Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Konfrontasi di Ambang Pagi
Antares sudah meninggalkan apartemen bahkan sebelum cahaya matahari benar-benar menyentuh lantai penthouse. Di atas meja makan, ia telah meninggalkan sepiring sarapan sehat—oatmeal dengan buah segar dan segelas susu kehamilan—beserta catatan kecil bertuliskan: "Makan semuanya, Zea. Sopir sudah menunggu di lobi untuk mengantarmu jam 9 nanti. Saya ada urusan mendadak di fakultas." Antares tahu ia harus membereskan Clarissa sebelum Zea menginjakkan kaki di kampus, karena baginya, membiarkan Clarissa tetap berada di gedung yang sama dengan Zea adalah risiko keamanan yang tidak bisa ia toleransi.
Di koridor gedung dosen yang masih sepi, Antares berdiri menyandar di depan pintu ruangan Clarissa dengan berkas hitam di tangannya. Saat Clarissa muncul dengan senyum kemenangan yang belum pudar, Antares langsung menghujamnya dengan tatapan sedingin nol mutlak. "Kamu datang lebih pagi dari jadwal mengajar, Clarissa, seolah-olah ada sebuah 'kemenangan' yang sangat ingin kamu saksikan hari ini, padahal yang menantimu hanyalah akhir dari kariermu," ucap Antares datar, membuat senyum di wajah wanita itu membeku seketika.
Clarissa berusaha menguasai diri, ia tersenyum tipis sambil merapikan tas mahalnya, mencoba menutupi kegugupan yang tiba-tiba menyerang sarafnya. "Aku hanya ingin menjadi dosen yang disiplin, Antar, bukankah kamu sendiri yang selalu menjunjung tinggi integritas waktu di kampus ini?" balas Clarissa dengan nada bicara yang dibuat semanis mungkin, meski hatinya mulai waswas melihat keheningan Antares yang tidak biasa.
Antares tidak membalas senyuman itu, ia justru menegakkan tubuhnya dan menyodorkan berkas berwarna hitam yang sejak tadi dipegangnya ke depan wajah Clarissa. "Integritas yang kamu maksud adalah menyebarkan privasi istri saya ke dalam sistem kampus melalui akun anonim yang jejak digitalnya berhasil tim saya lacak dalam waktu kurang dari lima belas menit?" tanya Antares dengan suara yang rendah namun sarat akan ancaman yang sanggup mengakhiri karier siapa pun di ruangan itu.
Clarissa terbelalak, wajahnya mendadak pucat pasi saat ia menyadari bahwa seluruh foto yang ia unggah semalam telah lenyap tanpa bekas, seolah-olah ia tidak pernah menekan tombol kirim. "Kamu... kamu membersihkannya? Antar, kamu sadar tidak kalau kamu sedang melindungi seorang anak kecil yang hanya akan menghancurkan reputasi keluarga Bagaskara?" pekik Clarissa setengah tidak percaya, suaranya melengking karena rasa frustrasi yang memuncak melihat betapa berkuasanya pria di depannya ini.
Antares melangkah maju satu langkah, mengikis jarak hingga Clarissa terpaksa mundur hingga punggungnya menabrak dinding koridor yang dingin. "Reputasi saya adalah urusan saya, tapi keselamatan mental Zea adalah prioritas yang tidak akan pernah bisa kamu sentuh dengan tangan kotormu itu," desis Antares tepat di depan wajah Clarissa, memberikan aura intimidasi yang sangat menyesakkan. "Di dalam berkas ini ada surat pengunduran diri kamu sebagai dosen tamu; silakan tanda tangani sekarang, atau saya pastikan nama kamu masuk dalam daftar hitam seluruh institusi akademis di negeri ini sebelum jam makan siang."
Clarissa gemetar, ia menatap berkas itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena amarah dan penghinaan yang luar biasa. "Kenapa kamu sekejam ini padaku, Antar? Dulu aku adalah orang yang paling kamu puja, tapi sekarang kamu membuangku hanya demi mahasiswi manja yang bahkan tidak tahu cara menghargai statusmu!" tangis Clarissa pecah, namun hal itu sama sekali tidak meluluhkan hati Antares yang sudah sekeras baja.
Antares hanya menatapnya dengan tatapan meremehkan, seolah-olah Clarissa hanyalah sebuah gangguan kecil dalam rumus kehidupannya yang sudah sempurna. "Pemujaan saya di masa lalu adalah sebuah kesalahan kalkulasi, dan Zea adalah satu-satunya jawaban benar yang pernah saya temukan dalam hidup saya," tutup Antares dingin, lalu ia meletakkan pulpen di atas berkas tersebut. "Tanda tangani, kemasi barang-barangmu, dan jangan pernah biarkan bayanganmu menyentuh gerbang kampus ini lagi, atau saya tidak akan sedamai ini dalam pertemuan berikutnya."
Satu jam kemudian, mobil Rolls-Royce yang membawa Zea memasuki gerbang kampus. Begitu Zea turun, ia langsung merasakan atmosfer yang sangat aneh; mahasiswa yang berpapasan dengannya langsung berbisik-bisik, sementara beberapa lainnya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan antara kasihan dan benci. "Eh, itu kan Zea? Katanya tadi pagi Pak Antares sama Bu Clarissa sudah di ruang dosen berduaan, mukanya tegang banget lagi bahas sesuatu yang serius," bisikan seorang mahasiswi yang lewat tepat di samping Zea membuat jantungnya mencelos seketika.
Zea berdiri mematung di tengah koridor, meremas tali tasnya dengan perasaan yang mulai bergejolak hebat antara cemburu dan rasa mual yang kembali menyerang. Mood swing-nya meledak seketika; ia merasa dikhianati karena Antares meninggalkannya pagi-pagi buta hanya untuk bertemu dengan wanita dari masa lalunya itu. "Jadi Mas Antar bohong soal urusan mendadak? Ternyata urusan mendadaknya itu Clarissa?" gumam Zea dengan mata yang mulai berkaca-kaca, segera melangkah menuju ruang dosen dengan langkah lebar meski perutnya terasa tidak nyaman.