Shanaya berdiri di tepi taman halaman rumahnya, angin malam membelai sayap-sayap keabadiannya yang tersembunyi. Bintang mendekatinya, matanya memancarkan cinta yang tak terbantahkan. "Shanaya, aku tahu kita berbeda, tapi aku tidak peduli. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu," katanya dengan suara lembut.
Shanaya menoleh, mencoba menyembunyikan air matanya "Bintang, kamu tidak tahu apa yang kamu katakan. Aku...aku bukan seperti kamu. Aku memiliki rahasia yang tidak bisa kamu terima..." Shanaya mengangkat tangan, menghentikan Bintang yang ingin mendekat. "Tolong, jangan membuat ini lebih sulit daripada yang seharusnya. Aku tidak bisa menjadi yang kamu inginkan..."
Bintang terlihat hancur, tapi dia tidak menyerah. "Aku tidak peduli dengan apa yang kamu sembunyikan, Shanaya. Aku hanya ingin kamu..."
Apakah Shanaya akan membuka hatinya untuk Bintang atau justru pergi ke langit ketujuh dan meninggalkan Bintang seorang diri di malam yang sunyi ini? Ikuti terus kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10. "Puisi Indah Untuk Shanaya"
Waktu 30 menit telah berlalu, bu Anita mempersilahkan bagi yang sudah menyelesaikan karyanya untuk maju ke depan kelas untuk membacakan hasil dari guratan pena yang mereka torehkan dalam bentuk syair.
Bu Anita tersenyum dan mempersilahkan bagi yang sudah siap, "Baik, anak-anak! Sekarang, saya ingin kalian membacakan puisi yang telah kalian buat dari perasaan hati kalian masing-masing. Jangan ragu, ini adalah kesempatan kalian untuk berbagi perasaan dan ekspresikan diri. Bintang, kamu mau mulai?"
Bintang mengangguk, lalu berdiri dan berjalan ke depan kelas. Dia mengambil napas dalam-dalam, lalu mulai membacakan puisinya dengan suara yang lembut dan penuh ekspresif.
"Shanaya,
Dalam kesunyian malam,
Aku menuliskan perasaan yang tak bisa kuungkapkan,
Cinta yang membakar relung jiwaku, seperti api yang tak pernah padam,
Hanya bisa ku simpan dalam hati, seperti rahasia yang tak mampu terucapkan...
Kamu adalah cahaya di kegelapanku, yang menerangi jalanku,
Dengan senyummu, aku merasa hidup, dengan cintamu, aku merasa lengkap,
Dalam dekapmu, aku menemukan surga, dalam pelukanmu, aku menemukan damai,
Shanaya,
Kamu adalah segalanya bagiku, kamu adalah cahaya penerang bagi jiwaku yang merindukan kasih dari seorang bernama kekasih..."
Kelas menjadi sunyi seketika, semua mahasiswa mendengarkan dengan mata yang terpesona. Shanaya yang duduk di depan, merasa hatinya bergetar ketika mendengar puisi dari Bintang. Dia tersenyum, dan matanya mulai berkaca-kaca.
Setelah Bintang selesai, kelas meledak dengan tepuk tangan dan pujian yang menggema di ruang kelas sastra A1 saat ini, bahkan ada juga yang bersiul bangga pada Bintang.
"Wow, Bintang...Puisi cinta loe keren. So sweet banget..." seru Thalia yang memecah keheningan di ruang kelas sastra A1
"Gue gak tahu kalau loe bisa nulis puisi kayak gitu. Thor monitor, ketua kita mulai bucin nih ahahaha..." tambah Joe sembari tergelak
Bu Anita tersenyum geli melihat tingkah absurd Joe, "Bintang, puisimu sangat ekspresif dan kuat. Kamu memiliki bakat yang luar biasa. Shanaya, apa pendapatmu tentang puisi Bintang mengenai perasaannya terhadap dirimu?" ucapnya sembari memiringkan kepala ke arah Shanaya
Shanaya tersenyum kecut, "Aa...saya...saya...sangat terharu, buk. Puisi itu sangat indah dan membuat saya merasa spesial. Tapi mengenai hubungan kami tidak seperti yang ibu pikirkan, kami hanya sebatas sahabat biasa tidak lebih..."
Bintang pun juga tersenyum kecut namun tidak ia tampakkan, "Terima kasih, Shan. Aku menulisnya untuk kamu..."
Kelas kembali meledak dengan tepuk tangan dan pujian yang meriah, sementara Bintang dan Shanaya saling menatap dengan mata yang berkilau satu sama lain.
Joe berbisik kepada Nathaniel, "Duh, bro, kelas kita hari ini berasa kayak nonton adegan drama Romeo and Juliet, ya? Bintang kayak Romeo, dan Shanaya kayak Juliet. Mereka berdua kayak pasangan yang sempurna hahaha..." ucapnya diakhiri dengan kekehan
Nathaniel tersenyum, "Haha, iya juga, bro. Bintang emang udah kayak Romeo yang sok puitis, dan Shanaya kayak Juliet yang cantik dan anggun yang lagi klepek-klepek ke Romeo. Gue gak nywngka kalau Bintang bakal berani nulis puisi kayak gitu, bro sadis memang ketua kita ini sat set..." ucapnya sembari menggerakkan tangan untuk memperagakan ucapannya
Joe menambahkan, "Iya, bro. Gue juga gak nyangka banget dia bakalan seberani itu gila. Tapi yang jelas, mereka berdua kayak punya chemistry yang kuat, ya gak sih? Gue gak sabar lihat kelanjutan hubungan mereka kedepannya gimana..."
Nathaniel tersenyum sembari mengigit penanya sendiri, "Haha, kita tunggu aja, bro. Semoga aja mereka berdua bisa jadi pasangan yang serasi..."
Bu Anita tersenyum, "Baik, sekarang ganti ke mahasiswa lainnya. Olivia, kamu mau maju ke depan kelas untuk membacakan puisimu?"
Olivia mengangguk, lalu berdiri dan berjalan ke depan kelas. Dia mengambil napas dalam-dalam, lalu mulai membacakan puisinya dengan suara yang lembut penuh intonasi.
Setelah Olivia selesai, dosen Anita memberikan pujian, "Olivia, puisimu sangat indah dan ekspresif. Kamu memiliki bakat yang luar biasa..."
Dosen Anita kemudian menunjuk Camelia, "Camelia, kamu mau maju ke depan kelas untuk membacakan puisimu?"
Camelia mengangguk, lalu berdiri dan berjalan ke depan kelas. Dia membacakan puisinya dengan suara yang penuh perasaan.
Kelas terus berlanjut, dengan mahasiswa lainnya juga membacakan puisinya masing-masing. Bu Anita memberikan pujian dan saran untuk setiap puisi yang dibacakan.
Kini penutupan ditunjuk oleh Bu Anita pada Shanaya untuk membacakan puisinya. Shanaya pun maju ke depan kelas dan dengan suara yang lembut dan penuh perasaan ia mulai membacakan puisinya.
"Ibu, dalam kesunyian malam ini,
Aku merindukan dekapanmu yang hangat,
Kasih sayangmu yang tak pernah habis,
Sepertinya aku masih ingin merasakannya.
Ibu, aku merindukan tutur kata dan suaramu yang lembut,
Yang selalu menenangkan hatiku,
Aku merindukan pelukanmu yang erat penuh kasih,
Yang membuatku merasa aman dan terlindungi.
Ibu, aku tahu kamu tidak ada di sini,
Tapi aku masih bisa merasakan kehadiranmu,
Dalam setiap langkahku, dalam setiap napas dan nadiku,
Aku merasa kamu selalu ada di sampingku.
Ibu, aku merindukanmu,
Aku ingin merasakan kasih sayangmu lagi,
Aku ingin mendengar suaramu lagi,
Ibu, aku merindukanmu..."
Kelas menjadi sunyi, semua mahasiswa yang mendengarkan pun akhirnya menjadi berkaca-kaca, bahkan ada sebagian yang terharu hingga benar-benar menumpahkan bulir-bulir kristal bening dari pelupuk matanya.
Bu Anita memberikan pujian, "Shanaya, puisimu sangat indah dan menyentuh. Kamu memiliki bakat yang luar biasa. Untuk perasaanmu ini sungguh membuat kami semua terharu, semoga ibumu tenang di alam sana ya..."
Shanaya tersenyum dan berusaha mengusap krital bening yang menghiasi pipinya yang tirus itu, "Terimakasih banyak bu, amin bu..." jawabnya usai mengusap krital bening di pipinya yang tak mampu tuk dibendungnya sejak tadi
Hanya Zaneta yang tampak tak menyukai penampilan Shanaya saat ini bahkan ia selalu memutar bola matanya jengah dan mencibir dengan kata-kata yang sarkas.
Zaneta memutar bola matanya jengah saat memindai situasi disekelilingnya menjadi terharu bombay, "Idihhh...lebay banget, cuma puisi norak kayak gitu aja bisa bikin kalian terharu..." cicitnya tak suka melihat suasana saat ini dimana semua orang memuji Shanaya
Olivia yang juga ikutan menangis karena terharu pun menjawab ucapan Zaneta, "Lho emang gak punya hati deh kayaknya Zan, udah jelas-jelas ini puisinya nyentuh banget tapi cuma loe yang gak nangis sama sekali..."
"Sruutttt..." suara Olivia yang menyisi ingusnya dengan selembar tissue
Zaneta yang disampingnya pun merasa risih dengan sahabatnya itu, "Isshhh...jorok banget sih loe jadi cewek..." kesal Zaneta
Firly yang duduk di samping kiri Zaneta pun juga melakukan hal yang sama sehingga membuat Zaneta merasa jijik berasa di antara mereka berdua.
Bu Anita tersenyum dan mengakhiri kelas saat ini, "Baik, anak-anak, itu sudah akhir dari jam mata kuliah sastra Indonesia hari ini. Semoga kalian semua bisa mengambil inspirasi dari puisi-puisi yang telah dibacakan. Sampai jumpa di minggu depan..."
Kelas langsung riuh dengan suara mahasiswa mahasiswi yang beranjak dari tempat duduk mereka masing-masing. Bintang, Joe, Felix, dan Nathaniel berjalan bersama menuju ruang musik. Bintang mengambil gitarnya, Joe siap menjadi vokalis, Felix duduk di drum, dan Nathaniel siap memainkan keyboard.
"Gimana, kita main apa?" tanya Bintang sambil menyetem gitar
"Main 'Toxicity' aja, bro!" usul Joe
Felix dan Nathaniel mengangguk setuju. Bintang mulai memainkan intro gitar yang iconic, Joe mulai bernyanyi dengan suara yang merdu, Felix membunyikan drum yang menghentak, dan Nathaniel memainkan keyboard yang menambah kesan epik pada lagu ini.
Ruang musik langsung dipenuhi dengan suara musik yang enerjik dan keren. Mahasiswa lain yang lewat di koridor tidak bisa tidak berhenti sejenak untuk mendengarkan mereka bermain musik.
Setelah selesai, mereka semua bertepuk tangan dan tersenyum puas.
"Wah, keren loe, bro..." puji Felix
"Thanks, guys! Seru banget..." ucap Joe
Bintang tersenyum, "Gimana kalo kita lanjut satu lagu lagi, masih ada waktu 15 menit lagi nunggu pak Arhan masuk. Joe gantian loe main gitar gue vocal..." usulnya sembari melongokkan kepalanya pada jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya
"Ok aman bro. Apa lagunya, bro?" tanya Joe yang siap untuk memetik senar gitar yang dipegangnya saat ini
Bintang berpikir sejenak, lalu berkata, "Main 'Best Part' aja. Lagunya cocok sama perasaan gue sekarang..."
Felix, Nathaniel, dan Joe mengangguk setuju. Joe mulai memainkan intro gitar yang lembut, Bintang mulai bernyanyi dengan suara yang soulful, Felix membunyikan drum dengan pelan mengikuti irama lagu, dan Nathaniel memainkan keyboard yang menambah kesan romantis.
"You're my best part, my best part, my sunshine in the darkest night
You're my best part, my best part, I'll be loving you, for all time..."
Bintang menyanyikan lagu itu dengan penuh perasaan, matanya tidak lepas dari setiap ulasan bayangan kebersamaannya dengan Shanaya.
Felix mengeluarkan ponselnya dan mulai merekam aksi mereka bernyanyi. "Hey, guys. Gue rekam, ya soalnya ini dalem banget..."
Mereka semua tersenyum sembari mengacungkan ibu jari ke arah Felix dan terus bernyanyi. Setelah selesai, mereka semua bertepuk tangan dan tersenyum.
"Wah, keren banget kita, bro..." puji Nathaniel yang menyadari di balik jendela banyak mahasiswa mahasiswi yang mengintip penampilan mereka diruang kedap suara itu
Bintang tersenyum, "Gue gak sabar lihat rekamannya nanti..."
Tiba-tiba, pak Arhan masuk ke ruang musik. "Halo, anak-anak! Ayo masuk kelas..." ajaknya saat mendapati para mahasiswa teladannya berada di ruangan itu
Mereka semua tersenyum dan mengangguk. "Iya, pak! Kami sedang menunggu kelas dimulai," ucap Joe jujur apa adanya
Pak Arhan tersenyum, "Baik, kita mulai kelasnya, ya?" ucapnya kemudian berjalan lebih dulu menuju ruang kelas sastra A1
Langkahnya di ikuti oleh keempat sekawan dari belakang sembari terus bercanda ria bersama dibelakang pak Arhan. Sementara itu pak Arhan hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd Joe dan Nathaniel yang selalu mengganggu Felix dengan candaan mereka.
Bersambung....