NovelToon NovelToon
Api Jatayu Di Laut Banda

Api Jatayu Di Laut Banda

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kutukan / Dokter / Romansa Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga / Harem
Popularitas:383
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anak Api Pertama – Bhaskara

Tiga tahun setelah pernikahan api dan cahaya di kawah Merapi, Sari mulai merasakan perubahan dalam tubuhnya. Awalnya hanya kelelahan yang tidak biasa—api Phoenix-nya terasa lebih berat, seperti membawa beban tambahan yang hangat. Kemudian mual datang, tapi bukan mual manusia biasa; ia merasa api di dadanya berdenyut dua irama—satu irama miliknya, satu lagi irama kecil yang lebih cepat, lebih liar, seperti detak jantung api yang baru belajar bernapas.

Sari tahu sebelum Arka. Ia duduk sendirian di tepi sarang batu vulkanik, tangannya menyentuh perut yang mulai membulat tipis. Api Phoenix-nya menyala lembut di telapak tangan, dan ia merasakan getaran balasan dari dalam—getaran kecil yang seperti hembusan api bayi.

“Arka…” panggil Sari pelan.

Arka muncul dari lubang lava di tengah sarang—tubuh naga raksasanya naik perlahan, lava menetes dari sisik merahnya seperti air hujan merah. Ia berubah ke bentuk manusia dalam sekejap, berlutut di depan Sari dengan wajah penuh kekhawatiran.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya, tangannya langsung menyentuh pipi Sari. “Api-mu… terasa berbeda.”

Sari tersenyum, lalu mengambil tangan Arka dan meletakkannya di perutnya. “Rasakan.”

Arka diam sejenak. Lalu matanya melebar—ia merasakan detak kedua itu, detak kecil yang selaras dengan detak api-nya sendiri.

“Ini… anak kita?” suaranya bergetar, campuran takjub dan ketakutan.

Sari mengangguk. Air mata emas mengalir pelan di pipinya. “Ya. Anak kita. Aku hamil.”

Arka menatap perut Sari seperti melihat keajaiban terbesar di dunia. Ia menunduk, mencium perut Sari dengan lembut—ciuman yang panas tapi penuh kasih sayang. Api kecil muncul dari bibirnya, bukan untuk membakar, tapi untuk menghangatkan—api yang seperti pelukan dari dalam.

“Aku… aku akan jadi ayah,” bisik Arka, suaranya serak. “Aku takut… takut kalau kekuatanku akan membahayakan kalian berdua.”

Sari mengangkat wajah Arka. “Kekuatanmu yang membuat anak ini hidup. Api kita menyatu—dan dari sana lahir sesuatu yang baru. Ia bukan kutukan. Ia adalah harapan.”

Arka memeluk Sari erat—pelukan yang hati-hati tapi penuh rasa. Tubuhnya panas, tapi Sari tidak mundur. Ia memeluk balik, kepalanya bersandar di dada Arka, mendengar detak jantung naga yang kini berirama dengan dua detak kecil di dalam perutnya.

Kehamilan Sari tidak mudah. Api Phoenix-nya harus bekerja dua kali lipat—menjaga Sari tetap kuat dan melindungi janin yang api-nya lebih liar dari api Sari sendiri. Kadang Sari terbangun tengah malam karena panas di perutnya terlalu kuat—seperti ada lava kecil yang berdenyut di dalam. Arka selalu ada di sampingnya, meniup hembusan api hangat yang lembut ke perut Sari, menenangkan detak liar itu seperti lagu pengantar tidur.

Arka sering berubah ke bentuk manusia hanya untuk bisa berbaring di samping Sari, tangannya menyentuh perut Sari, merasakan gerakan kecil janin itu. “Ia kuat,” katanya suatu malam, tersenyum saat merasakan tendangan kecil. “Seperti kau.”

Sari tertawa pelan. “Seperti kau juga. Ia sudah mulai membakar dari dalam.”

Mereka memberi nama anak itu sebelum lahir: Bhaskara—matahari kecil. Nama yang Sari pilih karena ia ingin anak mereka menjadi cahaya yang menerangi kegelapan, bukan api yang menghancurkan.

Sembilan bulan berlalu seperti mimpi yang panas dan penuh rasa. Sari semakin lelah, tapi api Phoenix-nya tidak pernah redup. Arka tidak pernah jauh—ia tidur di samping Sari setiap malam, tubuh naga besarnya melingkari sarang seperti benteng hidup, sayapnya menutupi Sari dari angin dingin atau hujan.

Pagi itu, ketika matahari terbit di ufuk timur, Sari merasakan kontraksi pertama. Bukan sakit manusia biasa—sakit yang seperti api yang ingin keluar, yang membakar dari dalam tapi juga membawa kehidupan.

Sari berbaring di atas batu datar yang sudah ia lapisi kain lembut. Arka berlutut di sampingnya, tangan manusia itu memegang tangan Sari erat.

“Aku di sini,” katanya, suaranya gemetar. “Aku tidak akan pergi.”

Sari mengangguk, napasnya tersengal. “Aku tahu. Dan anak kita… akan lahir di tempat yang sama dengan ayahnya—di api Merapi.”

Kontraksi semakin kuat. Sari menjerit pelan—bukan jeritan sakit biasa, tapi jeritan yang seperti nyanyian api. Api Phoenix-nya meledak dari tubuhnya, membentuk lingkaran api pelindung di sekitar sarang. Lava di lubang tengah bergolak tinggi, seolah ikut bernyanyi menyambut kelahiran.

Arka memegang tangan Sari erat, api naga-nya menyatu dengan api Sari—cahaya emas-merah muncul lagi, kali ini lebih terang, lebih hangat, seperti matahari kecil yang lahir di dalam sarang.

Sari mendorong terakhir kali. Jeritannya bergema di kawah—jeritan yang penuh kekuatan dan cinta. Dan lalu… tangisan bayi.

Bukan tangisan manusia biasa. Tangisan yang seperti hembusan api kecil—hangat, kuat, penuh kehidupan.

Sari mengangkat bayi itu dengan tangan gemetar. Bhaskara—anak pertama mereka. Tubuh kecil naga bayi dengan sisik merah keemasan yang berkilau seperti matahari terbit. Sayapnya masih rapat menempel di punggung, matanya tertutup rapat, tapi saat ia membuka mata pertama kali, mata itu merah lava seperti ayahnya, tapi di dalamnya ada kilau hijau zamrud samar seperti ibunya.

Bhaskara menangis lagi—tangisan api kecil yang membuat lava di bawah bergoyang pelan, seolah menyambut saudara barunya.

Arka menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca—air mata lava kecil jatuh dari sudut matanya, mengeras menjadi permata merah di batu.

“Ia… sempurna,” bisik Arka.

Sari tersenyum lelah, memeluk Bhaskara erat ke dadanya. Api Phoenix-nya menyala lembut, menghangatkan bayi itu tanpa membakar. Bhaskara berhenti menangis, bersandar di dada Sari, napas kecilnya menghembuskan uap panas kecil yang seperti hembusan angin hangat.

Arka berubah ke bentuk manusia, berlutut di samping Sari. Ia menyentuh kepala kecil Bhaskara dengan jari gemetar—sentuhan yang penuh takjub dan cinta.

“Kita punya anak,” katanya, suaranya serak. “Anak kita… Bhaskara.”

Sari mengangguk, air mata emas mengalir di pipinya. “Ia lahir dari api kita. Dari cinta kita. Dan ia akan jadi cahaya yang lebih terang dari kita berdua.”

Arka memeluk Sari dan Bhaskara bersama—pelukan keluarga yang hangat, penuh rasa. Lava di bawah bergoyang pelan, seolah Merapi sendiri memberi restu.

Di luar sarang, angin membawa suara samar—suara lava yang bernyanyi, suara api yang menyatu, suara kehidupan baru yang lahir dari api dan cahaya.

Tapi di kejauhan, bayang hitam kecil itu masih mengintai—bayang kegelapan luar yang belum menyerah.

Bhaskara membuka mata lagi, menatap Sari dan Arka dengan mata merah-hijau yang penuh keajaiban.

Dan dunia—yang pernah takut pada api baru—mulai merasakan cahaya baru.

Cahaya yang lahir dari cinta.

1
Sibungas
Alur cerita mudah d mengerti dan mengalir lancar.
Sibungas
patahkan kutukan emang perlu perjuangan.. semngat💪💪💪
Sibungas
mantab thor ceritane lanjutttt. 👍
Kashvatama: makasih supportnya🙏
total 1 replies
Sibungas
alur cerita nya bagus. 👍
Kashvatama: terimakasih banyak. semoga bisa kasih karya yg konsisten menarik 🙏
total 1 replies
Sibungas
cerita cukup menarik utk d ikuti.. lanjutt thor🤭
Kashvatama: terimakasih supportnya 😍
total 1 replies
Kashvatama
kisah fantasi petualang dan romansa antara Jatayu dari kaum Phoenix dan Banda sang reinkarnasi Naga Laut 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!