NovelToon NovelToon
The Units : Bright Sides

The Units : Bright Sides

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / CEO / Percintaan Konglomerat
Popularitas:669
Nilai: 5
Nama Author: Nonira Kagendra

Arsenio Satya Madya (26 tahun) putra dari pasangan Ankara Madya dan Arindi Satya, tegas dan jenius. Semua karakter kedua orangtuanya melekat pada diri Arsen. Memiliki seorang adik yang cantik seperti mamanya, bernama Auroa Queen Satya Madya (21 Tahun).

Aira Narumi Sagara (24 Tahun), wanita cantik, licik dan tangguh. Memilik seorang adik yang kadang normal kadang abnormal, bernama Arkanza Narumi Sagara (22 Tahun). Mereka anak dari Alan Rumi dan Reyna Sagara.

Tak lupa Cyber Wira Pratama (21 Tahun), putra tunggal dari Galih Pratama dan Dania Swasmitha. Ahli di dunia cyber seperti ibunya dan kecerdikan Inspektur Galih.

---
Ikuti kisah dari anak-anak para tokoh "Switching Sides" dari kecil hingga dewasa.
Intrik, romansa dan keluarga menjadi cerita di kehidupan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonira Kagendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berbeda

#SELAMAT MEMBACA##

**" "Selamat pagi, Indonesia!

Hari ini, cuaca cerah menyambut kita dengan sinar matahari yang hangat!

Suhu berkisar 28-32°C, dengan kelembaban 60%. Jangan lupa pakai sunscreen dan tetap terhidrasi! Baik, mari kita lihat prakiraan cuaca untuk beberapa hari ke depan..."**

*Tut!*

"Hah, memang cerah. Tapi tidak dengan suasana hatiku. Bahkan mereka melupakan sesuatu yang spesial bagiku hari ini", keluh kesah seseorang untuk pertama kali yang ingin diperhatikan oleh keluarga kecilnya.

Arindi baru saja dari pusat perbelanjaan dan sekarang dia berada di dalam mobil sendirian untuk pulang.

Biasanya menugaskan pelayan untuk belanja kebutuhan sehari-hari, entah kenapa rasanya hari ini sangat membosankan dirumah sehingga dia sendiri yang pergi. Itupun dia harus melalui perdebatan panjang dengan pelayan setianya, alasan para pelayan itu adalah agar sang tuan tidak marah besar jika sang istri tiba-tiba pergi. Meskipun hanya untuk keluar sebentar.

-----

~Flashback sebelumnya~

Suasana sarapan pagi hari ini begitu tenang dan sunyi. Itulah yang dirasakan Arindi. Semua begitu tertata, tidak...ini seperti disengaja atau ada hal yang lain yang disembunyikan oleh mereka bertiga. Arindi menatap dalam diam pada Suami serta kedua anaknya secara bergantian.

"Ehem....ada apa?", Tanya Arindi to the point pada ketiganya.

"Ada apa sayang?", Ankara heran mengerutkan keningnya.

"Ada apa, Ma?", Sahut Aurora dan Arsen.

"Harusnya jawab saja, jangan bertanya balik!", tegas Arindi. "Sepertinya kalian ada masalah....atau ada hal yang kalian sembunyikan padaku?" tekannya lagi.

Ketiganya berusaha tidak tegang dan tetap  tenang. Sangat sulit untuk membohongi Nyonya Arindi. Karena dia memiliki insting yang tajam.

"Ah...itu....aku sedang memikirkan masalah di kantor. Jadi....maafkan aku bila 'membawanya' sampai di meja makan", jawab Ankara dengan menatap mata istrinya. Dia berusaha menyakinkan Arindi.

"Aku juga sama, Ma. Dari kemarin aku pusing karena membantu Papa di perusahaan. Aurora sih...tidak mau membantu kami. Padahal kan sudah lulus S2 tahun lalu. Aku juga harus membagi waktuku untuk membantu Paman Galih dan juga mengembangkan Agenku" Sahut Arsen sekaligus memanfaatkan momen untuk mencibir sang adik.

"Kak...! Aku masih kecil dan butuh refreshing. Jika langsung terjun ke dunia bisnis bisa pecah otakku", Sinis Aurora. Bisa-bisanya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk mengomentari dirinya. Dasar kakak laknat, batinnya.

"Sudah cukup, lanjutkan makannya! Maaf jika Mama mencurigai kalian. Sebenarnya bukan maksud apa-apa. Hanya saja hari ini, kalian sedikit berbeda. Biasanya, saat makan tidak setenang ini." potong Arindi untuk mengakhiri perdebatan kedua anaknya.

Arindi menghela nafas, mungkin dia sedang kesal saja sehingga jika ada perubahan disekitarnya membuat sedikit sensitif dan curiga. Atau kesal karena tidak ada yang menyinggung hari ulang tahunnya. Apa mereka lupa atau bagaimana, Arindi penasaran.

"Hufft, kenapa aku begitu kesal. Apa karena bertambahnya usia, dapat mempengaruhi hormon manusia menjadi lebih sensitif ya?", batin Arindi.

"Sayang, aku dan Arsen sudah selesai. Kami berangkat kerja dulu ya", seru Arsen kemudian mengecup kening Arindi. Sedangkan Arsen, mencium tangan Mamanya.

"Arsen juga berangkat kerja ya Ma."

"Hem...kalian hati-hati. Arsen jangan ngebut, ya. Kasian Papamu, nanti kena serangan jantung," Canda Arindi sedikit menggoda suami dan anaknya.

"Ish, aku masih kuat sayang!" bela Ankara dengan bibir maju lima senti.

Arsen dan Aurora hanya tertawa melihat Papanya yang seperti anak kecil, tidak sesuai dengan karakter tegas saat tampil di depan anak buahnya.

"Tenang saja, Ma. Aku akan mengantar suamimu dengan selamat," Jawab Arsen sambil terkekeh.

"Kapan berangkatnya, ya. Sudah jam delapan wahai Tuan - Tuan", sindir Aurora.

"Baiklah, princess Papa yang paling setelah Mama. Kami akan pergi ke kantor." Jawab Ankara dengan senyuman lembut.

Arindi terkekeh saja, "Oiya, nanti kalian pulang jam berapa? Aku ingin mengajak kalian ke suatu tempat. Nanti malam....."

Tiba-tiba Ankara memotong ucapan Arindi, "Maaf sayang, aku lembur hari ini. Aku tidak bisa kemana-mana. Kemungkinan pulang larut malam. Iya kan Arsen?"

"Iya, Ma. Nanti malam kami tida bisa pulang cepat. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan segera dan itu sangat penting. Lain kali saja kita pergi. Maafkan kami...Mama tidak apa-apa kan?"

"Begitu ya......ehm... tidak apa-apa. Acaranya tidak begitu penting kok. Selesaikan saja urusan pentingnya." Ucap Arindi sedikit sendu.

"Mungkin, kau bisa pergi dengan Aurora." Ankara mencoba memberikan saran, sebenarnya dia tidak tega melihat Arindi yang nampak sedih.

Atas saran dari sang suami, mata Arindi memancarkan binar bahagia dan melupakan kesedihannya. Namun kembali meredup, karena jawaban Aurora yang tidak sesuai harapan.

"Tidak bisa! Ehkem... maksudku....itu....maaf Mama, aku tidak bisa menemanimu. Hari ini aku janji penting juga dengan teman-temanku. Aku tidak enak jika membatalkan pertemuan ini secara mendadak. Sekali lagi, maafkan aku ya Ma."

Mendengar penolakan dari ketiganya, membuat Arindi merasa dilupakan dan tidak dianggap sama sekali. Dia berusaha menutupi kesedihannya. Arindi berusaha tegar dan pura-pura tersenyum.

"Ya sudah, kalian pergilah dan hati-hati dijalan. Keperluan kalian lebih penting. Untuk rencana Mama, bisa kapan-kapan saja kalau kalian sempat. Kalau begitu Mama ke kamar dulu", Arindi meninggalkan Ankara, Arsen dan Aurora yang juga dalam perasaan sedih saat melihat kepergiannya.

"Maafkan kami, semoga rencana ini terwujud dan berjalan dengan lancar", batin mereka bertiga kemudian pergi untuk menyelesaikan urusannya masing-masing.

-------

~Flashback Off~

Saat ini, Arindi menuju ke sebuah taman untuk menikmati suasana sore hari. Dia duduk sendiri di dekat kolam pancuran dengan melihat pemandangan anak-anak kecil berlarian sambil tertawa seolah tidak merasakan beban para orang dewasa.

"Waktu segitu cepat, anak-anakku sudah dewasa. Mungkin beberapa tahun lagi aku akan menjadi nenek. Apa yang aku pikirkan," Arindi terkekeh kecil membayangkannya.

"Setelah mereka menikah nanti, apa aku akan ditinggalkan. Hah....hari ini saja mereka melupakan hari spesialku. Ankara juga, apa dia juga tidak mencintaiku lagi. Wajahku juga belum ada tanda penuaan. Masih kencang dan mulus, tidak keriput," racaunya kemana-mana seperti ABG 17 tahunan yang mudah sekali terbawa perasaan.

Arindi terus merenung di taman itu, sesekali makan snack yang dia beli waktu di pusat perbelanjaan. Tak terasa waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Dia sengaja tidak mengabari siapapun dan ponselnya kebetulan 'low bat', toh mereka sibuk dengan kepentingan masing-masing.

Padahal saat ini di kediaman Satya, semua orang menunggu dengan cemas bahkan kedua anaknya tidak bisa melacak keberadaan sang mama. Apalagi Ankara terus uring-uringan takut terjadi apa-apa dengan istrinya. Salah sendiri, mereka yang membuat perkara ke mantan detektif profesional.

"Pa, mama kok belum pulang? Rora takut kalau terjadi sesuatu. Kita salah sama Mama. Nanti aku ingin segera minta maaf ke Mama", tanya Aurora dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Tenanglah, princess. Kita berdoa saja, agar mama segera pulang. Dan semoga kejutan dari kita tidak gagal, ya." Meskipun hatimya juga cemas, Ankara mencoba menenangkan putrinya. Sedangkan Arsen terus melacak keberadaan mamanya. Bahkan meminta bantuan Oliver dan Aira, Wira serta Arkan. Namun, tetap saja nihil karena Arindi memiliki pertahanan sistem anti lacak yang sangat kuat.

*

*

*

Tepat pukul delapan malam, tiba-tiba terdengar suara deru mobil masuk ke garasi. Arindi keluar dari mobil dalam keadaan sangat lelah. Namun saat akan menuju tangga teras rumah, dia kaget. Kenapa rumahnya gelap gulita, apakah terjadi sesuatu saat dirinya pergi. Dia mulai waspada...dengan pelan mencoba membuka pintu. Sepertinya ada hal yang tidak beres.

*Ceklek*

*Dor!*

-----

Bersambung.....

1
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Nonira Seine: Hallo....
Selamat membaca, ya.....🤗🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!