NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24 Resonansi di Konser Terakhir

Malam minggu di Bandung tahun 2026 berubah menjadi lautan cahaya. Di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, sebuah konser musik techno-pop terbesar tahun ini sedang berlangsung. Ribuan orang melompat seirama dengan dentuman bas yang menggetarkan dada. Namun, di tengah kegembiraan itu, Saka berdiri di panggung dimensi bayangan, menatap sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh penonton mana pun.

Di langit-langit stadion, sebuah lubang hitam mikro perlahan terbuka. Dari dalamnya, menjulur tentakel-tentakel transparan yang menyerupai serat optik. Itu adalah The Memory Siphon, sebuah mesin organik dari masa depan yang sengaja dikirim oleh sisa-sisa pengikut The Eraser. Alat ini tidak membunuh fisik manusia, melainkan menghisap seluruh memori kolektif tentang "kebahagiaan" yang terpancar dari konser tersebut.

Jika alat ini berhasil aktif, ribuan orang akan pulang ke rumah tanpa mengingat siapa teman yang mereka bawa, atau mengapa mereka merasa senang. Dunia akan menjadi tempat yang mati rasa.

"Saka, aku sudah di posisi," suara Anita terdengar melalui tautan batin yang mereka bentuk di dimensi mimpi.

Anita berdiri di barisan depan penonton. Ia mengenakan jaket hoodie gelap, matanya berkilat perak setiap kali ia berkonsentrasi. Berbeda dengan penonton lain yang asyik berjoget, tangan Anita tersembunyi di saku, menggenggam sebuah kristal Alexandria yang berfungsi sebagai pemancar energi.

"Tunggu aba-abaku, Nit," Saka bergerak cepat di antara kerumunan manusia yang tampak seperti patung melambat di matanya. "Parasit ini punya pelindung frekuensi. Kita harus menghancurkan titik pusatnya secara bersamaan dari dua dimensi."

Saka melompat ke arah panggung utama, melewati sang vokalis yang sedang menyanyi. Di dimensi bayangan, Memory Siphon tampak seperti jantung raksasa yang berdenyut hitam pekat. Saka mencoba menebas tentakel terdekat dengan pedang Tinta Keabadiannya, namun tentakel itu segera beregenerasi.

"Sial, dia menyedot energi dari kegembiraan orang-orang ini!" kutuk Saka. "Anita, sekarang! Gunakan 'Lentera Alexandria'!"

Di dimensi fisik, Anita menarik tangannya dari saku. Ia mengangkat telapak tangannya ke arah langit-langit stadion. "Berdasarkan pengetahuan yang tertulis, atas nama sejarah yang tak terhapus... MANIFESTASIKAN!"

Cahaya perak murni meledak dari tangan Anita, melesat ke atas seperti kembang api raksasa. Bagi penonton, itu tampak seperti bagian dari efek panggung yang spektakuler. Namun bagi makhluk tersebut, cahaya itu adalah racun murni. Pelindung frekuensi Memory Siphon retak.

"Sekarang, Saka!" teriak Anita melalui batin.

Saka tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menusukkan pedangnya tepat ke jantung parasit itu. Energi perak dari dimensi fisik (Anita) dan energi bayangan dari Saka bertemu di satu titik pusat.

BOOOM!

Sebuah gelombang kejut yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang sensitif terhadap waktu menyebar ke seluruh stadion. Tentakel-tentakel itu hancur menjadi abu perak yang jatuh seperti salju di antara penonton. Orang-orang bersorak lebih keras, mengira itu adalah efek confetti yang sangat indah.

Namun, kemenangan itu tidak gratis. Saka terlempar ke belakang, tubuh hantunya mulai memudar. Phasing yang ia lakukan terlalu lama membuatnya kehilangan stabilitas molekul jiwanya.

"Saka! Kamu kenapa?" Anita berlari keluar dari kerumunan, menuju area belakang panggung yang sepi.

Saka jatuh terduduk di dimensi bayangan, tepat di depan Anita. Anita bisa melihat siluet Saka yang mulai transparan, seperti sinyal televisi yang terganggu.

"Energi... energinya terlalu besar, Nit," bisik Saka lemah. "Aku butuh... jangkar."

Tanpa ragu, Anita melepaskan sarung tangannya. Ia mencoba menyentuh udara di mana ia merasakan keberadaan Saka. Ia memusatkan seluruh ingatannya tentang momen-momen paling bahagia mereka—saat mereka makan bakso pertama kali, saat Saka menyelamatkannya di rumah sakit.

"Aku ingat kamu, Saka. Aku ingat meskipun dunia melupakanmu," tangis Anita.

Seketika, jari Anita menembus tabir dimensi. Untuk pertama kalinya sejak Saka menjadi hantu, ujung jari mereka bersentuhan. Cahaya hangat menjalar di antara mereka. Tubuh Saka kembali padat di dimensi bayangan, warnanya kembali cerah.

"Kamu berhasil, Nit," Saka tersenyum, meski ia tidak bisa benar-benar merasakan sentuhan fisik itu seutuhnya. "Kamu menyelamatkan aku lagi."

Di kejauhan, di atas menara lampu stadion, seorang pria dengan kacamata hitam dan setelan jas teknologi tinggi dari DAT (Departemen Anomali Temporal) memperhatikan mereka melalui teropong sensorik.

"Subjek 01 (Saka) dan Subjek 02 (Anita) telah menunjukkan tingkat sinkronisasi 98%," lapor pria itu ke alat komunikasinya. "Protokol 'The Chrono-Twins' bisa dimulai. Tapi ada satu variabel baru: sepertinya mereka mulai bisa menembus batas dimensi fisik."

"Lanjutkan pemantauan," suara Direktur Vena (atau entitas yang menirunya) menjawab dari seberang. "Biarkan mereka merasa menang. Semakin kuat ikatan mereka, semakin besar ledakan yang akan dihasilkan saat kita menghancurkan salah satunya."

Saka merasakan getaran di Arloji Void-nya. Ia menoleh ke atas, namun pria itu sudah menghilang. Ia tahu, perang yang sebenarnya bukan melawan parasit kecil, melainkan melawan mereka yang ingin menjadikan ia dan Anita sebagai senjata.

"Ayo pulang, Nit," ucap Saka. "Malam ini kita menang, tapi besok... besok kita harus berlatih lebih keras."

1
Fadhil Asyraf
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!