Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Walaupun Belum Yakin, Tapi, Syafina Merasa Sangat Sedih
Sejenak Pak Erkana menoleh ke samping istrinya, ia seakan tidak sanggup mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Erlaga.
Pak Erkana menghela napas sebelum berkata. "Itu dia Als, kedatangan kami kemari tidak sesuai rencana. Tadinya kami memang akan datang silaturahmi bertiga bersama Laga. Sayang sekali, ia tiba-tiba mendapat tugas dari satuannya," jelas Pak Erkana.
Kini giliran Dallas dan Syafana yang saling lempar tatap, keduanya terlihat kecewa. Tapi, mau gimana lagi. Semua rencana hanya tinggal rencana, semua yang menentukan hanya Tuhan semata.
"Tugas dadakan? Aduh, sayang sekali ya, Er. Padahal saya ingin sekali mereka bertemu," ujar Dallas sambil mempersilakan tamunya duduk.
"Iya, Als. Mohon maaf sekali. Erlaga tadi sore baru dapat perintahnya. Dia terpilih masuk Satgas UNAMID ke Sudan. Lusa sudah harus berangkat ke Sentul untuk latihan pra-tugas," jelas Pak Erkana dengan nada bangga namun penuh penyesalan.
Syafina yang sejak tadi sudah berada di ambang pintu ruang tamu, buru-buru balik badan menuju dapur, sebelum kedua tamu sang papa melihatnya. Syafina menghampiri Bi Dasim yang baru saja selesai membuat minuman dan menyiapkan camilan.
"Bi Dasim, biar saya yang bawa ke depan," ujarnya sambil meraih baki yang akan Bi Dasim angkat.
"Tapi, Non...." Bi Dasim ingin mencegah, tapi Syafina segera berlalu dari dapur.
Syafina meletakkan baki berisi teh hangat, dan camilan itu di depan kedua tamu sang papa. Jantung kembali berdegup lebih keras, saat ucapan Pak Erkana tadi tentang tugas dadakan anaknya, yaitu ke negara Sudan.
"Sudan? Satgas ke Sudan? Apakah Erlaga yang dimaksud Papa tadi adalah Kak Erlaga yang aku temui di pujasera?"
Bu Zahira menyadari kehadiran Syafina dan tersenyum ramah. "Ini ya putri Pak Dallas? Cantik sekali, persis mamanya."
Syafina tersenyum kaku, tangannya sedikit bergetar saat menyajikan cangkir teh. "Silakan diminum, Pak, Bu."
"Terima kasih, Neng cantik," jawab Bu Zahira. "Sayangnya, Erlaga tidak bisa ikut. Dia mendadak dapat surat tugas ke Sudah. Padahal sebelumnya dia tidak menyangka, sebab baru dua bulan yang lalu pulang dari Satgas Papua. Dia itu persis abangnya, Arkala. Satgas selama belasan tahun. Setelah delapan belas tahun, baru kembali dan tenang. Mungkin memang sudah garis tangan keluarga kami untuk selalu ditinggal tugas jauh."
Syafina hanya mengangguk kecil, tanda merespon cerita Bu Zahira tadi. Hati kecilnya masih menyimpan kecamuk tanya, benarkah Erlaga yang dimaksud adalah orang yang sama?
Kemudian Syafina duduk di samping mamanya, mencoba mendengarkan pembicaraan yang lebih dari kabar Erlaga dengan seksama. Nama "Erlaga" bukanlah nama yang umum. Apalagi disebutkan bahwa dia adalah seorang tentara yang berprestasi dan pernah bertugas di bawah komando ayahnya di Ajendam.
"Apakah Erlaga ini adalah orang yang sama dengan pria di pujasera itu? Pria yang meminjam ponselku." Syafina lagi-lagi membatin gelisah.
"Iya, sayang sekali, Nak Erlaga tidak bisa datang. Tapi, kalau sudah tugas negara, mau gimana lagi? Semua tidak bisa menolak," timpal Syafana, nada suaranya sedikit bergetar, menyimpan kecewa yang terpendam.
"Tapi itu tidak akan lama. Setahun itu sebentar." Dallas ikut menimpali.
Pak Erkana tersenyum. "Iya, hanya setahun. Tapi kalau situasinya tidak menentu, bisa lebih lama lagi. Seperti dulu Arkala, dia pernah tidak pulang dua tahun karena rotasi pasukan terhambat."
"Satu tahun." Hati Syafina mencelos. Ada rasa kehilangan yang aneh merayap di dadanya. Padahal ia belum yakin pria itu adalah pria yang sama, tapi entah mengapa, bayangan pria atletis yang tersenyum ramah itu kini terasa sangat jauh. Sudan bukan hanya sekadar nama negara di peta baginya sekarang, tapi sebuah tembok besar yang memisahkan rasa penasarannya yang baru saja tumbuh.
Tapi, Syafina mencoba menyangkal kalau Erlaga yang disebut oleh leting papanya itu adalah orang yang sama yang ia temui di pujasera.
Namun tetap saja di dalam hati, Syafina merasa ada sesuatu yang patah. Ia teringat bagaimana pria di pujasera itu menatapnya dengan penuh hormat.
Jika benar itu adalah Erlaga orang yang sama, maka mereka baru saja melewatkan kesempatan untuk saling mengenal hanya karena selisih beberapa jam dari perintah tugas.
"Ih, kenapa aku merasa sedih? Padahal sebelumnya nggak begini. Bukankah ini yang aku mau, kalau aku tidak mau dijodohkan oleh Papa." Syafina kembali membatin.
Sepanjang di ruang tamu, Syafina tidak banyak bicara. Ia hanya mendengarkan cerita Pak Erkana tentang bagaimana Erlaga adalah sosok yang sangat mandiri dan pantang menyerah. Ia mendengar tentang bagaimana Erlaga sering kali lebih mendahulukan kepentingan orang lain dibanding dirinya sendiri, sifat yang sangat mirip dengan papanya.
Saat tamu pulang dan rumah kembali sepi, Syafina kembali ke balkon kamarnya. Ia menatap langit malam, membayangkan di suatu tempat di kota ini, seorang pria bernama Erlaga mungkin sedang menatap langit yang sama, bersiap untuk pergi ke negeri asing yang berbahaya.
"Satu tahun...." bisiknya pada angin malam. "Kalau memang kamu orangnya, kenapa kamu harus pergi saat aku baru ingin tahu namamu lebih jelas, Kak?"
Di kamarnya yang sunyi, Syafina membuka ponselnya. Ia melihat daftar panggilan masuk dari beberapa hari lalu. Ada satu nomor asing tanpa nama yang pernah menghubungi ponselnya saat dipinjam oleh pria itu. Syafina menatap nomor itu lama, jarinya ragu untuk menekan tombol panggil.
"Sudan itu jauh sekali, ya?" gumamnya lagi. Ia kemudian teringat ucapan papanya tentang silaturahmi.
Kini, silaturahmi itu terasa seperti sebuah janji yang belum sempat ditepati, tertutup oleh debu gurun Afrika dan baret biru perdamaian yang harus dikenakan Erlaga.
Syafina meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Ada desakan dalam hatinya untuk mencoba mencari tahu dengan mengirimkan pesan basa-basi misalnya.
Ah, tapi Syafina tidak pandai basa-basi dan jika seorang perempuan menghubungi pria lebih dulu, itu akan menjadi presiden buruk atau ditandai sebagai perempuan yang tidak ada harga dirinya.
Sementara dirinya selama ini sama sekali belum pernah dekat sama cowok. Saat mondok saja ketika didekati seorang Gus anaknya Pak Kiyai, ia enggan dan buru-buru jaga jarak dan sikap.
"Tapi, aku hanya ingin bertanya kabar, ini bukan merendahkan harga diri bukan?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba ponsel Syafina berdering, sebuah notifikasi WA masuk.
"Assalamualaikum, Dik. Apa kabar? Masih ingat saya? Kita pernah bertemu di kedai bakso?"
Jantung Syafina seakan mau copot dari tempatnya. Ia terkejut sekaligus gembira, karena orang yang sedang ia pikirkan tadi, tiba-tiba mengirimkan pesan WA.
"Waalaikumsalam. Kabar Fina baik. Tentu saja Fina masih ingat. Fina hutang bayar bakso dan minuman, ya? Sebaliknya, kabar Kak Laga gimana?"
"Baik. Tapi... Oh ya, Dik. Boleh nggak besok sore bertemu. Di kedai bakso? Katanya punya hutang bayar bakso. Jadi, besok Kakak tagih hutangnya di kedai bakso."
Pesan balasan dari Erlaga itu terlihat mendesak. Tapi, Syafina bingung harus jawab apa. Sebab, kalaupun ia pergi, ia harus didampingi Dalfas kemanapun juga.
"Pasti Dalfas akan curiga, dan bilang ke Papa kalau aku ketahuan bersama cowok."