NovelToon NovelToon
Dilamar Si Cantik Tak Dikenal

Dilamar Si Cantik Tak Dikenal

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mami Al

Dio tak menyangka wanita yang ditemuinya dalam hitungan jam berani melamarnya. Bagi dirinya itu adalah sebuah penghinaan meskipun wanita yang ditolongnya cantik dan mampu memberikan seluruh harta. Dio pun menolak keinginannya, tetapi si cantik Laras tetap terus mengejarnya.

Apakah Dio bersedia menerima lamarannya atau tetap pada pendiriannya mencintai kekasihnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode Kedelapanbelas

Mengendarai mobil Dio berangkat ke rumah mertuanya, jantungnya berdegup tak karuan. Apalagi mendengar suara ayah mertuanya yang datar dan serius. Pikiran Dio melayang dengan kejadian kemarin. Dirinya dan Laras berdebat hebat bahkan menuduh wanita itu tak suci lagi.

Sebenarnya dirinya pun tak berani menantang keluarga istrinya. Apalagi orang tuanya Laras lebih hebat dan berkuasa. Bukan hanya dirinya saja yang akan mendapatkan masalah tetapi kedua orang tuanya dan adiknya juga. Orang tua Laras telah melunasi utang Derry yang ditipu temannya.

Dio telah tiba dikediaman mertuanya, memasuki ruang tamu suasana tampak tegang dan dingin. Di ujung kanan tempatnya berdiri, tampak Laras duduk dengan tatapan benci.

"Duduk!" perintah Johan dengan nada dingin dan wajah serius.

Dio duduk dan terlihat gugup.

Johan dan istrinya duduk dihadapan Dio. Keduanya melemparkan tatapan tajam.

"Kalian berdua pergilah ke luar negeri!" ucap Johan.

Dio dan Laras serentak mengangkat wajahnya mengarahkan pandangannya kepada Johan.

"Kami tahu waktu perkenalan kalian sangat singkat. Mungkin dengan melakukan liburan ke luar negeri membuat hubungan kalian semakin dekat," kata Johan sembari tersenyum.

"Tapi, Pa...." ucap Laras terjeda karena melihat gerakan tangan Johan terangkat membuat ia menghentikan perkataannya.

"Kalian menikah belum sebulan. Kami juga menginginkan cucu, jadi salah satu cara yang paling mudah yaitu kalian harus menikmati waktu berdua liburan ke luar negeri," kata Karin.

"Papa sudah membelikan tiket pesawat dan hotel. Jadi, kalian tak perlu repot lagi mengurusnya. Tinggal berangkat saja. Papa juga akan memberikan uang saku," sahut Johan.

"Liburan kalian cuma tiga minggu saja. Ada beberapa negara yang telah kami pilih buat kalian kunjungi. Ada juga teman kami dan beberapa saudara yang tinggal di sana. Kalian dapat bersilaturahmi dengan mereka," timpal Karin.

"Itu terlalu lama, Ma!" protes Laras.

"Mau Mama tambah?" Karin tersenyum ke arah putrinya.

Laras menggelengkan kepalanya.

"Hari ini kalian tidak usah ke kantor. Siapkan keperluan apa saja yang akan kalian butuhkan di sana," kata Johan.

"Ma, Pa, dia sudah berani menuduhku yang bukan-bukan. Kenapa malah memberikan tiket liburan?" tanya Laras yang memang kedatangannya mengadu tentang pertengkaran dirinya dan suaminya.

"Penyelesaian dari masalah kalian cuma dengan berlibur!" jawab Karin karena dia dan suaminya yakin jika Laras dan Dio melakukan malam pertama maka Dio menuding putrinya tak suci lagi.

"Aku tidak mau!" Laras menolak tegas rencana kedua orang tuanya.

"Kalau begitu mobil dan kartu debit kembalikan kepada kami!" kata Karin tersenyum.

Laras seketika lemas mendengar ancaman kedua orang tuanya.

"Ya sudah sana pulang, mau apa lagi di sini. Suamimu sudah datang menjemput!" kata Johan ke arah putrinya.

"Aku naik ojek saja!" Laras menolak satu mobil dengan suaminya.

"Tidak!" Karin melarang tegas. "Pulang dengan suamimu!"

-

Laras terpaksa pulang bersama Dio. Didalam kendaraan itu, keduanya saling diam. Bahkan, Laras memalingkan wajahnya dan memilih menatap jalanan dari kaca jendela.

Sampai rumah pun, keduanya tetap diam. Tak ada obrolan, masuk ke kamar dan menyiapkan semua keperluan yang akan dibawa ke luar negeri.

Selang 15 menit mereka tiba, terdengar suara bel berbunyi. Dio lalu keluar dan membuka pintu. Seorang pria muda mengantarkan satu buah koper dan beberapa pakaian hangat untuk Dio. "Ini semua atas perintah Tuan Besar Johan, Tuan."

"Ya, terima kasih!" ucap Dio.

Pria itu kemudian berlalu dan Dio kembali ke kamar sembari membawa koper besar miliknya.

"Lihatlah, orang tuaku begitu perhatian sekali denganmu. Tetapi, sikapmu kepada putrinya tak ada baiknya!" sindir Laras.

Dio hanya diam, ia tak mau terpancing emosi. Memang benar jika orang tuanya Laras sangat baik kepadanya dan keluarganya.

"Selama di sana, aku tak mau diantara kita terjadi kontak fisik!" kata Laras memberikan peringatan.

"Kamu tenang saja. Kamu tidak akan aku sentuh!" ucap Dio sambil menyusun pakaiannya ke dalam koper yang baru diterimanya.

-

Sore harinya, Dio dan Laras bersiap berangkat ke negara tujuan pertama. Keduanya hanya diantar oleh orang tuanya Laras sebab kedua orang tuanya Dio tak diberitahu.

"Jaga diri kalian di sana baik-baik. Dio, jangan pernah meninggalkan Laras sendirian ke sana. Temani dia selalu kemanapun!" nasihat Johan.

"Baik, Pa."

Sementara itu dilain tempat, keempat temannya Laras berkumpul di kafe Melodi. Lola, Cella dan Yuna telah mengetahui jika Rea membuat hubungan Laras dan suaminya renggang.

"Aku tak menyangka kamu itu jahat juga, ya, Rea!" singgung Cella ketika Rea duduk bersama dengan mereka.

Rea datang menemui temannya karena dia berpikir temannya tak mengetahui perselisihan antara dirinya dan Laras.

"Jadi, dia sudah mengadu kepada kalian!" Rea menarik ujung kanan bibirnya.

"Ya," ucap Cella.

"Untung saja Om Johan dan Tante Karin tak menyuruh mereka berpisah. Kalau mereka berpisah, kamu yang paling berdosa!" sahut Yuna.

"Kenapa aku?" tanya Rea.

"Karena mulutmu itu tak dapat dijaga!" jawab Yuna ketus.

"Waktu itu suaminya 'kan hanya bertanya bagaimana hubungannya dengan Alex. Aku jawab yang aku tahu saja," Rea membela diri.

"Halah, mulutmu 'kan bisa diam. Cukup bilang tak tahu!" tukas Lola.

"Jadi, kalian juga membenci aku?" Rea memasang wajah sendu.

"Karena hari ini Laras dan suaminya pergi bulan madu, kami tidak jadi membencimu!" kata Yuna.

"Mereka pergi liburan? Ke negara mana?" tanya Rea penasaran.

Ketiga temannya mengendikkan bahunya sebagai jawaban.

"Kenapa kalian tidak tahu?" tanya Rea lagi.

"Kenapa 'sih kamu harus tahu? Mau menyusul mereka?" sindir Lola.

"Hanya ingin tahu saja," kata Rea.

"Biarkan saja mereka menikmati waktu berdua. Siapa tahu 'kan nanti beberapa minggu setelah pulang Laras hamil," ucap Yuna.

"Semoga saja!" sahut Lola dan Cella juga berharap mendapatkan kabar baik dari temannya itu.

***

Laras dan Dio tiba di negara tujuan pukul 10 pagi lebih lambat 4 jam dari negaranya. Menggunakan taksi, keduanya menuju hotel yang telah dipesan.

Sesampainya di sana, Dio menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. "Lelahnya!"

"Tidurlah sebentar. Nanti sore kita akan keluar jalan-jalan!" kata Laras.

"Aku lapar!" ucap Dio.

"Karyawan hotel akan mengantarkan makanan ke sini. Tunggulah sebentar!" kata Laras lagi.

"Jam satu saja, aku tidur. Lagian ini masih pagi, aku tak biasa jam segini!" ucap Dio lantas bangkit.

"Terserah kamu saja, aku mau mandi!" kata Laras mengambil handuk dan melangkah ke kamar mandi.

Dio turun dari ranjang dan melihat pemandangan kota dari kaca jendela. Seumur hidupnya, baru kali ini dia melakukan perjalanan ke luar negeri dan naik pesawat. Sebenarnya dirinya sangat beruntung menikahi putri kaya raya. Entah, mengapa dirinya tak punya perasaan lebih kepada istrinya. Mungkin saja dirinya butuh waktu buat mencintainya.

Selang 20 menit, Laras keluar dengan memakai handuk yang menampakkan bagian dada dan paha mulusnya.

"Astaga, kenapa dia sangat menggoda?" batin Dio memalingkan wajahnya.

"Kamu tidak mandi?" tanya Laras.

"Ya, sebentar lagi," jawab Dio menatap ponselnya.

"Apa tunggu selesai makan?" tanya Laras.

"Ya," jawab Dio dengan cepat.

Ditengah obrolan keduanya, bel kamar berbunyi. Dio menatap ke arah istrinya yang hendak membuka pintu. Dengan cepat Dio bangkit dari tempat duduknya dan mengejar langkah istrinya.

"Biar aku saja!" Dio kini berdiri di depan istrinya.

"Pakai bajumu, aku tidak mau mereka melihat kamu telanjang!" kata Dio.

"Aku pakai handuk, bukan telanjang."

"Sama saja, cepat ke kamar mandi. Pakai di sana!" Dio memutar tubuh istrinya dan mendorongnya pelan ke arah kamar mandi.

Laras tak bergerak.

"Sudah sana cepat!" desak Dio.

"Iya!" Laras pun melangkah ke kamar mandi dan Dio membuka pintu kamar.

1
Dew666
💥💥💥💥💥
Dew666
Loh kok tamat thor?
Dew666
🍭💎
Dew666
💜💜💜
Dew666
🍡🪸💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!