NovelToon NovelToon
Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Sci-Fi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.

"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"

Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 18

"Mau makan siang, kan? Oke, aku kasih makan siang yang nggak akan pernah kamu lupakan, Rangga!" gumam Ayu penuh dendam.

Ia mengambil segenggam penuh cabai rawit merah yang paling pedas. Tanpa ragu, Ayu menguleknya kasar, lalu menumisnya hingga aroma pedasnya menyengat sampai ke tenggorokan. Ia memasak Ayam Goreng Lado Mudo, tapi kali ini jumlah cabainya tidak masuk akal. Hijau sambalnya terlihat pekat, menutupi seluruh permukaan ayam.

"Ini biar mulut kamu nggak bisa panggil-panggil 'sayang' atau 'calon istri' lagi!" ucapnya puas sambil memasukkan masakan panas itu ke dalam rantang.

Bengkel milik Rangga sangat luas dan modern. Suara deru mesin, dentuman kunci inggris, dan hiruk pikuk montir menyambut kedatangan Ayu. Dengan kaki yang masih sedikit pincang dan menenteng rantang, Ayu merasa semua mata tertuju padanya.

"Cari siapa, Mbak?" tanya salah satu montir yang sedang mengelap tangan berminyaknya.

"Mas Rangga-nya ada?" tanya Ayu balik dengan nada kaku.

"Oh, Bos ada di ruangannya di lantai atas. Langsung naik saja, Mbak. Beliau sudah nungguin dari tadi," jawab si montir sambil tersenyum penuh arti.

Begitu sampai di depan pintu kaca bertuliskan Manager, ia mengetuk pelan.

"Masuk!" suara berat Rangga terdengar dari dalam.

Ayu masuk dan mendapati Rangga sedang sibuk memeriksa beberapa berkas. Ruangannya dingin karena AC, sangat kontras dengan cuaca panas di luar. Begitu melihat Ayu, Rangga langsung menutup berkasnya dan tersenyum lebar.

"Tepat waktu. Saya pikir kamu mau kabur lagi," goda Rangga sambil beranjak menuju meja sofa di sudut ruangan.

Ayu tidak membalas. Ia langsung meletakkan rantangnya di meja dengan suara brak yang cukup keras. "Ini makanannya. Sesuai kesepakatan. Cepat makan, aku mau langsung pulang."

Rangga membuka tutup rantangnya. Aroma pedas yang sangat tajam langsung menusuk hidungnya. Ia melihat potongan ayam yang tenggelam di balik tumpukan cabai rawit hijau yang melimpah.

Rangga menatap Ayu, lalu menatap makanan itu. Ia tahu persis ini adalah aksi balas dendam. "Wah, kelihatan menjanjikan ya? Kamu tahu saja kalau saya lagi butuh yang panas-panas."

Rangga mengambil sendok, menyendok nasi dan sepotong ayam yang penuh bumbu cabai itu, lalu menyuapkannya ke dalam mulut tanpa ragu sedikit pun.

Ayu berdiri mematung di depannya, melipat tangan di dada dengan senyum kemenangan tersembunyi, menunggu reaksi Rangga yang pasti akan kepedasan luar biasa.

Namun, setelah kunyahan pertama, Rangga justru terdiam. Wajahnya mulai memerah, keringat kecil mulai muncul di pelipisnya, tapi ia tidak meraih air minum. Ia justru menyuap untuk kedua kalinya dengan santai.

"Pedasnya pas, Yu. Kayak sifat kamu... menantang," ucap Rangga dengan suara yang mulai serak karena menahan rasa pedas, tapi matanya tetap menatap Ayu dengan penuh kemenangan.

Ayu terbelalak. "Mas... itu pedas banget loh! Mas nggak apa-apa?"

Rangga tidak berhenti di suapan kedua. Meskipun pelipisnya sudah basah oleh keringat dan wajahnya merah padam seperti kepiting rebus.

"Mas, sudah! Berhenti! Itu aku kasih cabai rawitnya seplastik!" seru Ayu, mulai panik melihat Rangga yang mulai terengah-engah tapi tetap nekat mengunyah.

Rangga meletakkan sendoknya sejenak, ia mengambil napas panjang. Matanya yang mulai berair menatap Ayu dengan intens. Bukannya marah, ia malah tertawa kecil suara tawa yang terdengar serak dan tersiksa.

"Kenapa? Kamu takut saya mati kepedasan?" tanya Rangga. Ia tiba-tiba meraih pergelangan tangan Ayu, menariknya pelan hingga wanita itu terduduk di sofa tepat di sampingnya.

"Sini. Kamu juga harus tanggung jawab," ucap Rangga. Sebelum Ayu sempat memprotes, Rangga sudah menyendokkan nasi dengan sedikit sambal hijau itu ke depan mulut Ayu.

"Makan. Kita habiskan berdua. Kalau saya sakit perut, kamu juga harus sakit perut. Itu baru namanya calon istri yang setia kawan," goda Rangga dengan sisa tenaga menahan pedas.

Ayu membelalakkan mata, mencoba menjauhkan wajahnya. "Nggak mau! Aku tahu itu pedas banget!"

"Satu suap saja, Yu. Atau saya anggap utang kamu bertambah karena sudah sengaja mau meracuni kreditur kamu," ancam Rangga main-main, tapi matanya menunjukkan ia tidak akan melepaskan Ayu begitu saja.

Dengan wajah cemberut dan perasaan kalah telak, Ayu akhirnya membuka mulutnya sedikit. Begitu bumbu itu menyentuh lidahnya, sensasi terbakar langsung meledak.

"Hah... hah... Mas Rangga! Pedas banget!" Ayu langsung panik mencari air, namun Rangga dengan sigap menyodorkan botol air mineral miliknya yang sudah terbuka.

Mereka berdua akhirnya duduk bersisian di sofa, sama-sama sibuk mengipasi mulut masing-masing sambil minum bergantian dari botol yang sama. Keheningan canggung yang tadi pagi ada, kini menguap digantikan oleh suasana yang jauh lebih santai meski dibumbui air mata karena kepedasan.

"Puas kamu?" tanya Rangga sambil mengelap keringat di dahinya dengan tisu. "Tega banget ya sama calon suami sendiri."

"Habisnya Mas menyebalkan!" balas Ayu, meski sekarang ia tidak bisa menahan tawa melihat wajah sangar Rangga yang luntur karena sambal buatannya.

Rangga terdiam sejenak, menatap Ayu yang sedang tertawa kecil. Di tengah rasa pedas yang masih membakar, ia merasa inilah momen paling bahagia yang ia rasakan dalam lima tahun terakhir.

"Yu," panggil Rangga lembut. "Besok-besok kalau mau bikin sambal, jangan banyak-banyak. Saya masih mau hidup lama... buat jaga kamu sama Nenek."

1
kalea rizuky
gemes deh kalian
kalea rizuky
q uda kirim bunga lanjut banyak ya thor
kalea rizuky
lanjut donkk
Evi Lusiana
waduh rangga puny saingan y thor
Evi Lusiana
klo pura² sakit aj trs biar ayu kwatir dn perhatian sm km rangga🤭
Evi Lusiana
knp d bkin ribet sih yu,hrsny km trimakasih sm rangga
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ayu membatalkan pertunangan dan pergi harusnya Rangga benci ke Ayu dan ngga mau lihat Ayu lagi dong
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Padahal orang yang di suruh mengantar motornya Ayu sudah bilang kalau gratis tapi malah Ayu datang ke bengkel dan memberikan uang ke Rangga sebagai biaya perbaikan sepeda motor dan ganti sparepart
Evi Lusiana
rangga laki² baik bertahun² sjak dia gk lg nersm ayu dia hny fokus kerja tp tdk maen perempuan
Aidil Kenzie Zie
bicara dari hati ke hati
Evi Lusiana
ini yg nmany jodoh gk akn kmn y thor
Aidil Kenzie Zie
move on Rangga kalau nggak kejar lagi cinta itu
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!