tampak gelap dan dalam, penuh dengan pergulatan yang disembunyikan rapat-rapat.

Sera melihat tangan Dareen masih bertumpu pada rak, tepat di samping buku yang mereka cari. Secara bersamaan, keduanya mengulurkan tangan ke arah buku marun itu.

Sentuhan.

Kulit tangan Seraphina yang halus bersentuhan dengan punggung tangan Dareen yang kasar dan penuh bekas luka. Sebuah sengatan listrik—bukan dari lampu yang rusak, tapi dari saraf mereka sendiri—meledak seketika. Keduanya membeku. Tidak ada yang menarik tangan.

Seraphina menyadari kekuatannya kembali. Dia tahu pria di depannya ini sedang berjuang sekuat tenaga untuk tidak melanggar aturan Seldin. Dan bagi Seraphina, tidak ada yang lebih menggairahkan daripada menghancurkan aturan.

"Dareen," bisik Sera, suaranya kini berubah menjadi godaan yang mematikan. Dia menggerakkan jemarinya di atas punggung tangan Dareen, menelusuri urat-urat yang menonjol di sana. "Kau bilang kau tidak punya perasaan. Tapi tanganmu ... bergetar."

Dareen menarik napas tajam. "Nona, sebaiknya kita kembali ke meja. Tugas ini—"

"Persetan dengan tugas itu," potong Sera. Dia melangkah maju satu langkah lagi, membuat tubuh mereka benar-benar tidak memiliki jarak. Dia bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh Dareen. "Katakan padaku, Dareen Christ. Apa kau masih memikirkan pelukan di mobil kemarin? Karena aku selalu memikirkannya."

Seraphina menjangkiti leher Dareen dengan kedua tangannya, menarik wajah pria itu sedikit lebih rendah. Dia bisa melihat jakun Dareen bergerak naik turun. Pria itu tampak seperti prajurit yang sedang menahan serangan musuh di benteng terakhirnya.

"Jangan lakukan ini, Seraphina," suara Dareen serak, sebuah peringatan yang terdengar lebih seperti rintihan.

"Kenapa? Takut kau akan menyukainya?" Sera tersenyum tipis, bibirnya hanya seujung rambut dari bibir Dareen. "Tunjukkan padaku sisi manusia yang kau sembunyikan itu. Tunjukkan padaku bahwa kau bukan hanya sekadar anjing penjaga Seldin."

Pertahanan Dareen runtuh.

Tali kendali yang selama ini dia pegang erat-erat putus seketika. Dalam satu gerakan brutal yang hampir kasar, Dareen mencengkeram tengkuk Seraphina dan menariknya masuk ke dalam sebuah ciuman yang menghancurkan segala bentuk profesionalisme.

Itu bukan ciuman yang lembut atau penuh kasih sayang. Itu adalah ciuman penuh amarah, kerinduan yang terpendam, dan rasa frustrasi yang meledak. Dareen menciumnya seolah-olah dia ingin menghisap seluruh napas Seraphina, seolah-olah dia sedang berusaha menghukum gadis itu karena telah membuatnya gila selama berminggu-minggu.

Seraphina terkesiap, namun dia segera membalasnya dengan intensitas yang sama. Punggungnya terdorong ke rak buku, membuat beberapa jurnal jatuh berserakan di lantai, namun tak satu pun dari mereka peduli. Tangan Dareen yang besar berpindah ke pinggang Sera, menariknya begitu erat hingga Sera merasa tulang-tulangnya akan menyatu dengan tubuh pria itu.

Di lorong perpustakaan yang remang dan sunyi, hanya terdengar suara napas yang memburu dan kecaman gairah yang terlarang.

Lalu, secepat ledakan itu terjadi, Dareen mendadak menarik diri.

Dia terengah-engah, matanya membelalak kaget seolah dia baru saja terbangun dari sebuah kesurupan. Dia melangkah mundur dua langkah, menabrak rak di seberangnya. Cahaya neon di langit-langit berkedip sekali lagi, lalu menyala terang sepenuhnya. Ruangan kembali normal.

Dareen segera merapikan kemejanya yang berantakan dengan tangan yang masih gemetar. Dia menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak, dan saat dia membukanya kembali, topeng porselen itu sudah terpasang kembali di tempatnya. Dingin. Kaku. Tak terjangkau.

"Maafkan saya, Nona. Saya ... saya kehilangan kendali," suara Dareen kembali datar, seolah ciuman brutal tadi hanya sebuah kesalahan teknis dalam sistem operasinya. "Itu tidak akan terjadi lagi. Mari kita selesaikan tugas ini."

Dareen mengambil buku marun yang jatuh di lantai, lalu berjalan keluar dari lorong rak buku tanpa menoleh ke belakang. Dia kembali duduk di meja, membuka laptopnya, dan mulai mengetik seolah tidak terjadi apa pun.

Seraphina masih berdiri di lorong itu, menyentuh bibirnya yang terasa panas dan sedikit bengkak. Jantungnya berdebar kencang, memberikan sensasi kemenangan yang luar biasa. Dia tidak marah karena Dareen memasang kembali topengnya. Justru sebaliknya, dia semakin bersemangat.

Dia baru saja mencicipi api yang ada di balik es tersebut. Dan dia tahu, tidak peduli seberapa keras Dareen berusaha menjadi robot kembali, segalanya sudah berubah.

Sera melangkah keluar dari lorong dengan senyum licik di wajahnya. Dia duduk di depan Dareen, menopang dagu dengan tangannya, menatap pria itu yang sedang pura-pura fokus pada layar.

"Tentu, Dareen. Mari kita selesaikan tugasnya," ujar Sera dengan nada riang yang menusuk. "Tapi ingat satu hal ... rasa bibirmu jauh lebih jujur daripada kata-katamu."

Dareen tidak menjawab, namun jemarinya sempat berhenti sejenak di atas kibor sebelum melanjutkan pengetikan. Seraphina tertawa kecil. Permainan ini baru saja naik ke level yang jauh lebih berbahaya, dan dia sangat menikmati setiap detik dari kekacauan yang dia ciptakan dalam hidup pengawalnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!