NovelToon NovelToon
Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pernikahan Kilat / Konflik etika
Popularitas:97.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.

Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.

Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.

Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.

Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Aroma Kebohongan

Setelah Zahra menghilang di balik pintu, Reza menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke sandaran kursi.

Matanya terpejam, mengingat bagaimana dadanya berdesir setiap kali Zahra menyentuhnya. Bagaimana perempuan itu bermanja, lembut, namun menggoda.

"Dia membuatku merasa benar-benar menjadi seorang pria," batinnya.

Zahra yang cantik, hangat, memuja tanpa banyak bertanya.

Tanpa sadar, senyum tipis terbit di bibirnya. Namun saat matanya terbuka, pandangannya jatuh ke sofa di sudut ruangan.

Tas Ayza masih tergeletak di sana.

Wanita yang tenang, mandiri, bertanggung jawab. Wanita dengan begitu banyak kelebihan yang baru belakangan ini ia sadari.

Tapi ingatan tentang kata-katanya yang tajam kembali menyeruak. Tentang bagaimana setiap perdebatan selalu berakhir dengan dirinya terpojok.

Senyum itu memudar, berganti getir.

"Dia selalu membuatku merasa… seperti terdakwa."

Lamunannya seketika buyar saat pintu terbuka. Tanpa diketuk. Reza menoleh. Ayza muncul dari balik pintu.

Ia berdecak. “Ketuk pintu dulu sebelum masuk,” tegurnya.

Ayza hanya melirik sekilas. “Ribet,” ujarnya santai sambil mengangkat paper bag berisi makanan di tangannya.

Ia melangkah masuk. “Lagipula aku ini istrimu.” Ayza berhenti sejenak, lalu menambahkan tanpa ekspresi, “Dan aku sudah melihat seluruh tubuhmu.”

Wajah Reza langsung memerah. Namun Ayza belum selesai.

“Jadi, apa lagi yang kamu khawatirkan kalau aku masuk tanpa mengetuk pintu?”

Ia meletakkan paper bag di atas meja. Lalu menatap Reza lurus.

“Kecuali…” Nada suaranya tetap ringan. “Kamu lagi selingkuh di belakangku.”

Jeder!

Kata-kata itu menghantam lebih keras dari petir.

“Kamu bicara apa sih?” sela Reza cepat, berusaha menutupi kegugupannya.

“Bicara fakta,” sahut Ayza ringan, sambil mulai mengeluarkan makanan dari paper bag.

Reza memejamkan mata. Tangannya mengepal.

"Setiap kali aku mulai kagum padanya, kekaguman itu selalu dipecahkan seperti kaca yang dilempar batu," batinnya pahit.

Ayza mengangkat wajah. “Mau makan nggak?”

Reza mengerutkan kening. “Buat apa aku suruh kamu pesan makanan kalau aku nggak mau makan?” ketusnya.

Ayza mengangguk singkat. “Kalau begitu cepat ke sini.” Ia melirik jam. “Kamu sendiri yang bilang waktu istirahat sebentar.”

Reza akhirnya bangkit dari kursinya, melangkah ke sofa dengan perasaan dongkol yang tak bisa ia sembunyikan.

Ayza menyiapkan makanan untuk Reza dengan telaten. Mengambilkan nasi, lauk, menyusunnya rapi di piring.

"Apapun yang ia lakukan selalu membuatku tersentuh," batin Reza. "Tapi kata-katanya… selalu meruntuhkan egoku tanpa ampun."

Sementara itu, sejak Reza duduk di sebelahnya, Ayza memerhatikan sesuatu yang lain.

Aroma.

Ia mengenalinya dengan baik. Parfum yang dipakai Reza sejak pagi tidak berubah. Sama.

Ayza sedikit mendekat. Namun alisnya berkerut samar.

"Tapi kenapa sekarang ada aroma lain?" Ia menghirup pelan. "Ini seperti… parfum wanita."

Reza menyipitkan matanya, saat menyadari Ayza tidak menyentuh makanannya, tapi malah mendekat ke arahnya.

“Ngapain kamu dekat-dekat?” tanya Reza, membuyarkan fokusnya.

Ayza justru mendekat sedikit lagi. “Parfummu,” ucapnya tenang. “Kenapa aromanya berubah?”

DEG!

Reza menelan ludah kasar.

Dan sebelum ia sempat membuka mulut, Ayza melanjutkan kata-katanya, nadanya tetap datar.

“Ini persis seperti aroma parfum Zahra.”

"Sial." Reza mengumpat dalam hati. "Kok dia bisa tahu, sih? Dia terlalu teliti."

Ingatan Ayza berkelebat. Parfum yang sama. Saat Zahra datang ke rumah dan juga ke rumah sakit.

Ayza menatapnya penuh selidik. “Dia dari sini?”

“Iya,” jawab Reza singkat. "Menyangkal pun percuma," lanjutannya dalam hati.

Ia meraih sendok, seolah itu bisa menghentikan pertanyaan yang lebih mirip interogasi. “Sudah. Aku mau makan. Jangan banyak tanya.”

Ayza mengangguk pelan.

“Oke.” Ia meraih sendok dan mengambil makanan untuknya sendiri. Lalu, tanpa menoleh lagi, ia berkata pelan.

“Tapi ingat…”

Reza berhenti mengunyah.

“Bangkai yang dikubur sedalam apa pun, meski tinggal tulang…” Ayza menatapnya singkat. “Suatu saat tetap akan terkuak.”

Reza hampir tersedak, karena tanpa sengaja menelan makanan yang baru saja ia kunyah.

“Kamu ngomong apa sih?” ucapnya datar, berusaha menyembunyikan kegugupan.

Ayza tertawa tanpa suara. “Kau lebih tahu apa yang aku maksud, Tuan Reza yang terhormat.”

Dan seperti biasa, Reza tak mampu mendebat istrinya. Lagi dan lagi, ia kalah. Dan yang paling menyedihkan, setiap kali ia berusaha membela diri, akhirnya selalu sama. Terpojok.

 

Ayza baru saja selesai membereskan meja kecil di depan sofa ketika ponselnya berdering.

Bunda. Video call.

Tanpa ragu, ia menerima panggilan itu.

“Assalamualaikum, Bunda,” ucapnya lembut begitu wajah mertuanya muncul di layar.

"Wa'alaikumsalam," balas Siti. Wanita itu tampak bersandar di ranjang pasien, wajahnya pucat namun tersenyum.

Reza yang baru duduk di kursinya langsung menoleh. "Bunda?" gumamnya lirih.

“Kamu di mana, Za?” tanya Siti, matanya mengamati latar di belakang Ayza.

“Di kantor Kak Reza, Bun.”

Mata Siti sedikit membesar. “Di kantor Reza? Ada apa, Nak? Kenapa—” Kalimatnya menggantung, ragu melanjutkan.

Ayza tersenyum di balik cadarnya. “Kak Reza lagi agak repot, Bun. Jadi aku bantu sedikit,” jelasnya dengan suara selembut kapas.

Reza berdecak pelan. "Kalau sama mertuanya, kata-katanya selembut butter cream. Tapi kalau sama suaminya… seperti pisau yang diasah tiap hari," gumamnya lirih.

Ayza menoleh, alisnya terangkat samar. Namun suara Siti kembali menarik perhatiannya ke layar.

“Ada apa, Nak?” tanya Siti lembut.

Ayza menggeleng pelan. “Nggak apa-apa, Bun. Tadi Kak Reza bergumam, aku kira bicara sama aku.” Ia lalu tersenyum. “Bunda gimana kabarnya?”

“Alhamdulillah,” jawab Siti. “Kata dokter ada kemajuan.”

“Alhamdulillah,” sahut Ayza. “Semoga Allah segera mengangkat penyakit Bunda.”

“Aamiin,” balas Siti pelan. “Semoga sakit ini jadi penggugur dosa.”

“Aamiin.”

Siti lalu tersenyum kecil. “Oh ya… bisa Bunda bicara dengan Reza?”

Ayza mengangguk. “Tentu, Bun.”

Tanpa menunggu lama, ia menghampiri Reza dan menyerahkan ponselnya.

Entah kenapa, Reza justru merasa gugup. Ia menyembunyikannya sebaik mungkin.

“Assalamualaikum, Bun,” sapa Reza sambil tersenyum.

“Waalaikumsalam,” sahut Siti. Namun sesaat kemudian, keningnya mengerut. “Tanganmu kenapa?” tanyanya, nada suaranya langsung dipenuhi kekhawatiran.

Reza refleks melirik gips di tangannya.

Ayza menghembuskan napas kasar. “Ceroboh,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.

“Ah, ini… cuma kecelakaan kecil, Bun,” jawab Reza akhirnya.

“Kecelakaan kecil sampai digips begitu?” suara Siti meninggi sedikit.

“Bunda nggak usah khawatir,” kata Reza cepat. “Sebentar lagi juga sembuh.”

Siti terdiam, menatap putranya lekat dari balik layar.

“Jangan bilang kamu ngajak Ayza ke kantor buat ngerawat kamu,” ucapnya pelan, lalu berhenti sejenak. “Dan bantu… ke toilet?”

Senyum Reza mengeras. “Bun,” katanya lirih, “kondisi aku memang nggak memungkinkan buat beraktivitas sendiri.”

Siti menghela napas panjang. “Ayza itu perempuan yang baik dan bertanggung jawab. Kamu beruntung menikahinya,” ucapnya lembut, tapi tegas. “Jaga dia baik-baik. Jangan sampai kamu melukai hatinya, Rez.”

Reza terdiam. "Melukai hatinya? Yang ada, dia yang tiap hari melukai hatiku," batinnya pahit.

Siti menoleh menatap pintu, lalu kembali menatap Reza. "Sudah dulu, ya. Ada dokter yang mau periksa. Assalamualaikum," ucapnya terburu.

"Walaikumsalam," jawab Reza.

Layar menggelap, Reza akhirnya menghembuskan napas lega. Namun rasa lega itu tak bertahan lama ketika suara Ayza terdengar.

"Muka Kakak..." Ia menyipitkan matanya menatap Reza. "kayak maling yang hampir ketangkap." ucapnya ringan.

Tapi kata-kata itu menampar Reza. Lagi dan lagi terlalu menohok.

Dan sebelum Reza membuka mulut, Ayza mengambil ponselnya dari tangan Reza, lalu berbalik hendak duduk kembali.

Namun sebelum melangkah, ia berhenti. “Oh iya, Kak Reza,” ucapnya ringan, tanpa menoleh.

“Kalau suatu hari nanti Ayah dan Bunda tahu semua yang sebenarnya…” Ia tersenyum tipis di balik cadarnya. “Aku harap Kakak sudah siap menjelaskannya.”

 

...🔸🔸🔸...

...“Kebenaran tidak selalu datang dengan teriakan. Kadang ia hadir lewat aroma yang tak bisa disangkal.”...

...“Tidak semua bangkai membusuk dengan bau. Sebagian membusuk dalam diam.”...

...“Ia tidak pernah meninggikan suara. Tapi setiap katanya membuatku kalah.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anitha Ramto
Seorang Kaisyaf masih belum bisa melacak jejaknya si Zahrot...
seolah² si Zahrot itu orang yang lebih berkuasa jejaknya terlalu bersih dasar wanita licik,bersenang²lah dulu kamu Zahrot kali ini kamu lolos

tunggu saja kebeneranya lambat laun akan terbongkar
Sri Hendrayani
udah ndak sabar nunggu zahra dipolisikan
abimasta
harusnya fahri mencurigai zahra
Hanima
tambah Kak 🤭🙏
partini
si Zahra macam Jin saja ga bisa lihat ga bisa di sentuh
love_me🧡
dari sini harusnya kamu mikir siapa yg tidak suka dg Ayza yg kenal cuma keluarga kalian & Zahra, mulai sekarang tolong berpikir logis Fahri sudah berubah baik & Zahra tiba" menerima kalau jadi madu nah dari situ perlu kamu suruh orang untuk ngawasin pacar kesayangan kamu itu
Ma Em
Semoga kebenarannya terungkap dan nama Zahra disebut lalu ditangkap dan dijebloskan ke penjara .
love_me🧡
walaupun mereka tidak mau bicara tapi berkat penyelidik Ridho akan terbongkar semua, heran deh sama Reza dia juga kan pengusaha kaya tapi kenapa tidak menggunakan uangnya untuk menyelidiki kasus ini lebih jauh
Sugiharti Rusli
dan sepertinya memang harua diselidiki lebih jauh siapa yang sudah membayar mereka buat melecehkan Ayza di sana
Sugiharti Rusli
paling tidak di balik kasus ini patut diduga ada dalang di belakangnya,,,
Sugiharti Rusli
eh siapa laki" dengan jas abu" itu yah, ko dia bisa masuk dengan bebas, harusnya ga boleh yah,,,
Sugiharti Rusli
baik Kaisyaf maupun Reza menuturkan hal yang berkeseusuaian dengan yang terjadi malam itu sih,,,
Sugiharti Rusli
wah cukup menegangkan sih sidangnya yah, meski secara tertutup pada akhirnya
Puji Hastuti
Zahra tunggu kehancuranmu
Cicih Sophiana
semoga di sidang berikut terbongkar siapa yg menyuruh, siapa yg membayar dan siapa yg membenci Ayza....
Sri Hendrayani
pelan tp pasti terbongkar
Kyky ANi
Apakah Reza, akan jujur pada Ayza,, tentang hubungannya dengan Zahra,,
asih
semangat menulisnya kak walaupun sedang puasa, akan dpt tambahan pahala semoga karyanya sukses
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamiin. Terima kasih KK 🤗🤗🙏 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nsna... Lanjutkan lagi Kak Nana... 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, kak 🙏🙏🙏
Wardi's
harus curiga rez., gk mungkin ayza punya musuh... pst org disekitar kamu rez..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!