NovelToon NovelToon
MENAKLUKAN HATI SI JENIUS DINGIN

MENAKLUKAN HATI SI JENIUS DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Idola sekolah / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:126
Nilai: 5
Nama Author: alfphyrizhmi

"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB — 20

BAB 20 — Pengumuman Field Trip

Aula utama SMA Pelita Bangsa berdengung seperti sarang lebah yang terusik. Lima ratus siswa kelas sepuluh berkumpul, duduk di lantai parket yang mengkilap, memegang brosur glossy yang baru saja dibagikan.

Di panggung, Kepala Sekolah sedang memberikan pidato normatif tentang "kebersamaan" dan "pembentukan karakter". Tapi tidak ada yang mendengarkan. Mata semua siswa tertuju pada satu baris di brosur itu:

LOKASI: VILLA GRAND HILLS, PUNCAK. DURASI: 3 HARI 2 MALAM.

Di meja panitia di samping panggung, Mayang duduk tegak. Dia mengenakan name tag panitia bertuliskan SEKRETARIS. Wajahnya lelah, ada lingkaran hitam samar di bawah matanya, tapi postur tubuhnya sempurna.

Tiga malam terakhir dia tidak tidur. Dia menyusun pembagian kamar, mengatur rute bus agar tidak terjebak macet jalur Puncak, dan memastikan katering sesuai dengan dietary requirement anak-anak orang kaya yang manja (ada yang alergi kacang, intoleransi laktosa, hingga yang hanya mau makan nasi merah).

"Gila, Villa Grand Hills itu kan punya bokapnya Vino," bisik seorang siswa di barisan depan. "Itu resort bintang lima, Bro. Kolam renangnya air hangat."

"Asik! Berarti kita bebas pesta!"

Mayang mendengar bisikan itu. Dia melirik rundown acara di tangannya.

20.00 - 22.00: Sesi Refleksi Diri & Jurit Malam. Pesta? Mimpi, batin Mayang. Vino mencoret semua agenda hura-hura dan menggantinya dengan kegiatan semi-militer berkedok leadership training.

Vino duduk di sebelah Mayang, di kursi Ketua Panitia Pengarah. Dia memakai kacamata baca, memeriksa ulang daftar peserta. Wajahnya datar, tidak terpengaruh oleh euforia di depannya.

"Cek ulang Bus 3," bisik Vino tanpa menoleh.

"Kenapa Bus 3?" tanya Mayang pelan, sambil membalik halaman datanya.

"Di sana ada geng motor sekolah sebelah yang baru pindah. Jangan gabungin mereka sama anak Choir. Nanti ribut."

"Sudah saya pisah. Geng motor di Bus 4, bareng Pak Hendra. Biar diam," jawab Mayang taktis.

Vino melirik Mayang dari balik kacamatanya. Sudut bibirnya berkedut.

"Brilian. Pak Hendra adalah suppressor terbaik."

Mayang tersenyum tipis. Pujian dari Vino adalah bahan bakarnya tiga hari ini.

Di seberang meja panitia, Vivie duduk sebagai Koordinator Acara. Dia memainkan pulpennya, menatap Mayang dengan pandangan yang sulit dibaca. Tidak ada kemarahan meledak-ledak seperti minggu lalu. Wajah Vivie tenang. Terlalu tenang.

Vivie tersenyum pada Mayang. Senyum manis yang tidak mencapai mata.

"Kerja bagus, Mayang," kata Vivie tiba-tiba. Suaranya cukup keras untuk didengar meja panitia. "Pembagian kamarnya rapi. Gue dapet View gunung. Thanks ya."

Mayang waspada. "Sama-sama. Itu default sistem, bukan saya yang pilih."

"Ah, merendah terus," Vivie tertawa kecil. "Semoga di sana nanti lancar ya. Sayang lho kalau sekretaris kita kenapa-napa di hutan."

Kalimat itu menggantung di udara. Kenapa-napa di hutan.

Mayang merasakan dingin merambat di punggungnya.

Jam Istirahat. Kantin.

Antusiasme Field Trip memenuhi udara. Topik pembicaraan di setiap meja adalah tentang baju apa yang akan dibawa, siapa duduk dengan siapa, dan skincare apa yang tahan udara dingin.

Mayang tidak ikut euforia itu. Dia duduk di meja pojok, masih dengan laptopnya, memfinalisasi daftar asuransi siswa.

Naufal datang, membawa dua botol teh. Dia duduk di depan Mayang.

"May, istirahat dulu napa. Lo kayak robot," kata Naufal.

Mayang mengetik baris terakhir, lalu menutup laptopnya. "Dikit lagi beres, Fal."

"Lo satu bus sama gue kan?" tanya Naufal penuh harap. "Gue di Bus 1. Bus Keamanan."

Mayang menggeleng. "Aku di mobil advance. Berangkat duluan dua jam sebelum bus. Harus check-in hotel dan nyiapin kunci kamar sebelum kalian nyampe."

Wajah Naufal jatuh. "Yah... terus di sana? Kita bisa makan bareng?"

"Nggak janji, Fal. Sekretaris makannya di dapur umum, ngecek stok logistik."

Naufal menghela napas kasar. Dia memutar-mutar botol tehnya.

"Gue kangen lo yang dulu, May. Yang bisa diajak ngobrol santai. Sekarang lo sibuk banget. Lo kayak... kayak Vino versi cewek."

Mayang terdiam. Dia mengambil botol teh pemberian Naufal.

"Aku cuma jalanin tanggung jawab, Fal. Ini kesempatan buat aku buktiin kalau anak beasiswa bisa kerja."

"Gue tau. Gue bangga kok," Naufal tersenyum paksa. "Eh, btw, hati-hati ya sama Vivie. Gue denger dari anak-anak basket, dia lagi nyari info soal jalur tracking di villa nanti. Katanya mau bikin prank."

"Prank?"

"Iya. Biasalah, jail-jailan anak orang kaya. Tapi gue takut targetnya lo."

Mayang mengangguk. "Makasih infonya. Aku bakal waspada."

"Tenang aja. Gue Koordinator Keamanan. Gue bakal patroli terus deket lo."

Naufal menepuk tangan Mayang. "Gue jagain lo, May. Selalu."

Mayang tersenyum. Naufal memang Guardian yang setia. Tapi Mayang tahu, di Puncak nanti, patroli keamanan saja tidak akan cukup. Dia butuh mata di punggungnya.

H-1 Keberangkatan. Sore Hari.

Sekolah sudah sepi. Langit mendung gelap, angin bertiup kencang menandakan musim hujan belum berakhir.

Vino dan Mayang berdiri di parkiran sekolah, tepat di samping bagasi mobil Land Rover Vino. Mereka sedang mengecek perlengkapan panitia inti: Talkie-walkie, kotak P3K, senter, dan jas hujan.

"HT cek," kata Vino memegang handy talkie.

"Frekuensi 4. Masuk," jawab Mayang dari HT-nya. Suaranya jernih.

Vino mengangguk. Dia meletakkan HT itu di bagasi. Lalu dia mengambil sebuah daftar checklist di papan jalan.

"Sepatu?" tanya Vino, melihat kaki Mayang.

Mayang memakai sepatu kets putih biasa. Solnya karet tipis, sudah agak licin karena sering dipakai jalan.

"Ini sepatu saya. Masih layak kok," kata Mayang.

Vino berdecak. Dia menggeleng.

"Lo pernah ke Puncak pas musim hujan?"

"Belum."

"Tanah di sana jenis latosol. Kalau kena hujan, licinnya kayak oli. Sepatu lo itu bunuh diri."

Vino membuka pintu belakang mobilnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak sepatu oranye.

"Ganti," perintah Vino.

Mayang membuka kotak itu. Sepatu gunung merk Eiger model low-cut warna abu-abu. Solnya tebal, bergerigi tajam. Terlihat kokoh.

"Ini... buat saya?"

"Inventaris panitia. Wajib dipake semua staf inti. Balikin kalau acara selesai," bohong Vino. Padahal staf lain cuma disuruh pake sepatu olahraga biasa. Sepatu ini dia beli khusus sesuai ukuran kaki Mayang yang dia intip saat Mayang sholat di mushola sekolah minggu lalu.

Mayang mencoba sepatu itu. Pas sekali. Nyaman dan hangat.

"Makasih, Vino. Inventarisnya bagus banget."

"Fungsi di atas estetika," gumam Vino.

Vino bersandar di kap mobilnya, melipat tangan di dada. Dia menatap Mayang yang sedang mengikat tali sepatu barunya.

"May," panggil Vino. Nada suaranya berubah. Lebih rendah. Lebih serius.

Mayang mendongak. "Ya?"

"Lo tahu kenapa Vivie diem seminggu ini?"

"Mungkin dia sadar dia salah?"

Vino tertawa sinis. "Vivie nggak punya gen sadar diri. Dia diem karena dia nunggu momentum."

Vino menunjuk ke arah utara, ke arah gunung yang tertutup awan gelap di kejauhan.

"Sekolah ini adalah zona aman lo. Ada CCTV. Ada guru. Ada Naufal. Vivie nggak bisa nyentuh lo di sini tanpa ketahuan."

Vino menatap mata Mayang tajam.

"Tapi di Puncak... itu wilayah abu-abu. Hutan. Kabut. Sinyal jelek. CCTV cuma ada di lobi hotel."

Mayang berdiri tegak. Dia merasakan ketegangan dalam suara Vino.

"Maksud kamu, dia bakal ngelakuin sesuatu di sana?"

Vino tidak menjawab langsung. Dia mendekat, membenarkan kerah jaket Mayang yang miring.

"Bawa baju hangat. Yang tebel. Jangan cuma andalin jaket almamater tipis ini. Di atas dingin. Hipotermia bisa bunuh orang dalam dua jam."

Jari Vino menyentuh leher Mayang sekilas, meninggalkan jejak hangat.

"Dan..." Vino mencondongkan tubuhnya, berbisik.

"Hati-hati kalau jalan. Tanahnya licin. Dan di tempat licin, orang gampang terpeleset... atau 'terpeleset'."

Penekanan pada kata terakhir membuat bulu kuduk Mayang berdiri.

Vino sedang memberitahunya: Vivie akan mencoba mencelakaimu seolah-olah itu kecelakaan alam.

"Saya harus takut?" tanya Mayang pelan.

Vino mundur, menatap wajah Mayang. Dia mencari ketakutan di sana, tapi dia hanya menemukan kewaspadaan.

"Takut itu bagus. Takut bikin lo waspada. Tapi jangan panik."

Vino merogoh sakunya. Mengeluarkan sebuah peluit kecil dari logam perak. Peluit survival yang suaranya bisa terdengar radius 1 kilometer.

Dia mengalungkan peluit itu ke leher Mayang.

"Kalau lo terpisah dari rombongan. Kalau lo merasa ada yang nggak beres. Kalau lo 'terpeleset'... tiup ini."

Mayang memegang peluit dingin itu.

"Kamu bakal denger?"

"Gue selalu denger," jawab Vino mantap. "Frekuensi gue selalu nyala buat lo."

Vino menepuk bahu Mayang dua kali. Keras.

"Sekarang pulang. Tidur. Besok perang dimulai jam 5 pagi."

Mayang mengangguk. Dia merasa siap.

"Siap, Partner."

Mayang berbalik, berjalan menuju gerbang sekolah dengan sepatu gunung barunya yang kokoh. Langkahnya mantap.

Vino melihat punggung Mayang menjauh. Dia mengeluarkan ponselnya. Menelepon seseorang.

"Rio," sapa Vino dingin ke telepon.

Hening sejenak di ujung sana.

"Wow. Adik tersayang nelpon. Ada apa? Kangen?" suara Rio terdengar mengejek.

"Gue butuh bantuan lo," kata Vino, menelan harga dirinya bulat-bulat.

"Bantuan? Tuan Sempurna butuh bantuan sampah kayak gue?"

"Lo kenal anak-anak motor di Puncak, kan? Daerah Cisarua?"

"Kenal. Kenapa?"

"Gue mau lo stand by di sekitar Villa Grand Hills mulai besok malem. Bawa anak buah lo."

"Buat apa? Lo mau tawuran?"

"Buat jaga-jaga. Gue punya firasat buruk. Dan gue butuh mata di tempat yang nggak bisa gue jangkau."

Rio tertawa di ujung telepon.

"Ini soal cewek itu, ya? Si Upik Abu yang lo bawa ke pesta?"

Vino diam.

"Oke. Menarik. Gue bakal dateng. Tapi bayarannya mahal, Vin. Gue nggak terima transferan bank bokap lo."

"Sebut aja. Gue bayar pake uang pribadi gue."

"Gue nggak butuh duit lo. Gue mau lo ngakuin gue sebagai kakak lo di depan bokap nanti."

Syarat yang berat. Mengakui anak haram berarti menghancurkan reputasi keluarga.

Vino menatap ke arah gerbang sekolah, tempat Mayang baru saja menghilang.

"Deal," kata Vino tanpa ragu.

Dia memutus sambungan telepon.

Vino menatap langit gelap. Dia baru saja menjual jiwanya pada iblis demi melindungi seorang gadis penjual bubur.

"Semoga lo worth it, May," bisik Vino.

Malam Hari. Rumah Mayang.

Mayang sedang mengepak barang. Tas ransel besarnya sudah terisi penuh.

Baju ganti. Peralatan mandi. Obat-obatan Budhe. Dan... baju hangat.

Mayang hanya punya satu sweater wol tebal. Warnanya cokelat kusam, bekas Bapaknya. Agak kebesaran, tapi hangat.

Dia memasukkan sweater itu.

Lalu dia melihat peluit perak yang dikalungkan Vino di lehernya. Dia tidak melepaskannya sejak sore tadi.

"Tanah licin," gumam Mayang.

Dia mengambil lakban hitam. Dia melilitkan lakban itu di sekeliling pergelangan kaki sepatu gunungnya. Teknik yang dia baca di buku survival untuk mencegah cedera engkel jika terpeleset.

Tiba-tiba ponselnya bergetar.

Pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Tidak ada foto profil.

Isi pesan: "Nikmati liburan terakhir lo, Mayang. Pemandangan jurang di Puncak indah banget lho."

Mayang menatap layar ponsel itu lama. Jantungnya berdetak cepat.

Ancaman terbuka.

Mayang tidak membalas. Dia men-screenshot pesan itu, lalu mengirimkannya ke Vino.

Satu menit kemudian, Vino membalas.

Vino: "Diterima. Jangan jalan sendirian. Gue jemput lo jam 4.30. Jangan telat."

Mayang meletakkan ponselnya. Dia mematikan lampu kamar.

Di luar, guntur menggelegar.

Mayang berbaring di kasur, memegang peluit di dadanya. Dia tidak takut pada jurang. Dia tidak takut pada Vivie.

Dia takut pada fakta bahwa dia mulai bergantung pada Vino.

Ketergantungan adalah kelemahan. Tapi malam ini, kelemahan itu terasa begitu nyaman.

"Besok," bisik Mayang pada kegelapan. "Kita lihat siapa yang bakal jatuh ke jurang."

Bersambung.......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!