“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”
“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.
“Sebagai manusia.”
“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”
“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”
999 tahun pencarian....
“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”
PLAK!
“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.
Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07. Rencana Pendekatan
“Ivory, tolong berikan berkas laporan ini kepada Tuan Rowan di ruangannya.”
Sebuah suara datar dan penuh nada memerintah yang tak mampu Ivory tolak begitu saja. Langkah Ivory terhenti. Ia menarik napas, menghitung sampai tiga, lalu berbalik dengan senyum profesional yang terasa kaku di wajahnya.
“Baik, Kak!” katanya singkat.
Ivory menerima berkas laporan tersebut dengan hati yang berat. Ia baru beberapa jam yang lalu diseret oleh Kakaknya keluar dari ruangan itu dan berjanji untuk selalu menjaga jarak. Tapi kini… ia harus kembali bertemu dengan bos gilanya hanya untuk memberikan laporan.
“Ouh, Ivory… kau ingin ke ruangan Tuan Rowan ‘yah? Kalau begitu tolong sekalian aku minta tolong padamu untuk memberikan berkas ini agar diperiksa oleh Tuan Rowan. Jika sudah tidak ada masalah sekalian minta tanda tangannya.”
Senior yang lainnya ikut menambahkan pekerjaan untuknya. Kali ini Ivory tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju memberinya bantuan. Kini setumpuk berkas sudah berada di tangannya, kakinya ia paksa melangkah menuju ruangan yang seharusnya ia hindari apapun alasannya.
“Terima kasih, Ivo!” ucap kedua seniornya itu.
“Kak Elena pasti akan memarahi kalau tahu tentang ini,” pikir Ivory pahit. “Sudahlah, lagipula aku bekerja di sini. Jadi, sudah menjadi hal wajar atasan dan bawahan harus bertemu untuk membahas pekerjaan.”
...****************...
Tidak ada pilihan lain, jika Ivory ingin tetap mempertahankan pekerjaan pertamanya itu. Ia harus melaksanakan semua pekerjaannya sebaik mungkin meski harus bertemu dengan bos gila yang ingin sekali ia hindari. Dengan langkah yang semakin berat, Ivory berjalan menuju ruangan Ceo berada. Mengetuk pintu ruangan itu dengan pelan.
Sampai terdengar suara perintah dari dalam sana.
“Masuk!”
Ivory menghela napas panjang, sebelum ia mendorong pintu di depannya dan melangkah masuk. Tatapan mereka langsung bertemu, dimana keduanya sama-sama terkejut seolah tatapan itu tidak asing bagi satu sama lain. Hingga senyuman Ragnar segera menyadarkan Ivory akan peringatan sang kakak.
“Tuan, saya diperintahkan untuk memberikan laporan ini kepadanya. Sementara, bagian ini diminta anda untuk memeriksanya. Jika tidak ada yang perlu diperbaiki… silakan berikan tanda tangan persetujuan anda,” jelasnya cepat, berharap ada celah untuk segera kabur dari sana.
Ragnar menatap sekilas tumpukan berkas yang baru saja diletakan di mejanya. Kemudian, pandangan kembali teralihkan pada sosok Ivory yang masih berdiri di depannya sembari menundukkan wajahnya seakan berusaha menghindari tatapan Ragnar. “Baiklah, aku akan memeriksanya. Kau bisa duduk di sana sampai aku selesai memeriksanya.”
“Baik,” ucap Ivory, ia akhirnya berjalan menuju sofa yang tersedia di sana dan duduk tenang sesuai yang diperintahkan. Meski dalam hatinya menggerutu, “Kenapa pula aku harus duduk di sini sampai dia selesai memeriksanya? Padahal dia bisa saja menyuruhku datang kembali hanya untuk mengambilnya.”
Diam-diam Ragnar terus menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang ia perlukan untuk memeriksa laporan tersebut. Sampai Ragnar menyadari bahwa Ivory masih karyawan baru dan seharusnya belum memberikan laporan apapun dari hasil pekerjaan yang ia kerjakan. “Tunggu? Apakah ini laporan yang kau buat?”
“Bukan, Tuan! Saya hanya diminta oleh senior saya untuk mengantarkannya kepada anda, sebab karyawan baru seperti saya belum ditentukan bagian pekerjaannya dengan pasti,” jawabnya gugup.
Ivory menahan desahan ingin menggerutu. Selalu begitu. Setiap kali ia menjauh satu langkah, pekerjaan menyeretnya dua langkah lebih dekat pada Bos Gilanya. Namun, tidak bagi Ragnar yang tersenyum penuh arti saat mengetahui reinkarnasi ratunya itu belum ditentukan jenis pekerjaannya. Sehingga memunculkan sebuah ide berlian di kepalanya.
“Bagus, rupanya Moon Goddess sedang berusaha membantuku,” ucap Ragnar dalam hatinya.
Ruang megah itu terlalu kecil untuk jarak yang ingin ia ciptakan. Kini Ragnar bahkan duduk berseberangan dengannya, berkas laporan masih berada di tangannya, lalu lemparan berkas laporan itu membuat Ivory sedikit terkejut.
“Bagian analisis risikonya ada sedikit kekeliruan. Katakan pada pemilik laporan ini untuk memperbaiki laporannya hari ini juga,” ujar Ragnar pelan.
Ivory mendongak. “Ba-baik, Tuan! Apakah hanya ini saja…”
“Yang ini perlu divalidasi,” balas Ragnar, melempar berkas laporan lainnya agar Ivory bisa melihat.
“Kalau begitu saya akan segera menyampaikannya,” suaranya terdengar lebih gugup dari yang terlihat.
Dan dengan cepat Ivory langsung meraih kedua berkas tersebut, beranjak dari tempat duduknya berniat segera berlari pergi dari ruangan tersebut sampai lupa akan tata krama yang mesti diperhatikan kepada seorang atasan.
“Aah… maafkan saya. Saya mohon undur diri dulu, Tuan!” ucapnya lirih seraya sedikit membungkukkan tubuhnya.
Ragnar tidak tersinggung. Justru senyum kecil muncul di sudut bibirnya. “Hmm, pergilah!”
Kalimat itu menggantung di udara. Dimana Ivory langsung menutup pintunya dengan suara yang cukup keras, mengingat Ivory yang merasa gugup tanpa ia ketahui alasannya. “Ivory kau fokus kerja saja. Ingat kata Kak Elena, sebisa mungkin jaga jarak.”
Setelah bergumam seperti itu, Ivory bergegas pergi untuk menyampaikan sesuai yang Ragnar katakan. Ia berusaha kembali fokus untuk bekerja, tetapi perasaan aneh di hatinya setiap kali mengingat wajah bos gilanya itu membuatnya malah semakin tidak fokus.
Pikirannya mengatakan untuk menghindar, tetapi hatinya seolah mengatakan yang sebaliknya. Hatinya seolah terus menyuruhnya untuk semakin dekat bos gilanya itu dan … Ivory tidak tahu apa alasannya.
Beberapa menit kemudian, pintu ruangan Ceo kembali terbuka setelah terdengar beberapa kali suara ketukan. Denzel muncul dengan penuh percaya diri, setelah mendapat panggilan untuk datang menemui Rajanya itu.
“Denzel, perintahkan HRD untuk menempatkan Ivory sebagai sekertaris cadanganku,” ujar Ragnar dengan senyuman yang terus merekah di bibirnya.
“Dengan begitu aku bisa dengan mudah mendekatinya dan memastikan tentang tanda itu.”
Denzel menoleh cepat. “Wah, ide bagus? Bagaimana bisa kau memikirkannya, Yang mulia?”
“Dia sendiri yang memberitahukan ide itu barusan,” jawabnya santai.
Denzel tertawa kecil, di matanya tingkah Ragnar saat ini sangat lucu seperti Vampir yang sedang pertama kali jatuh cinta. “Baik, Yang Mulia. Aku akan segera menyampaikan tentang ini kepada pihak HRD.”
“Masalahnya sekarang adalah wanita bernama Elena itu, kakak perempuannya,” Ragnar menatap Denzel dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Sebab saat ini, kita tidak mengetahui apakah benar dia juga reinkarnasi dari penyihir hitam atau bukan? Apakah dia mengingat kejadian di masa lalu atau seperti Ratuku, tidak mengingat apapun? Kita harus waspada terhadapnya.”
“Kau benar, Yang mulia! Bahkan ekspresinya saat membawa adiknya keluar dari ruangan ini seolah-olah dia mengetahui sesuatu tentang kita,” ujar Denzel membenarkan.
“Bisakah aku mempercayakan dia padamu, Denzel?”
“Tentu, Yang Mulia! Memang aku yang paling tepat untuk menyusuri jejak sihir hitam padanya.” Denzel menerima perintah tersebut dengan senang hati.
Bersambung ….
Penyihir putih kita yang tampan menawan....
Tapi, apakah Ragnar akan nyerah gitu aja? Pasti Ragnar akan semakin gencar mendekati Ivory dan terus mencari tanda itu..
Iya ngga sih... 😩
Terus kapan nih, Ragnar lihat tanda dibelakang telinganya Ivory... Ngga sabar pengen lihat reaksinya... 😋
Meskipun Ragnar udah yakin kalo Ivory reinkarnasi Ratu nya, tapi Ragnar belum lihat tanda itu kan? 😌😌😌
Penyihir hitam dan Ratu Vampir emang kakak beradik, tapi mereka terpisah. Gitu yah?
Ivory mau bilang apa yah ke Elena? Apa Ivory udah tahu, kalau dirinya adalah reinkarnasi dari Ratu Vampir? 🤔