"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"
Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.
Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.
Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.
Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pusaran Air dan Sindiran Tajam
Napas Rosie putus-putus, seolah paru-parunya sedang dipaksa bekerja lembur tanpa bonus kompensasi. Kain jarik yang melilit kakinya benar-benar menjadi musuh terbesar dalam pelarian pagi ini.
Setiap langkahnya tertahan oleh potongan kain yang sempit, membuatnya harus mengangkat kain itu sedikit ke atas, agar jalannya lebih leluasa. Namun, rasa penasaran untuk melihat ujung dunia ini mengalahkan rasa sesak di dadanya.
Sepanjang jalan setapak yang berdebu, Rosie berpapasan dengan beberapa orang yang sedang beraktivitas. Dia segera menyadari satu hal penting mengenai kasta.
Rakyat biasa yang dia temui mengenakan kain lurik kasar dengan warna-warna kusam seperti cokelat kayu atau abu-abu yang sudah pudar. Pakaian mereka tampak sangat sederhana dibandingkan dengan apa yang dia kenakan sekarang.
Meskipun yang dipakai Rosie hanyalah pakaian sehari-hari untuk berada di dalam Kediaman Jati Jajar, bahan katun merah bata miliknya terlihat jauh lebih halus dan mahal di bawah terik matahari. Motif garis-garis sederhana pada jariknya masih memancarkan kesan kemewahan yang tidak dimiliki oleh warga kelas bawah.
Dia merasa seperti lampion merah yang menyala di tengah kerumunan orang-orang yang berpakaian kusam.
Warga yang dia temui sangat beragam. Ada lelaki tua yang memikul sekeranjang sayuran, hingga wanita muda yang menggendong bakul besar di punggungnya.
Anak-anak kecil berlarian tanpa alas kaki, hanya mengenakan kain ikat pinggang sederhana untuk menutupi bagian bawah tubuh mereka. Rambut mereka yang berantakan terkena debu jalanan memberikan kesan kehidupan yang keras.
Langkah kaki Rosie akhirnya membawanya ke tepian Sungai Amerta yang legendaris. Di seberang sana, pemandangan terlihat jauh lebih hidup dan ramai.
Dia bisa melihat kerumunan orang yang sedang bertransaksi di pasar, di mana aroma tajam cengkeh dan kayu manis tercium hingga ke sini. Di tepian sungai, belasan perempuan sedang sibuk beraktivitas, ada yang mandi, tapi lebih banyak yang mencuci pakaian di atas bebatuan yang landai.
Begitu sosok Merah itu muncul di pinggir sungai, suasana riuh rendah di sana mendadak berubah menjadi bisik-bisik yang tajam. Para perempuan itu saling menyenggol lengan satu sama lain dengan pandangan yang tidak ramah.
"Lihat itu, Kirana Merah datang," bisik seorang perempuan paruh baya sambil terus mengucek kain luriknya yang kasar.
"Tidakkah dia malu muncul di sini setelah membuat adiknya tersiksa?" timpal perempuan lain dengan nada sinis yang sengaja dikeraskan. "Putih baru saja pulang mencuci pagi lewat, tapi dia sudah dipaksa kembali lagi ke sini karena kemauan kakaknya yang tidak punya rasa kasihan itu."
"Benar kata orang-orang, dia memang sudah kehilangan kewarasannya," sahut seorang gadis muda yang sedang membilas rambutnya di sungai. "Mana ada keluarga ningrat yang bertingkah seperti orang kesurupan di pinggir jalan?"
Rosie mendengar semua itu. Nama "Trajuningrat" yang seharusnya melambangkan keadilan mulia, kini justru disebut dengan nada mengejek sebagai bungkus dari kebusukan hati penghuninya.
Dia ingin membalas, ingin mengatakan bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang kejadian kemarin, tapi rasa hausnya akan jawaban lebih mendesak.
Sungai ini ... apa iya ini sungai yang diceritakan itu? pikir Rosie sambil menatap aliran Amerta yang jernih tapi dalam.
Dia terpaku melihat riak airnya, teringat pada dongeng tentang baju yang hanyut dan nenek misterius dengan labu ajaibnya.
Rosie melangkah lebih dekat ke arah air, mencoba melihat kejernihan sungai tersebut dengan lebih jelas.
Namun, kakinya yang tanpa alas menyentuh permukaan batu yang ditumbuhi lumut licin.
"Waaa!"
Pluk! Byur!
Rosie tergelincir dengan posisi yang sangat tidak anggun. Tubuhnya terperosok ke dalam air sungai, membuat kemben merahnya basah kuyup dan menempel ketat di kulitnya. Seluruh perempuan di tepian sungai meledak dalam tawa yang penuh ejekan.
"Rasakan itu! Air Amerta sedang mencoba mencuci hatimu yang hitam!" teriak salah seorang dari mereka sambil tertawa terbahak-bahak.
Rosie berusaha bangkit, tapi air sungai yang dingin membuat otot kakinya kaku secara tiba-tiba. Rasa ngilu yang tajam menjalar dari pergelangan kaki yang sepertinya terbentur batu saat jatuh tadi. Dia meringis kesakitan sambil mencoba memegangi kakinya yang berdenyut.
"Nona! Ampun, Nona!" teriakan panik terdengar dari arah jalan setapak.
Laras dan Gendis berlari kencang menuju arah sungai, diikuti oleh dua pria tegap yang mengenakan rompi terbuka dan ikat kepala kain polos. Mereka berempat langsung menghampiri Rosie yang masih terduduk di air dangkal.
"Nona! Ayo kita pulang sekarang sebelum Nyonya Besar tahu Nona melarikan diri sampai ke sini!" desak Gendis sambil mencoba menarik lengan Rosie agar berdiri.
"Aduh! Sakit! Kakiku sakit!" teriak Rosie sambil menahan tangis karena rasa ngilu yang semakin menjadi.
"Lihatlah, manja sekali. Terpeleset sedikit saja sudah merengek seperti bayi," sindir seorang perempuan yang sedang mencuci di batu sebelah.
"Padahal Putih kemarin kedinginan sampai menggigil saat mencuci pakaianmu, tapi dia tidak berteriak sedikit pun!"
Rosie memejamkan mata, menahan rasa kedinginan dan malu yang campur aduk. Dia menyadari bahwa tidak ada gunanya membela diri di tempat di mana dia sudah dicap sebagai tokoh jahat. Dia menatap dua pria yang berdiri di depannya dengan pandangan bertanya-tanya.
"Kalian siapa?" tanya Rosie dengan suara bergetar karena menggigil.
Kedua pria itu saling berpandangan dengan wajah yang penuh keterkejutan.
Pria yang bertubuh lebih kekar melangkah maju. "Nona, saya ini Jaka, dan ini Wira. Kami adalah penjaga di Kediaman Jati Jajar yang bertugas menjaga keamanan Nona setiap hari," jawab Jaka dengan nada yang menunjukkan kebingungan mendalam. "Bagaimana mungkin Nona bisa melupakan kami?"
"Sudah, tidak usah diperpanjang urusan itu sekarang!" potong Gendis dengan cepat. "Pikiran Nona memang sedang kacau karena demam."
"Lebih baik kita segera pulang dulu agar Nona bisa mengganti pakaian," tambah Laras sambil membantu Rosie berdiri dengan susah payah.
Wira dan Jaka hanya bisa mengangguk pasrah sambil memapah sang majikan. Mereka berdua merasa sangat heran.
Kabar tentang majikannya yang hilang akal ternyata bukan sekadar gosip belaka. Di mata mereka, Kirana Merah benar-benar sudah tidak mengenali orang-orang terdekatnya.
Sambil dipapah menjauh dari sungai, Rosie masih bisa mendengar suara sinis warga di belakangnya. "Sebagai keluarga Trajuningrat, sungguh memalukan melihatnya seperti itu. Bagaimana bisa keluarga ningrat punya anak yang jahat dan tidak waras sekaligus?"
Rosie hanya bisa tertunduk, membiarkan kain basahnya meneteskan air ke tanah. Dia baru menyadari bahwa berada di dunia dongeng bukan hanya soal menghadapi ibu tiri, tapi juga tentang menanggung kebencian kolektif dari orang-orang yang menganggapnya sebagai iblis.
Coba kalian kasih aku bintang 5, like, komen, gift gratisan juga gapapa, biar aku semangat update bab gitu, terimakasih cintakuhhh
Terus subscribe cerita ama follow juga boleh
maaf yak banyak minta hihi /Shy/