Seribu tahun setelah Era Kegelapan yang hampir menghancurkan tatanan alam semesta, Yun Tianxing—kultivator tertinggi dan penjaga keseimbangan antara Dunia Bawah dan Dunia Dewa—menemukan dua artefak legendaris: Darah Phoenix Abadi dan Jantung Naga Suci. Dalam upaya untuk memperkuat diri agar bisa mengantisipasi ancaman tersembunyi, ia memakan jantung naga dan meminum darah phoenix. Namun, kombinasi kekuatan kedua makhluk mistik tersebut terlalu besar untuk tubuhnya, menyebabkan guncangan hebat yang mengancam nyawanya. Sebelum meninggal, ia menciptakan sebuah benih ajaib, memasukkan seluruh energi Qi dan pengetahuan kultivasinya ke dalamnya.
Benih itu jatuh ke Dunia Fana dan memasuki tubuh Haouyu, putra mahkota Kekaisaran Lian yang baru lahir. Tak lama kemudian, kekaisaran keluarga Lian runtuh akibat peperangan besar dengan klan musuh. Untuk menyelamatkannya, ibunya menyerahkan dia kepada seseorang untuk membawanya meninggalkan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: ARTEFAK KUNO
Suara mekanis yang dalam bergema.
Lantai di depannya bergetar perlahan, lalu terbelah. Sebuah platform batu kuno terangkat, memperlihatkan lorong vertikal yang turun jauh ke dalam perut bumi. Udara yang naik dari sana membawa aroma logam tua, darah kering, dan energi purba yang padat—jauh lebih berat dibanding energi di ruang atas.
Bulu kuduk Haouyu meremang.
“Lapisan kedua…” gumamnya. “Jadi inilah tempat penyegelan sebenarnya.”
Ia mengikatkan tali energi dan turun perlahan. Semakin dalam ia melangkah, semakin terasa tekanan yang menguji jiwa—bukan untuk menolak, tetapi untuk menimbang.
Akhirnya, ia tiba.
Sebuah ruang yang lebih kecil, namun jauh lebih megah.
Dindingnya tidak lagi abu-abu—melainkan berlapis emas pucat dan perak tua, membentuk formasi pelindung tingkat tinggi. Simbol-simbol yang terukir di sana bukan hanya menyimpan energi, tetapi kehendak. Di tengah ruangan berdiri sebuah meja batu hitam, dan di atasnya… empat keberadaan yang membuat jantung Haouyu berdetak lebih cepat.
Bukan karena asing.
Justru karena terlalu dikenal.
Kebangkitan Artefak Lama
Di sisi kiri meja, sebuah tombak panjang terbaring dengan anggun. Gagangnya terbuat dari kayu Pohon Naga Abadi—bahan yang hanya bisa tumbuh di wilayah dengan energi langit dan bumi yang menyatu. Ujungnya berbentuk kepala naga hitam, matanya dari permata merah darah yang berkilau redup.
Haouyu menahan napas.
“Tombak Heilong…”
Begitu ia menyentuhnya, getaran hebat menjalar dari telapak tangannya ke seluruh tubuh. Bukan perlawanan—melainkan pengakuan. Seolah tombak itu berkata: Akhirnya kau kembali.
Fragmen ingatan muncul—Lembah Iblis bertahun-tahun lalu, pertempuran berdarah, saat ia pertama kali mendapatkan Heilong dalam kondisi rusak dan tertidur.
Kini, segel kuno di tubuh tombak satu per satu runtuh.
Kilatan petir biru gelap melilit gagangnya. Energi air berdesir seperti lautan dalam. Bayangan naga hitam membentuk siluet samar di udara.
Tulisan kuno di meja menyala:
Tombak Heilong
Artefak Mistik Tingkat Tinggi
Status: Dibangunkan Kembali
Atribut: Air · Petir · Bayangan
Syarat Pemilik: Jalur Fusi Dunia
Haouyu mengepalkan tangan.
“Jadi… kau memang diciptakan untuk jalur ini.”
Di sisi kanan meja, berdiri sebuah Boneka Spiritual Besi.
Tubuhnya sama seperti yang Haouyu kenal—logam perak tua, zirah jenderal kuno, topeng singa. Namun kini, simbol-simbol di dadanya berpendar lembut, tidak lagi kaku.
Ia menyalurkan Qi ke inti boneka.
Duum.
Boneka itu bergerak.
Mata kuning keemasannya menyala, tubuhnya berdiri tegak, dan suara berat namun stabil keluar:
“Unit Penjaga Besi—Mode Pewaris Aktif.
Perintah diterima.”
Namun kali ini, Haouyu merasakan lebih dari sekadar kepatuhan.
Ada ikatan.
Boneka itu bukan lagi alat kosong—melainkan penjaga yang terikat pada kehendaknya.
Di tengah meja, sebuah kitab besar terbaring—Kitab Ilmu Semesta.
Namun berbeda dari kitab lain, ini bukan buku ajaran dasar. Begitu dibuka, halaman-halamannya tidak hanya berisi tulisan, tetapi alur energi hidup. Diagram lima elemen, fusi domain, teknik pergerakan lintas ruang, bahkan metode komunikasi dengan makhluk mistis tingkat tinggi—semuanya tersaji, namun terkunci lapisan demi lapisan.
“Bukan untuk dibaca sekaligus…” gumam Haouyu. “Melainkan tumbuh bersamaku.”
Artefak terakhir membuat napasnya tertahan sesaat.
Cincin Alam Semesta.
Bukan yang ia pakai.
Melainkan inti penyempurna.
Permata bening di tengahnya berisi pusaran bintang mini—sebuah ruang yang melampaui batas biasa. Ketika Haouyu menyatukannya dengan cincin lamanya, kedua artefak itu beresonansi.
Fuum—
Ruang penyimpanan meluas. Stabilitas meningkat. Energi waktu di dalamnya menghilang.
Status Cincin Alam Semesta:
Tingkat Mistik Tinggi → Setengah Legendaris
Haouyu menghela napas panjang.
“Sekarang aku mengerti… bukan aku yang mengumpulkan artefak ini.”
“Akulah yang dikumpulkan oleh mereka.”
Ancaman yang Datang Terlambat
Getaran hebat mengguncang ruang bawah tanah.
Patung Pengawal Kuno muncul di ambang pintu, auranya berat.
“Pewaris… kau telah membangunkan segel terdalam.”
“Apa yang datang?” tanya Haouyu.
“Keserakahan.”
Langit Lembah Iblis memerah.
Sebuah sosok berdiri di tengah reruntuhan—rambut merah menyala, pakaian hitam penuh simbol api terdistorsi. Api hitam berdenyut di sekelilingnya, bukan panas alami, melainkan hasil pembakaran jiwa makhluk lain.
“Kultivator Gelap…” Haouyu menyipitkan mata.
“Bukan sekadar Mahir,” jawab Patung Pengawal.
“Ia berada di ambang Transformasi Tubuh.
Dan ia datang karena mencium warisan dunia.”
Sosok itu tertawa, suaranya menggema.
“Anak kecil… serahkan artefak mu. Aku bisa membiarkanmu mati cepat.”
Haouyu melangkah maju.
Tombak Heilong bergetar di tangannya. Boneka Besi berdiri di sisinya. Aura Api, Air, Cahaya, Kegelapan, dan Petir menyatu—bukan liar, melainkan selaras.
“Aku tidak menjaga artefak ini untuk diriku sendiri,” kata Haouyu tenang.
“Aku menjaganya agar dunia tidak jatuh ke tangan orang sepertimu.”
Api hitam meledak membentuk naga bayangan.
Haouyu mengayunkan tombaknya.
Bayangan naga hitam bertabrakan dengan api korup.
Langit Lembah Iblis terbelah oleh cahaya dan petir.
Dan di kejauhan—
Fenrir membuka matanya.
“Ah…” gumam penjaga api itu pelan.
“Pewaris jalur lama akhirnya menghunus senjatanya.”
Pertempuran yang akan mengguncang keseimbangan benua…
resmi dimulai.
Guntur bergemuruh memecah langit kelabu yang seakan runtuh di atas dunia. Awan energi kultivasi berputar liar, membentuk pusaran raksasa yang menghisap cahaya dan suara, seolah langit sendiri sedang mengadili dosa-dosa masa lalu. Kilatan petir jatuh satu demi satu, menghantam tanah tandus yang dipenuhi puing-puing bangunan kerajaan—sisa kejayaan Kekaisaran Lian yang kini tinggal kenangan pahit.
Di tengah padang pasir reruntuhan itu, Lian Haouyu berdiri tegak.
Jubahnya berkibar tertiup angin bercampur debu dan energi spiritual. Di balik sikap tenangnya, darah bangsawan kekaisaran mengalir deras, membawa luka lama yang belum pernah sembuh. Di bawah telapak kakinya, tanah retak membentuk pola seperti urat nadi—tanda bahwa aura kultivasi Haouyu telah menyatu dengan kehendak bumi.
Di hadapannya, sekitar tiga puluh langkah jauhnya, berdiri seorang pria berpakaian hitam pekat.
Jubah itu bukan sekadar kain. Ia terbuat dari serat bayangan dan energi yin yang telah direndam darah makhluk hidup. Aura dingin memancar dari tubuhnya, menusuk tulang dan membekukan udara. Setiap napas yang ia hembuskan membuat pasir membeku sebelum hancur menjadi serbuk halus.
“Kau masih berdiri di atas tanah ini…”
Suara pria itu bergema berat, seperti guntur yang dipaksa keluar dari tenggorokan manusia.
“…padahal tanah ini seharusnya sudah mengubur nama keluargamu.”
Matanya merah menyala, bukan seperti api biasa, melainkan seperti darah yang dipanaskan oleh kebencian ribuan jiwa.
“Kau tidak akan bisa melindungi apa pun lagi, pewaris kerajaan yang hancur,” lanjutnya dingin. “Kaisar Lian Chengyu dan Permaisuri Lin Meiying telah lenyap. Ada yang bilang mereka mati, ada yang bilang mereka dijadikan persembahan. Apa pun kebenarannya—Kekaisaran Lian telah berakhir.”
Aura pria itu melonjak.
“Bergabunglah dengan klan kami, Haouyu. Serahkan sisa kehormatan palsu mu. Atau kau akan terkubur bersama abu sejarah.”
Nama Lian Chengyu dan Lin Meiying bergema di benak Haouyu seperti palu yang menghantam jiwanya.
Ayahnya—kaisar yang berdiri di garis depan saat bangsa Hounu Utara menyerbu.
Ibunya—permaisuri yang dikenal lembut namun memiliki kecerdasan politik setajam pedang.
Mereka menghilang pada malam ketika ibu kota terbakar.
...~BERSAMBUNG~...