NovelToon NovelToon
Kutukar Mantan Dengan Kakak Ipar

Kutukar Mantan Dengan Kakak Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Mom_cgs

Beberapa hari menjelang pernikahan, Yumna mengetahui perselingkuhan Desta, tunangannya, dengan Cindy, atasan mereka sekaligus adik angkat dari CEO kejam, Evander Sky Moreno.

...

​Kecewa lalu mabuk, Yumna melabrak sang CEO di sebuah bar.

​"Gara-gara adikmu, aku batal nikah! Aku bakal jadi bahan ejekan tetangga! Kamu harus tanggung jawab, Bos Brengsek!" teriak Yumna sambil menarik kerah kemeja mahal Evander.


​Evander menatapnya dingin, lalu berbisik di telinga Yumna, "Jika posisi mempelai pria kosong, biar aku yang mengisinya."

...

​Kini, Yumna datang ke gedung pernikahan bukan sebagai pengantin yang terbuang, melainkan sebagai istri dari pria yang paling ditakuti Desta dan Cindy.

​"Desta, perkenalkan... ini suamiku. Mulai sekarang, panggil aku Kakak Ipar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom_cgs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecelakaan

"Aku harus menjadi penyicip pertama. Aku akan melakukan tes racun ala dayang kerajaan. Jika dalam lima menit aku tidak pingsan atau berbusa, baru Mas boleh makan. Ini adalah protokol keamanan tingkat tinggi."

​Tanpa menunggu persetujuan, Yumna memotong sepotong kecil steak, lalu dengan mata terpejam dan ekspresi wajah seperti orang yang siap syahid, ia memasukkan daging itu ke mulutnya.

​Evander hanya bisa mematung, menatap istrinya yang mulai mengunyah dengan gerakan lambat yang dilebih-lebihkan, menunggu reaksi apa pun yang mungkin terjadi, entah itu keracunan sungguhan atau sekadar akting konyol Yumna berikutnya.

Evander hanya bisa mengangkat alisnya, berdiri mematung sambil menyaksikan Yumna yang masih menutup mata dengan khidmat. Mulut wanita itu bergerak pelan, mengunyah potongan steak premium seharga jutaan rupiah itu dengan ekspresi wajah yang sangat sulit ditebak.

​Satu detik... dua detik...

​Yumna tiba-tiba memegang lehernya. Matanya melotot tajam ke arah Evander. "Mas..." suaranya terdengar serak dan tertahan.

​Jantung Evander mencelos. Meskipun ia tahu istrinya ini ratu drama, namun melihat wajah Yumna yang mendadak memucat dan tangannya yang mencengkeram kerah bajunya sendiri membuat insting protektif Evander meledak.

​"Yumna! Kamu kenapa?! Mahesa! Panggil tim medis!" Evander menerjang maju, menangkap bahu Yumna sebelum wanita itu jatuh. "Yumna, jawab saya! Ada apa dengan makanannya?!"

​Yumna terbatuk-batuk kecil, matanya mulai berkaca-kaca. Ia menatap Evander dengan tatapan nanar. "Mas... ini... ini bahaya banget..."

​"Apa yang bahaya?! Racun jenis apa?!" teriak Evander panik, wajah dinginnya kini hancur lebur oleh ketakutan yang nyata.

​Yumna menelan makanannya dengan susah payah, lalu tiba-tiba wajah seriusnya pecah. Ia nyengir lebar sampai matanya menyipit. "Bahaya banget enaknya, Mas! Sumpah, ini steak apa kasur bayi? Lembut banget! Sausnya itu lho, kayak ada kembang api meledak di lidah aku!"

​Evander membeku. Tangannya yang masih mencengkeram bahu Yumna gemetar, tapi bukan karena romantis, melainkan karena menahan emosi yang sudah sampai ke ubun-ubun.

​"Yumna..." suara Evander terdengar sangat rendah, jenis suara yang biasanya membuat para direktur di ruang rapat ingin menghilang dari muka bumi.

​"Hehe, maaf Mas. Aktingku keren kan? Udah cocok jadi permaisuri yang rela mati demi raja?" Yumna tanpa dosa malah mengambil potongan kedua. "Mas nggak mau coba? Aman kok, lambungku yang setebal beton ini sudah memberikan lampu hijau. Clear!"

​Evander melepaskan bahu Yumna, ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan untuk menenangkan jantungnya yang nyaris copot. Pria itu kembali ke kursinya dengan wajah yang lebih gelap dari kopi hitam di mejanya.

​"Kamu..." Evander menunjuk Yumna dengan jari gemetar. "Hampir membuat saya memecat katering hotel bintang lima ini karena tuduhan percobaan pembunuhan. Berhenti melakukan itu atau saya benar-benar akan memasang segel di mulutmu."

​Yumna malah tertawa kecil, tidak takut sama sekali. Ia membawakan piring steak itu ke meja kerja Evander, lalu duduk di kursi tamu. "Yah, Mas Kulkas marah. Padahal aku cuma mau memastikan suami kontrakku ini sehat walafiat biar kontraknya bisa jalan terus."

​Yumna menyodorkan garpu berisi daging ke depan mulut Evander. "Ayo, Mas. 'Aaa'. Anggap aja ini tanda damai dari dayang penyicip. Mas harus makan yang banyak, soalnya habis ini pasti Mas capek liatin aku kerja jadi asisten yang... yah, agak sedikit ajaib."

​Evander menatap potongan daging itu, lalu menatap Yumna. Ada secercah senyum tipis, sangat tipis hingga hampir tak terlihat, di sudut bibir pria itu. Ia pun menerima suapan dari Yumna.

​Namun, di tengah suasana yang mulai menghangat, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Mahesa masuk dengan wajah yang jauh lebih serius daripada masalah steak tadi.

​"Tuan Evander, maaf mengganggu makan siang Anda. Tapi pihak kepolisian baru saja menghubungi. Ada laporan masuk mengenai kecelakaan beruntun di jalan tol menuju kantor... dan mobil yang ditumpangi Nona Cindy terlibat di dalamnya."

​Yumna tersedak air yang baru saja ia minum. Sendok di tangannya terjatuh, dentingannya menggema di ruangan yang mendadak sunyi itu.

Akhirnya mereka bergegas menuju rumah sakit, Evander meminta sopir memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Atmosfer di dalam kendaraan begitu tegang. Yumna meremas jemarinya sendiri, meski ia dan Cindy sering bertikai, ia tidak pernah mengharapkan kecelakaan tragis seperti ini menimpa adik iparnya itu.

​Apalagi hari ini seharusnya menjadi hari transisi bagi Cindy, hari terakhirnya menyandang jabatan manajer sebelum "turun kasta" menjadi staf biasa sesuai titah Kakek William.

​Begitu pintu lift rumah sakit terbuka di lantai unit gawat darurat, suasana kacau langsung menyambut mereka. Belum sempat Yumna melangkah jauh, tiga sosok wanita dengan pakaian branded dan aroma parfum yang menyengat langsung menghadang jalannya.

​Tante Sofia, Tante Martha, dan Tante Rosa.

​"Nah, ini dia biang keroknya datang!" teriak Tante Martha dengan suara melengking, menunjuk tepat ke hidung Yumna.

​Yumna terkesiap, langkahnya terhenti. "Tante, bagaimana keadaan Cindy?"

​"Jangan sok peduli kamu!" Tante Sofia ikut maju, wajahnya memerah karena emosi. "Ini semua gara-gara kamu, Yumna! Gara-gara mulut licikmu itu, Kakek menghukum Cindy sampai dia turun jabatan. Tahu tidak kenapa dia kecelakaan?"

Yumna menggeleng pelan, ia melirik Evander yang berdiri di belakangnya dengan wajah yang mulai menggelap.

​"Cindy itu stres! Dia merasa terhina!" seru Tante Rosa dramatis. "Tadi dia pergi dari swalayan ke swalayan, katanya mau membelikan hadiah perpisahan untuk staf divisinya karena dia malu besok sudah jadi staf biasa. Dia menyetir sendiri karena pikirannya kacau, lalu terjadilah kecelakaan ini! Kalau kamu tidak masuk ke keluarga ini, Cindy tidak akan pernah ada dalam posisi sesulit itu!"

​Tante Martha mendorong bahu Yumna sedikit. "Puas kamu sekarang? Kamu mau menguasai harta Moreno dengan menyingkirkan keluarga Moreno satu per satu, hah?"

Yumna hampir saja terjungkal jika Evander tidak segera menahan pinggangnya. Evander melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Yumna seperti tameng baja.

​"Cukup," suara Evander rendah, namun mengandung ancaman yang membuat ketiga tantenya bungkam seketika. "Berhenti menyalahkan istri saya atas kecerobohan Cindy di jalan raya."

​"Kecerobohan? Evander, adikmu itu sedih karena diperlakukan tidak adil!" bela Tante Sofia.

​"Tidak adil?" Evander tersenyum miring, senyum yang sangat dingin. "Dia dihukum karena kesalahannya sendiri yang menyuap orang untuk menghina istriku. Dan jika dia memutuskan untuk berkeliling swalayan di jam kerja hingga kecelakaan, itu adalah tanggung jawab pribadinya sebagai orang dewasa."

Evander menatap mereka satu per satu dengan tajam. "Jika saya mendengar satu patah kata lagi yang menyudutkan Yumna, saya tidak akan segan meminta Kakek meninjau kembali posisi suami-suami kalian yang saat ini juga sedang dalam pengawasan audit."

​Ketiga tante itu langsung terdiam, pucat pasi. Ancaman Evander bukan main-main, menyentuh urusan kantong adalah cara tercepat untuk menjinakkan mereka.

Tiba-tiba, dokter keluar dari ruang penanganan. Wajahnya tampak lelah.

​"Keluarga Nona Cindy?"

​Yumna maju selangkah, hatinya berdegup kencang. "Bagaimana keadaannya, Dok?"

1
Shyfa Andira Rahmi
yayasan kucing terlantar🤪🤪🤪
Shyfa Andira Rahmi
🤦🤦🤦
Shyfa Andira Rahmi
ngga usah main bentak bisa ngga siihh kan aq nya juga jadi ikutan kaget🤪
diajarin lah biar c,Yumna nya rada anggunan kalo di bentak mulu bukannya anggun yg ada malah ciut...
Mom_cgs: Evander-nya suka gitu ya Kak😄
total 1 replies
Shyfa Andira Rahmi
puas banget ya Yum👏👏👏
Mom_cgs: Iya Kak, kita pun ikut puas Kak😄
total 1 replies
falea sezi
ortunya pasti syok lahh
Mom_cgs: Syok kesenengan ya Kak😅
total 1 replies
falea sezi
nyaman ya bau cogan kaya raya /Curse/
Mom_cgs: Bener banget Kak 🤣
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👍👌
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Mom_cgs: Siap Kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!