NovelToon NovelToon
Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Fatin fatin

"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 7

Pasca sidang proposal yang penuh drama, Sasya mendadak menjadi selebriti di lab. Bukan karena nilai A yang hampir diraihnya, tapi karena keberaniannya "menjawab" sindiran Bu Sarah. Namun, bagi Sasya, itu bukan kemenangan. Itu adalah peringatan bahwa tembok di hadapannya bukan hanya sekadar skripsi, melainkan reputasi Alkan.

"Sya, lo beneran jadi trending topic di grup rahasia mahasiswa," Putri menunjukkan layar ponselnya. "Katanya lo 'anak emas' Pak Alkan yang berani lawan 'Ratu Ekonomi'. Tapi banyak juga yang dukung lo, katanya Pak Alkan emang butuh pendamping yang punya mental baja kayak lo."

Sasya menghela napas, jemarinya lincah memperbaiki baris kode di layar monitor. "Gue nggak butuh jadi trending topic, Put. Gue cuma butuh lulus secepat kilat. Gue baru sadar, selama gue masih berstatus mahasiswa, Pak Alkan itu dalam bahaya. Dia bisa dituduh macam-macam."

"Jadi, rencana lo apa?"

"Operasi senyap," bisik Sasya. "Gue bakal kurangi interaksi sama dia di kampus. Bimbingan lewat email aja. Gue bakal kelarin bab 4 dan 5 dalam waktu dua minggu. Gue mau hilang dari peredaran sampai hari sidang skripsi tiba."

Di sisi lain kampus, Alkan sedang duduk di ruang rapat senat. Suasananya tegang. Ayah dari Bu Sarah, Prof. Handoko, adalah salah satu donatur besar yayasan sekaligus guru besar yang sangat dihormati.

"Alkan," Prof. Handoko membuka pembicaraan setelah rapat selesai, suaranya berat dan penuh penekanan. "Saya dengar ada sedikit ketegangan di ruang sidang kemarin antara kamu dan Sarah. Sarah itu rekan sejawatmu, dan keluarga kami punya harapan besar pada kolaborasi riset kalian... atau mungkin, lebih dari sekadar riset."

Alkan merapikan berkasnya dengan tenang. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. "Mohon maaf, Prof. Terkait kejadian di ruang sidang, saya hanya menjalankan tugas saya sebagai pembimbing untuk menjaga objektivitas akademik. Tidak ada niat personal."

"Tapi Sarah merasa tersinggung," Prof. Handoko mendekat. "Alkan, kamu pria cerdas. Kamu tahu posisi kamu di kampus ini sedang diproyeksikan untuk menjadi Dekan termuda. Jangan sampai gosip kedekatanmu dengan seorang mahasiswa menghancurkan karier yang sudah kamu bangun. Pikirkan baik-baik tawaran saya soal Sarah."

Alkan berdiri, menatap Prof. Handoko dengan tatapan tegak namun tetap santun. "Terima kasih atas perhatiannya, Prof. Namun, terkait karier dan masa depan, saya sudah menyerahkannya pada Algoritma Terbaik dari Sang Pencipta. Saya tidak bisa memaksakan sebuah variabel yang memang tidak masuk dalam fungsi hidup saya. Permisi."

Alkan keluar dari ruangan dengan langkah mantap, namun hatinya bergemuruh. Ini bukan lagi soal skripsi. Ini soal integritas.

Malam itu, Alkan tidak pulang ke rumahnya. Ia pergi ke rumah Pak Baskoro, ayah Sasya. Tanpa memberi tahu Sasya. Tanpa membawa embel-embel dosen. Ia hanya membawa dirinya sebagai seorang lelaki muslim.

Pak Baskoro terkejut melihat Alkan berdiri di depan pintunya pada pukul delapan malam. "Mas Alkan? Ada apa? Sasya bikin masalah lagi di kampus?"

"Bukan, Pak. Sasya justru sangat luar biasa," jawab Alkan. "Boleh saya masuk? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan, laki-laki kepada laki-laki."

Di ruang tamu yang sederhana itu, Alkan mengutarakan niatnya. "Pak Baskoro, saya datang ke sini bukan sebagai dosen Sasya. Saya datang sebagai Alkan. Saya memiliki niat serius untuk mengkhitbah Sasya segera setelah dia dinyatakan lulus sidang skripsi nanti."

Pak Baskoro terdiam, menyesap tehnya perlahan. "Kamu tahu risikonya? Kamu dosennya, Mas. Di kampus pasti berisik."

"Saya tahu, Pak. Karena itulah saya tidak akan mendekati Sasya secara personal selama dia masih mahasiswa saya. Saya meminta izin Bapak untuk 'menjaganya' dari jauh. Saya akan menunggu di garis finish. Saya ingin proses ini berjalan secara logis dan terhormat menurut syariat."

Pak Baskoro tersenyum lebar, ia menepuk bahu Alkan. "Saya suka cara kamu. Tidak banyak anak muda yang berani datang ke ayahnya dulu sebelum merayu anaknya. Tapi ingat, Sasya harus lulus dengan usahanya sendiri. Jangan kamu bantu cuma karena niat ini."

"Tentu, Pak. Justru saya akan jadi penguji yang paling sulit buat dia, agar tidak ada satu orang pun di kampus yang bisa meragukan kemampuannya."

Minggu-minggu berikutnya menjadi masa "pingitan akademik" bagi Sasya. Ia benar-benar menghilang. Ia tidak lagi ke kantin, tidak lagi terlihat di masjid saat jam kajian (dia memilih salat di mushola fakultas lain), dan komunikasinya dengan Alkan hanya sebatas revisi teknis via email yang sangat dingin.

Email dari Alkan:

"Revisi Bab 4 Anda masih lemah di analisis data. Perbaiki dalam 24 jam atau jadwal sidang Anda saya undur."

Sasya menangis membacanya, tapi ia tahu ini adalah bagian dari "operasi senyap". Ia mengetik balasan dengan semangat membara.

Email dari Sasya:

"Siap, Pak. Akan saya buktikan kalau saya bisa."

Tanpa Sasya tahu, di balik layar laptopnya, Alkan tersenyum setiap kali menerima email masuk dari Sasya. Ia sedang menghitung hari. Di kalendernya, tanggal sidang skripsi Sasya sudah dilingkari dengan tinta merah, dan di bawahnya tertulis sebuah doa: “Ya Allah, mudahkanlah lisan dan hatinya. Lancarkanlah jalanku menuju rumahnya.”

Namun, sebuah hambatan besar muncul di hari ke-14. Bu Sarah mengirimkan pesan singkat kepada Sasya: "Sasya, bisa kita bicara di kafe depan kampus sore ini? Ini soal masa depan Pak Alkan yang sedang dipertaruhkan karena kamu."

Sasya gemetar. Firewall-nya kembali ditembus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!