NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: tamat
Genre:Horor / Selingkuh / Dendam Kesumat / Tamat
Popularitas:244.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tikaman kenyataan

Matahari siang itu serasa membakar atap seng ruang cuci rumah Bu Sofia, namun hawa dingin yang menjalar di punggung Ratih jauh lebih menusuk. Ia sedang mengucek serbet makan yang terkena noda anggur ketika pintu belakang terbuka dengan kasar. Lastri masuk dengan napas memburu, wajahnya yang biasanya ceria kini tampak tegang dan penuh amarah yang tertahan.

“Ratih! Sini dulu, berhenti!” Lastri menarik lengan Ratih, menyeretnya menjauh dari suara gemericik air agar percakapan mereka tidak terdengar sampai ke depan.

“Ada apa, Mbak? Kok mukanya pucat begitu?” tanya Ratih heran, sambil menyeka tangan basahnya ke daster.

Lastri menoleh ke kanan dan kiri, memastikan Bu Sofia sedang tidak berada di dekat sana. Suaranya merendah, parau karena emosi. “Semalam... semalam jam dua pagi, aku keluar sama suamiku. Dia lapar sekali, jadi aku minta antar cari nasi bebek di dekat kawasan bar itu. Dan kamu tahu siapa yang aku lihat?”

Jantung Ratih berdegup kencang secara tiba-tiba. “Siapa, Mbak?”

“Bimo, Ratih! Si Bimo bajingan itu!” Lastri mengumpat tanpa sadar. “Dia keluar dari gedung Glow Disco—tempat hiburan malam yang isinya cuma minuman keras dan perempuan nakal. Dia nggak sendiri. Dia membonceng perempuan, Ratih. Perempuan yang bajunya... astaga, cuma menutup setengah badannya saja! Mereka mesra sekali, tangan perempuan itu masuk ke dalam jaket Bimo sambil ketawa-ketawa.”

Ratih menggeleng cepat, sebuah gerakan penolakan otomatis dari alam bawah sadarnya. “Nggak mungkin, Mbak. Mas Bimo bilang semalam dia lembur di kantor. Dia bilang capek sekali sampai suaranya serak di telepon.”

“Lembur kepalanya!” Lastri geram melihat ketulian hati temannya. “Aku minta suamiku buntuti mereka. Dan kamu tahu mereka ke mana? Mereka masuk ke Hotel Melati di jalan tembusan itu. Hotel yang jam-jaman! Aku mau foto, tapi hp-ku ketinggalan di rumah. Suamiku juga nggak bawa hp. Tapi aku sumpah, Ratih, itu Bimo! Motornya, jaketnya, bahkan helm yang kamu belikan bulan lalu itu dia yang pakai!”

Ratih terhuyung, tangannya memegang rak besi untuk menyeimbangkan tubuh. Dunia seolah berputar. Bayangan Bimo yang lelah bekerja, bayangan rumah impian, dan janji suci pernikahan seolah dihantam badai besar.

“Glow Disco... itu dekat warung Cak Man, kan?” bisik Ratih dengan bibir gemetar.

“Iya! Cuma lewat dua blok dari sana. Jadi selama ini kamu diperas buat bayar perempuan malam, Ratih! Kamu sadar nggak sih?!”

Ratih tidak menjawab. Ia hanya diam dengan tatapan kosong. Namun di dalam kepalanya, sebuah keberanian yang gelap mulai tumbuh. Ia tidak bisa hanya mendengar. Ia harus melihat. Karena jika ia tidak melihat sendiri, hatinya yang keras kepala ini akan terus mencari alasan untuk memaafkan Bimo.

Malam itu, Ratih kembali bekerja di warung pecel lele Cak Man. Meskipun Bu Sofia sudah melarangnya, Ratih tetap datang dengan alasan ingin berpamitan secara baik-baik. Namun sebenarnya, itu hanyalah kedok. Ia membutuhkan alasan untuk berada di kawasan itu pada jam-jam rawan.

Suasana warung agak sepi malam itu karena hujan gerimis yang turun sejak sore. Sekitar pukul sebelas malam, Ratih melepas celemeknya yang bau amis.

“Cak, saya ke depan sebentar ya. Mau beli obat pusing di apotek,” pamit Ratih pada Cak Man.

“Iya, Ti. Jangan lama-lama ya, ini sebentar lagi biasanya orang datang di jam lapar ,” sahut Cak Man tanpa curiga.

Ratih berjalan cepat. Gerimis membasahi wajahnya, bercampur dengan keringat dingin. Ia menyusuri trotoar yang remang-remang, melewati deretan toko yang sudah tutup, hingga sayup-sayup suara musik jedug-jedug mulai terdengar. Aroma alkohol dan asap rokok tajam mulai tercium saat ia mendekati gedung dengan lampu neon warna-warni bertuliskan Glow Disco.

Ratih menyeberang jalan, mencari tempat persembunyian di kegelapan, di balik sebuah tiang listrik besar dan tumpukan kayu bekas konstruksi. Ia berjongkok di sana, memeluk lututnya sendiri. Tubuhnya yang kurus kering menggigil, bukan hanya karena dingin, tapi karena ketakutan akan kebenaran yang mungkin akan ia temukan.

Satu jam berlalu. Setiap kali pintu bar terbuka dan sekelompok orang keluar, jantung Ratih seolah berhenti berdetak. Ia melihat banyak pria berpakaian rapi merangkul wanita-wanita dengan riasan tebal. Ia berdoa dalam hati, Tuhan, tolong jangan biarkan Mas Bimo ada di sini. Biarlah Mbak Lastri salah lihat.

Namun, Tuhan seolah ingin mengakhiri kebodohan Ratih malam itu.

Ratih mulai merasa lelah dan kedinginan. Ia berdiri, hendak berbalik dan pulang. Mungkin mbak Lastri memang salah lihat, pikirnya menghibur diri. Saat ia baru saja melangkah dua kali menuju arah warung, suara knalpot motor yang sangat familiar terdengar dari area parkir gedung itu.

Vroom... vroom...

Ratih membeku. Ia mengenali suara mesin itu. Itu motor matic yang cicilannya selalu ia bantu bayar setiap bulan.

Ratih kembali bersembunyi di balik tiang, mengintip dengan satu mata. Dari balik cahaya lampu jalan yang remang, ia melihat Bimo keluar. Pria itu memakai jaket kulit yang tampak mahal,pemberian Ratih untuk hadiah ulang tahun. Bimo tertawa lebar, tawa yang tidak pernah ia tunjukkan saat bersama Ratih. Di belakangnya, seorang wanita dengan rok mini yang sangat pendek dan baju atasan yang memperlihatkan ulu hati, memeluk pinggang Bimo dengan posesif.

"Aduh, Sayang... pelan-pelan dong naiknya," suara Bimo terdengar sangat jelas. Suaranya renyah, segar, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda orang yang sedang lelah lembur kantor.

"Abisnya kamu lucu sih, Mas. Tadi minumnya dikit banget, takut ya?" wanita itu menggoda sambil mencubit pipi Bimo.

"Bukannya takut, Sayang. Aku harus simpan tenaga buat di hotel nanti, kan?" Bimo mengedipkan mata, lalu menghidupkan motornya.

Motor itu bergerak perlahan, melewati persis di depan tempat persembunyian Ratih. Jarak mereka hanya terpaut tiga meter. Ratih bisa melihat dengan jelas wajah Bimo yang berseri-seri. Ia bisa mencium aroma parfum mahal yang menguar dari tubuh Bimo parfum yang harganya mungkin setara dengan upah mencuci Ratih selama dua minggu.

Ratih menutup mulutnya dengan kedua tangan agar jeritannya tidak lolos. Air matanya tumpah seketika, mengalir deras membasahi tangannya yang kasar. Dadanya terasa sesak seolah-olah seluruh oksigen di dunia ini mendadak hilang.

Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tangan wanita itu merayap masuk ke dalam jaket Bimo, dan bagaimana Bimo membiarkannya sambil sesekali mengelus paha wanita itu saat motor berhenti di lampu merah yang tak jauh dari sana.

"Ya Allah..." bisik Ratih di sela tangisnya yang tertahan.

Dunia impian yang ia bangun dengan darah, keringat, dan air mata selama dua tahun ini runtuh dalam satu detik. Bayangan tentang kebaya putih, rumah dengan taman bunga, dan kebahagiaan ibunya di desa pecah berkeping-keping. Pria yang ia puja sebagai malaikat penyelamat ternyata adalah iblis yang sedang berpesta di atas penderitaannya.

Ratih jatuh terduduk di atas tanah yang becek. Ia tidak peduli lagi dasternya kotor. Ia tidak peduli lagi gerimis mulai menderas. Pikirannya melayang pada tangan-tangannya yang lecet karena sabun, pada lambungnya yang sering perih karena hanya makan nasi sekali sehari demi menghemat, dan pada ibunya yang diabaikan demi pria bajingan ini.

Semua pengorbanannya ternyata hanya digunakan untuk membayar tawa wanita lain. Semua keringatnya ternyata hanya berubah menjadi desah nikmat di hotel-hotel murah.

Ratih menangis tersedu-sedu di kegelapan itu. Suara isakannya tertutup oleh bising kendaraan dan musik bar, namun rasa sakitnya seolah mampu membelah langit malam. Ia merasa menjadi manusia paling bodoh di seluruh dunia. Cinta telah membuatnya buta, tuli, dan kini... hancur lebur.

Namun, di tengah kesedihan yang menghujam itu, sesuatu yang lain mulai merayap di hati Ratih. Bukan lagi rasa sayang, bukan lagi rasa ingin memaafkan. Sesuatu yang dingin, tajam, dan sangat gelap. Sebuah dendam yang murni mulai mendidih di dalam darahnya.

Ia menghapus air matanya dengan kasar, meninggalkan noda tanah di pipinya. Matanya yang merah menatap tajam ke arah motor Bimo yang sudah menghilang di kegelapan jalan.

"Kamu sudah makan hidupku, Bimo," desis Ratih dengan suara yang sudah tidak lagi terdengar seperti manusia. "Sekarang, aku akan pastikan kamu memakan rasa sakitmu sendiri."

Ratih berdiri dengan kaki yang lebih kokoh dari sebelumnya. Ia tidak kembali ke warung Cak Man. Ia berjalan menembus hujan, membiarkan tubuhnya basah kuyup.

Malam itu, Ratih yang penurut telah mati. Yang tersisa hanyalah seorang wanita yang hatinya telah menjadi kerak hitam, siap menempuh jalan paling terlarang demi sebuah pembalasan dendam yang setimpal.

1
Argeymi Frananda Lestary
Dari semua cerita novel yg prnah qw baca, kyaknya cuma ini yg bisa bikin pembaca ikut deg"an pas perang gaib, dan bner" bnyak bgtt pljrannya, bner" bisa BKIN orang sadar klau d dunia cuma buat cari bekal d akhirat nanti , untuk authornya💪💪💪💪 semangat trus kk, qw tunggu novel selanjutnya
🔵🌹 Widian🧕
baca novel ini bikin emosi naik turun, luar biasa author nya .
Dengan bahasa dan deskripsi yang mudah dipahami, berasa kita menyaksikan sendiri.
Semangat berkarya Thor /Good//Good//Good//Good/
🔵🌹 Widian🧕
wahh....bagus sekali cerita nya, di bagian endingnya, aku sampe nangis karena perjuangan dan jalan taubat Ratih yang penuh rintangan.
keren Thor 👍👍👍
Halwah 4g: terimakasih kka
total 1 replies
🔵🌹 Widian🧕
aku kagum dengan sosok Ratih, perempuan lemah yang dulu menyimpan dendam ,kini sudah menemukan jalan Nya.
moga kedepannya Ratih selalu Istiqomah dan bahagia dengan jodoh yg sudah Allah siapkan.
Srikandi Dewi Larasati
banyak komentar yg menyudutkan Ratih.. meski dia adalah korban.. dan aq bisa memaklumi hingga diriny mmpunyai dendam terhadap Bimo.. karena sikapny terhadap Ratih sdah sangat keterlaluan.. Jika bnyak yg komentar Ratih bodoh karena terlalu percaya pada Bimo.. yaa, wajarlah.. jika lagi bucin sperti kalian jga jika bertemu dgn cwo cakep dan terlihat tajir..
sekarang yg tobat justru Ratih.. yg kalian sdutkan.. bukan Bimo yg kalian anggap kasihan gara2 perilaku Ratih.. Itu yg di sebut karma.. apa yg mereka tanam.. itu juga yg kelak mereka petik hasilnya.. dan itu jga yg di sebut hukum semesta.. atau sebab akibat yg tidak bisa terbantahkan..
Halwah 4g: namnya juga pelajaran hidup ka..hehehehehe.. makasih ya ka...buat komennya
total 1 replies
Srikandi Dewi Larasati
fitnah memang sangatlah keji dan kejam.. dan penulisnya bikin yang baca jadi geram sendiri.. itulah penulis terbaik.. yg bisa membuat pembacanya ikut larut ke dalam ceritanya.. sukses selalu..
Fadhliyah
aku sangat terharu thor😥😭. beneran
selama ini merasa jadi orang yg paling menderita. hidup sendiri di usia tua. dan apa apa selalu minta sama Allah. aku sadar ibadahku masih kurang🥲
Halwah 4g: peluk jauh kka sayang...kka hebat selalu menjadikan Allah sebagai tempat sandaran satu satunya..
total 1 replies
Widia Cupu
plongh rasanya
Widia Cupu
akirnya
Widia Cupu
udah lah Bimo tobat o lee kasian juga
Widia Cupu
lagi2ratih jadi korban
Srikandi Dewi Larasati
kirain tulus tobat.. trnyata...
Srikandi Dewi Larasati
Kadang hati seorang pendendam akan puas bila melihat orang yg telah menyakitinya sdah tersiksa oleh penderitaan hingga lupa diri dan menjadi sombong.. dan kesombongan itu justru adalah sifat dasar iblis..
jadi jgan heran jika orang sombong itu biasanya perilakukannya jga kek iblis.. tak punya rasa iba lgi.. seperti Ratih..
Srikandi Dewi Larasati
ini yang di sebut hukum sebab akibat..
Bimo menjadi seperti itu pasti ada sebab.. dan apapun kejahatan pasti ada timbal balik yang harus di terima.. dan itu adalah hukum karma..
Tak ada kejahatan akan berbuah manis bukan.. jadi seperti itulah hukum alam bekerja..
Rhea Kim
😭kereennmn ceritanyaaa

tapi yg bunuh rani, bunuh anak pak kades.bunuh sinden....
belum terungkap ke polisi yak... jasadnya rani belum ketemu...

bang aryaa.... jugaaaa kagak ketemu ketemu🤣🤣🤣... nyasar kali yakkk...

tapi bagusss jalan ceritanya.... pilihan katanya baguss.... jadi nyaman membacanya🥰🥰🥰
Rhea Kim: iyaa bagusss ceritanya kakak.... 🔥🔥🔥🥰🥰
total 2 replies
Rhea Kim
ceritanyaaaa baguss bangett kakak🥰🥰🥰🥰
Rhea Kim
Alhamdulillah... ikut lega😭😭😭
sunardi imogiri
mungkin itu yg di sebut menyimpan bangkai serapat mngkin.. tpi akhirnya tetap baunya akan trcium jga..
Rhea Kim
syariiiiiiee
kadang insting ortu itu bener lo
Rhea Kim
ya Allah nagiss aq ... kayak terhanyut kasian gtu ama orang2 yg baik ...

cobaan nya g main2...
Halwah 4g: hehehehhehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!