Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Vita belum mandi, ya?" Rasta menggoda Vita, ia berpura-pura mengernyitkan hidungnya seolah-olah tidak tahan dengan bau tubuh Vita yang kecut.
Vita yang berada di pangkuan Rasta, tertawa, "Hahaha. Bau ya, Pa?"
"Iya ih, bau kecut. Kalau mandi biasanya dimandiin mama atau mandi sendiri?"
"Dimandiin sama mama."
"Hari ini mau dimandiin papa nggak?" tawar Rasta. Ia membiarkan tangan kecil Vita memainkan rambut yang tumbuh di bawah dagunya.
"Eummm," Vita nampak berpikir. Kepalanya lalu mengangguk. "Mau."
Rasta tersenyum kemudian berbisik, "Coba bilang sama mama."
Vita mengangguk. Belum sempat ia turun dari pangkuan Rasta, Viola muncul dari dalam sambil membawa cangkir. Aroma kopi langsung menguar. Dia meletakkan cangkir itu di atas meja, di hadapan Rasta.
"Mending kamu cepetan pulang deh, Ta," usir Viola. Saat ini mereka tidak berada di area restoran yang membuat Viola tidak berhak untuk memanggilnya Pak. Anggap saja pria yang duduk di situ adalah tamunya.
"Baru juga dibuatin minum kok udah langsung diusir sih," balas Rasta.
"Iya ih mama," Vita pun turut membela papanya. "Nggak sopan ngusir tamu," katanya.
Rasta merasa menang sudah dibela oleh Vita. Dia saling tos dengan Vita.
"Tapi kan mama harus berangkat. Bentar lagi nenek juga mau pulang," Viola mendesah pelan. Dia takut jika Sinta memergoki adanya Rasta di rumah. Bukan tidak mungkin nantinya akan terjadi keributan seperti tempo hari.
"Emang kenapa kalau mama kamu pulang? nggak apa-apa. Mau sampai kapan coba aku diem-dieman tiap kali mau ketemu sama Vita?" Rasta membalas ucapan Viola. "Habis ini aku juga mau mandiin Vita. Kamu nggak usah berangkat aja, Vi."
Viola menyipit. "Nggak usah berangkat gimana sih?" Suaranya terdengar agak sinis.
"Aku hubungin Gia, biar hari ini kamu nggak usah berangkat. Mending habis ini kita pergi jalan-jalan," Rasta mengulum senyum sambil mengangkat kedua alisnya. Tampangnya terlihat sangat menyebalkan di mata Viola.
Viola jelas ingin langsung menolak, namun Vita lebih dulu berteriak kesenengan.
"Jalan-jalan? Jalan-jalan ke mana, Pa? Mau! Vita mau jalan-jalan bareng sama mama papa!"
Rasta merespon dengan memberi acungan jempolnya untuk Vita. Beruntung, Vita ada di pihaknya, dia yakin Viola tidak akan menolak jika itu adalah permintaan Vita.
"Ma, gak usah kerja ya hari ini? Jalan-jalan sama papa, mau ya Ma?"
Viola mendesah berat. "Tapi Vi—"
"Assalamualaikum!"
Kepala Viola, Rasta, dan Vita kompak menoleh ke arah pintu. Sinta pulang sambil membawa sesuatu entah apa di dalam kantong kresek hitam. Begitu melihat Rasta, wanita paruh baya itu melotot garang.
"Kamu! Ngapain kamu ke sini!" sentaknya.
Vita langsung turun dari pangkuan Rasta, dia berdiri gagah di hadapan Rasta, seolah ingin melindungi papanya dari kemarahan sang nenek dengan tubuhnya mungilnya.
"Nenek gak boleh marah-marah sama papa Vita!"
*
"Liat nih, papa bisa bikin gelembung. Tuh liat, bagus kan?"
"Lagi, Pa, lagi!"
"Ih kamu jangan cipratin air ke baju papa dong. Basah semua jadinya, kan?"
"Hahahhah."
Sambil menyiapkan sarapan, Viola mendengar suara-suara Rasta dan Vita di dalam kamar mandi. Untuk pertama kalinya, Vita dimandikan oleh papanya. Sepertinya mereka bukan hanya mandi saja, tetapi sambil bercanda. Sudah hampir dua puluh menit ayah dan anak itu betah berada di dalam sana.
"Vita, udahan mandinya. Entar masuk angin," teriak Viola.
"Iya, Ma."
Rasta sudah menelepon Gia, mengabarinya jika hari ini Viola tidak akan berangkat ke restoran. Sinta pun tidak bisa meluapkan amarahnya kepada Rasta seperti hari itu, karena Rasta dibela penuh oleh Vita, dan Viola sudah dirayu-rayu supaya hari ini dia mau pergi jalan-jalan bertiga, naik mobilnya Rasta.
Pintu kamar mandi terbuka. Rasta keluar sambil menggendong Vita yang terbalut handuk. Sebagian baju dan celana pria itu nampak basah.
"Baju gantinya Vita ada di ruang tengah. Jangan lupa perut sama punggungnya dibalur minyak dulu," ucap Viola.
"Iya, Vi," balas Rasta tersenyum tipis.
Rasta membawa Vita ke ruang tengah. Ia juga yang akan memakaikan bajunya Vita.
Di sebelah Viola, Sinta menghela napas. "Vi, Vi. Kenapa sih kamu harus mengenalkan Vita ke papanya? Lupa kamu kalau dulu dia nggak mau mengakui Vita sebagai anaknya? Lupa kalau kamu pernah diusir pas lagi hamil, malem-malem, hujan-hujanan?"
Sinta menggeleng tidak mengerti.
"Aku nggak lupa, Ma," Vita menjawab, lalu tersenyum. "Aku masih inget kok. Kalau keinget juga masih sakit rasanya, tapi Vita berhak disayang sama papanya, Ma. Aku nggak mau aja kalau nantinya Vita haus kasih sayang karena gak mendapatkan cinta dari papanya dan mencari cinta di luar sana dari pria yang salah. Toh, Rasta sesayang itu sama Vita. Mereka baru kenal, baru ketemu beberapa kali, tapi udah langsung akrab."
Sinta tidak bisa berbuat apa-apa, meski sebenarnya ia tidak setuju dengan keputusan Viola. Sampai saat ini, Sinta masih sakit hati atas perlakuan Rasta ke Viola.
"Kamu juga nggak jujur sama mama kalau selama ini kerja di tempatnya Rasta."
Viola terdiam. Ia tidak salah dengar kan? Barusan mamanya menyebut nama Rasta entah dengan sengaja atau tidak. Sepertinya Sinta tidak sadar jika hatinya sudah mulai melunak. Viola tersenyum, "Maaf ya, Ma."
Sarapan sudah tertata rapi di atas meja. Viola pergi ke ruang tengah, melihat Vita yang sudah memakai bajunya sedang disisir rambutnya oleh Rasta.
"Udah sarapan, Ta?"
Rasta mengangkat wajahnya, "Belum," jawabnya.
"Sarapan dulu sana sama Vita."
Gerakan tangan Rasta terhenti. Dia menatap Viola dengan tatapan seolah tidak percaya. Betapa luasnya hati wanita yang sudah Rasta sia-siakan itu. Setelah Rasta menyakitinya, Viola tetap mengenalkan Rasta sebagai ayah kandungnya Vita. Tetap mengizinkan Rasta bertemu dengan Vita, dan Viola tetap bersikap baik padanya.
Rasta sedang membayangkan jika seandainya tidak pernah terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan Viola, mungkin saat ini mereka sudah menjadi keluarga yang utuh dan bahagia.
"Ma... Kuku-kuku Vita udah panjang," adu Vita.
"Oh ya? Sini mama potongin kukunya."
Viola mengambil gunting kuku di tempat biasanya ia menyimpan, kemudian duduk di samping Rasta. Dia mulai memotong kuku Vita yang sedang dipangku papanya.
"Ta, kalau mau makan dulu, duluan aja. Atau mau bareng sama Vita?" tanya Viola.
"Bareng aja. Aku tunggu kamu sama Vita selesai."
"Oke."
Rasta memperhatikan baik-baik wanita itu, yang sedang memotong kuku Vita, yang juga sesekali meliriknya. Rasta mengeluarkan ponselnya, diam-diam dia mengambil gambar Viola.
Viola menyadarinya. Ia langsung menegur sambil melotot. "Ta!"
Rasta yang ditegur hanya memasang cengiran di wajahnya.
"Udah selesai."
"Makasih mama!"
Vita langsung berlari ke meja makan, mungkin sudah sangat kelaparan karena sudah kelewat dari jam makan paginya. Di belakangnya, Viola menyusul bersama Rasta.
"Vi," Rasta memanggil.
Viola berhenti dan menoleh. "Hm?"
"Aku mau bilang makasih. Makasih banget karena kamu tetap mau nerima aku." Rasta tersenyum.
"Nerima kamu?"
"iya." Rasta mengangguk.
Viola terheran. "Nerima kamu gimana maksudnya?"
Kali ini Rasta yang memasang wajah bingung.
"Aku ngelakuin ini semua buat Vita. Cuman karena Vita. Nggak ada maksud tujuan lain, Ta. Kamu jangan salah paham."
...****************...
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu