Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Suara knalpot motor sport Arsen Sergio selalu menjadi alarm pagi yang paling menyebalkan sekaligus yang paling dinanti oleh Araluna. Bagi dunia luar, Arsen adalah sosok cowok idaman: tampan, atletis, dan punya aura kepemimpinan yang kuat. Namun bagi Araluna, Arsen hanyalah seorang kakak tiri yang punya hobi tunggal: menguji batas kesabarannya.
"Woi, Bocil! Turun nggak lo? Gue tinggal nih!" teriak Arsen dari lantai bawah, suaranya menggema melewati celah pintu kamar Araluna.
Araluna—yang sedang berjuang mengaplikasikan lip tint agar terlihat "natural tapi mematikan"—mendengus. Ia meraih tas ranselnya dan berlari turun tangga. Di ruang makan, ia melihat Arsen sedang bersandar di pinggiran meja makan sambil menyesap kopi hitamnya. Jaket kulit hitam tersampir di bahunya.
"Gue bukan bocil, Kak. Nama gue Araluna. Cantik, elegan, berkelas," sahut Araluna sambil memutar bola mata.
Arsen tertawa remeh, sebuah tawa yang selalu berhasil membuat jantung Araluna berdesir meski ia benci mengakuinya. Arsen mendekat, lalu dengan sengaja mengacak-acak rambut Araluna yang baru saja dirapikan.
"Elegan apanya? Muka lo masih kayak anak TK yang mau rebutan perosotan. Cepetan, anak-anak udah nunggu di basecamp."
Keluarga mereka terbentuk dari sisa-sisa badai masa lalu. Mama Araluna dan Papa Arsen bertemu saat keduanya sama-sama sudah menyerah pada konsep pernikahan. Namun, takdir berkata lain. Mereka menikah saat Araluna masuk SMA dan Arsen baru memulai tahun pertamanya di universitas.
Sejak hari pertama mereka tinggal satu atap, Araluna tahu dia dalam masalah besar. Ia jatuh cinta pada kakak tirinya sendiri. Cinta yang ia bungkus rapi dengan label "cegil"—sering bertingkah aneh, posesif secara tidak langsung, dan selalu mencari perhatian Arsen dengan cara-cara yang ajaib.
"Kenapa gue harus ikut ke basecamp sih? Biasanya juga lo malu bawa gue," tanya Araluna saat mereka sudah berada di atas motor. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Arsen—sedikit lebih erat dari yang seharusnya dilakukan seorang adik tiri.
"Biar mereka percaya kalau gue punya peliharaan baru," canda Arsen. "Lagian, hari ini ada acara syukuran kecil-kecilan. Bunda yang nyuruh gue bawa lo, biar lo nggak cuma mengurung diri di kamar sambil nonton drakor nangis-nangis."
Di Basecamp: Salah Paham yang Menguntungkan
Basecamp anak-anak motor itu adalah sebuah kafe semi-terbuka dengan parkiran luas. Begitu motor Arsen berhenti, mata semua orang langsung tertuju pada sosok mungil di belakangnya.
"Wih, Sen! Baru lagi? Ganti target?" teriak salah satu teman Arsen, namanya Rian.
Arsen turun dari motor, membuka helmnya, dan membiarkan rambutnya jatuh berantakan—pemandangan yang selalu membuat Araluna ingin memotretnya diam-diam. "Berisik lo. Kenalin, ini bocil rumah gue."
"Bocil rumah? Maksudnya pacar yang tinggal serumah atau gimana?" goda teman yang lain.
Araluna, dengan jiwa "cegil"-nya yang mendadak bangkit, tidak membantah. Ia malah sengaja merangkul lengan Arsen dengan manja dan menyandarkan kepalanya di bahu cowok itu.
"Hai, aku Araluna. Panggil aja sayang," ucap Araluna dengan nada bicara yang dibuat-buat manis.
Arsen tersedak ludahnya sendiri. Ia menatap Araluna dengan tatapan 'apa-apaan-lo', tapi anehnya, ia tidak melepaskan rangkulan itu. Ia hanya mendengus sambil menjitak pelan kening Araluna.
"Jangan dengerin dia. Dia ini emang agak korslet sarafnya," kata Arsen pada teman-temannya.
Tapi bagi teman-teman Arsen, interaksi itu justru terlihat seperti pasangan yang sedang dimabuk cinta. Cara Arsen melindungi Araluna dari asap rokok, cara ia memesankan minuman tanpa bertanya karena sudah tahu Araluna benci kopi pahit, semuanya terlihat terlalu manis untuk sekadar "kakak-adik tiri".
Sore itu di basecamp, Araluna duduk di sudut, memperhatikan Arsen yang sedang tertawa bersama teman-temannya. Arsen adalah definisi dari "jahil". Ia sering mengerjai Araluna, menyembunyikan kunci motornya, atau memakan jatah makan malamnya. Tapi Arsen juga orang pertama yang akan datang membawa cokelat saat Araluna sedang bad mood karena urusan sekolah.
Araluna tahu, mencintai Arsen adalah berjalan di atas benang tipis. Salah langkah sedikit, ia bisa menghancurkan kebahagiaan orang tua mereka. Maka dari itu, ia memilih menjadi "cegil". Karena dengan menjadi gila dan aneh, ia bisa terus dekat dengan Arsen tanpa ada yang mencurigai betapa hancurnya hatinya setiap kali Arsen menyebutnya "adik".
"Mikirin apa lo? Tumben diem. Kesambet penunggu sini?" Arsen tiba-tiba sudah duduk di sampingnya, menyodorkan segelas es cokelat.
Araluna tersenyum tipis, menerima gelas itu. "Gue lagi mikir, kapan ya lo sadar kalau gue itu jodoh lo, bukan adek lo."
Arsen terdiam sejenak. Matanya menatap Araluna dalam-dalam, sebuah tatapan yang sulit diartikan. Lalu, ia tertawa keras sambil mengacak-acak rambut Araluna lagi.
"Mimpi lo ketinggian, Cil. Sana minum, biar otaknya nggak makin miring."
Araluna ikut tertawa, meski dalam hati ia berbisik: Lihat aja nanti, Kak. Suatu saat, lo yang bakal ngejar-ngejar bocil ini.