NovelToon NovelToon
Rencana Gagal Mati

Rencana Gagal Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mantan / Komedi
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.

dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paket spesial

Rumah ibu Budi di pinggiran Bogor hanyalah sebuah bangunan kayu sederhana yang dikelilingi pohon bambu. Suasananya jauh dari kebisingan Senen, namun pikiran Reza tetap tidak bisa tenang. Setelah memastikan Anya aman di bawah penjagaan ibu Budi yang galak namun baik hati, Reza kembali ke Jakarta malam itu juga. Ia tidak bisa membiarkan Budi berjuang sendirian.

Pukul 02.00 dini hari, gudang distribusi yang biasanya sepi di jam segini, justru terlihat berpendar. Bukan karena lampu operasional, melainkan karena puluhan lampu motor yang menyala redup di area parkir. Budi berdiri di tengah kerumunan pria-pria berjaket lusuh. Ada kurir logistik, ojek online, hingga pengantar koran.

"Ini orangnya," kata Budi saat melihat Reza datang. "Si kurir ayam geprek yang mau dikerjai sama si Gery."

Reza turun dari motor, merasa agak kikuk dilihat oleh begitu banyak pasang mata

Yang tampak sangar di bawah bayangan malam. Namun, saat ia mendekat, tidak ada intimidasi. Salah satu pria, yang badannya penuh tato di lengan, menepuk bahu Reza. "Gery pernah bikin motor adikku disita karena bunga pinjolnya yang nggak masuk akal. Kami nggak butuh alasan lagi buat bantu kamu, Mas."

Budi membentangkan sebuah peta besar di atas meja kayu. "Gery akan mengadakan konferensi pers besok jam sepuluh pagi di hotel bintang lima miliknya. Dia mau meluncurkan aplikasi baru untuk investor Singapura. Dia ingin terlihat seperti pahlawan ekonomi. Kita akan pastikan dia tidak mendapatkan apa yang dia mau."

"Apa rencananya, Bud?" tanya Reza.

"Kita akan kirim 'Paket Kejujuran'," Budi nyengir. "Reza, kamu bilang Anya punya akses ke data perusahaan sebagai direktur fiktif, kan? Dia sudah mengirimkan semua bukti transfer gelap dan data nasabah yang diancam Gery ke ponselmu lewat cloud. Tugas kita adalah menyebarkannya di saat yang tepat."

Rencananya sangat gila namun brilian. Budi telah mengumpulkan ratusan kurir. Di jam yang sama saat acara dimulai, mereka akan melakukan "Flash Mob Pengiriman". Bukan demo berteriak-teriak, melainkan mengirimkan ratusan amplop cokelat kepada setiap tamu undangan dan wartawan yang masuk ke hotel itu. Amplop itu berisi salinan bukti kejahatan Gery.

Pagi harinya, hotel Grand Mahkota terlihat sangat mewah. Mobil-mobil kelas atas berjejer. Gery berdiri di atas panggung dengan jas seharga puluhan juta, tersenyum lebar di depan kamera. Ia tidak tahu bahwa di radius satu kilometer dari hotel tersebut, "tentara jaket lusuh" sudah mengepung.

Reza berada di barisan paling depan. Ia tidak lagi memakai jaket kurir yang kotor. Budi meminjamkan sebuah kemeja putih dan celana kain agar Reza bisa masuk ke area lobi sebagai tamu atau vendor. Di tangannya, ada satu amplop paling penting: aslinya.

"Siap?" suara Budi terdengar lewat earphone yang terhubung ke panggilan grup.

"Siap," jawab Reza.

"Luncurkan!"

Seketika, puluhan motor kurir datang secara bergantian ke lobi hotel. Satpam mencoba menghalau, tapi para kurir ini sangat profesional. Mereka tidak berdebat. Mereka hanya turun, menyerahkan amplop kepada siapa pun yang mereka temui tamu yang baru turun dari mobil, resepsionis, hingga wartawan yang sedang merokok di teras.

"Paket untuk Bapak," kata mereka serempak, lalu pergi secepat kilat agar tidak ditangkap.

Di dalam aula, saat Gery baru saja akan memulai presentasinya, suasana mulai gaduh. Orang-orang mulai membuka amplop itu. Bisikan-bisikan mulai menjalar seperti api di atas jerami kering. Beberapa wartawan mulai memeriksa ponsel mereka, di mana data digital yang disebar oleh rekan-rekan Budi di media sosial mulai viral dengan tagar #Keadilan UntukAnya dan #Kedok Gery.

Wajah Gery yang tadinya cerah berubah menjadi pucat saat seorang investor berdiri dan menunjukkan salinan dokumen transfer gelap yang baru saja ia terima."Gery, apa maksud dari dokumen ini?"

Gery mencoba tertawa. "Itu hanya fitnah dari pesaing bisnis. Mohon tenang..."

Tiba-tiba, pintu aula terbuka lebar. Reza melangkah masuk. Ia tidak berteriak. Ia hanya berjalan perlahan menuju panggung di tengah ratusan mata yang menatapnya.

Gery melihatnya dan matanya membelalak penuh amarah sekaligus ketakutan. "Security! Usir orang ini!"

Reza berhenti di depan panggung, tepat di bawah sorot lampu. Ia mengangkat ponselnya yang sedang menyiarkan siaran langsung (Live) dengan jumlah penonton yang terus melonjak karena dibagikan oleh komunitas kurir se-Jakarta.

"Gery," suara Reza tenang namun menggema. "Aku orang yang kamu bilang pecundang karena gagal mati. Tapi hari ini, aku hidup hanya untuk satu hal: memastikan kamu tidak bisa merusak hidup orang lain lagi. Anya aman, dokumenmu sudah di tangan pihak berwajib, dan yang paling penting... semua orang di sini tahu siapa kamu sebenarnya."

Gery mencoba menerjang Reza, tapi dua orang pria besar yang ternyata adalah kurir yang menyamar sebagai pengawal hotel segera menahannya. Polisi yang sudah dikontak oleh Budi lewat jalur resmi (dengan bukti yang lengkap) masuk ke dalam aula.

Gery diseret keluar di depan kamera wartawan yang tadinya ia undang untuk memujinya.

Reza berdiri di sana, sendirian di panggung mewah itu sejenak. Ia melihat tali jemuran kuning yang sengaja ia lilitkan di pergelangan tangannya di balik lengan kemeja. Tali itu bukan lagi lambang keputusasaan. Itu adalah lambang pengikat antara dirinya dan kehidupan.

Setelah keributan mereda, Reza keluar dari hotel. Budi sudah menunggunya di atas motor bebek tuanya, sambil merokok dengan wajah puas.

"Gimana, Mas Drama? Puas?"

Reza menarik napas dalam, membiarkan udara Jakarta yang penuh polusi masuk ke paru-parunya. Kali ini, udara itu tidak terasa menyesakkan. "Puas, Bud. Tapi kita masih punya banyak paket yang belum diantar, kan?"

Budi tertawa keras. "Itu baru semangat! Ayo balik ke gudang. Komisi hari ini saya naikkan dua kali lipat!"

Reza memacu motornya mengikuti Budi. Di kepalanya, ia membayangkan Anya yang sedang menunggu di Bogor. Ia membayangkan masa depan yang mungkin masih sulit, tapi tidak lagi gelap. Hidup memang masih berantakan, tapi ia sadar bahwa ia adalah kurir bagi takdirnya sendiri.

Dan hari ini, ia berhasil mengantarkan paket paling penting: Harga Diri.

Setelah badai di hotel mewah itu mereda, dunia tidak lantas menjadi pelangi. Gery memang sudah diangkut mobil polisi, namun hidup bukan sinetron yang selesai saat antagonisnya tertangkap. Bagi Reza dan Anya, tantangan yang lebih nyata justru baru saja dimulai: bagaimana cara hidup sebagai dua orang manusia yang sama-sama punya masa lalu berantakan di sebuah kota kecil yang tenang.

1
oratakasinama
kek pernah baca di novel sebelah 🤣🤭
Kal Ktria: kak? mna , spil dong
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!