"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"
Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.
Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.
Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.
Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU TIDAK AKAN MENIKAH
Kanaya merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamar yang catnya mulai mengelupas. Pikirannya melayang jauh melampaui atap rumah, menembus cakrawala yang sepi. "Apa Allah memang menakdirkan aku begini?" bisiknya dalam hati. Pertanyaan itu sudah ribuan kali ia ajukan, namun jawaban yang ia terima hanyalah keheningan yang menyesakkan.
Ingatannya terseret kembali ke masa-masa sekolah yang mencekam. Di saat anak-anak lain merasa bangga dengan prestasi mereka, bagi Kanaya, prestasi adalah cara untuk tetap hidup. Masuk lima besar bukan lagi sebuah ambisi, melainkan syarat agar ia tidak perlu menghadapi "masalah besar" di rumah. Setiap angka di rapornya adalah jaminan keamanan sementara. Jika jarum prestasinya bergeser sedikit saja, ia tahu badai akan datang.
Ia teringat saat teman-teman sekelasnya berbisik-bisik di ruang ganti olahraga, bertanya dengan nada cemas kenapa ada memar kebiruan yang kontras di kaki dan pahanya. Dengan senyum kaku yang sudah terlatih, Kanaya selalu punya jawaban yang sama: "Aku jatuh," atau "Aku tersandung meja." Kebohongan itu adalah selimut yang ia pakai untuk melindungi harga diri keluarganya, meski selimut itu terasa sangat dingin.
Ibu Maya adalah sosok yang mengerikan saat amarah mengambil alih kewarasannya. Kanaya masih bisa merasakan perih di ingatannya saat sebuah tempat pensil besi melayang dan menghantam kulitnya. Di tengah hujan pukulan dan makian, Kanaya kecil bertransformasi menjadi patung kayu. Ia tidak pernah menangis. Ia seolah mematikan seluruh saraf perasanya agar tidak memberi kepuasan pada amarah ibunya. Baginya, tangisan hanya akan memperpanjang penderitaan.
Di tengah neraka kecil itu, kakeknya adalah satu-satunya alasan Kanaya tidak benar-benar hancur. Kakek yang selalu menjadi pelindung, yang tatapannya seolah meminta maaf atas segala kegilaan yang terjadi. Ajaibnya, meski tubuhnya penuh memar dan telinganya panas oleh hinaan, Kanaya tidak pernah bisa membenci Maya maupun kakeknya. Ia tumbuh dengan kedewasaan yang prematur dan menyakitkan. Ia belajar memahami keadaan orang-orang yang melukainya; ia paham bahwa Maya adalah wanita yang lelah, hancur, dan terjepit oleh beban hidup.
Kanaya paham keadaan mereka, walau keadaan tidak pernah peduli untuk memahami betapa hancur hatinya. Sambil menatap langit kamar, ia menyadari bahwa seluruh hidupnya adalah tentang meredam diri demi orang lain. Kini, dengan rencana bekerja jauh ke luar pulau, Kanaya hanya ingin satu hal: berhenti memahami keadaan orang lain sejenak, dan mulai memahami bahwa dirinya sendiri juga butuh diselamatkan.
Kanaya memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan kegelapan di balik kelopak matanya menjadi ruang persembunyian terakhir. Sebuah pemikiran pahit namun menenangkan perlahan muncul di benaknya, seolah ia baru saja membuat kesepakatan dengan takdirnya sendiri. "Kalau hidupku memang harus begini, maka aku akan ikuti. Sekalipun aku tidak menikah," pikirnya getir.
Bagi orang lain, pernikahan mungkin adalah sebuah tujuan atau muara kebahagiaan, tapi bagi Kanaya, itu terasa seperti ancaman. Ia melihat Maya yang hancur karena cinta, ia melihat dirinya sendiri yang tumbuh sebagai "produk kegagalan" dari sebuah hubungan yang berantakan. Ia merasa jiwanya sudah terlalu penuh dengan memar-memar masa lalu hingga tak ada lagi ruang untuk menampung orang baru. Ia takut jika ia menikah, ia hanya akan mengulang siklus penderitaan yang sama, atau lebih buruk lagi, ia takut ia akan menjadi seperti Maya—pahit, penuh amarah, dan terjepit.
Kanaya menghela napas panjang, ada rasa lega yang aneh saat ia memutuskan untuk melepaskan konsep "kebahagiaan standar" itu. Ia merasa lebih baik hidup sendiri, bekerja di tempat yang jauh, dan menghabiskan sisa hidupnya untuk sekadar mencari tenang, daripada harus menyeret orang lain ke dalam badainya. Ia tidak butuh pelaminan; ia hanya butuh sebuah tempat di mana ia bisa bangun pagi tanpa rasa takut, tanpa memar di kaki, dan tanpa suara makian yang memekakkan telinga.
Ia teringat Hendri. Pria itu terlalu baik, terlalu terang, dan terlalu berharga untuk dirusak oleh kerumitan hidup seorang Kanaya. Dengan meyakinkan dirinya bahwa ia tidak akan pernah menikah, Kanaya merasa telah melindungi Hendri dari dirinya sendiri. Ia merasa telah menyelamatkan seorang pria baik dari beban berat yang bernama masa lalu Kanaya.
"Aku akan hidup untuk membayar hutang budiku pada Ibu dari jauh, lalu setelah itu, aku hanya ingin diam," gumamnya pada sunyi. Di matanya, kesendirian bukan lagi sebuah kesepian, melainkan sebuah benteng pertahanan. Ia tidak lagi mengejar janji suci di depan altar; ia hanya mengejar janji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitinya sedalam ini lagi.
Ketukan di pintu kamar itu tidak keras, namun getarannya sanggup merambat hingga ke ulu hati Kanaya. Ia tersentak dari lamunannya di atas kasur, segera menghapus sisa air mata yang masih hangat di pipinya. Mendengar suara Maya yang memanggilnya, Kanaya merasa dunia baru saja berputar balik secara tidak wajar.
"Naya, keluar! Ibu ada info loker," panggil Maya dari balik pintu.
Suara itu tidak lagi melengking. Tidak ada lagi sisa-sisa badai yang tadi pagi menghancurkan piring-piring di dapur, tidak ada lagi nada kebencian yang menyumpahi kelahirannya. Suara itu kini terdengar normal, bahkan cenderung perhatian. Bagi orang asing, perubahan ini mungkin tampak seperti mukjizat kesembuhan yang instan, namun bagi Kanaya, ini adalah bagian dari rutinitas yang mengerikan. Ibunya memiliki kemampuan ajaib untuk menghapus memori tentang amarahnya sendiri, seolah-olah ia tidak pernah melempar tempat pensil besi, seolah-olah ia tidak pernah memaki Kanaya sebagai "anak sampah."
Kanaya bangkit, merapikan sedikit wajahnya di depan cermin kecil yang retak, lalu membuka pintu. Ia menemukan Maya berdiri di ambang pintu dengan wajah cerah, seolah-olah pagi tadi mereka baru saja kembali dari piknik yang menyenangkan.
"Ini, coba kamu lihat," ucap Maya sambil menyodorkan ponselnya. Wajahnya tampak bersemangat. "Tadi Ibu baru saja telepon teman lama Ibu. Dia punya usaha toko grosir besar dan butuh staf admin tambahan. Jaraknya cuma sepuluh menit dari rumah kalau naik motor. Kamu kan sarjana, pasti langsung diterima kalau Ibu yang kasih jaminan."
Kanaya menatap layar ponsel itu dengan tatapan kosong. Angka "10 menit" itu seolah melompat keluar dan mencekik lehernya. Di saat Kanaya sedang berusaha mati-matian mencari lowongan di Kalimantan atau tempat mana pun yang dipisahkan oleh lautan, ibunya justru datang membawa tali kekang baru.
"Sepuluh menit, Bu?" bisik Kanaya lirih.
"Iya! Bagus, kan?" Maya tersenyum, sebuah senyuman yang bagi Kanaya terlihat seperti geruji penjara yang dilapisi emas. "Kamu tidak perlu pusing ongkos. Bisa pulang makan siang di rumah. Kalau Ibu butuh bantuan belanja sore-sore, kamu juga dekat. Tidak perlu cari yang jauh-jauh, Naya. Dunia di luar sana itu jahat. Di sini, Ibu bisa menjagamu setiap saat."
"Ini kerangkeng," batin Kanaya pedih.
Jarak sepuluh menit berarti Maya bisa muncul kapan saja di kantornya jika tiba-tiba perasaannya memburuk. Jarak sepuluh menit berarti Kanaya tetap akan menjadi objek pelampiasan amarah yang tidak terduga setiap kali ia pulang. Jarak sepuluh menit berarti ia tidak akan pernah benar-benar memiliki ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Ia akan tetap menjadi anak kecil yang memar di kakinya harus disembunyikan dengan kebohongan "jatuh tersandung meja."
"Kenapa diam saja? Kamu tidak suka?" Nada bicara Maya mulai bergeser sedikit, ada getaran sensitif yang menandakan bahwa jika Kanaya salah menjawab satu kata saja, badai pagi tadi akan kembali datang sebelum matahari terbenam.
"Suka, Bu. Naya cuma kaget saja karena cepat sekali infonya," jawab Kanaya dengan suara yang dipaksakan stabil. Ia sudah terlalu ahli dalam bersandiwara demi menjaga kewarasan ibunya.
"Nah, gitu dong. Segera telepon teman Ibu ya. Bilang kamu keponakan kesayangan Ibu. Jangan bikin malu," kata Maya sambil mengusap bahu Kanaya—bahu yang sama yang tadi pagi ia dorong dengan penuh kebencian.
Kanaya kembali masuk ke kamarnya setelah Maya pergi ke dapur dengan langkah ringan. Ia menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di sana. Di sakunya, ia merasakan ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi email masuk. Ia membukanya dengan tangan gemetar.
“Panggilan Wawancara: Staf Administrasi Perkebunan – Kalimantan.”
Kanaya menatap email itu, lalu menatap secarik kertas alamat dari ibunya di atas meja. Dua jalan terbentang di depannya. Satu jalan menuju kebebasan yang berisiko, yang mungkin akan membuat ibunya mengamuk lebih hebat dari biasanya. Jalan lainnya adalah jalan "sepuluh menit" yang aman namun mematikan jiwanya perlahan.
Ia teringat kakeknya, pelindung setianya yang kini sudah tiada. Ia teringat masa kecilnya saat ia harus terus masuk lima besar agar tidak dipukuli. Ia teringat keputusan getirnya untuk mungkin tidak akan pernah menikah karena ia tidak ingin merusak hidup pria baik seperti Hendri dengan beban trauma ini.
"Jika hidupku memang begini, maka aku akan mengikutinya," pikir Kanaya. Namun, saat ia menatap foto kakeknya yang tersenyum di meja belajar, seolah ada suara yang berbisik bahwa kakeknya tidak ingin ia terus-menerus menjadi "perisai" bagi kegilaan ibunya.
Kanaya tahu ia tidak bisa menolak tawaran ibunya sore ini. Ia harus menelepon teman ibunya itu. Ia harus berpura-pura patuh. Namun, di balik kepatuhannya, Kanaya mulai menyusun rencana yang lebih rapi. Ia akan menjalani pekerjaan "sepuluh menit" itu hanya sebagai kedok, sambil diam-diam mempersiapkan keberangkatannya ke luar pulau.
Ia menyadari bahwa mencintai Maya bukan berarti harus membiarkan dirinya hancur bersama ibunya. Mencintai Maya berarti ia harus sehat terlebih dahulu, meski itu artinya ia harus pergi ribuan kilometer jauhnya.
Sambil memandang langit sore dari jendela kamarnya, Kanaya berbisik pelan pada takdirnya. "Aku akan pergi, Bu. Bukan karena aku membencimu, tapi karena aku ingin kita berdua berhenti saling menyakiti."
Malam itu, Kanaya tidak lagi meratapi nasibnya. Ia mulai melipat satu persatu pakaian yang paling penting dan menyembunyikannya di bagian paling dalam lemari. Di luar, suara Maya yang sedang bernyanyi kecil sambil mencuci piring terdengar seperti melodi yang asing. Kanaya tahu, kedamaian ini hanya sementara. Dan sebelum badai berikutnya datang, ia harus sudah menemukan sayapnya sendiri.