NovelToon NovelToon
Kutukar Mantan Dengan Kakak Ipar

Kutukar Mantan Dengan Kakak Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:30.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mom_cgs

Beberapa hari menjelang pernikahan, Yumna mengetahui perselingkuhan Desta, tunangannya, dengan Cindy, atasan mereka sekaligus adik angkat dari CEO kejam, Evander Sky Moreno.

...

​Kecewa lalu mabuk, Yumna melabrak sang CEO di sebuah bar.

​"Gara-gara adikmu, aku batal nikah! Aku bakal jadi bahan ejekan tetangga! Kamu harus tanggung jawab, Bos Brengsek!" teriak Yumna sambil menarik kerah kemeja mahal Evander.


​Evander menatapnya dingin, lalu berbisik di telinga Yumna, "Jika posisi mempelai pria kosong, biar aku yang mengisinya."

...

​Kini, Yumna datang ke gedung pernikahan bukan sebagai pengantin yang terbuang, melainkan sebagai istri dari pria yang paling ditakuti Desta dan Cindy.

​"Desta, perkenalkan... ini suamiku. Mulai sekarang, panggil aku Kakak Ipar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom_cgs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menantang Kesabaran

Sesampainya di rumah mewah yang sunyi itu, suara lembut Vera, sistem AI rumah pintar mereka, langsung menyambut.

​"Selamat datang kembali, Tuan Evander dan Nyonya Yumna. Suhu ruangan telah diatur pada 22°C, dan air hangat di kamar mandi utama telah siap," ucap suara robotik yang merdu itu melalui speaker tersembunyi.

​"Terima kasih, Vera. Matikan lampu aula dalam sepuluh menit," perintah Evander singkat.

​Keduanya saling melempar pandang sejenak di depan tangga. Ada kecanggungan yang menggantung setelah kejadian di taman tadi, namun rasa lelah lebih mendominasi. Tanpa banyak bicara, mereka berpisah menuju kamar masing-masing yang letaknya berseberangan.

​Di Kamar Evander:

Evander melepas jasnya dengan gerakan kasar, melemparkannya ke kursi kulit. Ia melonggarkan dasi dan membuka kancing kemejanya satu per satu sambil berjalan menuju balkon. Pikirannya tidak bisa tenang. Kata-kata Desta di taman tadi, tentang ingin merebut Yumna kembali, terus terngiang seperti kaset rusak.

​Ia masuk ke kamar mandi, berdiri di bawah shower air dingin, membiarkan aliran air membasahi rambut dan tubuh kekarnya. Ia berharap rasa dingin itu bisa membekukan debaran jantungnya yang tidak keruan setiap kali berada di dekat Yumna. Setelah selesai, ia hanya mengenakan celana kain panjang abu-abu tanpa atasan, membiarkan dada bidangnya terekspos, lalu duduk di tepi ranjang sambil memijat pelipisnya.

​Di Kamar Yumna:

Berbeda dengan Evander yang tegang, Yumna justru merasa sangat lega. "Mampus kamu, Desta!" gumamnya puas sambil melakukan tarian kemenangan kecil di depan cermin.

​Ia segera membersihkan diri. Guyuran air hangat membuatnya merasa jauh lebih rileks. Setelah mengeringkan tubuhnya, Yumna membuka lemari pakaian besar yang penuh dengan baju-baju pemberian Evander. Jemarinya berhenti pada sebuah nightgown satin berwarna merah marun dengan model tali satu yang sangat tipis.

​"Wah, ini kalau dipakai di kampung, pasti dibilang mau ikut audisi film horor saking tipisnya," canda Yumna pada dirinya sendiri.

​Namun, karena cuaca malam itu terasa agak gerah dan ia merasa sangat nyaman dengan bahan sutra yang halus, Yumna pun mengenakannya. Baju tidur itu jatuh dengan sempurna di tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuhnya yang selama ini tersembunyi di balik seragam kantor. Bahannya yang menerawang memperlihatkan kulit mulusnya yang terkena cahaya lampu tidur yang temaram.

​Yumna baru saja akan menarik selimut dan merebahkan diri ketika tiba-tiba...

​Tok! Tok! Tok!

​Suara ketukan di pintu kamarnya terdengar tegas namun hati-hati. Yumna tersentak. Tidak ada orang lain di rumah ini selain para pelayan yang sudah di paviliun mereka, Vera sang AI, dan... Evander.

​"Yumna? Kamu sudah tidur?" suara bariton Evander terdengar dari balik pintu.

​Yumna panik. Ia melihat ke bawah, menyadari betapa minimnya pakaian yang ia kenakan saat ini. Ia mencoba mencari outer atau kimono penutup, tapi benda itu entah terselip di mana di dalam lemari yang sebesar lapangan bola itu.

​"I-iya, Mas! Bentar!" teriak Yumna panik sambil berusaha menutupi dadanya dengan tangan, padahal ia masih berada di balik pintu yang tertutup.

Yumna menarik napas panjang. Halah, ngapain bingung? Mas Kulkas kan nggak punya perasaan sama aku. Paling dia cuma mau bahas jadwal besok atau komplain soal kopi, pikirnya dengan penuh rasa percaya diri yang salah sasaran.

​Dengan santainya, Yumna menarik gagang pintu dan membukanya lebar-lebar. "Iya, Mas? Ada ap—"

​Kalimat Yumna terhenti di tenggorokan.

​Di ambang pintu, Evander berdiri dengan penampilan yang tidak kalah "berbahaya". Pria itu hanya mengenakan celana tidur panjang tanpa atasan, memamerkan otot perut yang keras dan dada bidang yang masih terasa lembap setelah mandi. Rambutnya yang sedikit basah jatuh berantakan di dahinya, memberikan kesan liar yang jauh dari citra CEO-nya yang rapi.

​Namun, fokus Evander bukan pada dirinya sendiri. Begitu pintu terbuka, matanya langsung tertuju pada sosok di depannya.

​Rahang Evander mengeras seketika. Matanya menyapu penampilan Yumna, dari bahu mulus yang hanya ditopang seutas tali tipis, hingga kain satin merah marun yang jatuh mengikuti lekuk tubuh istrinya dengan sangat sempurna, bahkan terlalu sempurna hingga terlihat menerawang di bawah temaram lampu aula.

​"Yumna..." suara Evander terdengar jauh lebih rendah dan serak dari biasanya.

​Sejak insiden "telinga Yupi" yang membuat sarafnya tegang, otak Evander memang sudah mulai korslet. Ia sudah kehilangan hitungan berapa kali ia harus mandi air dingin di tengah malam hanya untuk memadamkan gejolak aneh setiap kali memikirkan Yumna. Dan sekarang, perempuan dengan wajah tanpa dosa ini kembali mengujinya tepat di depan mata.

​Yumna yang tadinya merasa aman, tiba-tiba merasa atmosfer di sekitarnya berubah menjadi sangat panas. Tatapan Evander tidak seperti biasanya, itu bukan tatapan dingin sang bos, melainkan tatapan pria yang sedang menahan diri sekuat tenaga agar tidak meledak.

​"Mas... Mas mau ngomong apa?" tanya Yumna, suaranya mendadak mencicit. Ia baru sadar betapa nekatnya ia membuka pintu dengan pakaian sesingkat itu.

​Evander tidak menjawab. Ia justru melangkah masuk satu langkah ke dalam kamar, membuat Yumna terpaksa mundur. Tangan Evander yang kekar terangkat, namun bukan untuk menyentuh Yumna, melainkan untuk menutup pintu di belakangnya dengan suara klik yang pelan namun terdengar seperti vonis bagi Yumna.

​"Kamu..." Evander menatap Yumna tepat di matanya, membuat jantung Yumna serasa mau melompat keluar. "Benar-benar tidak tahu bagaimana cara melindungi diri sendiri, atau kamu memang sedang menantang kesabaran saya?"

​Yumna menelan ludah, ia merasa punggungnya sudah menyentuh dinding di samping pintu. "Maksudnya? Kan aku di rumah sendiri, Mas. Aman dong..."

​Evander menumpukan satu tangannya di dinding, tepat di samping kepala Yumna, mengurung wanita itu dalam jarak yang sangat intim. Aroma maskulin bercampur sabun dari tubuh Evander langsung menguasai indra penciuman Yumna.

​"Rumah ini aman, Yumna. Tapi saya..." Evander menunduk, mendekatkan wajahnya hingga napas hangatnya menerpa kulit leher Yumna. "...saya sedang tidak merasa aman untuk diri saya sendiri saat ini."

​Tangan Evander yang lain perlahan terangkat, jari telunjuknya mengusap lembut tali tipis di bahu Yumna yang seolah siap meluncur jatuh hanya dengan satu sentuhan ringan.

Yumna menahan napas sampai dadanya terasa sesak. Ia merasa seperti sebongkah es krim yang diletakkan tepat di bawah terik matahari, sebentar lagi pasti meleleh tanpa sisa. Pandangan Evander yang biasanya tajam dan sedingin kutub utara, kini berubah menjadi bara api yang seolah mampu melubangi pertahanannya.

​Aduh, Yumna! Kamu ngapain sih nekat banget buka pintu begini? rutuknya dalam hati.

​Ia takut khilaf. Jujur saja, melihat Evander dalam kondisi "setengah matang" tanpa atasan seperti ini adalah cobaan terberat dalam sejarah hidupnya. Otot perut yang terpahat sempurna itu benar-benar penggoda level dewa. Yumna merasa tangannya gatal ingin menyentuh, tapi logikanya berteriak kencang supaya ia tidak melakukan hal memalukan.

​"Mas... Mas jangan begini," bisik Yumna, suaranya bergetar hebat. Ia memalingkan wajah ke samping, tidak kuat menatap mata Evander lebih lama lagi. "Nanti kalau aku khilaf terus nerkam Mas, jangan salahin aku ya? Aku ini cuma manusia biasa yang asupan visualnya terbatas."

1
Bunda
seikat 🌹 untukmu kak,💪 berkarya😘
Mom_cgs: Makasih Kakak Say☺️🫰
total 1 replies
Bunda
akhirnya belah duren🤭🤭🤭
Mom_cgs: 😄😄😄😄😄
total 1 replies
kheai🐝
akhirnyaagolll🤣
Mom_cgs: wkwkwk😄
total 1 replies
Bunda
jangan mimpi ketinggian,awas kalau jatuh sakit🤣🤣🤣🤣
Mom_cgs: Ck, masih pede aja tuh cecurut ya Kak😄
total 1 replies
Bunda
muka badak😂
Bunda
idihhhh,g tahu malu si desta
Mom_cgs: Defenisi si muka tembok itu Kak
total 1 replies
Bunda
nah gitu g usah panggil Mas😃
Bunda
jangan cari2 kesempatan ya mas van😃😃
Mom_cgs: Manfaatin banget nih Ceo😄
total 1 replies
Bunda
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Mom_cgs: Ternodai harga diri ceo ya Kak😅
total 1 replies
kheai🐝
akhirnya pemirsa penasaran 😄
Mom_cgs: hahaha
total 1 replies
Bunda
seikat 🌹 dan 1 vote untuk pengantin baru kita/Angry//Angry//Angry/
Mom_cgs: Jangan lupa doanya Kak😄
total 1 replies
Bunda
sakit ya🤣🤣🤣🤣🤣
Bunda
bilang aja masih gengsi😃😃😃
Mom_cgs: Gengsinya segede gaban itu Kak🤣
total 1 replies
Bunda
tetangga kepo😂😂😂
Mom_cgs: Defenisi tetangga pada umumnya ya Kak😄
total 1 replies
Kayla Callista
🤣🤣🤣tragedi aroma teraphi
Mom_cgs: Ada-ada aja si Yumna ini😄
total 1 replies
Kayla Callista
puas banget🤣🤣🤣🤣
Mom_cgs: Sama Kak😄
total 1 replies
Kayla Callista
🤣🤣bau kemewahan
Mom_cgs: Paket komplit itu Kak😄
total 1 replies
Bunda
nyimak🙏
Mom_cgs: Makasih Kak, lanjuut yaa☺️🫰
total 1 replies
Greenindya
desta pengen aku hantam kepalanya sampai copot deh daripada punya kepala tapi ga dipakai
Greenindya: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Shyfa Andira Rahmi
yayasan kucing terlantar🤪🤪🤪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!