NovelToon NovelToon
NEGRI TANPA HARAPAN

NEGRI TANPA HARAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Sistem / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:198
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: ALIANSI GELAP

#

Rumah saudara Bu Lastri ternyata lebih buruk dari yang Arjuna bayangkan. Bukan rumah, lebih mirip gubuk. Dinding papan yang sudah lapuk, atap seng berkarat, lantai tanah yang becek kalau hujan. Tapi setidaknya ini tempat persembunyian. Setidaknya di sini tidak ada yang kenal mereka.

Saudara Bu Lastri, seorang wanita tua bernama Bu Kasih, menerima mereka tanpa banyak tanya. Ia cuma tatap mereka dengan mata yang sudah pudar, lalu angguk pelan. "Kalian bisa tinggal di belakang. Ada gudang kecil. Tidak bagus tapi ada atapnya."

"Terima kasih, Bu," kata Arjuna. "Kami akan bayar nanti kalau sudah punya uang."

"Tidak usah. Lastri sudah banyak bantu aku dulu. Ini cara aku balas budi." Bu Kasih masuk ke dalam, tinggalkan mereka bertiga dengan Bu Lastri di halaman sempit.

"Bu harus balik," kata Bu Lastri. "Kalau Bu hilang terlalu lama, orang-orang akan curiga. Akan cari Bu. Dan kalau mereka cari, mereka mungkin nemuin kalian."

"Ibu yakin akan aman?" Sari memeluk wanita tua itu. "Kami takut mereka... mereka akan sakiti Ibu."

"Bu akan hati-hati. Dan kalian juga harus hati-hati." Bu Lastri elus pipi Sari, tersenyum sedih. "Jangan percaya sembarang orang. Jangan buat keputusan terburu-buru. Dan... dan kalau situasi terlalu berbahaya, lari. Dendam tidak sebanding dengan nyawa kalian."

"Kami janji akan hati-hati, Bu."

Bu Lastri pergi dengan langkah lambat, punggungnya bungkuk, tangan memegang tongkat kayu. Arjuna menatap punggung wanita tua itu sampai menghilang di belokan gang, dadanya sesak. Berapa banyak orang baik yang harus menderita karena keputusannya?

Mereka masuk ke gudang belakang. Kecil, gelap, pengap. Ada tikus berlarian di sudut. Tapi ada atap dan dinding, jadi lebih baik dari gudang kemarin.

Pixel langsung buka laptopnya, cari sinyal internet. "Sial, tidak ada wifi di sini. Aku harus cari wifi tetangga yang tidak pakai password." Jarinya menari di keyboard, beberapa menit kemudian ia senyum. "Dapat. Wifi Pak Bambang. Passwordnya 12345678. Orang-orang tidak pernah belajar ya soal keamanan digital."

"Sekarang apa?" tanya Arjuna. "Kita sudah punya nama Profesor Ratna. Tapi kita tidak tahu dimana dia. Dan kita tidak bisa sembarangan muncul di kampus untuk cari dia."

"Biar aku cari alamatnya dulu." Pixel mengetik cepat. "Profesor terkenal biasanya punya profil publik. Mungkin ada alamat kantor atau... tunggu. Tunggu sebentar."

Ia berhenti mengetik. Wajahnya pucat.

"Kenapa?" Sari mendekat. "Ada apa?"

"Profesor Ratna Dewi. Pensiunan dini tiga tahun lalu. Alasan tidak jelas. Dan sejak itu... sejak itu dia hilang dari publik. Tidak ada yang tahu dia dimana. Tidak ada alamat. Tidak ada kontak. Seperti... seperti dia menghilang."

"Atau disembunyikan," gumam Arjuna. "Adrian mungkin ancam dia. Atau bayar dia supaya diam."

"Atau..." Pixel scroll ke bawah. "Atau dia sembunyi karena takut dibunuh seperti yang lain. Lihat ini. Setahun sebelum dia pensiun, rumahnya kebakaran. Polisi bilang konsleting listrik. Tapi dia selamat. Terus enam bulan kemudian, dia kecelakaan mobil. Selamat lagi. Terus dia pensiun dan menghilang."

"Adrian coba bunuh dia berkali-kali tapi gagal," kata Sari. "Jadi dia sembunyi supaya tetap hidup."

"Tapi gimana kita nemuin orang yang sengaja sembunyi?" Pixel menutup laptopnya, frustrasi. "Kita tidak punya koneksi. Tidak punya petunjuk. Kita buntu."

Arjuna duduk, kepala di tangan. Mereka sudah sampai sejauh ini. Sudah kehilangan rumah, jadi buronan, hampir mati beberapa kali. Dan sekarang mereka buntu?

"Harus ada cara," bisiknya. "Harus ada..."

Ponsel Pixel berbunyi. Ia lihat layarnya, alisnya naik. "Pesan dari nomor tidak dikenal."

"Jangan dibuka!" Sari cepat. "Itu mungkin jebakan. Mereka bisa lacak lokasi kita lewat..."

Tapi Pixel sudah buka. Matanya membaca cepat, lalu melebar.

"Kalian harus baca ini."

Ia putar ponselnya. Di layar ada pesan singkat:

"Aku tahu kalian cari cara untuk jatuhkan Adrian Mahendra. Aku bisa bantu. Tapi kita harus ketemu. Besok, jam 8 malam, di pelabuhan lama sektor 9. Datang sendiri atau jangan datang sama sekali. Bagas."

"Bagas?" Arjuna menatap nama itu. "Siapa itu?"

Pixel mengetik cepat di laptopnya. "Bagas Pradipta. Mantan tentara. Mantan bodyguard pribadi Adrian Mahendra. Bekerja untuk Adrian selama lima tahun sebelum... sebelum dia menghilang dua bulan lalu. Tidak ada yang tahu kemana."

"Dan sekarang dia tiba-tiba hubungi kita?" Sari menggeleng. "Ini jebakan. Pasti jebakan. Adrian suruh dia hubungi kita supaya kita datang dan bisa ditangkap."

"Atau," kata Pixel pelan, "atau dia benar-benar mau bantu. Mantan bodyguard pasti tahu banyak rahasia. Kalau dia mau bicara, ini kesempatan besar."

"Atau ini cara Adrian untuk bunuh kita dengan mudah." Sari menatap Arjuna. "Kau tidak boleh pergi. Terlalu berbahaya."

"Tapi ini satu-satunya petunjuk yang kita punya," jawab Arjuna. "Profesor Ratna hilang. File kita terbatas. Kita butuh informasi lebih. Kalau Bagas benar-benar mau bantu, kita tidak bisa sia-siakan kesempatan ini."

"Dan kalau dia tidak mau bantu? Kalau dia jebakan?"

"Maka aku akan lari. Atau mati mencoba." Arjuna berdiri, tatap mata Sari. "Aku tidak punya pilihan lain, Sari. Kita tidak punya pilihan lain."

Sari menatapnya lama. Lalu ia menghela napas, kalah. "Kalau kau pergi, aku ikut."

"Tidak. Terlalu berbahaya untuk..."

"Aku tidak tanya izin, Arjuna!" Sari berdiri, suaranya keras. "Aku bilang aku ikut. Kita sudah janji akan lakukan ini bersama. Jadi jangan coba tinggalkan aku."

Pixel berdiri juga. "Kalau kalian berdua pergi, aku juga ikut. Kalian butuh aku kalau situasi jadi digital."

"Pixel, kau tidak harus..."

"Aku sudah sampai sejauh ini. Rumahku juga sudah tidak bisa aku pulang lagi karena pasti diawasi. Jadi mau tidak mau, aku sudah terlibat total." Pixel tersenyum pahit. "Lagipula, kalau aku mati, setidaknya aku mati untuk sesuatu yang bermakna. Bukan mati pelan-pelan di warnet butut itu."

Mereka bertiga saling menatap. Lalu, tanpa kata, mereka berpelukan. Pelukan yang keras, yang putus asa, yang terasa seperti pelukan terakhir.

Karena mereka tahu. Mereka tahu besok malam mungkin malam terakhir mereka.

***

Pelabuhan lama sektor 9 adalah tempat yang sudah lama ditinggalkan. Gudang-gudang besar berkarat, crane yang tidak berfungsi lagi, kontainer-kontainer yang ditumbuhi lumut. Di malam hari, tempat ini seperti kota hantu. Tidak ada cahaya kecuali bulan yang samar di balik awan.

Arjuna, Sari, dan Pixel berjalan pelan di antara kontainer. Setiap suara membuat mereka tersentak. Setiap bayangan membuat jantung mereka berdegup lebih cepat.

"Aku tidak suka ini," bisik Pixel. "Ini terlalu sepi. Terlalu sempurna untuk jebakan."

"Kita sudah sampai sini," jawab Arjuna. "Tidak ada gunanya balik sekarang."

Mereka sampai di tengah lapangan kosong. Di sana, berdiri seorang pria besar. Tinggi, berotot, dengan bekas luka di wajahnya. Rambutnya dipotong sangat pendek, hampir botak. Matanya tajam, mata seorang prajurit.

Bagas.

"Kalian datang," katanya, suaranya dalam dan berat. "Bagus. Aku pikir kalian akan terlalu takut."

"Kami datang karena kami putus asa," jawab Arjuna. "Bukan karena kami tidak takut."

Bagas tersenyum tipis. "Jujur. Aku suka itu." Ia melangkah lebih dekat, tapi berhenti saat Pixel mundur dengan cepat. "Santai. Kalau aku mau bunuh kalian, kalian sudah mati sebelum sempat masuk pelabuhan ini."

"Kenapa kau hubungi kami?" tanya Sari. "Kenapa mantan bodyguard Adrian mau bantu musuh bosnya?"

"Karena Adrian bukan lagi bos ku," jawab Bagas, nada suaranya berubah jadi dingin. "Karena dia monster yang bahkan aku, orang yang sudah bunuh puluhan orang, tidak bisa lagi layani."

"Cerita yang bagus," Pixel menyilangkan tangan. "Tapi kami butuh bukti. Kenapa kami harus percaya kau?"

Bagas menatap mereka lama. Lalu ia angkat bajunya, tunjukkan sisi kirinya. Di sana ada bekas luka tembak yang baru. Masih merah, masih terlihat menyakitkan.

"Ini dari Adrian," katanya. "Dua bulan lalu, aku lihat sesuatu yang tidak seharusnya aku lihat. Aku lihat dia... dia menyiksa seorang anak kecil. Anak perempuan, mungkin umur tujuh tahun. Dia lakuin experimen ke anak itu. Suntik sesuatu ke tubuhnya. Anak itu teriak kesakitan, minta tolong, tapi Adrian cuma tertawa."

Suara Bagas bergetar sekarang.

"Aku tidak kuat. Aku coba hentikan dia. Aku angkat pistol ke dia. Dan dia... dia cuma senyum. Terus dia bilang, 'Kau mau bunuh aku, Bagas? Ayo coba. Tapi ingat, adikmu yang manis itu ada di tangan ku. Satu peluru dari kau, dia mati.'"

"Adikmu?" bisik Sari.

"Namanya Maya. Umur lima belas tahun. Dia... dia satu-satunya keluarga yang aku punya. Orang tua kami sudah mati. Aku kerja untuk Adrian supaya bisa sekolahin dia, kasih dia kehidupan yang layak." Bagas tertawa pahit. "Dan ternyata, Adrian sudah tahu kelemahanku sejak awal. Dia sudah siapin jebakan. Jadi saat aku coba berkhianat, dia langsung punya senjata untuk ancam aku."

"Dimana adikmu sekarang?" tanya Arjuna.

"Kota Pesisir Senja. Di markas The Black Serpent."

Hening. Nama itu membuat mereka semua terdiam.

The Black Serpent. Sindikat mafia paling kejam di negara ini. Perdagangan narkoba, senjata, manusia, pembunuhan bayaran. Mereka yang pegang semua bisnis gelap di pesisir.

"Adrian... Adrian kerja sama dengan The Black Serpent?" Pixel terdengar tidak percaya.

"Bukan kerja sama," koreksi Bagas. "Adrian yang pegang mereka. Dia pemilik sebenarnya dari sindikat itu. Semua orang pikir pemimpinnya adalah Naga Hitam, tapi itu cuma boneka. Adrian yang tarik semua tali dari belakang."

"Ya Tuhan..." Sari menutup mulutnya. "Dia... dia lebih besar dari yang kita pikir."

"Jauh lebih besar," Bagas melangkah lebih dekat. "Axion Corporation cuma wajah depan. Bisnis legalnya. Tapi di belakang, dia punya puluhan organisasi kriminal. The Black Serpent cuma satu dari mereka. Dia... dia seperti gurita raksasa dengan tentakel di mana-mana. Kalian pikir kalian bisa jatuhkan dia dengan file di flashdisk itu? Kalian salah."

"Lalu apa yang harus kami lakukan?" Arjuna bertanya, suaranya putus asa. "Kami sudah sampai sejauh ini. Kami tidak bisa berhenti sekarang."

"Kalian butuh lebih banyak bukti. Lebih banyak saksi. Dan kalian butuh kekuatan untuk melawan organisasinya." Bagas menatap mereka serius. "Aku bisa bantu kalian. Aku tahu semua lokasi rahasia Adrian. Tahu siapa orang-orang kepercayaannya. Tahu kelemahannya. Tapi aku mau sesuatu sebagai gantinya."

"Adikmu," kata Sari. "Kau mau kami selamatkan adikmu."

"Ya. Selamatkan Maya dari The Black Serpent. Bawa dia kembali ke aku dengan selamat. Kalau kalian bisa lakukan itu, aku akan kasih kalian semua informasi yang kalian butuh. Bahkan aku akan bantu kalian menyerang Adrian langsung."

"Tapi itu bunuh diri!" Pixel berteriak. "The Black Serpent itu mafia terbesar! Markas mereka dijaga puluhan orang bersenjata! Kita bertiga plus kau? Kita akan mati sebelum sempat masuk!"

"Maka kalian harus pintar," jawab Bagas tenang. "Aku punya peta markas mereka. Aku tahu jadwal pergantian penjaga. Aku tahu celah keamanan. Kalau kalian ikuti rencanaku dengan tepat, kalian bisa masuk dan keluar tanpa terdeteksi."

"Dan kalau rencana gagal?" tanya Arjuna.

"Maka kita semua mati." Bagas hulurkan tangannya. "Tapi setidaknya kita mati sambil coba selamatkan orang tidak bersalah. Itu lebih baik dari mati tanpa melakukan apa-apa, kan?"

Arjuna menatap tangan itu. Tangan yang besar, penuh kapalan, bekas luka. Tangan pembunuh. Tapi juga tangan kakak yang putus asa ingin selamatkan adiknya.

Ia lihat Sari dan Pixel. Mereka berdua menatapnya, menunggu keputusan.

Ini gila. Ini bunuh diri. Mereka baru saja lolos dari pembunuh bayaran kemarin, dan sekarang mereka mau menyerang markas mafia?

Tapi apa pilihan mereka? Tanpa Bagas, mereka tidak punya informasi. Tanpa informasi, mereka tidak bisa jatuhkan Adrian. Dan tanpa jatuhkan Adrian, semua penderitaan mereka sia-sia.

Arjuna menggenggam tangan Bagas. "Kami terima. Kami akan selamatkan adikmu. Dan kau akan bantu kami hancurkan Adrian Mahendra."

Bagas tersenyum. Senyum yang terlihat lega tapi juga sedih. "Terima kasih. Kalian... kalian tidak tahu betapa artinya ini untukku."

"Jangan berterima kasih dulu," kata Sari. "Kami belum berhasil. Kami mungkin akan gagal dan mati di sana."

"Tapi setidaknya kalian mencoba. Itu sudah lebih dari yang orang lain mau lakukan."

Mereka berdiri di pelabuhan kosong itu, empat orang yang sama-sama terluka, sama-sama putus asa, sekarang bersatu untuk satu misi yang mungkin akan jadi misi terakhir mereka.

Arjuna menatap bulan di atas. Bulan yang samar, tertutup awan, seperti tidak mau menyinari dunia yang begitu gelap ini.

"Kapan kita berangkat?" tanyanya.

"Tiga hari lagi," jawab Bagas. "Tiga hari untuk persiapan. Untuk latihan. Untuk berdoa kalau kalian percaya doa." Ia berbalik, mulai berjalan. "Ikut aku. Aku punya tempat persembunyian yang lebih aman. Dan aku akan ajari kalian cara bertahan hidup di dunia yang mau bunuh kalian."

Mereka mengikuti. Melangkah ke dalam kegelapan yang semakin pekat.

Tidak tahu kalau di kejauhan, dari atas atap gudang, ada seseorang yang mengamati mereka lewat teropong malam.

Seseorang yang tersenyum tipis.

Lalu menghilang seperti bayangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!