NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Mafia

Istri Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.

Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.

Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.

Thx udah mampir🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24.Malam Pertama Tanpa Dinding

Aku kembali duduk, menyandarkan punggung ke sofa.

“Tidak apa-apa,” ucapku pelan. “Aku tidak minta jawaban sekarang.”

Haruka berdiri di depanku beberapa detik. Seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi memilih diam. Lalu ia mengangguk kecil—bukan setuju, bukan menolak. Hanya menerima.

Kami tidak melanjutkan percakapan. Film di layar sudah lama berakhir, tapi lampu belum dimatikan. Keheningan terasa aneh… tapi tidak canggung.

Entah sejak kapan mataku terasa berat.

Aku tidak ingat kapan tepatnya aku tertidur. Yang kuingat hanya rasa hangat di sekitarku—dan ketenangan yang jarang sekali datang tanpa diminta.

Saat kesadaranku kembali samar, aku merasakan tubuhku terangkat. Refleks tanganku mencengkeram kain kemeja seseorang.

“Haruka…?” suaraku serak.

“Kamu tertidur,” katanya pelan. “Aku bawa ke kamar.”

Aku seharusnya melepaskan.

Seharusnya berpura-pura masih mengantuk lalu diam.

Tapi saat punggungku menyentuh kasur dan tangannya hendak menjauh, aku justru menarik kerahnya tanpa sadar. Gerakan itu membuat wajah kami terlalu dekat—dan napas kami saling bertemu.

Bibirnya menyentuh bibirku.

Singkat. Tidak disengaja. Tapi nyata.

Ia langsung hendak menjauh, tapi aku membuka mata sepenuhnya dan berbisik,

“Nyaman.”

Kata itu lolos begitu saja. Jujur. Tanpa pikir panjang.

Aku menariknya lagi—bukan untuk menjatuhkan, hanya agar ia duduk di tepi ranjang. Lalu aku bergeser sedikit dan menepuk sisi kasur di sampingku.

“Tidur sini,” pintaku lirih. “Aku capek.”

Ia terdiam. Lama.

“Alya…” suaranya rendah, ragu.

Aku memeluknya lebih dulu. Lengan kecilku melingkar di pinggangnya, menahan seolah takut ia menghilang kalau dilepas.

“Sebentar aja,” kataku. “Kalau kamu pergi sekarang… aku tidak bisa tidur lagi.”

Ia menghela napas panjang. Napas orang yang sudah kalah sebelum bertarung.

Akhirnya ia berbaring di sampingku. Jaraknya masih dijaga—tidak dekat, tidak jauh. Tapi saat aku kembali merapat dan memeluknya, ia tidak menolak lagi.

Tangannya sempat terangkat, ingin melepaskan.

Aku menahannya.

“Jangan,” gumamku. “Tidur aja.”

Ia berhenti bergerak.

Bukan karena perintahku keras. Bukan juga karena aku kuat menahannya. Tapi karena sesuatu di suaraku—mungkin lelah, mungkin jujur—membuatnya memilih diam.

Aku merapatkan wajahku ke dekat wajahnya. Tidak tergesa. Tidak memaksa. Gerakanku pelan, seolah aku takut jika bergerak terlalu cepat, momen ini akan runtuh begitu saja.

Aku mencium pipinya.

Hangat.

Nyata.

Aku melakukannya lagi. Kali ini sedikit lebih lama. Bukan untuk menggoda—lebih seperti kebiasaan aneh yang lahir dari rasa aman yang tiba-tiba muncul.

Haruka tidak bereaksi.

Matanya menatap langit-langit kamar. Napasnya teratur, tapi ada jeda-jeda kecil di antaranya, seolah pikirannya masih mencoba memahami bagaimana ia bisa berakhir di posisi ini—berbaring di ranjang yang sama, dipeluk seseorang yang selalu berhasil menembus pertahanannya.

Aku mencium pipinya lagi.

Dan lagi.

“Alya…” suaranya pelan. Tidak menegur. Tidak menolak. Hanya menyebut namaku, seperti seseorang yang sedang memastikan dirinya tidak bermimpi.

“Hm?” aku bergumam malas, bibirku masih dekat dengan kulitnya.

“Kamu ini…” ia terdiam, lalu melanjutkan dengan nada pasrah, “…selalu membuat segalanya terasa tidak sesuai rencana.”

Aku tersenyum kecil, nyaris tak terlihat.

“Berarti rencananya memang harus diganggu,” bisikku.

Aku menggeser tubuhku sedikit, membuat posisiku lebih nyaman. Kepalaku bersandar di lengannya. Tubuhku setengah menindihnya—cukup dekat untuk berbagi hangat, tapi tidak menekan.

Ia menegang sebentar. Hanya sebentar.

Lalu menghela napas panjang.

Tangannya yang sejak tadi kaku akhirnya turun, berhenti di sampingku. Jari-jarinya menyentuh ujung selimut, ragu apakah harus menariknya atau membiarkannya begitu saja.

Aku mencium pipinya lagi. Kali ini paling lama.

Bukan ciuman penuh makna besar.

Hanya kebiasaan kecil sebelum tidur—seperti anak kecil yang mencari rasa aman sebelum terlelap.

“Tidur,” gumamku lagi, suaraku semakin lirih.

Ia tidak menjawab.

Napasnya mulai melambat. Ketegangan di bahunya mengendur sedikit demi sedikit. Seolah tubuhnya akhirnya menyerah pada fakta bahwa malam ini, ia tidak perlu berjaga. Tidak perlu menjadi siapa pun selain dirinya sendiri.

Kelopak mataku terasa berat.

Aku masih di sana, bibirku menempel di pipinya—bahkan saat kesadaranku mulai kabur. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku merasa setenang ini...

Pagi datang tanpa permisi.

Cahaya tipis menyelinap dari sela tirai. Hangat. Pelan. Mengusik kelopak mataku yang berat. Aku mengerjap sekali… dua kali… lalu menyadari sesuatu yang membuatku tersenyum kecil bahkan sebelum sepenuhnya bangun.

Haruka.

Ia bergerak pelan, sangat hati-hati, berusaha menjauhkan wajahnya dari bibirku tanpa membangunkanku. Gerakannya kaku, seperti orang yang takut membuat kesalahan kecil tapi berakibat besar.

Terlambat.

Begitu aku sadar jarak itu tercipta, tanganku refleks menarik kerah kausnya, membuat wajahnya kembali mendekat—dan bibirku kembali menemukan pipinya.

“—Alya,” katanya kaget.

Aku belum membuka mata sepenuhnya. Suaraku masih serak oleh tidur.

“Jangan pergi.”

Ia mendesah. “Bangun. Sudah pagi.”

Aku menggeleng kecil, masih menempel padanya. “Bentar lagi. Masih terlalu pagi.”

Aku mempererat ciumanku—bukan berubah bentuk, hanya lebih lama, lebih manja. Seperti anak kecil yang tidak mau bangun sekolah. Tubuhku mendekat, pelukanku menguat.

Ia akhirnya menyerah berhenti bergerak.

“Alya,” katanya lagi, nadanya mulai terdengar kesal—tapi bukan marah. “Kamu belum puas?”

Aku membuka mata, menatapnya dari jarak sedekat itu. Wajahnya sudah memerah, tatapannya gelisah, rambutnya sedikit berantakan karena tidur di posisi yang jelas tidak biasa baginya.

“Belum,” jawabku spontan.

Ia terdiam.

Benar-benar terdiam.

Seolah otaknya perlu waktu untuk memproses satu kata itu. Aku bisa melihatnya menelan ludah, lalu memalingkan wajah sedikit—usaha sia-sia, karena jarak kami terlalu dekat untuk benar-benar menghindar.

“Kamu ini…” gumamnya pelan. “Sejak bangun sudah berbahaya.”

Aku tersenyum lebar. “Salah sendiri tidur di samping aku.”

“Itu karena kamu—”

“—narik aku,” potongku cepat, masih tersenyum.

Ia menutup mata sesaat, seperti sedang menghitung sampai sepuluh. Ketika membukanya kembali, tatapannya sudah lebih tenang—pasrah, tepatnya.

“Kita harus bangun,” katanya. “Kalau tidak, kita akan terlambat.”

Aku mendengus kecil, lalu akhirnya mengendurkan pelukanku—sedikit. Tidak sepenuhnya. Kepalaku tetap bersandar di dadanya.

“Oke,” kataku. “Tapi lima menit.”

“Lima menit versi kamu atau versi waktu sebenarnya?”

Aku tidak bergerak. Sama sekali tidak berniat bergerak.

Tanganku justru semakin erat melingkar, seolah jika aku melepasnya sekarang, pagi akan mencuri sesuatu yang belum siap kulepaskan. Wajahku masih dekat—terlalu dekat—dan aku bisa merasakan hangat napasnya.

Aku mendongak sedikit, menatapnya dari bawah.

“Kamu nggak mau cium aku?” tanyaku polos. Terlalu polos untuk niatku sendiri.

Ia terdiam.

Benar-benar diam. Tatapannya turun ke wajahku, lalu ke bibirku, lalu cepat-cepat berpaling seolah itu kesalahan besar. Aku bisa merasakan tubuhnya menegang.

Aku tersenyum kecil. Nakal.

“Yaudah,” kataku ringan. “Aku aja yang cium.”

Belum sempat ia menolak, aku sudah lebih dulu mendekat. Ciumanku singkat, lembut, tapi cukup untuk membuatnya menghela napas berat.

“Alya,” katanya, suaranya rendah. “Ayo bangun. Nanti terlambat.”

“Nanti,” jawabku cepat.

Dan sebelum ia sempat berkata apa pun lagi, aku menciumnya lagi. Kali ini sedikit lebih lama. Sedikit lebih berani. Pelukanku tidak berubah—masih ingin tinggal di situ, di pagi yang belum sepenuhnya bangun.

Ia akhirnya menyerah. Bukan dengan balasan, tapi dengan napas panjang yang terdengar seperti pengakuan kalah kecil.

Beberapa menit kemudian—menurut versiku, bukan waktunya—ia akhirnya menarik tanganku pelan, melepaskan diri dengan hati-hati.

“Aku mau mandi,” katanya singkat, lalu bangkit dari ranjang.

Aku bangkit sedikit, bersandar di bantal, mataku mengikuti langkahnya.

“Aku mau ikut,” ucapku santai, jelas hanya ingin melihat reaksinya.

Langkahnya terhenti sepersekian detik.

Ia tidak menoleh. Tidak menjawab. Langsung melanjutkan langkahnya keluar kamar dengan kecepatan yang sedikit… terlalu cepat untuk orang yang ingin terlihat tenang.

Aku tertawa kecil begitu pintu tertutup.

Karena aku sempat melihatnya.

Pipinya benar-benar memerah.

Dan pagi itu, bahkan sebelum mandi dan jadwal kampus, aku sudah menang satu ronde kecil—

bukan dengan kata-kata,

tapi dengan jarak yang tak lagi bisa ia jaga seperti dulu.

1
Jingle☘️
kamu harus bisa meluluhkan agar kamu bisa punya benteng untuk hidupmu sendiri
Jingle☘️
tuh kan benar huh/Panic/
yanzzzdck: nikmatin aja nanti juga paham alurnya, dan trimakasih sudah mampir🙏
total 1 replies
Jingle☘️
punya masalah bau baunya mau menjual anaknya dalam konsfirasi pasti🤔
Salsabilla Kim
💪💜🌸
yanzzzdck
bagus
Tati Hartati
Makasih banget ya tadi jempolnya dan masyaallah kamu luar biasa lho bikin dua novel dan selalu konsisten. Semangat terus ya buat Kita sesama penulis baru ,salam kenal ya 🙏💪🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!