Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!
Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.
Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.
Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.
Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengikuti jejak
Mayra duduk di dalam mobilnya yang terparkir di basement parkir The Ritz-Carlton, Jakarta. Tangannya mencengkeram setir dengan erat, buku-buku jarinya memutih. Jantungnya berdegup kencang seperti drum perang, memenuhi telinganya dengan dentuman yang memekakkan.
Sudah sepuluh menit dia di sini, tapi belum juga berani keluar dari mobil.
Apa yang sebenarnya dia lakukan?
Ini gila. Ini sangat gila. Dia sedang mengikuti tunangannya sendiri seperti detektif murahan di film-film thriller. Tapi bagian lain dari dirinya--bagian yang sudah merasakan firasat buruk selama sebulan terakhir--berteriak bahwa dia harus melakukan ini.
Dia harus tahu.
Mayra menatap pantulannya di kaca spion. Wajahnya pucat, matanya merah, bibir bawahnya dia gigit sampai hampir berdarah. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri.
"Tenang, Mayra. Mungkin ini semua salah paham. Mungkin mereka memang ada urusan pekerjaan. Mungkin--"
Tapi kenapa harus sembunyi-sembunyi? Kenapa Arman tidak bilang dia bertemu dengan Zakia?
Dengan tangan gemetar, Mayra membuka tas dan mengeluarkan kacamata hitam besar serta topi baseball yang dia ambil sebelum berangkat dari rumah. Penyamaran sederhana, tapi cukup untuk membuatnya tidak terlalu mencolok.
Dia mengenakan kacamata dan topi itu, lalu menatap pantulannya lagi. Seperti mata-mata amatir, pikirnya dengan senyum pahit.
Mayra keluar dari mobil dan berjalan menuju lift dengan langkah perlahan. Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya diisi timah. Di dalam lift yang berdinding cermin, dia melihat pantulan dirinya, wanita yang terlihat rapuh, ketakutan, tapi tetap nekat.
Ding.
Pintu lift terbuka di lobby lantai dasar. Mayra melangkah keluar, matanya langsung menyapu seluruh area lounge yang mewah dengan sofa-sofa beludru, lampu-lampu kristal, dan musik jazz instrumental yang mengalun lembut.
Tidak ada Arman. Tidak ada Zakia.
Mayra berjalan perlahan menuju lounge, bersembunyi di balik pilar besar sambil mengamati sekitar. Jantungnya berdebar semakin kencang. Beberapa tamu hotel duduk santai sambil minum wine atau kopi, berbincang dengan suara rendah.
Tapi tidak ada orang yang dia cari.
Mungkin mereka sudah pergi? Atau...
Mayra mengeluarkan ponselnya, membuka location sharing lagi. Lokasi Arman masih menunjukkan hotel ini. Berarti dia masih di sini.
Tapi di mana?
Mayra berjalan ke area bar yang sedikit tersembunyi di pojok lounge. Dari sini dia bisa melihat lebih luas tanpa terlalu terlihat. Dia memesan sparkling water dari bartender, karena harus punya alasan untuk duduk di sini. Lalu duduk di kursi bar sambil sesekali menoleh ke arah pintu lift.
Lima menit berlalu seperti lima jam.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
Mayra mulai merasa bodoh. Mungkin dia salah lihat Instagram Story tadi. Mungkin itu bukan Arman dan Zakia. Mungkin dia terlalu paranoid dan sekarang dia di sini seperti orang gila yang--
Pintu lift terbuka.
Mayra sontak membeku.
Arman keluar dari lift. Mengenakan kemeja biru muda dengan celana kain hitam, rambut tersisir rapi, tampan seperti biasa. Tapi yang membuat jantung Mayra serasa berhenti adalah--
Ada Zakia yang berjalan di sebelahnya.
Kakak tirinya mengenakan dress merah bodycon yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, heels tinggi, rambut panjang terurai sempurna, makeup flawless. Mereka berjalan berdampingan, terlalu dekat untuk ukuran "hanya teman" atau "calon kakak ipar".
Mayra bersembunyi lebih dalam di balik pilar, mengintip dengan napas tertahan.
Mereka berjalan menuju lounge, lalu duduk di sofa pojok--sofa yang sama yang Mayra lihat di Instagram Story tadi. Posisi mereka sangat dekat. Arman duduk dengan santai, satu tangannya ada di sandaran sofa di belakang punggung Zakia.
Mayra merasakan sesuatu pecah di dalam dadanya.
Dia tidak bisa mendengar percakapan mereka dari jarak sejauh ini, tapi dia bisa melihat. Dan apa yang dia lihat membuat perutnya mual.
Zakia tertawa-- tawa yang terlalu dibuat-buat, sambil menyentuh lengan Arman dengan jari-jarinya yang manicure sempurna. Arman tersenyum, senyum yang... intim. Bukan senyum sopan untuk calon kakak ipar. Ini senyum yang berbeda.
Seorang waitress datang membawakan minuman--dua gelas wine merah. Mereka bersulang, gelas mereka bersentuhan dengan bunyi kecil yang terdengar sangat... romantic.
Mayra merasakan air mata mulai menggenang. Tangannya gemetar memegang ponsel. Dia harus mengambil foto. Dia harus punya bukti.
Dengan tangan yang hampir tidak terkontrol, Mayra mengarahkan kamera ponselnya dan mulai mengambil foto. Click. Click. Click. Dari sudut yang berbeda, dengan zoom yang cukup jelas tapi tidak terlalu kentara.
Di salah satu foto, Zakia menunduk dekat ke telinga Arman, berbisik sesuatu. Arman tertawa, tangannya menyentuh pinggang perempuan itu sekilas--sangat cepat, tapi Mayra melihatnya. Mayra mengabadikan momen itu.
Lalu yang membuat Mayra hampir tidak bisa menahan isakannya--
Zakia mencium pipi Arman.
Bukan kecupan singkat sopan. Tapi kecupan yang berlama-lama di pipi, bibir Rania hampir menyentuh sudut bibir Arman.
Dan Arman tidak menolak. Malah tersenyum. TERSENYUM.
Click.
Mayra mengambil foto itu dengan air mata yang sudah mulai mengalir di pipinya. Tangannya bergetar hebat, tapi dia paksa tetap steady. Bukti. Dia butuh bukti.
Mereka berbincang lagi, semakin intim. Tangan Arman sekarang benar-benar memeluk bahu Zakia. Lalu Zakia bersandar ke dada Arman dengan nyaman, seolah itu posisi yang sudah biasa mereka lakukan.
Mayra tidak tahan lagi.
Dia berdiri dengan tergesa, hampir menjatuhkan gelas sparkling water-nya. Bartender menatapnya dengan khawatir.
"Are you okay, Miss?"
Mayra mengangguk cepat sambil merogoh dompet, melempar beberapa lembar uang di atas bar, lalu berjalan cepat menuju lift. Dia harus pergi dari sini. Sekarang. Sebelum dia benar-benar breakdown di tempat umum.
Di dalam lift, Mayra melepas kacamata hitamnya. Air mata mengalir deras. Dadanya sesak, napasnya pendek-pendek. Tangannya masih gemetar memegang ponsel yang berisi foto-foto yang menghancurkan hatinya.
Ding.
Lift terbuka di basement. Mayra berlari menuju mobilnya, membuka pintu dengan tergesa, masuk, dan mengunci pintu. Lalu dia pecah.
Tangisan keras keluar dari mulutnya, air mata mengalir seperti air terjun. Dadanya terasa seperti diremas, seperti ada yang menikam jantungnya berulang kali. Tangannya memukul setir mobil dengan frustasi, amarah, dan sakit hati yang luar biasa.
"KENAPA?!" teriaknya di dalam mobil yang sunyi. "KENAPA KALIAN LAKUKAN INI PADAKU?!"
Dia menangis sampai suaranya serak, sampai air matanya terasa kering, sampai dadanya sakit karena terisak.
Arman. Tunangannya. Pria yang sudah dia pacari selama tiga tahun. Pria yang melamarnya setahun lalu dengan janji setia selamanya. Pria yang seharusnya menikahinya seminggu lagi.
Berselingkuh.
Dengan kakak tirinya sendiri.
Zakia. Kakak tiri yang selama ini sudah membuat hidupnya sengsara sejak ibu tirinya masuk ke rumah mereka. Kakak tiri yang selalu iri dengan apa pun yang Mayra miliki. Kakak tiri yang sekarang merebut tunangannya.
Betapa bodohnya Mayra tidak menyadari ini lebih awal.
Semua tanda-tanda sudah ada. Arman yang berubah dingin. Zakia yang tiba-tiba terlalu "baik" dan menawarkan diri jadi bridesmaid. Meeting-meeting mendadak Arman. Kebohongan-kebohongan kecil.
Semuanya sekarang masuk akal.
Dan yang paling menyakitkan--mereka berdua melakukannya di belakang Mayra dengan santainya. Tertawa bersama. Minum wine bersama. Bersentuhan dengan intim seolah Mayra tidak ada.
Seolah Mayra tidak akan menikah dengan Arman seminggu lagi.
Seolah Mayra bukan apa-apa.
Mayra menatap cincin pertunangan di jari manisnya. Berlian sebesar satu karat yang dulu membuatnya menangis bahagia. Sekarang cincin itu terasa seperti lelucon kejam.
Dia ingin melepasnya. Ingin melemparnya keluar jendela. Tapi tangannya tidak bergerak.
Karena bagian kecil dari hatinya--bagian yang bodoh dan naif--masih berharap ini semua mimpi buruk. Berharap besok dia akan bangun dan semuanya kembali normal.
Tapi ini bukan mimpi.
Ini kenyataan.
Dan Mayra harus memutuskan apa yang akan dia lakukan.
Dengan tangan gemetar, dia membuka galeri ponselnya. Foto-foto yang baru dia ambil terpampang jelas. Arman dan Zakia. Terlalu dekat. Terlalu intim. Terlalu... bersalah.
Ada puluhan foto. Dari berbagai sudut. Bukti yang tidak bisa dibantah.
Mayra juga membuka video recorder dan merekam beberapa detik interaksi mereka dari kejauhan, cukup untuk menangkap bagaimana mereka tertawa bersama, bagaimana tangan Arman memeluk Zakia, bagaimana Zakia mencium pipi Arman.
Bukti.
Mayra punya bukti.
Tapi untuk apa?
Apakah dia akan membatalkan pernikahan? Menghadapkan mereka dengan bukti ini? Atau...
Tiba-tiba sebuah ide gila muncul di kepalanya. Ide yang sangat gila, tapi entah kenapa terasa... benar.
Mayra tidak akan membatalkan pernikahan.
Dia akan datang ke pernikahan itu.
Mengenakan gaun pengantinnya yang indah.
Berjalan di aisle dengan kepala tegak.
Dan dia akan menghancurkan mereka di depan semua orang.
Bukan hanya Arman dan Zakia yang akan malu. Tapi seluruh keluarga mereka. Semua tamu. Semua orang yang menganggap mereka pasangan sempurna.
Mayra akan membongkar semuanya.
Tapi tidak sendirian.
Dia butuh... back up. Dia butuh seseorang yang akan membuatnya terlihat kuat, bukan sebagai korban yang menyedihkan.
Dan tiba-tiba, wajah seseorang muncul di pikirannya.
Dev Armando.
Paman Arman. Pengusaha sukses. Pria yang sangat berkuasa. Pria yang--jika Mayra ingat dengan benar dari risetnya beberapa hari lalu--punya reputasi sempurna dan pengaruh luar biasa.
Menikahi paman dari Arman di depan semua orang akan menjadi tamparan paling keras untuk keluarga Prasetyo.
Akan membuat Arman dan Zakia menyesal seumur hidup.
Akan membuat semua orang tahu bahwa Mayra Andini Kusumo bukan wanita yang bisa diinjak-injak.
Tapi... bagaimana caranya meyakinkan Dev Armando--pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik--untuk melakukan hal segila itu?
Mayra menghapus air matanya dengan punggung tangan. Matanya yang tadi sembab sekarang berubah tajam. Penuh penekanan.
Dia akan mencari cara.
Dia punya tujuh hari untuk menyusun rencana.
Tujuh hari untuk mengumpulkan lebih banyak bukti.
Tujuh hari untuk mempersiapkan balas dendam terbesar dalam hidupnya.
Mayra menyalakan mesin mobilnya. Dia menatap pantulan dirinya di kaca spion--wajah yang tadi penuh air mata sekarang terlihat berbeda. Lebih keras dan lebih kuat.
"Kalian akan menyesal," bisiknya dengan suara rendah yang penuh ancaman. "Kalian berdua akan menyesal seumur hidup karena mengkhianatiku."
Lalu dia menginjak gas dan melaju keluar dari basement parkir hotel, meninggalkan tempat di mana hatinya baru saja hancur berkeping-keping.
Tapi Mayra tidak akan terpuruk.
Dia akan bangkit.
Dan dia akan membalas.
****
Bersambung...
menunggu mu update lagi