Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Darah di Ambang Pintu
Suara tembakan pertama meletus seperti petasan raksasa yang memecah gendang telinga. Disusul oleh rentetan berikutnya yang terdengar lebih berat dan beruntun. Aruna tersedak napasnya sendiri, ia segera menarik Bumi ke sudut dapur yang paling terlindung, tepat di bawah meja kayu jati tua peninggalan ibunya. Ia memeluk kepala Bumi, menekan wajah putranya ke dadanya agar bocah itu tidak mendengar suara kematian yang sedang berpesta di luar sana.
"Ibu... suara apa itu? Bumi takut..." tangis Bumi pecah, tubuh kecilnya gemetar hebat.
"Sstt... jangan bicara, Sayang. Pejamkan matamu. Anggap saja ini suara kembang api yang sangat besar," bisik Aruna dengan suara parau. Air matanya mengalir pelan, namun ia tidak berani terisak. Ia harus kuat. Ia harus menjadi benteng terakhir untuk anaknya.
Di luar, Jalan Kenanga berubah menjadi medan perang. Dua mobil SUV hitam milik Marco melaju kencang, menabrak barikade yang dipasang anak buah Dante. Pria-pria bersenjata melompat turun dari kendaraan, memuntahkan peluru ke arah rumah nomor 12.
Dante Valerius berdiri di balik pilar beton teras rumah yang sempit. Luka di perutnya berdenyut hebat, setiap gerakan memberikan rasa perih yang seolah menyulut api di sarafnya. Namun, adrenalin telah mengambil alih. Wajahnya yang tadi sempat melunak saat bersama Bumi kini telah berganti menjadi topeng kematian yang dingin.
"Enzo! Sayap kiri! Jangan biarkan satu pun dari mereka mendekati pintu!" teriak Dante di tengah desing peluru yang menghancurkan pot-pot bunga milik Aruna.
"Siap, Tuan!" Enzo membalas sambil melepaskan tembakan presisi yang menjatuhkan salah satu penyerang.
Dante mengintip dari balik pilar. Ia melihat tiga orang anak buah Marco mencoba merayap melalui pagar samping, menuju jendela dapur tempat ia tahu Aruna dan Bumi bersembunyi. Kemarahan yang murni membakar dada Dante. Baginya, menyerang markas mafia adalah hal biasa, tapi menyerang tempat di mana ada seorang wanita dan anak kecil yang tidak berdosa adalah penghinaan yang tak termaafkan.
Dengan gerakan yang cepat meski tertatih, Dante keluar dari perlindungannya. Ia melepaskan dua tembakan beruntun. Bang! Bang! Dua pria di pagar samping jatuh tersungkur sebelum sempat menarik pelatuk mereka. Pria ketiga mencoba membalas, namun Dante lebih cepat. Satu peluru bersarang tepat di dahi pria itu.
Darah menyiprat ke dinding putih rumah Aruna. Warna merah itu tampak kontras dan mengerikan di bawah sinar matahari pagi.
"Tuan! Anda terluka lagi, masuk ke dalam!" teriah Enzo melihat noda merah mulai merembes kembali di kemeja hitam Dante.
"Diam dan habisi mereka semua!" bentak Dante. Ia tidak peduli jika jahitannya lepas. Ia tidak peduli jika ia harus mati kehabisan darah hari ini. Yang ia tahu, tidak boleh ada satu peluru pun yang menembus dinding dapur itu.
Pertempuran berlangsung singkat namun brutal. Pasukan Dante yang jauh lebih terlatih segera memukul mundur sisa-sisa penyerang. Mobil-mobil Marco yang masih berfungsi segera memutar balik dan melarikan diri, meninggalkan kawan-kawan mereka yang terkapar tak bernyawa di aspal Jalan Kenanga.
Sunyi kembali menyergap. Namun itu bukan sunyi yang damai. Itu adalah sunyi yang mencekam, hanya diiringi oleh suara tetesan air dari pipa yang bocor terkena peluru dan erangan pelan dari mereka yang masih bernapas di jalanan.
Dante menurunkan senjatanya. Napasnya berat dan pendek. Ia menyandarkan punggungnya ke pintu depan, lalu perlahan merosot duduk di lantai teras. Kemejanya kini basah kuyup oleh darahnya sendiri. Penglihatannya mulai berkunang-kunang.
"Tuan Valerius!" Enzo menghampirinya dengan panik. "Tim medis! Segera ke sini!"
Dante mengangkat tangannya, menghentikan Enzo. "Cek... cek di dalam. Pastikan mereka... tidak apa-apa."
Enzo mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah. Aruna masih meringkuk di bawah meja saat Enzo memanggil namanya. Dengan sisa tenaga yang ada, Aruna merangkak keluar, wajahnya kusam oleh debu dan air mata. Ia melihat Enzo, lalu matanya mencari sosok pria yang menjanjikan perlindungan padanya.
"Di mana dia?" tanya Aruna gemetar.
"Tuan Valerius ada di depan. Dia terluka parah," jawab Enzo singkat.
Aruna segera berlari ke arah pintu depan, mengabaikan peringatan Enzo. Saat ia sampai di ambang pintu, langkahnya terhenti. Ia melihat Dante duduk bersandar di pintu yang kini penuh lubang peluru. Pria itu tampak sangat rapuh, jauh berbeda dari sosok predator yang ia lihat beberapa menit lalu.
"Dante..." bisik Aruna. Ia berlutut di samping pria itu.
Dante membuka matanya perlahan. Ia melihat Aruna, lalu beralih ke arah Bumi yang mengintip takut-takut dari balik kaki ibunya. Dante memaksakan sebuah senyum tipis—senyum tulus pertama yang pernah ia berikan kepada siapa pun dalam hidupnya.
"Kau lihat, Janda?" suara Dante hampir hilang. "Aku menepati... janjiku. Mereka tidak... menyentuhmu."
Aruna melihat ke arah dahi Dante. Plester robot biru milik Bumi masih menempel di sana, kini tercoreng oleh noda darah dan debu perang. Pemandangan itu menghancurkan pertahanan Aruna. Ia meraih tangan Dante yang dingin dan penuh kapalan.
"Kenapa Anda melakukan ini?" tangis Aruna pecah. "Anda bisa saja menggunakan kami sebagai tameng. Anda bisa saja membiarkan kami jika itu menyelamatkan nyawa Anda."
Dante menggeleng pelan. "Karena... monster pun... tahu cara berterima kasih."
Kepala Dante terkulai. Ia pingsan dalam pelukan Aruna. Tim medis segera menyerbu masuk, mendorong Aruna menjauh untuk melakukan tindakan darurat. Ruang tamu Aruna kini berubah menjadi ruang operasi darurat kedua kalinya dalam dua hari.
Beberapa jam kemudian, situasi mulai terkendali. Anak buah Dante bergerak dengan efisiensi luar biasa. Mayat-mayat di jalanan telah menghilang seolah tidak pernah ada, mobil-mobil yang hancur diderek pergi, dan jejak darah di dinding disemprot dengan cairan pembersih khusus. Jalan Kenanga kembali bersih, namun bekas lubang peluru di dinding rumah nomor 12 tidak bisa disembunyikan.
Aruna duduk di kursi dapur, menatap segelas air yang tak disentuhnya. Bumi sudah tertidur lelah di kamar karena terlalu banyak menangis. Enzo mendekati Aruna, wajahnya tampak sangat serius.
"Nyonya Aruna," ucap Enzo formal. "Marco sudah tahu tempat ini. Dia tidak akan berhenti sampai dia menghancurkan apa pun yang berharga bagi Tuan Valerius. Tetap di sini berarti kematian bagi Anda dan putra Anda."
Aruna menatap Enzo dengan mata kosong. "Lalu kami harus ke mana? Ini rumah kami satu-satunya."
"Tuan Valerius sudah memberikan instruksi sebelum dia kehilangan kesadaran," Enzo meletakkan sebuah kunci emas di atas meja. "Begitu kondisinya cukup stabil untuk dipindahkan, Anda dan putra Anda akan ikut bersama kami ke kediaman pribadi Tuan di pusat kota. Itu adalah tempat paling aman di negara ini."
"Saya tidak mau menjadi bagian dari dunia kalian," tolak Aruna lemah.
"Anda tidak punya pilihan, Nyonya," balas Enzo dingin namun jujur. "Dunia luar sudah melihat Anda sebagai 'kelemahan' Dante Valerius. Di mata musuh-musuhnya, Anda adalah target nomor satu. Jika Anda ingin anak Anda tetap hidup, Anda harus ikut dengan kami."
Aruna menatap kunci di atas meja itu seolah itu adalah borgol yang akan membelenggu kebebasannya selamanya. Ia menatap ke arah ruang tengah, di mana Dante terbaring dengan berbagai selang medis di tubuhnya.
Pria itu telah memberikan darahnya untuk melindungi rumahnya. Dan sekarang, sebagai bayarannya, Aruna harus menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam kegelapan yang mengelilingi pria itu.
"Baiklah," bisik Aruna akhirnya. "Saya akan ikut. Tapi berjanji padaku, jangan biarkan Bumi melihat kekerasan lagi."
Enzo menundukkan kepala. "Saya tidak bisa berjanji soal itu, Nyonya. Tapi saya bisa berjanji satu hal: siapa pun yang mencoba menyentuh kalian, harus melewati mayat seluruh pasukan Valerius terlebih dahulu."
Malam itu, Jalan Kenanga ditinggalkan. Sebuah konvoi mobil hitam meluncur pergi membawa sang Monster yang terluka dan dua cahaya yang tanpa sengaja ia temukan di tengah badai. Aruna menatap keluar jendela mobil, melihat rumah kecilnya menghilang di kegelapan malam. Ia tahu, perjalanannya menjadi janda biasa telah berakhir. Kini, ia adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar, jauh lebih berbahaya, dan jauh lebih berdarah.
Dante Valerius mungkin berhutang nyawa padanya, namun Aruna mulai menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan jiwanya pada sang iblis.