Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.
Tidak ada yang berani menentangnya.
Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.
Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:
kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.
Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.
Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Di tempat lain, dua gadis tampak berlari kecil keluar dari apartemen Anne sampai hampir tersandung karpet.
"Eve!! cepat masuk! Kita MATI kalau telat!" teriak Anne panik sambil memukul-mukul setir mobilnya agar hidup lebih cepat.
Eve masuk sambil kesal, rambut acak-acakan karena terlalu terburu-buru.
"Cepat lajukan mobil mu ini Anne! Kenapa lama sekali sih? Jema bisa nelan kita hidup-hidup!"
"Sabar lah! Kau tidak lihat? INI MACET!" balas Anne sambil membunyikan klakson agresif seperti pembalap yang kehilangan akal.
"Kita sudah sangat terlambat… Jema pasti kecewa…" rintih Eve sambil menatap jam tangan, hampir menangis dramatis.
"Huuh! Kalau aku punya sayap, sudah ku ajak kau terbang daripada dengar ocehanmu!" balas Anne.
"Ck! Cepat LAAAH!"
Dan seperti tersengat listrik, Anne akhirnya memacu mobil seperti pembalap nasional yang sedang dikejar polisi internasional.
Beberapa menit kemudian mobil mereka memasuki area hotel.
Eve sampai ternganga.
"...Anne," suaranya lirih, "apa kita… salah parkir? Ini… ini…"
Anne menelan ludah.
"Ini HOTEL paling mahal se-New York. Teman kita menikah DI SINI??"
"Aku tahu Jema impulsif… tapi TIDAK SE-IMPULSIF INI!" ucap Eve setengah berteriak.
Saat Anne memarkirkan mobil, mereka melihat deretan mobil super mewah dan puluhan pria berbaju hitam dengan ear-piece. Bahkan ada beberapa yang aura dingin.
"Eve…" bisik Anne gemetaran, "kau tidak merinding? mereka seperti sedang menjaga presiden yang mau muncul…"
"Kau benar. Kalau aku salah masuk dan tiba-tiba ditembak, tolong bilang ke ibuku aku mati cantik." jawab Eve dramatis.
Mereka berjalan menuju ruangan VIP ketika dua penjaga berbadan super solid menghentikan mereka.
"Maaf nona, tanpa kepentingan dilarang masuk."
Suara itu dalam, tegas, dan entah kenapa membuat Anne langsung refleks berkata “Iya tuan.”
Lalu sadar dan cepat membantah
"Hmm! Kami tamu Jema. TEMANNYA. Sangat dekat."
"Undangannya?"
Suaranya seperti malaikat maut meminta password surga.
Tentu saja… kedua gadis itu menegang. Jema hanya mengundang lewat omongan, tidak ada undangan fisik.
"Hehehe tidak ada… tapi kami dekat sekali!"
Anne memasang senyum pecicilan yang jelas-jelas tidak meyakinkan.
"Kalau begitu, kalian tidak boleh.."
"Ck!! Menyebalkan! Sehebat apa sih suami Jema ini sampai penjaganya seperti ini?" bisik Anne naik pitam.
Eve memutar otak.
Tiba-tiba wajahnya cerah.
"Aku punya fotonya!"
Ia membuka ponsel dan mencari foto mereka tadi malam.
"Ah..ketemu!"
Dengan penuh kebanggaan, Eve menunjukkan foto itu.
dimana mereka bertiga MABUK.
Jema dengan rambut acak-acakan, posisi duduk di sofa TAPI kepala di bawah dan kaki di atas.
Muka merah. Mata kosong.
Kacau.
Kedua penjaga itu hampir tersedak napasnya sendiri.
"Hmm… baiklah. Silakan masuk," ujar mereka setelah menyamakan ekspresi yg hampir bocor itu.
Saat berjalan pergi Anne mencubit Eve.
"Kau GILA?! Jema bakal ngamuk kalau tahu kau foto dia begitu!"
"Yang penting kita masuk," ucap Eve santai.
Saat pintu ballroom dibuka…
Eve dan Anne terpana.
Ballroom super mewah itu disulap menjadi acara private yang elegan, penuh kalangan miliarder dengan pakaian formal, semua berbicara santai seolah mereka bukan manusia biasa.
"OH. MY. GOD."
Eve hampir kehilangan kemampuan berbicara.
Acara sudah selesai.
Jema… duduk santai di sofa, memainkan ponsel, wajah nya santai tapi dingin.
"JEMA!!!" teriak mereka.
Jema sampai kaget setengah mati.
"Jema! Maafkan kami! Kami TERLAMBAT!" seru Anne terbirit-birit.
"Ini bukan telat… tapi TERLALU telat." jawab Jema ketus.
"Omg Jema, banyak hal yang kami lalui untuk sampai ke sini…" Eve mendramatisir sambil memegang dadanya.
"Benar! Kami bahkan tak berani mengaktifkan ponsel karena bolos kerja!" Anne ikut dramatis.
"Dan karena minum terlalu banyak… kami berdua susah bangun! Maafkan kami!" Eve menutup wajah.
Jema menghela napas.
"Baiklah, baiklah…"
"Kami harus memberi selamat, Jema!"
"Ya ya… aku terharu."
Nada jema datar tapi matanya sedikit melembut.
Eve langsung menatap sekitar.
"Lalu! Mana suamimu? Mana pria tua yang kau bilang itu?"
Jema memutar mata. Malas sekali.
Ia tak bahkan menoleh, hanya mengangguk santai.
"Itu."
Kedua gadis itu menatap arah yang ditunjuk.
Dan…
Eve teriak.
Anne membeku.
"OMG JEMA!! MIMPI APA KA...KAU SEMALAM?!"
Di sana, terlihat Lucane duduk santai bersama tiga tuan muda, memakai jas mahal, gelas wine di tangan, aura bos besar dengan wajah tampan yang menyebalkan tapi mematikan.
Jema mendengus.
"Aku sudah tahu kalian akan seperti ini."
"Jema… kau tidak waras… dimana bagian tua nya? Ini… ini… terlalu sempurna!"
Eve megap-megap.
"INI 1000 kali lipat lebih ganteng dari Soni pacarku!!"
Anne tertawa.
"Soni? tentu saja dia di peringkat terakhir!"
"Ck!!! Juan juga pasti insecure kalau duduk di samping nya!" tambah Eve sambil memegang kepala.
Jema menatap mereka seperti menatap dua petasan rusak.
‘Iya dia tampan… tapi menyebalkan seperti kanebo kering,’ batinnya.
"Jema, kau HARUSNYA bahagia menikahi pria tampan dan kaya begini!" ucap Anne sambil memeluk lengan Jema.
"Kau benar! Dan kami SULIT masuk karena penjaganya tidak percaya kami temanmu!" tambah Eve.
"Lalu apa yang kalian lakukan sampai bisa masuk?" tanya Jema perlahan, curiga.
Eve dan Anne saling pandang.
Eve menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Hehe… kami nunjukin foto kita tadi malam…"
Jema langsung berdiri.
"APA!!!"
"Jema itu satu-satunya cara…" bisik Eve.
"Kalian benar-benar membuat aku tambah sial! Bagaimana bisa kalian menjatuhkan harga diri NYONYA ALEXANDER begitu saja?!"
Eve dan Anne membeku.
"Alex…Alexander…"
Eve menoleh ke Jema.
"JEMAAAA!!! JADI SUAMI MU ITU… TUAN MUDA ALEXANDER?! dan Pria pria tampan itu pasti Millionaire OMG"
Mereka kembali menatap Lucane. Semakin lama semakin shock.
"ASTAGA JEMA!!! KAU MASUK DUNIA MIMPI!!!!" teriak Anne hampir menangis bahagia.
"Ck! Kalau ini mimpi… tolong BANGUNKAN aku."
"JEMA!!!! Aku tidak tahu harus berkata apa lagi… Ini gila… luar biasa… aku"
Eve langsung mengambil satu gelas wine dan menenggaknya habis.
* * * *
Setelah seluruh rangkaian acara berakhir, Jema dibawa Lucane menuju mansion mewah milik pria itu.
Sebuah mobil hitam panjang melaju tenang membelah malam, membawa pasangan yang secara hukum baru saja menikah.
Jema bersandar di kursi empuk, menatap keluar jendela dengan sorot mata sulit dijelaskan.
“Hmmm… masih nggak percaya bakal tinggal di mansion segila ini,” gumamnya pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Di sampingnya, Lucane tetap duduk tegak. Wajahnya datar, fokus pada layar iPad di tangannya, seolah pernikahan barusan hanyalah agenda bisnis yang telah selesai ditandatangani.
Mobil berhenti.
Begitu pintu terbuka, pemandangan pertama yang menyambut Jema adalah barisan pengawal dan maid yang berdiri rapi, lurus, dan seragam. Sikap mereka begitu formal nyaris intimidatif.
“Selamat datang, Tuan dan Nyonya,” ucap mereka serempak.
Jema melangkah turun dengan anggun. Ia memasang senyum ramah, meski di dalam dadanya ada rasa asing yang menggelitik.
Jadi begini rasanya jadi nyonya rumah besar, kekehnya dalam hati.
“Terima kasih semuanya,” jawab Jema sopan.
Lucane melangkah satu langkah ke depan. Suaranya rendah, tenang, dan penuh otoritas.
“Mulai sekarang, bukan hanya saya yang kalian hormati di mansion ini,” ucapnya datar.
“Dia Nyonya Jema adalah istri saya.”
Ucapan itu membuat Jema sedikit tertegun.