NovelToon NovelToon
Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: bg.Hunk

Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Sesuatu yang retak

Ruang di dalam mobil sebenarnya tidak berubah.

Masih sama luasnya. Masih sama sunyinya.

Namun entah kenapa, hari itu terasa berbeda.

Udara di dalamnya seperti lebih berat… sedikit pengap, membuat napas terasa pendek.

Gina duduk di kursi penumpang, menatap lurus ke depan.

Azmi di balik kemudi, memegang setir tanpa benar-benar fokus.

Keduanya diam.

Bukan diam yang nyaman.

Lebih seperti masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Beberapa menit berlalu.

Azmi melirik sekilas ke arah Gina.

Di kaca jendela, pantulan wajah Gina terlihat samar—murung, jauh, seperti memikirkan sesuatu yang tidak ingin ia bagi.

Azmi ingat.

Sejak tadi pagi, Gina memang lebih banyak diam.

Tapi kali ini berbeda.

Diamnya terasa lebih dalam… seperti ada sesuatu yang mengganjal.

Azmi ingin bertanya.

Namun ia ragu.

Ia tidak tahu batasnya.

Tidak tahu apakah ia punya hak untuk masuk ke ruang pribadi Gina.

Apalagi… ia sadar siapa Gina.

Anak keluarga besar.

Lingkungan yang berbeda darinya.

Ia menahan diri.

Namun Gina ternyata menyadari lirikan itu.

Ia menoleh pelan.

“Tadi…” ucapnya singkat.

Nada suaranya dingin.

“Kamu sama Ica ngapain?”

Azmi sedikit kaget, tapi tetap menjawab santai.

“Cuma ngobrol sebentar.”

Jawaban itu justru membuat Gina makin tidak nyaman.

Terlalu santai.

Terlalu ringan.

Seolah kejadian tadi tidak berarti apa-apa.

Padahal di kepalanya, momen itu berputar sejak tadi.

Payung.

Lapangan.

Gerbang.

Azmi… dan Rahmalia.

Entah kenapa, dada Gina terasa sesak setiap membayangkan Azmi dekat dengan Rahmalia.

Ia menarik napas pendek.

“Denger ya,” katanya tiba-tiba.

“Ica itu sahabat aku. Dia polos banget.”

Azmi melirik.

“Dia nggak suka kalau ada cowok yang deketin,”

lanjut Gina.

“Nggak suka disentuh juga. Dari kecil emang gitu.”

Azmi justru tersenyum kecil.

“Berarti dia belum pernah pacaran, dong?”

Kalimat itu sederhana.

Tapi bagi Gina, rasanya seperti disiram bensin.

Dada yang tadi sesak… sekarang terasa panas.

“Kayaknya nggak mau,” jawab Gina cepat.

“Dia tipe yang fokus belajar. Bahkan Dio yang sedeket itu aja… belum pernah megang tangan dia.”

“Oh ya?” balas Azmi ringan.

Jawaban itu terlalu ringan.

Seolah tidak menangkap maksud di balik semua yang Gina katakan.

Gina terdiam beberapa detik.

Lalu tiba-tiba ia berbalik menatap Azmi.

“Awas aja kalau kamu deketin dia.”

Azmi mengernyit.

“Kenapa kamu marah kalau aku deketin dia?”

Pertanyaan itu langsung membuat Gina tersentak.

Ia salah tingkah.

Tatapannya berpindah ke luar jendela.

“Aku nggak marah,” jawabnya cepat.

“Cuma… aku lagi jaga sahabat aku dari kamu.”

Kalimat itu keluar.

Namun bahkan Gina sendiri tahu—

itu bukan sepenuhnya tentang Rahmalia.

Dan Azmi… mulai menyadari sesuatu.

Bukan dari kata-kata Gina.

Tapi dari cara suaranya sedikit bergetar saat menyebut nama Rahmalia.

Tak lama setelah obrolan itu,

ponsel Gina bergetar.

Namanya langsung muncul di layar.

Ayah.

Gina membeku.

Jarinya terdiam di atas layar—tidak langsung mengangkat, tidak juga menolak.

Hanya menatap.

Azmi yang duduk di samping sempat melirik.

Dari pantulan kaca, ia melihat nama kontak itu.

“Ayah?”

Azmi berbicara pelan.

“Kok nggak diangkat?”

Gina tidak langsung menjawab.

Ada ragu. Ada malas. Ada sesuatu yang ia tahan.

Namun ia sadar—Azmi ada di sampingnya.

Ia tidak ingin terlihat bermasalah.

Akhirnya, telepon itu diangkat.

[Halo…]

Suara berat terdengar dari seberang.

[Kamu di mana sekarang?]

“Aku… lagi di jalan pulang.”

Azmi tetap diam, tapi pendengarannya otomatis menangkap percakapan itu.

[Jangan pulang dulu,] lanjut suara itu tegas.

[Hari ini ada les tambahan. Ayah kirim alamatnya.]

Kalimat itu sederhana.

Namun bagi Gina, rasanya seperti beban yang ditaruh lagi di pundaknya.

Sesak.

Ia menarik napas pendek.

Dadanya terasa sempit.

Dan entah kenapa… semua yang selama ini ia tahan tiba-tiba retak.

“Cukup, Yah…”

Suaranya gemetar.

“Gina capek.”

Hening sejenak.

Lalu—

“Gina mau pulang,” lanjutnya.

“Setiap hari belajar… belajar… belajar…”

Nada suaranya mulai pecah.

“Apa nggak bisa kasih Gina napas sebentar aja?”

Azmi refleks menoleh.

Ia tidak pernah mendengar Gina bicara seperti itu.

Tidak pernah.

Dari seberang, suara ayahnya langsung meninggi.

[Kamu ini—!]

[Sejak kapan berani melawan orang tua?!]

[Ini pasti karena kamu kebanyakan main sama keluarga Ros—]

Belum selesai.

Gina langsung mematikan teleponnya.

Tangannya terlipat di pangkuan.

Namun jari-jarinya tak benar-benar diam.

Ujung kuku Gina perlahan menggesek sela-sela jarinya sendiri, berulang… tanpa sadar. Kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali ia menahan sesuatu terlalu lama.

Azmi melihatnya dari pantulan kaca.

Gerakan kecil itu nyaris tak terlihat. Tapi cukup untuk membuat dadanya terasa tidak enak.

Gina tidak setenang yang ia tunjukkan.

Dan untuk pertama kalinya… Azmi mulai mengerti dari mana luka-luka kecil di tangannya berasal.

Gina menarik napas pelan.

“Boleh… pinjam tanganmu?” suaranya lirih.

“Maaf…”

Tanpa menunggu jawaban, tangannya lebih dulu menggenggam lengan Azmi.

Azmi terdiam.

Satu tangannya tetap di setir.

Yang satu lagi… membiarkan genggaman itu ada.

Sepanjang perjalanan, mereka tidak bicara.

Hanya suara mesin mobil.

Dan napas yang sesekali terasa berat.

Genggaman Gina tidak kuat. Tidak juga lemah.

Seperti orang yang tidak tahu harus berpegangan ke mana… lalu memilih yang paling dekat.

Azmi menatap ke depan, tapi matanya sesekali jatuh ke pantulan kaca.

Di sana— mata Gina mulai berkaca.

Seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang terus menekan, mencari jalan keluar.

Saat itu juga Azmi sadar—

Gina yang selama ini terlihat sempurna,

tenang,

kuat…

ternyata selama ini berjuang sendirian.

Beberapa detik berlalu dalam diam yang terasa panjang.

Lalu Azmi berkata pelan—

“…Kalau kamu mau nangis,”

suaranya hati-hati, hampir seperti takut mengganggu,

“nangis aja.”

Ia tetap menatap jalan.

Tidak berani menoleh.

“Aku bakal pura-pura nggak denger.”

Kalimat itu sederhana. Tanpa nada dramatis.

Tapi justru karena itu… terasa jujur.

Gina perlahan menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Dan di detik itu— dadanya terasa seperti diremas dari dalam.

Seolah tembok yang ia bangun bertahun-tahun… mulai retak satu per satu.

Ia mencoba menahan.

Menarik napas.

Menggigit bibir.

Menelan semuanya kembali.

Tapi gagal.

Air mata jatuh lebih dulu.

Pelan.

Lalu satu lagi.

Lalu semuanya runtuh.

Gina menutup wajahnya dengan tangan. Bahunya bergetar hebat.

Tangisannya pecah— tidak rapi, tidak tertahan, tidak peduli siapa yang melihat.

Tangisan orang yang terlalu lama kuat.

Suara isaknya memenuhi ruang mobil.

Mentah. Berantakan. Jujur.

Seolah semua lelah, marah, kecewa, dan kesepian… tumpah bersamaan.

Azmi tetap diam.

Tangannya di setir. Pandangannya lurus ke depan.

Ia tidak menoleh.

Ia benar-benar melakukan apa yang ia katakan— pura-pura tidak mendengar.

Tapi rahangnya mengeras.

Dan untuk pertama kalinya…

ada sesuatu yang terasa berat tumbuh di dadanya.

Bukan sekadar kasihan.

Bukan sekadar peduli.

Melainkan perasaan yang membuatnya ingin— menarik semua beban itu dari bahu Gina… meski ia sendiri tidak tahu caranya.

1
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
apa gina ini anak pertama 🤔
kadang anak pertama itu memang didik lebih keras dari kecil, karena tanggung jawab anak pertama itu besar .
Agryena
aku mampir thor/Hey/
Agryena: Waktu aku baca, ceritanya bagus kak! meskipun aku baru baca sampai eps 6 sih hehe...mungkin nanti aku lanjutin bacanya! Semangat terus ya thor!
total 2 replies
Kaka's
ih malah ngatain.. 🤣🤣
Kaka's
🤣🤣🤣 yo gass
Kaka's
permen marshmallow ini yang kenyal yah??🤭
Serena Khanza
dio tipe cowok yang sering banget ditemui jaman real kek nya dimana-mana ada yg kek dio.. kadang suka gak bisa ditebak dia bercanda atau serius..
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Rahmalia harus bisa beda kan antara rasa suka atau cuma sebatas kagum
Fra
Ik He's Siva son, i just can't prove it
Serena Khanza
dari keseluruhan bab ini kayak ada sesuatu ya rahmalia sama dio terus gina sama azmi..
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Serena Khanza: iya kak ku menunggu 🥰💪🏻💪🏻
semangat kak 💪🏻💪🏻💪🏻
total 2 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Azmi dan Rahmalia cocok deh thor 🤭🤭
Hunk: Udah yakin nih milih kapal mereka.🤣
total 1 replies
Kaka's
😑😑 pasalnya udah ampe 300 an.. pake ayat lagi.. rinci amat tuh anggota dewannya buat aturan. 🤣
Hunk: Terima kasih sudah membaca kak, semoga suka dengan cerita saya🤣
total 1 replies
Kaka's
udah telat masih aja lirik waketosnya 🤣🤣..
Fra
Ini bukan menyemengati ya pren, ancaman halus ini 😩😩
Fra
Orang tua semacam ini bener-bener bisa bikin anak stres berat dan tertekan. Padahal tempat yang diduduki anaknya sekarang bisa aja juga diinginkan orang lain yang belum bisa ngeraih itu semua. Keep Strong, Gina💪🏻 🥹
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
gina baru di tatap gitu aja sama Azmi langsung salting 🤣🤣
Hunk: Wkwk Gina emang gampang salting kalau udah ditatap Azmi langsung 😭
total 1 replies
Fra
Awal-awal aku pikir cuma cerita remaja biasa ih, ternyata ada intrik kaum elite. Aku suka kakak ini dan karyanya 😋
Fra
Dio x Gina juga manis ihh
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
Panda
masih slice of life khas anak sekolah

slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat

cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔
Panda: kann gueeee baca yeeee hueheheheh

oke sep sama sama
total 4 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
sikap Dio ini bisa bikin cwek salah sangka dan akhir nya baper 🤭🤭
Hunk: Iya, Dio memang tipenya gitu—kadang tanpa sadar sikapnya bikin orang lain salah nangkep. Niatnya biasa aja, tapi kesannya jadi beda 😅
total 1 replies
Lukman Mubarok
real life makan di kelas di jam pelajaran🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!