NovelToon NovelToon
Titik Penghubung

Titik Penghubung

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: prasetya_nv

sebuah kehancuran adalah sebuah derita bagiku, seperti kutukan akan kelakuan berat masa laluku. nyatanya itu hanyalah sebatas prasangka. _Ailavati Keysa Maharani.

wajah datar tampak acuh adalah penguat ku, aku terlalu takut untuk dikasihani sebagai alasan pertemanan ku. hidupku telah luluh lantah atas kehancuran.~Alga Mahensa Putra

Di sinilah kisahku dimulai.
Aku Aila Putri cantika yang memiliki trauma akan masalalu, yang di pertemukan dengannya Alga Mahensa Putra.

Pria yang memiliki parasa tampan dan berwajah datar.
Akankah Aku bisa bersamanya?
Apakah ego kita yang akan sama sama menyakiti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetya_nv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tempat aksara

Setelah aku mengakhiri itu semua, aku beranjak meninggalkan tempat yang menentukan itu. Aku membawa Alga ikut bersamaku kembali. Dia mengantarkan ku pulang. Suasana kali ini hening. Hanya bising kendaraan yang terdengar di tengah hiruk pikuk dunia.

Tujuanku sampai, aku turun dari boncengannya. Aku mempersilahkan dia untuk turun.

" Tidak mau singgah? " Aku bertanya menatapnya. Dia diam, tapi sepertinya dia tersesat. Aku memperhatikan, bukan dia yang ku kenal di hadapanku. Tapi untuk bertanya itu bulan jalan pintas. Tunggu dia bercerita. Aku perlahan menjauh, meninggalkannya.

Langkahku membawaku pergi darinya. Tapi, ada yang mengganggu langkahku. Ada yang sedang mengawasiku. Di sebrang sana ada yang menatapku. Aku merinding dibuatnya. Aku menoleh, kosong. Itu hanya sebuah kafe kecil. Tidak ada jejak orang yang ku kenal di sana.

"Aku merasa ada yang memperhatikan" Batinku.

Aku bergerak gelisah, meme percepat langkahku dari sana.

Di sisih sebrang sana, Aksara duduk dengan pandangan lurus kedepan. Tempat itu masih sama seperti terakhir kali dia melangkah meninggalkannya. Dia terus melihat lurus kedepan sampai apa yang di tunggunya telah ada. Di sebrang sana terlihat jelas seorang gadis sedang turun dari jok belakang motor orang yang di kenalnya. Dia adalah Sang adik yang amat sangat di rindukannya. Keinginan dia berlari mendekap Sang adik sangatlah besar tetapi dia masih teringat dengan keadaannya.

" Kamu jangan terus meratap La, cobalah mencari bahagiamu La. Kakak baik baik saja sampai detik ini. Tunggu kakak sebentar lagi akan kembali. Itu janji kakak" Monolog Aksara sambil memperhatikan gerak gerik Sang adik di depan sana.

Sampai Sang adik menghilang dari pandangannya dia mulai bergegas meninggalkan tempat duduknya. Dia berjalan tertatih menggunakan kruk yang kini adalah alat bantunya untuk berjalan. Dia kembali ke tempat yang sekarang ini adalah tempat singgahnya.

Halaman yang sangat asri yang menyejukkan membuat semua terlena jika memasukinya.

Tap.. Tap.. Tap... Suara langkah yang sangat nyaring sesampainya Aksara tiba di rumah itu.

"Ak, gue mau pergi dulu dia kembali kritis. Lo di rumah sendiri gak papa kan??? Nanti Gilang temenin lo. " Ucap orang itu yang melangkah dengan terburu buru.

Seperti biasa dia yang selalu wara wiri ke rumah sakit demi adik semata wayangnya yang kini berjuang melawan penyakitnya. Aksara sudah terbiasa dengan kesunyian rumah ini. Sudah hampir satu tahun lamanya dia berada di rumah ini. Rumah temannya Regan Aldiansyah kembaran Reihan Ardiansyah yang sekarang lagi berjuang di ruang ICU rumah sakit Santosa yang dingin itu.

Aksara sangat mengenal laki laki itu, sahabat karib Sang adik yang mungkin amat sangat di cintai oleh adiknya yang memilih pergi dan berbohong mendapatkan pengobatan hanya demi untuk seorang Ailavati Keysa Maharani tidak mengalami kesedihan. Dia berbohong bahwa dia sudah memiliki kekasih baru dan sembuh nyatanya itu adalah kata penutupan perpisahan seorang Reihan yang kini telah di nyatakan meninggal dunia setelah 1 jam dia berjuang di masa kritisnya.

Bek rumah berbunyi nyaring saat Gilang datang . Aksara membukakan pintu. Gilang menghampirinya dengan terburu. Perasaan Aksara mengatakan ada yang terjadi.

"Sa, lo sudah dengarkan dia telah tiada. Gimana dengan Ila, apa kita akan menutupi ini selamanya dari Ila?? " Pertanyaan Gilang yang sulit di jawabnya. Dia takut adiknya berubah. Dia takut adiknya kembali luka.

"Reihan bohong dengan Ila" Aksara menyandarkan tubuhnya yang lelah dengan masalah yang menumpuk.

" Apa maksud lo?" Mata Gilang membelalak terkejut. Fakta baru lagi yang di temukannya. Gilang sepenuhnya sekarang menatap Aksara. Menuntut sahabat karibnya jawaban.

" Seminggu lalu dia pergi menemui adek gue." Aksara menjawab dengan mata terpejam sambil meminta keningnya yang kini terasa pusing.

" Hal apa yang di karangnya? " Gilang pemasaran hal apa yang di ucapkan Reihan kepadaku. Aksara membisu, takut menjawab Gilang.

" Lo sama Reihan sama sama tolol, impulsif kalian berdua." Maki Gilang, Aksara hanya bisa terdiam

"Trus lo kapan mau balik ke rumah?? Gak bosen lo hanya seperti ini terus. " Pertanyaan Gilang terdengar kembali.

" Tenang aja seminggu lagi kata dokter gue gak perlu memakai kruk ini. Dan aku akan kembali padanya. Aku tak tega melihatnya seperti itu. " Aksara menjawab dengan serat rasa lega di hatinya.

" Aksa, lo tahu adek lo sekarang dekat dengan dia?" Pertanyaan Gilang mencuri perhatian Aksara.

" Gue tahu." Aksara menjawab dengan singkat. Batin Aksara lebih tertekan lagi. Masalah dia masih belum ada yang usai.

" Lo masih aja tolol, selesaikan segera. Adek lo bisa terluka." Gilang menasehati Aksara dari kebodohan.

Kembali denganku kini yang sedang berbaring di tempat pribadiku. Aku memilih diam mengurung di kamar. Aku tidak ingin mengambil keputusan gegabah.

Aku memikirkan segala cara untuk mendapatkan jawaban hingga aku lelah. Tanpa terasa cacing di perutku meronta. Sudah waktunya aku mengisi energimu terlebih dahulu.

Biarlah masalahku mengalir. Akan ku selesaikan dengan perlahan tubuhku bukan robot yang bisa di doktrin.

Suara deru mobil mengalihkan perhatianku. Aku segera turun ke bawah menghampiri mama. Aku dengan berbunga menghampirinya.

Saat ini ku pijak anak tangga perlahan lahan. Pintu utama terbuka, mama berjalan dengan anggun selayaknya wanita karir umumnya.  Aku terdiam di anak tangga terakhir menatapnya. Wajahnya sayu, dia butuh istirahat. Ada luka yang tak terlihat dengan caranya diam.

" Kamu makan sendiri La, Mama harus pergi lagi." Harapan Ila selalu terpatahkan. Ila ingin duduk di meja makan. Makan dengan tenang di iringi pembicaraan ringan. Mamanya pergi lagi. Dia di tinggalkan kembali. Rumah itu terlalu besar serasa tanpa penghuni.

"Lagi ma? " Aku memelas, aku berharap mama akan tinggal. Aku merindukan itu semua.

"Jangan seperti anak kecil, La." Tanpa menoleh mama menjawabku. Dia berjalan meninggalkan rumah dengan jejak langkah yang membekas. Aku kehilangan kasih sayang itu. Aku tidak tahu mama yang dulu pergi kemana.  Kini aku hanya berkawan dengan mama yang keras kepala.

Aku berjalan ke meja makan dengan lunglai, makanan itu dingin, sama seperti harinya kini. Dia memakan dengan perasaan kecewa. Denting sendok dan piringnya mengiringi proses makannya. Hanya benda itu yang dapat berbicara menemaninya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!