NovelToon NovelToon
Crazy Obsession

Crazy Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Pelakor jahat
Popularitas:185
Nilai: 5
Nama Author: Bertepuk12

Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.

​Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.

​Namun, Afnan belum puas.

​Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.

​"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."

​Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.

​Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?

#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

"Jadi Wiliam apa tugasku kali ini?" Afnan bertanya dengan penasaran, jiwanya begitu antusias sebab baru pertama kali masuk kerja, dan tak sabar mendapat gaji tentunya. Padahal baru setengah hari ia bekerja.

Mengedipkan netranya, Wiliam menggaruk tekuk leher binggung, "Kau bisa mulai mengerjakan tugas besok, ngomong-ngomong apa kau memiliki hubungan khusus dengan Tuan Algio?"

"Tidak, kita hanya teman," Afnan meneliti dokumen yang berjejer rapi di mejanya, lantas mengalihkan perhatian, menatap Wiliam, "Toh aku sudah mempunyai suami."

"A-pa!?" Wiliam reflek mundur selangkah tak percaya, lalu mengapa kelakuan dua manusia itu tidak seperti seorang teman? Malah seperti dua yang kekasih yang saling mencintai.

Menggelengkan kepala, Afnan duduk dengan nyaman sembari memperhatikan wajah Wiliam yang nampak terkejut, "Kenapa kau terkejut?"

"Seorang teman mana ada yang berpelukan seperti teletubbies seperti itu, jangan bercanda." Wiliam masih menolak untuk percaya, bagaimana bisa dua sejoli yang seolah memiliki hubungan itu ternyata hanya teman?!

Decakan kecil terdengar, "Ada, aku dan Algio."

"Kau harus tau, jika wanita dan pria berteman pasti salah satunya menyimpan perasaan." Wiliam menyenderkan tubuhnya di dinding, menatap penuh penasaran.

Mendengar itu membuat Afnan tertawa, hayy demi Tuhan, ia dan Algio memang murni berteman, tidak ada perasaan lebih di antara mereka berdua, semasa bangku perkuliahan mereka bahkan lebih romantis dari pada ini.

"Mana ada, aku dan Algio itu murni berteman, Wiliam. Hanya saja mungkin beberapa orang berpikir jika kami sepasang kekasih." Afnan tersenyum, meluruskan kesalahpahaman.

"Lalu, apa Tuan Algio tau jika kau sudah bersuami?" Wiliam kembali bertanya dengan sorot netra yang begitu penasaran, seolah rasa ingin taunya harus terpenuhi.

Afnan mengangguk, "Tentu saja tau, dia bahkan mengirimkan hadiah pernikahan berupa Vila."

"Hadiah pernikahan berupa Vila? Sungguh?" Wiliam memastikan kembali, seolah sedikit tak percaya.

Pria itu menggelengkan kepala tak percaya, "Vila? Bukan hanya setumpuk piring cantik atau gelas seperti hadiah pernikahan pada umumnya?" Cercanya heran.

​Afnan terkekeh pelan melihat reaksi Wiliam, "Ya, sebuah vila, dia memang sedikit berlebihan dalam memberi hadiah." Jawabnya santai sambari mulai membuka salah satu dokumen di mejanya, berpura-pura membacanya.

"Berlebihan itu bukan kata yang tepat, Afnan. Itu namanya sangat berlebihan. Apa suamimu tidak cemburu dengan kemurahan hati Tuan Algio?"

Sejenak Afnan terdiam, lantas ia menghentikan aktivitasnya, pandangannya lurus menatap lawan bicara, "Suamiku? Dia tidak cemburu."

Tentu saja Afnan harus memilih jawaban dengan hati-hati, tidak ada gunanya menjelaskan kepada Wiliam bahwa pernikahan mereka adalah jebakan rasa obsesinya, mungkin jika ia bercerita Wiliam akan kabur sendiri.

"Suamiku bukan tipe orang yang mudah cemburu, apalagi hanya karena hadiah dari teman, dia tahu persis batasan antara aku dan Algio." Afnan berseru pelan, menutupi kebohongan.

Bagaimana bisa cemburu, jika saja Dareen tidak memiliki rasa cinta untuknya?

​"Begitukah?" Wiliam tampak sedikit kurang yakin, tetapi ia berusaha menahan diri untuk tidak bertanya lebih lanjut tentang hubungan wanita di depannya, walaupun masih begitu penasaran.

​"Baiklah, aku mulai paham." Lanjut Wiliam, pria itu meluruskan postur tubuhnya dan menghela napas panjang.

Afnan mengangguk, "Ya, begitulah."

Decakan kecil terdengar, Wiliam memutuskan untuk mengalihkan topik, "Tuan Algio adalah teman yang sangat baik dan royal rupanya, kau tau? Baru kali ini beliau mewawancarai pekerjanya secara langsung."

​"Berarti aku beruntung?" Tanya Afnan tertawa pelan, puas karena akhirnya Wiliam memutuskan untuk tidak mengorek lebih dalam mengenai hubungannya dengan Dareen.

"Sekarang, bisakah kita kembali ke topik tugasku? Aku serius ingin segera bekerja."

​Wiliam kembali menggaruk lehernya yang tidak gatal, "Sebenarnya, Afnan, kau adalah sekretaris Tuan Algio, tugas utamamu adalah mengatur jadwalnya, mengelola komunikasi, dan memastikan semua keperluannya terpenuhi, namun kau baru pertama kali masuk, jadi lebih baik tidak usah bekerja hari ini."

"Lalu gajiku?"

"Gaji? Tentu saja tetap full, memangnya kau ingin berbagi gaji denganku?" Wiliam tersenyum kaku, sedikit jengkel.

Memutar bola matanya jengah, Afnan melempar tutup bolpoin pada Wiliam, "Kau yang seharusnya memberiku sumbangan uang!" Ketusnya.

"Memberimu uang? Yang benar saja! Bahkan apartemenku saja belum lunas tahun ini!" Wiliam berseru kesal, kembali mengingat tagihan apartemen dan cicilan mobilnya yang belum lunas.

Mengerjabkan netranya, Afnan melirik wajah memelas Wiliam yang menyedihkan, "Jadi, jika tidak dilunasi kau akan luntang-lantung? Aku memberi saran tidur di bawah got, Wiliam."

"Ka-u!" Wiliam mengertakan giginya, menahan amarah, "Jahat sekali bibirmu itu, menyarankan aku bertempat tinggal dibawah got, kau pikir aku tikus?"

Suara tawaan kecil terdengar, "Aku tidak berkata kau tikus, loh." Afnan mengacungkan kedua tanganya ke atas tanda menyerah.

​ "Sudah, jangan membahas cicilanku lagi."  Wiliam berdecak, tak ingin semakin pusing membicarakan cicilannya.

"Hari ini daripada nganggur, kau bisa membaca SOP perusahaan, mempelajari jadwal Tuan Algio sebulan ke depan, dan mungkin mengatur meja kerjamu agar lebih nyaman. Anggap saja ini sesi pengenalan dan adaptasi." Wiliam menunjuk tumpukan map tebal di sudut meja Afnan.

​"Hanya itu?" Afnan menatap tumpukan SOP itu dengan sedikit rasa malas.

​"Ya, dan jika ada yang tidak kau mengerti tentang perusahaan, kau bisa bertanya padaku."

​"Baiklah, aku mengerti."

Mendengar itu, ​Wiliam tersenyum tipis, berdiri lebih tegak, "Jika begitu aku tidak akan menganggumu lagi, jangan sungkan memanggilku jika butuh bantuan."

​Anggukan kepala Afnan perlihatkan, sembari melihat punggung Wiliam yang mulai menghilang dari pandangan, meninggalkan ia bersama keheningan tanpa suara.

"Kak Dareen mau menjemputku tidak ya?" Afnan terdiam, bibir itu ia tekuk dalam, sedang mempertimbangkan, ia sudah mengirim pesan dua jam yang lalu dan sang suami belum membalas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!